
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab.
Apa ya yang akan Sari katakan pada Dini sang kakak ipar, sedang Sari tahu Dini adalah sahabat Steve yang paling tulus. Gimana kelanjutan ceritanya? Lanjut baca keseruannya di bawah ini ya.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
-------------------
“Mbak lihat ini,” ucapku memperlihatkan foto yang aku terima kemarin. Cukup sudah percakapan awal kami tadi tentang mode anak perempuan.
“Kamu dapat dari mana dan kapan de?” tanya mbak Dini dengan wajah tak percaya.
“Kemarin mbak, abang pergi siang, enggak lama aku langsung dapat kiriman itu. Itu baju dan celana memang yang dia pakai kemarin siang. Dan hari ini dia semangat pergi pagi-pagi sehabis sarapan. Padahal kalau berangkat bareng aku, kami paling cepat berangkat jam 9 pagi bukan jam 7.30 seperti tadi pagi.” Laporku
“Kamu tahu siapa gadis ini?” tanya mak Dini. “Apa pegawaimu di butik atau show room?”
“Aku belum pernah lihat,” balasku.
“Kamu sudah tanya ke Steve?” tanya mbak Dini lagi.
“Apa Mbak pikir orang yang berselingkuh mau mengakui?” aku balas bertanya.
“Ya tapi kita harus bertanya de, biar semua permasalahan menjadi jelas,” bujuk mbak Dini.
“Aku malas Mbak, biarlah semua sesuai kemauannya. Aku tak ingin mempertahankan pernikahan ini kalau memang harus berupaya sendiri. Rumah tangga ‘kan proyek dua hati. Bila hanya ada satu hati yang ingin tetap terikat dalam mahligai rumah tangga, maka perahu tak bisa berjalan,” aku pastikan langkah yang akan aku ambil. Aku akan menggugat cerai Steve.
“Assalamu’alaykum,” sapa abang saat tiba di rumah, berbarengan mbak Dini sedang bersiap pulang. Dan aku sedang berjalan ke kamar hendak ganti pembalut. Tak kuperdulikan suamiku masuk rumah. Aku tetap ingin ke toilet.
***
__ADS_1
“Good morning princess papie nan cantik jelita. Sudah bangun ya anak cantik. Sehat terus ya sayangku,” abang menyapa putri kecil kami saat dia baru masuk ke kamar sehabis menjalankan salat Subuh di ruang khusus salat. Aku melihat abang membuka sarung dan meletakan peci salatnya di tempat seharusnya lalu mengambil Dhisty yang terlihat memandangnya dengan mata bintang kejora miliknya. “Kita hirup udara bersih dikebun eyang di belakang yok,” ajak abang pada Dhisty. Dia melapis badan Dhisty dengan balutan selimut karena udara masih dingin. Tak lupa juga kepala Dhisty dipakaikan kupluk bayi agar mengurangi dingin di bagian kepala. Dan membawa gadis kecilku keluar kamar sementara aku sedang mengumpulkan semua baju kotor Dhisty untuk aku taruh di bak cucian baju.
“Ma, jenis pupuk seperti apa yang akan dibeli?” aku mendengar abang menanyakan pupuk apayang akan di belinya. Pagi ini dia kembali sudah siap berangkat saat masih pagi. Aku semakin yakin, dia memang sudah mendua. Kubulatkan hati untuk segera lepas dari pernikahan tak sehat ini. Aku tak mau bertahan lebih lama lagi.
Saat abang berangkat kerja, aku segera menghubungi kantor pengacara khusus dari LBH perempuan yang siap membantu mengurus usaha permohonan cerai. Untungnya aku mendapat respon positif saat bicara by phone. Aku di jadwalkan bertemu besok dan diminta membawa semua kelengkapan dokumen seperti copy KTP, copy surat nikah serta copy kartu keluarga. Aku segera menyiapkan semuanya. Aku juga akan bersiap untuk menyetock ASI agar selama aku tinggal besok Adhisty tidak minum susu formula melainkan tetap meminum ASI.
***
“Ma, maaf, aku tadi pagi sebelum bertemu teman, mau beli pesanan Mama toko saprotannya belum buka. Lalu pas baliknya aku lupa langsung ke show room. Aku janji besok aku belikan ya Ma,” aku mendengar abang memberi alasan pada mama karena lupa membeli pupuk pesanannya.
‘Pasti lupa lah, namanya lagi sibuk kencan dengan selingkuhan,’ pikirku. Aku sedang memompa ASI untuk persiapan besok pagi.
Esoknya abang kembali berangkat pagi, dan aku semakin tidak perduli. Aku sengaja memberi ASI pada Adhisty sampai dia kenyang sehingga kembaali tertidur. Abang sudah berangkat sejak tadi. Aku bersiap mandi dan pergi ke kantor LBH yang akan membantu proses pengajuan gugatan cerai dariku. Kemarin mereka bilang kalau hari ini aku mengajukan, esoknya pengacaraku akan segera menemui suamiku untuk diminta tanda tangannya sehingga pengajuan cerai bisa segera di proses. Tentu saja aku sangat senang akan proses cukup cepat yang akan aku dapatkan dari team pengacara di LBH yang aku minta pertolongannya ini.
Apsari end POV
Pagi ini Steve kembali berangkat pagi, dia akan bertemu dengan pengacara yang akan dimintai pertolongan untuk melaporkan kasus Jelita. Mereka bertemu di kantor sang pengacara. “Ini semua data yang ada Pak” Steve memberikan data yang kemarin dia minta dari Kusno saat Jelita menjadi pegawai magang di kantor lamanya.
“Kemarin ayahnya minta saya memberi waktu agar mempersiapkan mental ibunya. Jadi saya beri waktu hingga lusa. Nah sehari sesudahnya baru kita akan memasukan laporannya Bang,” jawab Steve yang merubah panggilan, karena bang Gultom memintanya memanggil dia dengan sebutan abang saja jangan Bapak.
“Hahaha, masih berbaik hati juga,” goda Gultom mendengar Steve masih memberi 4 hari toleransi pada pak Isman.
“Kalau ngelihat orang tua yang sangat sayang ama anaknya, aku suka ingat ke orang tuaku Bang, aku sudah yatim piatu sejak berumur 8 tahun. Jadi kalau ada persoalan dengan para orang tua, aku otomatis ingat papi dan mamiku,” balas Steve.
“Jadi tiga hari dari sekarang ya kita ajukan pengaduannya, bukan lusa?” Gultom kembali memperjelas, dan dia melingkari tanggalan di buku kerjanya. “Saya tunggu jam 8 pagi untuk berangkat bersama ke kantor polisi ya,” Gultom mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan kliennya itu.
***
Sehabis dari kantor pengacara Steve langsung bergegas menuju ruang usahanya. Saat dirasa tak ada yang penting dia kerjakan di show room, dan sehabis menanyakan apa yang perlu dia tangani di butik, namun tak ada yang perlu dia kerjakan maka Steve memutuskan segera kembali ke rumah. Dari show room Steve mampir toko saprotan dulu membeli pesanan mama mertuanya. Sehabis itu baru dia kembali ke rumah. Ternyata Sari tak ada di rumah. “Sari kemana Ma?” tanya Steve pada mama mertuanya.
__ADS_1
“Tadi dia bilang keluar sebentar mau ketemu dengan temannya,” jawab mama. Mama mengira Sari sudah ijin pada Steve. “Mama kira sudah ijin sama kamu.”
“Sudah sih Ma, aku pikir besok bukan hari ini,” jawab Steve. Dia tak ingin mama curiga terhadap hubungannya dengan Sari yang sedang tegang.
Sementara itu, Sari sedang santai berjalan di gang super market. Dia banyak jajan snack untuk cemilannya selain membeli aneka kebutuhan Adhisty dan juga buah serta sayuran. Sari benar-benar menikmati waktu sendirian setelah dua bulan full hanya di dalam rumah. Dia santai tanpa terbeban harus buru-buru pulang. Sari seakan lupa, ada bayi kecil yang menanti dekap hangatnya. Puas cuci mata, Sari berjalan menuju kasir. Saat sedang mengawasi sopir taksi memasukan barang belanjaannya ke bagasi, tanpa sengaja Sari melihat sosok yang sangat mirip dengan sosok yang berkencan dengan suaminya.
------------------------
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)
Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
Yanktie tunggu partisipasinya
__ADS_1
Terimakasih dan salam manis dari Jogja