
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
cerita ini akan tamat 2 episode lagi ya.
Sebagai gantinya bisa baca cerita yantie yang lain di noveltoon yaitu TELL LAURA I LOVE HER yang berkisah tentang seorang gadis bernama Laura yang sedih karena calon suaminya meninggal 2 minggu menjelang pernikahan mereka. masih cerita sederhana yang enggak banyak konflik. Semoga readers semua suka
baca juga cerita ini, Wahyuaji yang kebingungan karena anaknya minta hadiah ulang tahun ke 17 nya adalah sang Daddy menikahinya! judul ceritanyaI MARRIED MY DAUGHTER, di noveltoon juga yaaaa
\======================================
Tak terasa saat ini kehamilan Sari sudah memasuki usia 7 bulan. Sedang Dwipa sedang aktiv-aktiv nya karena sudah merangkak dan belajar jalan diusia hampir 10 bulan. Steve tak mau Sari terlalu lelah. Tapi sebagai ibu tentu Sari tak ingin kehilangan moment itu. Dia masih saja ikut jongkok berdiri membantu Dwipa yang jatuh bangun belajar jalan. “Mam, berapa kali Papie bilang, Mamie duduk diam aja sambil ngeliatin. Cukup Papi atau si embak yang bantu Dwipa,” kembali Steve menegur istrinya yang sedang mentitah ( menggandeng dengan menunduk ) Dwipa yang belajar jalan saat di pulang dari show room. Sedang si mbak pengasuh Dwipa hanya tertunduk karena merasa bersalah tak bisa membantah permintaahn nyonyanya. Padahal dia sudah diwanti-wanti sang tuan agar melarang nyonya ngurusi Dwipa secara berlebih.
__ADS_1
“Sini, biar mas Dwipa sama Papie,” Steve yang langsung cuci tangan dan ganti baju mengambil alih Dwipa. Saat anak belajar jalan, tentu orang yang membantunya berjalan akan merasakan pegal di punggung. Bisa bayangkan bila itu dilakukan oleh ibu hamil? Tentu pegal di punggungnya akan doble. Itu yang Steve tidak mau Sari mengalaminya. Tapi cinta kasih seorang ibu mengalahkan segalanya.
“Bu, juice belimbingnya sudah jadi,” seorang asisten rumah tangga meletakkan 1 water jug ( teko dari kaca ) juice dan pisang panggang penyet keju di meja dekat Sari duduk dengan 3 cangkir kosong.
“Mbak, bikinkan pisang penyet yang ditabur su5u kental manis dan meises ya, Dhisty lebih senang yang tabur meyses daripada yang tabur keju,” pinta Sari.
“Sampun Bu, lagi di maem mbak Dhisty,” sahut si asisten. Rupanya Dhisty sudah meminta pisang panggang lebih dulu.
“Owh ya sudah kalau dia sudah dibuatkan,” Sari lega bila sulungnya sudah ngemil sore lebih dulu.
“Tadi saat akan menabur keju mbak Dhisty protess, miliknya enggak mau pakai keju tapi pakai meysis,” kembali sang asisten menerangkan.
“Pie, sakiiiiiit,” Sari mengeluh punggungnya teramat sakit dan perutnya kram saat Steve baru pulang dari masjid untuk salat berjamaah.
Steve langsung mengambil dompet dan kunci mobil serta ponselnya, langsung mengajak Sari ke rumah sakit. Dia sampai lupa ganti sarungnya. Tak ada persiapan untuk bawa baju ganti Sari atau bawa perlengkapan bayi seperti saat akan melahirkan Dhisty dan Dwipa. Karena usia kehamilan masih 7 bulan.
“Ma, titip Dhisty dan Dwipa ya Ma, Steve pamit pada bu Rahma yang sedang sedikit ngomel saat Steve mengambil dompet dan ponsel di kamarnya.
__ADS_1
“Kamu dibilangin tu ngeyel. Sudah dilarang Steve buat titah-titah Dwipa ya masih aja kamu lakukan. Bojomu tu ngelarang karena tahu kamu akan seperti ini,” bu Rahma yang lembut dan sabar ngomel ya enggak keras. Tetap aja pelan walau dia sedang kesal pada Sari yang sulit mendengar larangan suaminya.
“Din, Sari dibawa ke rumah sakit,” sehabis menyampaikan salam, bu Rahma mengabarkan kondisi Sari yang kesakitan dan dibawa ke rumah sakit pada Dini menantunya.
“Waduuuu, semoga belum melahirkan ya Ma. Masih 7 bulan ‘kan Ma,” Dini kaget. Karena 2 hari lalu dia dan Risye baru aja kumpul di butik Sari untuk makan rujak serut yang Dini pesan di tukang langganannya. Sebenarnya yang kepengen rujak serut adalah Risye. Tapi seperti biasa genk ibu negara sengaja kumpul buat refreshing. Buat kelompok ibu negara yang ini refreshing mereka bukan shopping atau arisan apalagi jalan-jalan ke luar negeri. Refreshing mereka cukup minum lemon tea ditemani snack atau salad dan rujak dan bercerita tentang tingkah laku manis dan lucu anak-anak mereka. Mereka juga membahas resep sehat kegemaran keluarga.
“Nanti aku minta Steve kabarin perkembangannya deh Ma. Mama tenang aja. Jangan stress dan doakan Sari yang terbaik,” Dini pun meminta agar mertuanya tidak terlalu mengkhawatirkan adidk iparnya. Dia takut sang mertua malah naik tensi darahnya.
***
“Apa habis mengangkat berat Bu?” tanya dokter ayu yang memeriksa Sari. Dokter langganan sejak kehamilan Dhisty yang direkomendasikan Dini sejak hamil Arya.
“Tadi siang ngegendong kakaknya bu dokter,” akhirnya Steve mendengar pengakuan Sari. Karena yang dia lihat Sari hanya membantu Dwipa untuk belajar jalan. Tidak dengan menggendongnya.
“Bayinya tertekan Bu, kalau malam ini dilanjut pembukaan, ya kita terima ya kalau si dede lahir. Karena posisi sudah di jalan lahir dan bayi juga sudah berkembang sempurna. Tapi harus ekstra hati-hati merawatnya bila memang dia lahir prematur. Saya tidak berani memberikan obat penguat karena posisi bayi yang sudah seperti ini. Nanti malah kepala bayi tertekan di jalan lahir bila kita cegah lahir,” akhirnya Sari dan Steve harus bersiap menerima resiko yang akan terjadi. Dan malam ini Sari langsung masuk ruang rawat inap untuk dipantau.
“Ma. Sari harus di rawat, tolong siapkan baju Sari yang mudah dipakai ya Ma. Sama baju dan celanaku. Tadi aku ke rumah sakit masih pakai sarung Ma,” Steve meminta mama untuk membawakan baju ganti Sari dan Steve karena tadi mereka tidak membawa apa pun. Yang akan mengambil baju ganti adalah mas Anto sekalian mereka menengok kondisi Sari di rumah sakit. Jangankan membawa baju ganti, Steve saja masih pakai sarung belum ganti, karena baru masuk dari masjid.
__ADS_1
\========================