KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR

KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
120 KE JAKARTA


__ADS_3

Hallo, gimana puasa kalian ? Semoga lancar selalu ya.


Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab. Yanktie seriusan tahu lho siapa aja yang selalu kasih like setiap habis baca, karena sebagai author kan ada notifikasinya.


Rupanya Steve jadi juga mewujudkan buka usaha baru, namun tentu saja saran ibu negara merubah banyak hal. Lanjut baca untuk tahu keseruannya di bawah ini ya.


Tapi jangan hanya baca …  kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.


-------------


“Tadi Endah telepon, dia memesan seserahan seperti saat nikahannya dulu. Hanya bentuk dan size serta coraknya beda,” jelas Sari.


“Iya, Papie juga mau. Kita atur aja sejak sekarang. Nanti jadwal imunisasi juga di jauhkan dari tanggal keberangkatan agar Dhisty enggak pas rewel.” Steve tentu setuju. Dia senang akan mengunjungi oma dan opa bersama keluarga kecilnya.


Sari tentu senang atas respon suaminya. Dia akan mempersiapkan semuanya berjalan lancar. Ke Jakarta, dia akan mengatur untuk bisa bertemu dengan teman-teman kuliah atau SMA.


***


Waktu berjalan cepat, tanpa terasa usia Dhisty sudah 8 bulan, dia mulai katif bergerak eksplorasi. Steve sudah membelikan dia baby walker. Dan seperti biasa, tak mau repot, Steve membeli 2. satu untuk di butik dan satu untuk di rumah. Steve sedang sangat sibuk. Bengkel barunya sudah jadi, saat ini dia sedang membuat show room baru yang terletak di tengah dengan konsep terbuka. Ruang kerjanya mau tidak mau harus terkunci. Setelah ini selesai baru bengkel lama dan show room lama akan di bongkar lalu di bangun cafe kekinian untuk menjaring anak muda.


Sari juga super sibuk, bulan depan acara pernikahan Fitri. Sebulan lalu semua paket seserahannya sudah sampai ke Jakarta dengan selamat. Saat ini Sari sedang sibuk menghubungi teman-temannya untuk bertemu setelah pernikahan adik Endah. Namun sesibuk apa pun mereka berdua, interaksi dengan Adhisty adalah prioritas mereka berdua.


“Bu, sepertinya non Dhisty agak demam,” lapor sang pengasuh. “Dan sepertinya gusinya gatal karena dia tidak mau makan.”

__ADS_1


Sari langsung mencuci tangannya dengan sabun dan mengeringkannya dengan tissue. Dirabanya gusi Dhisty. Ada yang memperlihatkan bakal tumbuh gigi baru. “Ini sepertinya gusi atas kasar Mbak, mau pecah untuk tumbuh gigi baru. Kasih obat penurun panas aja. Ini karena mau tumbuh gigi. Kasih banyak minum air putih ya.”


“Gatal ya gusinya? Dari kemarin kamu gigitin pu_ting Mamie karena mau tumbuh gigi?” Sari bicara sambil mengusap puncak kepala Dhisty yang sedang terkantuk sambil menyedot ASI dari pabrik utamanya.


“Honey, Papie keluar sebentar ya? Ada barang yang mau Papie tengok di daerah Jogonalan Lor,” Steve yang masuk ke ruangan anaknya melihat Sari sedang memberi ASI pada Dhisty.


“Hati-hati ya Pie, semoga dapat barangnya. Dan cepet terjual juga.” Sari memberi izin pada suaminya untuk mencari barang dagangannya.


Steve mencium pipi gembul Dhisty lalu puncak kepala Sari. “Aamiiiiiin. Makasih ya Mam atas supportnya.” Steve melangkah pasti dengan support doa istrinya.


***


Steve dan pengasuh Dhisty sibuk mendorong koper dan membawa tas mereka saat di bandara Soeta. Sementara Sari menggendong Dhisty. Mereka lelah karena tadi di bandara Adi Sucipto keberangkatan mereka di tunda beberapa saat,  akibat kondisi udara yang tidak kondusif. Mobil opa sudah siap menjemput. Karena mereka datang bertiga, maka hanya sopir yang menjemput di bandara. Opa dan oma menunggu di rumah.


Pernikahan Fitri masih 4 hari lagi, tentu Sari tak akan datang dekat hari H, dia tak ingin Dhisty lepas dari pengawasannya. Ini pengalaman pertama Dhisty perjalanan jauh. Sari belum tahu reaksi tubuh anaknya. Jadi tak mungkin baru sampai di Jakarta lalu Dhisty ditinggal ke pernikahan Fitri. Itu sebabnya Sari berangkat lebih cepat. Selain itu juga agar oma sedikit hafal dengan karakter Dhisty. Jadi bila besok ditinggal seharian, oma dan opa tidak kaget.


***


“Mbak Sari.” sapa seorang perempuan yang sedang hamil. Saat itu mereka sedang menanti penghulu datang ke rumah orang tua Endah. “Yuni Mbak, lupa?” tanya perempuan itu.


“Hai, wah sedang hamil? Apa khabar?” Sari ingat adik kelasnya yang rumahnya di percetakan negara belakang lapas Salemba itu.


“Baik Mbak. Pengantin lelaki adalah sepupu suami saya.” Yuni menerangkan mengapa dia bisa hadir di acara akad nikah Fitri, adik sahabat Sari itu.

__ADS_1


Di akad itu hadir juga Uswah, Teddy, Yossy dan suaminya serta beberapa teman kampus Bram atau Endah yang masih sering bertemu dengan mereka. Tentu itu membuat Sari dapat melepas kangen pada mereka itu. Selepas acara akad, Sari dan Steve tidak pulang ke rumah oma. Dia transit di rumah sepupunya yang dekat dengan gedung resepsi nanti malam. Namun di sana malah tak bisa istirahat. Kalau keluarga Manado kumpul tentu saja mereka akan terus makan dan cerita. Namun Sari menikmati semua itu. Sedikit lepas dari kegiatan rutinnya di butik.


---------------------------


Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.


Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.


Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)


Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END


Rincian hadiah sebagai berikut


Hadiah pertama pulsa 100.000


Hadiah kedua pulsa 75.000


Hadiah ketiga pulsa 50.000


Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )


Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini

__ADS_1


Yanktie tunggu partisipasinya


Terimakasih dan salam manis dari Jogja


__ADS_2