
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab.
Resmi sudah Steve menyandang gelar PAPIE. Gimana kelanjutan certanya? Lanjut baca keseruannya di bawah ini ya.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
-------------------
“Papa mau ambil juice buat Mama Yai, mas Arya juga mau?” tanya Steve sambil berjalan ke arah kulkas.
“Mau,” jawab Arya pendek. Dia bukan belum bisa merangkai kata, memang sepertinya karakternya dingin, bila tidak perlu dia hanya bicara seperlunya. Wah gimana nanti mas Arya dewasa ya?
“Cukup yok, sekarang mas Arya gendong daddy, papa mau terima tamu,” bujuk Anto karena tamu yang datang untuk acara aqeqah an Dhisty mulai berdatangan. Mau tak mau Arya menurut kata-kata Daddynya, namun dia tidak pindah ke gendongan Anto, dia memilih turun dan berlari ke belakang mencari mommynya.
Opa sangat bahagia bisa melihat acara aqeqah buyutnya. Dia ingat ketika Steve di aqeqah, saat itu belum banyak lembaga yang menjual jasa untuk masak aqeqaah. Sehingga pemotongan kambng hingga memasak di lakukan di rumah orang yang melaksanakan aqeqah. Tentu saja saat itu rumahnya menjadi rame. Opa juga mengingat saat aqeqah Angel adik Steve. Saat itu sedang hujan deras dan rumah opa sedikit bocor bagian dapur sehingga para ibu yang sedang masak kesulitan sehingga dapur di pindah ke samping rumah. Dan tanpa bisa di bendung opa menitikan air mata. Dia mengingat anak, menantu dan cucunya yang tidak selamat dalam kecelakaan di jalan tol Jagorawi. Opa berdoa Tuhaan masih memberinya kesempatan melihat aqeqah adik-adik Adhisty kelak.
“Opa, ini aku siapin ayam bakar kecap atau ayam bakar pedas bumbu kemiri untuk opa. Karena Sari bilang opa tidak boleh makan kambing ‘kan?” Dini mendekati opa sambil menawarkan ayam bakar dua rasa. Sari sudah titip pesan untuknya, karena saat seperti ini oma pasti akan di bantah oleh opa bila melarangnya makan daging kambing.
“Iya, danke. Nanti opa makan ayamnya,” jawab opa lembut.
“Makan sekarang aja yok opa, bareng maz Anto dan yang lain,” Dini mengajak opa ke ruang makan. Steve tentu sedang sibuk dengaan para tamu sehingga melupakan opa. Oma? Hahahaha, oma sudah lupa terhadap opa, karena dia tak pernah ingin jauh dari Adhisty.
Anto mendekati opa dan mengajaknya makan bersama. Dia yang mewakili Dini mengambilkan opa makan karena Dini tidak enak ikut berbaur di rombongan para lelaki.
“Oma makan dulu,” Sari mengingatkan oma untuk makan siang, karena Oma masih saja asyik memandangi buyutnya. “Opa sedang makan dengan maz Anto,” Dini melengkapi perintah Sari pada sang Oma, dengan mengingatkan bahwa Opa sedang makan.
“Ya ampuuuun, Oma lupa, jangan-jangan Opa makan daging kambing,” Oma baru ingat, kalau tidak di awasi, Opa bisa curi-curi makan daging kambing kesukaannya.padahal di usia Opa dan dengan kondisi kesehatan Opa, daging kambing tentu harus dihindari, bukan hanya di kurangi.
“Opa sudah di awasi maz Anto, jadi Oma tak perlu khawatir,” jelas Dini sambil menyerahkan nasi dan aneka lauk di nampan bagi Sari. Dini sendiri menyiapkan sepiring sate kambing untuk dirinya sendiri. Tak lama ART Sari membawakan segelas es jeruk untuk Dini dan jeruk hangat untuk Sari sesuai permintaan Sari tadi.
__ADS_1
Oma keluar kamar Sari menuju ruang makan. Dia bertemu mama dan mereka makan bersama sambil membicarakan aneka resep masakan.
“Mam, para tamu mau pamit pulang,” Steve memberi tahu Sari kalau tamu nya hendak pamit pulang. Namun saat itu Sari sedang sibuk menggantikan diapers Dhisty karena putri mereka buang air besar.
“Maaf Pie, bilang saja Mamie sedang menggantikan popok dan masih agak lama selesainya karena Dhisty bukan buang air kecil. Jadi sampaikan saja ucapan terima kasih dari Mamie atas kehadiran dan doanya,” Sari terpaksa tidak dapat keluar karena tak mungkin Dhisty di tinggal saat belum rampung dibersihkan. Steve pun menyampaikan apa yang Sari kemukakan pada para tamunya.
Langit mulai merona jingga, para pekerja dari persewaan tenda baru saja mulai membongkar tenda. Sari meminta seorang ART menyediakan kopi dan memberikan kue bagi para pekerja.
“Alhamdulillah acara berjalan lancar,” Steve mengucap syukur, dan opa yang mendengar pun bercerita bagaimana serunya ketika aqeqah Steve. Oma kadang melengkapi cerita opa. Jadi untuk opa dan oma toleransi beragama bukan hanya slogan di mulut,mereka sudah melakukannya sejak dahulu. Tuntas dengan keseruan cerita aqeqah Steve, oma membuka cerita tentang aqeqah Angel yang terpaksa membuat dapur umum di halaman samping karena dapurnya sedang bocor dan belum di ganti atapnya. Semua tentu terkesan dengan cerita oma dan opa.
“Mbak, tolong aturkan makan untuk para pekerja bongkar tenda ya, itu sepertinya sudah akan selesai,” perintah Sari pada asisten rumah tangganya. “Pie, tolong kasih tau buat para pekerja, kalau sudah selesai bongkar jangan langsung pulang. Makan dulu karena sudah di siapkan makan untuk mereka,” Sari pun memberi tahu suaminya.
Dini dan keluarga pulang pukul 7 malam. Dia meminta suaminya untuk membersihkan Amora dan Arya,karena biasanya di mobil mereka akan tidur. Kasihan bila sampai rumah harus diganggu dengan mengelap badan serta menggantikan baju tidur.
“Ora nginep wae Din?” Mama bertanya pada Dini, mengapa tidak menginap saja?
***
Pagi ini Sari membawa Adhsty kontrol sejak pulang melahirkan dulu. Usia Dhisty 33 hari. Berat badannya naik pesat. Tentu saja Mamie dan Papie Adhisty senang akan kemajuan yang dialami princess mereka. Kali ini selain kontrol Adhisty juga akan di imunisasi. Sari memberikan Adhisty pada suaminya lalu dia sedikit menjauh dan berbalik badan. Dia tidak tega melihat putrinya di imunisasi.
“Wah bundanya enggak tegaan ya?” tanya dokter ganteng yang menangani Adisthy melihat Sari berbalik badan.
“Iya Dok, Mamienya tidak bisa melihat hal yang menyakiti,” Steve menjawab, dia sudah tahu karakter Sari yang tidak tegaan terhadap siapa pun. Terdenga Adisthy sedikit menjerit sesudah itu dia diam tidak menangis.
“Ya sudah bunda, baby-nya pintar koq, semoga tidak demam ya sayang,” pak Dokter menyudahi pemberian imunisasi pertama bagi Adhisty. Sebelum pulang Steve membeliobat penurun panas yang di resepkan oleh dokter.
“Mamie begitu sampai rumah langsung bobo biar enggak kecapean ya, kalau siang Princess mulai rewel, Mamie enggak lemes,” Steve memberi saran pada istrinya. Dia takut nanti malam mereka bergadang dan Sari akan kekurangan tidur. Dia tidak ingin kualitas ASI Sari menurun bila istrinya kurang tidur.
“Enggak usah terlalu di pikirin Pie, semoga aja Dhisty enggak rewel dan enggak panas juga. ‘kan tadi dokter bilang bisa juga tidak ada rewel dan demam,” Sari berupaya membuat suaminya tidak terlalu khawatir.
__ADS_1
Siang Adisthy masih tenang walau mulai naik suhu tubuhnya. Sesuai petunjuk dokter sejak tadi Sari sudah meneteskan obat penurun panas di mulut bayi perempuan nan menggemaskan. Adhisty mulai rewel bila tangan yang di suntik tadi tersentuh oleh mamie atau papie nya.
----------------------
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)
Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
Yanktie tunggu partisipasinya
Terimakasih dan salam manis dari Jogja
-----------------------
__ADS_1