KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR

KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
103 CHAT ATTENSI SI ULET BULU UNTUK MAS-KU


__ADS_3

Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab. Yanktie seriusan tahu lho siapa aja yang selalu kasih like setiap habis baca, karena sebagai author kan ada notifikasinya.


Hiks hiks, Jelita pede bangeeet bilang ke bundanya kalau abang Steve mau membatalkan pengaduannya. Gimana kelanjutan ceritanya? Lanjut baca keseruannya di bawah ini ya.


Tapi jangan hanya baca …  kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.


-------------


Steve membawa tas ganti Adhisty dan menerima resep yang dokter berikan. Sari tersenyum bahagia memandang dua orang tersayang. Suami dan putri kecil mereka. Sari membetulkan gendongan instan di bahunya. Mereka berjalan bersisian menuju apotek. “Mau mampir-mampir kemana  atau gimana Mam?” tanya Steve. Dia takut salah bila langsung memutuskan membawa istri kecinya itu pulang.


“Langsung pulang aja Pie, kasihan kalau bawa-bawa Dhisty main. Nanti pas kita nunggu vitamin, Papie beli siomay aja di bungkus. Kita makan di rumah aja ya?” Sari menyampaikan pendapatnya.


Steve menyetujui pendapat istrinya. Setelah menyerahkan resep dari dokter, dia langsung menuju cafe di seberang apotek. Dia memesan 8 bungkus siomay. Penghuni rumahnya hanya 6 orang, yaitu simbok, seorang asisten rumah tangga, pengasuh Dhisty, mama, serta dirinya dan Sari. Namun jatah Sari dan dirinya tentu saja dua porsi. Karena tengah malam Sari sering makan sebab sehabis memberi ASI, dia akan kelaparan. Nah Steve tentu akan menemani. Kadang dia ikut ngemil, kadang hanya duduk saja agar istrinya tidak sendirian di meja makan.


Obat Adhisty tidak lama, karena bukan racikan, hanya vitamin saja. Sari dan Steve segera pulang. Di mobil terdengar notifikasi chat di ponsel Steve. Dia meminta Sari membacanya. “Dari ulet bulu Pie,” Sari memberitahu siapa yang mengirim pesan.


“Baca aja Mam, emang nomornya sengaja belum Papie blokir. Sampai besok siang baru di blokir saat dia sudah di kantor polisi. Kalau sekarang di blokir dia akan curiga.” Jelas Steve mengapa dia belum memblokir nomor ulet bulu.


“Jangan telat makan ya mas ku, udah sore loh. Take care kalau lagi di jalan,” Sari membacakan pesan penuh attensi dari Jelita untuk Steve.


“Wooow, punya selingkuhan ‘tu penuh attensi ya,” goda Sari. “Pantas banyak suami klepek-klepek dapat attensi dari selingkuhan. Karena para istri sudah berkurang attensi lebaynya, lebih fokus ama hal real dalam rumah tangga mereka.” Gumam Sari sambil membuka kancing bajunya untuk memberi ASI pada Adhisty. Dari tadi sengaja dia menahan sebentar agar punya privasi untuk memberi ASI.


“Bener Mam, memang banyak laki-laki yang terbuai dengan perhatian kecil dari perempuan lain selain istrinya. Bisa jadi karena dia enggak pernah berpikir panjang. Laki-laki seperti itu enggak pernah ikut merasakan sakitnya istri mengandung dan melahirkan. Laki-laki seperti itu tidak pernah merasakan penderitaan istri saat harus bangun tengah malam dan mengurusi bayinya. Apalagi saat bayinya demam. Dan pastinya laki-laki seperti itu tidak pernah merasakan bagaimana penderitaan istrinya saat sedang makan, lalu harus terhenti karena bayinya buang air besar. Kalau seperti aku, mas Anto, mas Imron dan semua dari keluarga kita dan mbak Dini lelakinya ‘kan pada setia, karena kami semua selalu ikut merasakan bagaimana penderitaan pasangan kami.” Steve memberi alasan pandangannya. Karena memang apa yang dikatakan Sari adalah benar.


***

__ADS_1


Sari dan Steve sampai rumah saat hujan deras. Sedihnya kemarin payung di mobil lupa di masukan lagi. Maka Steve terpaksa menelepon rumah agar seseorang membawakan payung untuk Sari turun. Mama yang menerima telepon di nomor rumah segera meminta asisten rumah tangga membawakan dua payung besar untuk Steve. “Hati-hati licin ya Mam. Apa Dhisty biar Papie aja yang gendong?” Steve takut istrinya terpeleset. Kanopi garasi mereka sedang diperbaiki, itu mengapa saat hujan seperti ini mereka tidak bisa turun mobil tanpa kehujanan.


“Iya, Papie aja yang gendong Dhisty, sandal Mamie licin. Bahaya.” Sari berpikir logis. Dia tadi mengenakan sandal dengan hak datar walau hanya 3 cm. Tetap lebih baik alas sneakers Steve yang terbuat dari karet.


Steve keluar mobil dan memutar, dia menerima dua payung dari asistennya. “Terima kasih mbak, ambilkan belanjaan dan tas non Dhisty di belakang ya, biar saya yang bantu Ibu,” Steve langsung mengembangkan sebuah payung dan memutar menuju pintu Sari. Dia memberikan sebuah payung untuk Sari. Perlahan digendongnya Adhisty dan dia langsung membawa princess nya ke dalam. Didekap erat putri kecilnya agar tidak kedinginan.


Steve langsung meletakkan bayinya di kamar. Di buka bedongnya agar tidak mengganggu gerak Adhisty. Dia mengecup kening dan pipi gembil putri kecilnya sebelum keluar melihat Sari yang turun belakangan. “Sudah semuanya Mam?” tanya Steve.


“Sudah Pie,” Sari langsung meminta air jahe panas dengan gula merah untuk dirinya dan Steve. Dia juga meminta asistennya memanaskan siomay yang tadi dibeli Steve.


Saat akan memasuki kamar mandi, Sari mendengar ponsel Steve berbunyi panggilan telepon. Dilihatnya yang menghubungi si ulet bulu. Karena kesal Sari langsung menolak panggilan. Baru dia masuk ke kamar mandi.


Steve tidak tahu tentang panggilan itu. Dia sedang melihat kondisi garasinya. Kanopinya memang baru kemarin di buka dan tukangnya bilang akan selesai penggantian tiga hari lagi.  Steve meminta kanopi di buat lebih besar agar bila dia pulang malam dan kondisi hujan, saat dia turun untuk membuka pagar, dia tidak kehujanan. Kalau kanopi yang lama, dia sulit, walau menggunakan payung sekalipun. Sebab air deras curahan dari kanopi malah menimpa payungnya. ‘Sudah masuk musim hujan, semoga tukangnya enggak molor pengerjaannya. Bisa gawat kalau mereka molor, karena Sari tentu juga akan kerepotan.’ Steve membatin. Biasanya kalau hujan di pagi hari, Sari akan meminta tukang sayur masuk ke garasi agar simbok belanja tidak susah.


***


“Lita cepaaat!” teriakan sang bunda dari bawah tangga terdengar memanggilnya.


“Iyaaa Bund, ini sudah siap,” Jelita pasrah, masih belum bisa mendengar suara merdu pujaan hatinya untuk meningkatkan semangatnya. Namun dia yakin, hari ini hanya formalitas. Tentu Steve sudah membatalkan pengaduannya.


***


Steve memperhatikan ponselnya. Sejak tadi banyak panggilan masuk dari nomor si ulet bulu. Saat ini sudah jam 9 pagi. Saat seharusnya si ulet bulu sudah berada di kantor polisi. Steve segera memblokir nomor tersebut.


Jelita dan kedua orang tuanya memasuki kantor polisi dengan tenang. Pak Isman belum merasa butuh pengacara karena dia pikir hari ini baru tahap awal saja. Terlebih semalam dia mendengar dari istrinya, Jelita berhasil meminta Steve untuk membatalkan pelaporan dirinya. Di kantor polisi sudah hadir pengacara Steve yang memang di tugaskan bang Gultom dari Jogja. Pak Trisakti yang akan menangani kasus Steve.

__ADS_1


--------------------


Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.


Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.


Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)


Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END


Rincian hadiah sebagai berikut


Hadiah pertama pulsa 100.000


Hadiah kedua pulsa 75.000


Hadiah ketiga pulsa 50.000


Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )


Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini


Yanktie tunggu partisipasinya


Terimakasih dan salam manis dari Jogja

__ADS_1


__ADS_2