
38 MBAK DINI LEBIH DULU TAHU MAS ANTO DIRAWAT DI RS
“Serius dia pajang photo kami di ruang tamu?” tanya Anto ga percaya, dia pikir Dini akan meletakkan photo mereka di kamarnya, paling tidak di ruang keluarga, bukan di ruang tamu seperti sekarang. Kalau di ruang keluarga kan ga semua tamu bisa melihatnya, hanya yang masuk sampai kedalam yang akan tau. Dia sangat bahagia Dini berani memproklamirkan diri seperti itu, karena siapapun yang datang pasti akan langsung melihat photo mereka itu
***
Senin malam, Sari sangat lelah, tadi siang dia dan kawan-kawan kembali bergerak untuk kegiatan sosial ke panti werdha. Mereka sedang mendata jumlah penghuni, rentang usia serta penyakit yang diderita agar bisa memberikan bantuan sesuai kebutuhan. Jam 8 malam ponselnya berbunyi dengan id caller mbak Dini
“Assalamu’alaykum de” salam Dini pada Sari. “De, maz Anto sekarang di IGD RS Persahabatan karena dijebak sepupunya Shinta, tolong kamu kasih tau mama dan mbak Rina ya” kata Dini tanpa memberi waktu bagi Sari menjawab salamnya
“Wa alaykum salam mbak. Mbak Rina sudah pindah ke Malang mbak, mas Imron dipindah ke RSUD sana” jawab Sari. “Aku kasih tau mama dan langsung kesana deh ya mbak” lanjut Sari lemas mendengar khabar ini
“Khabari aku setiap step yang terjadi ya de. Mbak berupaya berangkat malam ini atau maximal besok pagi” kata Dini sebelum memutus hubungan telpon mereka
Sari mencari ibunya di dapur, pelan-pelan dia menceritakan yang Dini katakan, dia ga mau mamanya shock
***
Steve baru saja akan menghubungi Dini, mau memberi info bila dia akan berangkat ke Jakarta karena akan memberi laporan kinerjanya sekalian meeting di kantor pusat. Namun saat itu ponselnya sudah lebih dulu bunyi dengan caller id adalah Dini. “Hallo sayangku, sepertinya kita sehati ya, aku baru mau telpon kamu kalau besok jam 7pagi aku ngedadak berangkat ke Jakarta, tapi lusa sudah balik koq”
“Steve,” isak Dini
“Sayang kamu kenapa? Mau aku ke rumahmu sekarang?” tanya Steve panik
“Anto Steve, Anto” isak Dini
__ADS_1
“Kamu tenang, dulu, gimana mau cerita kalau kamu ga tenang gini?” tanya Steve
“Anto dijebak si arsitek itu, dia sekarang di RS Persahabatan. Kamu bisa belikan aku tiket untuk 3 orang ga? Aku mau berangkat ke Jakarta, kalau bisa yang malam ini” pinta Dini
Steve kaget mendengar Anto sakit, dia menanyakan tiket yang akan dipesan atas nama siapa aja. Dia akan mencari tiket malam ini, paling tidak penerbangan pertama besok pagi. Dia menghubungi petugas tiketing kantornya untuk mencari tiket dan merubah penerbangannya bersamaan dengan Dini. Lalu dia langsung meluncur ke rumah Dini, jadi kalau mereka harus berangkat malam ini dia sudah bersama Dini, dan kalau harus berangkat besok pagipun mereka sudah bersama
***
Saat ini mereka didalam taxi menuju Rawasari, staff tiketing Steve ga bisa dapat tiket untuk tadi malam, jadi mereka terbang dengan jadwal pertama pagi ini. Sehabis menyerahkan Amora pada mami Dini, walau dijaga mbak Inah, Dini dan Steve langsung berangkat ke RS Persahabatan
“Assalamu’alaykum de” sapa Dini pada Sari yang sendirian stanby di ruang rawat Anto
“Wa alaykum salam mbak” balas Sari sambil berdiri dan cipika cipiki pada calon kakak iparnya ini
“Assalamu’alaykum de” sapa Steve sambil memeluk Sari dan mencium keningnya
“Mama mana de?” tanya Dini ambil menghampiri Anto yang masih belum sadar sejak semalam. Dini mencium pipi dan kening Anto, lalu berbisik ditelinganya : “Assalamu’alaykum my man, bangun dong, ga kangen aku dan anakmu?”
“Mama tadi habis subuh aku suruh pulang mbak, biar bisa istirahat, semalam mama sama sekali ga tidur” jawab Sari
“Kamu kuliah kan hari ini, gapapa tinggal aja masmu, nanti kalau dia sadar akan aku telpon kalian. Steve kamu meeting jam berapa? Biar Sari pulang bareng kamu aja ya” perintah Dini
“Siap nyonya, aku meeting jam 10, ayo de kita pulang sekarang, Anto bakal aman kalau ditangan bininya” kata Steve
“Ya wis aku pamit yo mbak, aku yo kuliah jam 10 tapikan harus pulang dulu untuk mandi dan ambil buku” pamit Sari sambil mencium Dini kembali, kali ini dia memeluknya sangat erat. “Makasih yo mbak, sudah selalu ada buat mas Anto, walau sekarang kalian masih terpisah jarak, tapi kalian sangat dekat di hati”
__ADS_1
***
“Jadi ke Jakarta karena emang ada meeting, bukan khusus antar mbak Dini njenguk mas Anto?” tanya Sari sinis begitu keluar dari ruang rawat Anto
“Bukan gitu, tanpa meetingpun kalau tau Anto sakit, pasti abang datang lah de. Jadi semalam itu saat Dini telpon ke abang, abang pas mau telpon dia ngasih tau abang akan berangkat ke Jakarta penerbangan jam 7 pagi karena ada meeting jam 10. Tapi pas tau Anto sakit abang langsung cari tiket buat tadi malam, hanya ga dapat. Akhirnya dapat penerbangan pertama, abang jadi ganti tiket biar bisa bareng ama Dini” jelas Steve pada Sari
“Berapa lama abang di Jakarta?” tanya Sari, saat ini mereka sudah di mobil menuju Rawasari
“Awalnya kalau meeting selesai hari ini, abang langsung pulang, tapi kalau meeting dilanjut besok ya abang balik ke Jogja besok. Tapi sekarang ya berubah, abang liat kondisi Anto dulu, walau ga bareng Dini juga, karena yakin Dini ga bakal langsung pulang sebelum Anto sembuh total” jawab Steve
“Abang ga mampir ya, takut telat, salam buat mama, nanti pulang kantor abang telpon kamu” kata Steve saat sampai depan rumah Anto, dia mengecup kening Sari dan mengucap salam “Assalamu’alaykum de” Steve langsung melajukan mobil Anto yang dia gunakan menuju ke kantornya setelah Sari turun. Awalnya Steve ingin Sari saja yang membawa mobil Anto dan dia akan melanjutkan dengan taxi ke kantornya namun Sari bersikeras Steve saja yang bawa mobil itu
***
Siang sepulang kuliah Sari langsung menuju rumahnya, sebelumnya dia sudah telpon mamanya agar bersiap sehingga taxi ga terlalu lama menunggu. Sari hanya akan menaruh buku-buku kuliahnya saja sambil menjemput mamanya. Sesampai di kamar rawat Anto Sari dan Bu Rahma terpaku melihat Dini duduk dikasur Anto dengan mata sembab sambil tangan kanannya masih memegang sendok makan.
“Assalamu’alaykum” sapa Sari dan bu Rahma bersamaan
“Wa alaykum salam” balas Dini, turun dari tempat tidur dan menyalami calon mertuanya, namun bu Rahma merengkuhnya dalam pelukan erat. Mendapat perlakuan itu Dini kembali menangis terisak
“Kenapa nduk? Wis tenang, kan masmu udah sadar tho?” tanya bu Rahma
“Aku sholat dulu ya ma, sekalian mau keluar makan, mumpung ada mama dan Sari disini” pamit Dini tanpa menjawab pertanyaan bu Rahma, dia keluar membawa tas mukena dan dompetnya
Sudah hampir 2 jam Dini keluar dari kamarnya, Anto mulai gelisah, dia meminta Sari menghubungi Dini. Terdengar nada dering di tas Dini di meja, rupanya Dini tidak membawa HP nya. Anto ingin lari mencarinya. “Emang tadi mbak Dini nangis kenapa tho mas?” tanya Sari yang penasaran. Anto menceritakan permintaan Dini, Dini sangat sakit hati atas kelakuan Puspita. Dini depresi memikirkan bila teamnya pak Irhan ga ada saat Anto dijebak oleh Puspita
__ADS_1
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini
Jangan lupa like dan vote nya ya