
Hallo, gimana puasa kalian ? Semoga lancar selalu ya.
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab. Yanktie seriusan tahu lho siapa aja yang selalu kasih like setiap habis baca, karena sebagai author kan ada notifikasinya.
Asyiiik, Papie Steve bakal ngidam episode kedua nih, dan doa mas Anto terkabul, makin tersiksa dong sang Papie. Lanjut baca untuk tahu keseruannya di bawah ini ya.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
-------------
Pagi ini Steve merasakan sangat pusing ketika membuka mata. Sari yang sejak tadi menunggunya untuk salat bersama bingung mengapa Steve tidak segera bangkit padahal sudah membuka mata sejak tadi.
“Ayo Pie, di tunggu Mama buat salat bareng,” ajak Sari.
“Aku pusing banget Mam, kalian duluanlah, jangan jadi telat karena Papie,” pinta Steve. Tak lama dia berlari ke kamar mandi karena mual.
‘Yaaaaaaah, harapan mas Anto sepertinya terkabul nih,’ batin Sari melihat suaminya terbirit ke kamar mandi.
***
Hari ini Sari full menjaga Steve yang mulai rewel karena ngidam. Sejak tadi mual dan muntah-muntah. Sari membalurkan perut dan leher belakang suaminya dengan minyak kayu putih namun tidak mengurangi mual, kata Steve. Untung Steve sekarang sudah tidak bekerja di kantor orang lain sehingga waktu kerjanya lebih fleksibel.
“Mam, aku kepengen kesemek dan sawo mentega,” rengek Steve.
“Astaga Pie, itu buah yang sudah masuk buah langka, saat musimnya aja enggak setiap pasar ada, apalagi saat enggak musim seperti sekarang. Mamie nyerah kalau itu yang Papie mau,” tentu Sari langsung angkat tangan mendengar permintaan Steve. Walau belum pernah merasakan kedua buah itu namun dia pernah melihat kedua buah itu di di Pasar Baru Jakarta dulu.
Namun diam-diam Sari mencoba menghubungi Endah dan Uswah untuk membantu dirinya mencari buah itu. Endah dan Uswah yang sama-sama sedang punya baby tentu tidak bisa mencarikan langsung, mereka meminta suaminya untuk mencarikan.
Seharian ini Steve tak mau makan apa pun karena buah yang di inginkan tidak di dapat. Dan Sari tidak bisa membujuk. Maka Sari hanya diam tidak mau membujuk lagi, dari pada dia emosi, marah atau menangis, lebih baik dia diam saja. Dia lebih baik makan saja sendirian.
Esok paginya kembali ritual rutin mual dan pusing serta muntah menghampiri Steve. Sari masih malas menghampiri suaminya, dia merasa keqi Steve marah padanya karena keinginannya tidak di carikan. Sari hanya mengurus Adhisty lalu dia bersiap hendak berangkat ke butik.
__ADS_1
“Pamit ya Ma,” Sari pamit pada mamanya sebelum dia berangkat dengan Adhisty dan pengasuhnya.
“Pie, Mamie berangkat dulu,” Sari mengambil tangan Steve, menciumnya dan langsung pergi tanpa menunggu jawaban apa pun dari suaminya. Emosi ibu hamilnya sedang dominan. Dia juga tak mau kalah dari suaminya yang sejak kemarin ngambeg.
“Mam,” panggil Steve, namun Sari tak menoleh. Dia segera keluar dan menaiki taksi yang sudah menunggu di depan rumahnya.
Sari sedang menyuapi Adhisty saat Steve datang ke butik. Memang sesuai namanya, ‘morning sickness’ serangan mual pada ibu hamil ‘kan hanya terjadi pagi hari. Maka para suami yang kena cauvade syndrome juga hanya mengalaminya pagi hari.
Steve yang tidak mendapat respon apa pun sejak masuk ruang istirahat di butik berjalan mendekati Sari dan memeluknya dari belakang. Namun Sari tetap bergeming. Dia merasa Steve egois dan tidak perduli padanya. “Mam, jangan marah gini dong,” bujuk Steve lembut.
“Nah selesai, anak pintar makannya habis ya, ayok kita cuci tangan dan main sama mbak Irah ya, biar Mamie salat dulu,” Sari berkata lembut pada Adhisty dan menurunkan putrinya dari baby chair. Lalu membimbingnya keluar ruangan untuk di serahkan pada mbak Irah yang tadi dia suruh salat dan makan siang lebih dulu.
Sari sengaja menghindari Steve, dia tidak kembali masuk ruang istirahat. Sari tahu Steve tidak akan mengajaknya bicara ribut di depan para karyawannya. “Nanti mbak Dhisty kalau sudah cape main di lap lalu bobo in ya mbak,” perintah Sari pada mbak Irah pengasuh Adhisty.
“Njih Bu,” sahut mbak Irah sambil berlari mengejar anak asuhnya. Sari bergegas ke bagian packing dan mengontrol pekerja di sana. “Kalian kontrol pakai check list ya biar enggak ada yang terlewat.”
Sari tetap belum mau masuk ke ruangannya, di lihatnya Dhisty sudah di bawa ke ruang istirahat oleh pengasuhnya, dan Steve keluar menuju show room mobilnya yang terletak di seberang butik namun masih satu pagar.
Steve hanya diam di show room nya, dia tidak bisa konsentrasi karena sikap istrinya. Sejak pacaran saja dia paling tidak bisa bila menghadapi Sari diam, apalagi sekarang sudah menikah dan punya anak. Hampir 5 tahun mereka menikah, Sari tak pernah marah dengan cara seperti sekarang. Diam tak merespon apa pun kata-katanya. Ini sangat menyakitkan. Di show room nya terdapat showcase frigigate (kulkas dengan pintu transparant) yang memang khusus di sediakan untuk konsumennya. Di sana Steve punya beberapa minuman ber soda dalam kaleng super kecil yang memang kadang dia inginkan. Dia ambil sekaleng spri_te kecil dingin dan dia meminumnya sedikit demi sedikit.
Ludes isi kaleng kecil itu, Steve membuangnya dan dia berniat kembali menghampiri Sari dan hendak mengajaknya bicara. Namun dia sungguh kecewa saat baru saja dia ingin membuka pintu show room nya dia melihat Sari baru menutup pintu taksi untuk pulang. Steve sangat tertekan, ini bukan karakter Sari yang dia kenal sejak pacaran hingga menikah. Steve sedih karena Sari sangat marah padanya. Dan yang paling Steve takutkan adalah Sari stress, karena akan berimbas pada kehamilannya. Dia tahu ibu hamil tidak boleh terlalu stress.
Baru saja Steve akan menyusul Sari, karyawannya lapor konsumen butuh bicara dengannya, akhirnya terpaksa Steve melayani konsumen lebih dulu dan ternyata baru 90 menit kemudian dia selesai melayaninya. Steve bergegas menuju rumahnya. Namun dia sungguh kecewa rumahnya kosong. Mama pun tidak ada di rumah.
“Assalamu’alaykum Ma, Mama dan Sari di rumah mas Anto?” tanya Steve langsung bertanya tanpa menunggu jawaban salam dari mertuanya.
“Mama lagi di toko bahan kue, tadi Mama sudah bilang Sari,” jawab bu Rahma.
“Lho, kirain Sari bareng Mama. Ya sudah aku telepon rumah Bumijo dulu Ma, siapa tahu Sari di sana karena dia sudah pulang sejak tadi,” Steve malah bingung karena mama tidak bersama Sari.
“Assalamu’alaykum, mbak Dini sudah pulang?” tanya Steve pada mbak Yuni yang mengangkat telepon rumah.
__ADS_1
“Wa’alaykum salam den Steve, Ibu belum sampai rumah, tadi Ibu bilang langsung pergi belanja bulanan,” jawab mbak Yuni.
“Apa mbak Sari dan Dhisty main ke situ?” tanya Steve.
“Enggak ada den,” mbak Yuni menjawab sejujurnya karena Sari memang tidak main ke situ.
------------------------------------------
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)
Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
Yanktie tunggu partisipasinya
Terimakasih dan salam manis dari Jogja
__ADS_1