
31 APA AKU GA PUNYA NAMA DIMATAMU?
“Ajeng dan Putri hari ini pergi ke Bekasi, rumah sepupunya dari papanya, mama malas lah bengong di rumah, mending mama pulang aja, kangen ama pohon-pohon mama. Lebih-lebih kemaren ngobrol ama Dini, dia bilang habis dapat vanda tricolor, kan mama langsung pengen ngerawat pohon-pohon mama” cerita bu Rahma yang memang sangat senang dengan tanaman
“Lo denger kan, kalau sama mama dan Sari, Dini rajin telponan, tapi telpon gue boro-boro dia angkat” keluh Anto
Steve menunggu Sari keluar, setidaknya dia tahu gadis itu saat ini berada sangat dekat dengannya. “Wah Dini kalau sudah hunting pohon tu paling senang ya tante”
“Iya, dia sejak kecil suka tanaman dan masak. Tante sampai heran anak SMP koq hobby banget eksperimen resep dan merawat tanaman. Tante kalau sudah ama dia paling ga suka ama Anto, karena selalu mau monopoli Dini” cerita bu Rahma tentang sosok Dini sejak kecil yang sangat dia sayangi
“Yee mama aja yang curang, wong Dini ke rumah kan buat ngapelin mas, koq mama monopoli” kilah Anto menimpali mamanya. “Sari ga ikut pulang ma?” tanya Anto
“Ada, langsung ke kamar kayaknya” jawab bu Rahma sambil dia juga masuk ke ruang makan
“Mama sudah dahar belum?” tanya Anto
“Belum, ni mama mau masak dulu ya” jawab bu rahma
“Ga usah ma, biar kali ini kita beli nasi padang aja ya, mama ga usah masak, nanti kecapean” Anto mencegah mama nya untuk masak
“Steve, beli nasi padang yok, kasihan mama kalau harus masak dulu” ajak Anto
“Ok” jawab Steve senang. Setidaknya bila makan siang dia bisa melihat pujaan hatinya. “Biasanya nyokap lo senengnya apa kalo di rumah makan padang?” pancingnya, padahal yang ingin dituju adalah kegemaran Sari
“Mama suka semua, dia juga ga pantang pedesnya. Beda ama Sari, dia ga suka sambel ijonya, tapi semua jenis makananannya dia suka. Dan biasanya hanya butuh 1 porsi nasi untuk mereka berdua, tapi lauknya untuk 3 orang” jelas Anto sambil terkekeh menerangkan bila mamanya dan Sari lebih banyak makan lauk daripada nasinya
__ADS_1
Steve mencatat baik-baik info yang Anto berikan. Akhirnya mereka membeli 3 porsi nasi putih dengan banyak lauk untuk makan siang mereka kali ini
Sari mengatur nasi dan lauk yang Anto berikan padanya dimeja makan, setelah selesai dia memanggil mama dan kakaknya untuk makan siang
“Ma, akhir bulan ini mas mau ke Jogja, antar Steve pindahan sekalian mau nemuin Dini memperjelas hubungan mas ama dia” Anto membuka pembicaraan mereka di meja makan
“Kamu pindah Jogja Steve?” tanya bu Rahma
“Iya, tante. Doain ya” pinta Steve tulus
“Naik apa pindahannya? Koq mesti diantar?” tanya bu Rahma yang ga focus terhadap permintaan doa dari Steve
“Mau pakai mobil aja tante, biar disana langsung punya kendaraan, ga repot jual dulu disini lalu disana beli baru” jelas Steve. Sari hanya mendengar saja tanpa ikut nimbrung.
“Karena dia pakai mobil maka mas nemani ma, biar ga bengong sendirian Jakarta-Jogja” Anto mencoba menerangkan pada mamanya
“Nanti 2 hari sebelum berangkat akan mas kasih tau mama. Kalau di kasih tau tanggal yo mama sering lupa tho?” cetus Anto
Steve makin bingung karena belum ada celah untuk bicara dengan Sari. “Mau ikut ke Jogja de?” tanyanya pada Sari
Sari yang tau Steve bertanya padanya langsung menjawab singkat “Ga bisa”. Kemudian dia langsung membawa piring-piring kotor ke dapur dan mama nya membersihkan meja makan
“De, bisa bicara sebentar?” tanya Steve di dapur, dia sengaja membawa gelas kotor yang belum sempat Sari bawa
“Ok, nanti sehabis aku cuci piring” jawab Sari, dia juga ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Steve mengingat 2 minggu lagi Steve akan pindah kota. Sari mengajak Steve duduk di kursi kebun depan agar ga ada yang bisa dengar pembicaraan mereka. Bila mereka bicara di ruang tamu maka masih mungkin akan terdengar oleh mama atau kakaknya
__ADS_1
Sari sengaja membawa 2 gelas ice lemon tea. “Silahkan bicara” katanya datar
“Kamu salah pengertian de, kamu ga tau yang sebenernya langsung pergi tanpa tau penjelasan dariku” Steve langsung membuka pembicaraan dengan menyalahkan Sari yang dia anggap kekanak-kanakan
“Fine, kamu bilang aku salah dengar laki-laki didepanku yang dengan pedenya bilang dia lagi nunggu tunangannya yang sedang di toilet. Lalu aku juga salah denger kalau tunangan laki-laki itu bilang dia yang akan pesan menu seperti kebiasaan mereka. Dan salah denger juga tentang sebutan honey?” cecar Sari ga sabar
“Aku dengar langsung di TKP, bukan dengar dari pihak lain, bahkan aku juga lihat sendiri kejadiannya sejak ada perempuan minta duduk semeja dengan laki-laki itu” sahut Sari ketus
“Kenapa kamu kasar banget? Ga mau nyebut namaku sampai kamu ganti dengan kata-kata laki-laki didepanmu. Apa aku ga punya nama atau sebutan lain dimatamu?” keluh Steve
Sari diam, dia sudah sangat sakit hati melihat kenyataan laki-laki pertama yang disukai ternyata sudah memiliki tunangan. Dia malas debat. Dia sudah memutuskan ga akan lagi berharap melanjutkan hubungan dengan lelaki cukup umur didepannya. Dia akan melupakan harapan-harapan yang mulai diangankannya
“Perempuan yang minta duduk semeja dengan abang itu mantan abang ketika SMA, namanya Paula. Dia mengkhianati abang, dia hamil dengan pamannya lalu dia disembunyikan orang tuanya dan baru ketemu lagi sebulan lalu” Steve mencoba menjelaskan semuanya agar Sari mau mengerti cerita sebenarnya
“Lalu perempuan satunya adalah Andini, dia sekretaris abang, kami pernah sekelas saat kelas 1 SD tapi sejak abang pindah ke Jakarta baru ketemu 3 tahun lalu karena dia diterima kerja di kantor abang. Yang perlu kamu tau, Andin itu belok, dia ga suka laki-laki. Kinerjanya sangat bagus, dia cepat tanggap. Nah sebulan lalu saat sedang makan siang sehabis meeting, tiba-tiba Paula datang ke meja abang dan berupaya mendekati abang kembali. Saat itu abang langsung punya ide bersandiwara saat Andin datang sehabis dia nyusulin berkas yang tertinggal ke klien yang baru aja meeting ama abang. Saat itu abang langsung ngenalin Andin sebagai sekretaris merangkap tunangan abang ke Paula. Andin yang cepat tanggap langsung aja bisa nimpalin sandiwara abang, dia langsung bersikap kalau dia emang beneran tunangan abang”
“Jadi pas kemaren ketemu lagi ama Paula, dan Paula belum percaya kalau abang sudah tunangan. Ya abang kembali bersandiwara dengan Andin. Serius de, Andin bukan tunangan abang, kalau ga percaya sekarang abang kenalin ke rumahnya yok” jelas Steve panjang lebar
“Maaf, aku ga perlu cerita panjang lebarmu. Terserah apapun versimu. Aku lebih percaya pendengaran dan penglihatanku sendiri. Aku bukan mainan, kamu teruskan aja bermain dengan banyak bonekamu itu” lugas Sari menjawab
“Trus abang mesti gimana nerangin kondisi sebenernya ke kamu? Abang ga pernah serius kesiapapun sampai seperti kekamu. Bahkan ke Cindy perempuan yang terakhir akan tunangan aja abang ga seperti ini” keluh Steve
“Ya ga perlu gimana-gimana. Simple koq, ga usah pernah anggap kita pernah berteman baik. Kita kembali ke titik awal, kalau kamu adalah teman kakakku dan aku hanya sekedar adik temanmu. Ga lebih. Jadi saat nanti kita ketemu lagi kita ga perlu sedih atau marah” lugas Sari menjawab pertanyaan Steve tentang apa yang harus dia perbuat.
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote nya ya