KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR

KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
66 BUBUR MANADO


__ADS_3

Yanktie ucapin makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini. Gimana keseruan mamie dan papie kita kali ini?


Biar ga penasaran ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa.


Jangan lupa like dan vote serta komennya dan bintang 5 nya.


---------------------


“Cie … cie, ada yang udah punya panggilan speciaaaaal nih,” goda Dini pada pasangan adik iparnya itu.


“Eh iya, Ma, Mas, Mbak aku mau minta doa, alhamdulillah sudah ada baby di rahimku,” Sari baru ingat tujuannya ke rumah kakaknya adalah mengabarkan kehamilannya.


“Alhamdulillaaaaah,” kompak jawaban yang ada di sana, penantian Sari selama 14 bulan menikah akhirnya bisa mendapat khabar baik.


Sampai malam kedua pasangan itu berbagi pengalaman tentang kehamilan. Mereka membahas mitos dan kebiasaan adat. Tentu semua di simak oleh Steve dan Sari. Mereka juga mulai berlangganan majalah keluarga agar dapat info yang benar.


“Pie, mamie pengen ngerasain bubur Menado, masa punya suami orang Menado tapi belum pernah makan,” bisik Sari malam ini sambil mendekap erat suaminya.


Steve tentu kebingungan, di Jogja dia tidak mengenal orang Menado atau tahu di mana penjual makanan Menado. “Papie ga punya rekomen buat orang bikin makanan itu di Jogja. Gimana kalau kita buat sendiri, resepnya kita tanya ke oma,” demikian saran Steve pada mamie calon anaknya.


“Setuju banget Pie, malah bagus kalau aku bisa masaknya, jadi ga malu-maluin jadi istrimu,” jawab Sari cepat. Memang kehamilannya sama sekali tidak ngerepotin. Kepengen namun tidak harus ada saat itu juga.


Steve yang tidak menyangka bakal dapat solusi semudah itu tentu tenang, dia langsung mengambil ponselnya dari nakas hendak menghubungi omanya untuk minta resep. “Pie, jangan sekarang lah!” cegah Sari.


“Kenapa,” tanpa sadar Steve malah memperlihatkan ke alpaannya.


“Sekarang tengah malam Pie, resep ga urgent karena kita juga harus cari bahannya dulu,” sela Sari sambil kembali mendekap suaminya yang masih naked, mereka baru saja melakukan ritual nengok baby sehingga mungkin Steve belum konsen penuh.

__ADS_1


***


Sari menghubungi mbak Dini menitipkan bahan-bahan yang di butuhkan untuk membuat bubur Menado agar di belanjakan mbak Siti atau simbok saat belanja ke pasar nanti. “Aku ambil bahan-bahannya sepulang kerja yo mbak,” pintanya.


“Yo de, nanti aku minta simbok belikan pesananmu,” Dini pun mencatat semua permintaan adik iparnya itu.


Pagi ini Steve dan Sari berangkat bersama karena Sari kepengen sarapan sate lemak di pasar Beringharjo. Awalnya Sari ingin berangkat sendiri namun Steve memaksa menemaninya. Selain dia juga suka dengan sate lemak tersebut, dia juga merasa ketakutan bila Sari pergi tanpa ada yang menemani.


Sudah sampai Beringharjo tentu otak bisnis Sari tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia sekalian melihat model dan bahan yang bagus menurut perhitungan bisnis. Ga salah aku menyerahkan penanganan butik padanya, dia memang hebat. Otodidak namun bisa mengalahkan pemain lama, batin Steve saat memperhatikan pengamatan pasar istrinya.


Sari juga membeli beberapa dress batik untuk Amora. Selain dia membelikan mama daster berbahan lembut.


Mereka meninggalkan pasar Beringharjo dengan bawa banyak belanjaan. Dan tak lupa juga membeli sate lemak untuk makan siang nanti, walau tadi sudah makan di tempat, tetap mamie bilang debay minta bekal buat di butik. Hahaha ada aja alasan mamie Sarie biar di beliin sate lemak ya!


***


Sekarang bu Gita bersiap mendidik 3 keponakannya, anak-anak saudara sepupunya. Mereka di haruskan belajar dari bawah. Mereka harus bekerja sambil kuliah seperti yang suami dan dirinya lakukan dulu. Dia akan meminta Steve sebagai mentor ke tiga kandidat calon pemimpin itu. Dia menyiapkan sebuah rumah sederhana dengan kewajiban sewa bagi ke tiganya.


“Steve, rumah yang akan di pakai sudah saya siapkan, upayakan jangan ada kemudahan, biar mereka belajar prihatin dan surat sewa kamu siapkan dengan poin kapan terakhir bayar serta di larang pindah sebelum 3 tahun, bila di langgar cantumkan pinalty yang sangat memberatkan,” jelas bu Gita pagi tadi. Dan ke tiga kandidat akan memulai karier sebagai tenaga administrasi merangkap marketing.


Steve kagum akan langkah yang saat ini di ambil bu Gita, rupanya dia sadar setelah gagal mendidik anak kandungnya menjadi sosok yang baik.


“Apa mereka punya kendaraan Bu?” tanya Steve.


“Mereka membawa motor dari orang tuanya, karena saya sudah ultimatum tidak ada dispensasi untuk jadwal kehadiran. Mereka tetap tidak boleh terlambat, tentu di sesuaikan jam kuliah mereka,” jelas bu Gita kembali.


“Kapan mereka mulai hadir di kantor?” tanya Steve.

__ADS_1


“Mulai Senin, sekalian saya datang! Saya ingin mendikte mereka sebelum mereka terjun,” bu Gita menyatakan ketegasannya.


***


Setelah itu Steve dan Kusno mulai mengatur formasi agar ke tiga kandidat tidak mudah berhubungan, mereka harus terpisah untuk mencegah mereka saling bantu. Kusno juga membuat data roling 6 bulan sekali agar nantinya mereka bisa menguasai semua persoalan. Setelah memeriksa semua planning untuk para kandidat, Steve meminta Kusno mengirim via email ke bu Gita untuk segera di periksa dan di setujui.


Namun Kusno tetiba melapor kalau ada sedikit kendala dan butuh perubahan karena merasa akan ada sedikit kesulitan bagi seorang kandidat, di sebabkan dia seorang perempuan dan mempunya referensi kesehatan yang kurang prima. Steve dan Kusno mencoba memecahkan persoalan itu namun merasa bukan hak mereka untuk merubah ketentuan, maka Steve mencoba langsung bicara dengan bu Gita sebagai owner.


“Assalamu’alaykum Bu,” sapa Steve, saat ini menjelang sore.


“Waa’alaykum salam, ada masalah apa Steve?” tanya bu Gita to the poin.


“Saya dan Kusno baru saja menerima data 3 kandidat, ternyata salah se orang memiliki record kesehatan kurang prima, apa harus ada dispensasi khusus baginya?” tanya Steve. Kalau masalah gender, itu bukan hal yang bisa membuat dispensasi. Namun kalau kesehatan tentu harus di perhatikan.


“Apa catatan medis nya?” tanya bu Gita, dia sendiri malah tidak tahu soal itu.


“Di data pribadi di sebutkan seorang calon mempunyai alergi parah terhadap dingin dan AC bu. Saya rasa tak bisa memberi dispensasi di ruangannya AC tidak boleh di nyalakan karena tenaga admin kan seruangan bukan sendirian.


“Astagfirullaaah, trus bagaimana? Saya akan hubungi orang tua ke tiganya untuk di perhatikan lagi deh, padahal saya malah ingin menambah kandidat menjadi 5 orang agar persaingan benar-benar ketat,” bu Gita bingung kalau masalah sepele yang tidak bisa di sepelekan akan membuat semua orang terbebani.


Steve agak plong setelah melaporkan kesulitan kecil yang tidak bisa di kecilkan itu. Dia juga tidak ingin orang satu ruangan harus tersiksa karena dia memberi dispensasi bagi keponakan bu Gita itu.


***


Sambil nunggu bab selanjutnya dari kisah ini, bisa baca cerita teman yanktie ini, ga bakal kecewa deh


__ADS_1


__ADS_2