KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR

KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
55 ISTRI LO HAMIL BERAPA BULAN?


__ADS_3

“Bisa saya minta nomor HP nya?” pinta Catthy.


“Maaf, saya ga bisa memberikan nomor telepon cucu saya sembarangan,” lalu telepon ditutup.


“Ihhhh, nyebelin banget tu opa-opa!” pekik Catthy saat mendengar sambungan telepon di tutup.


Malamnya Catthy meminta temannya untuk bicara dengan nomor yang sudah dia tekan. “Selamat malam,” sapa teman Catthy saat nomor yang di hubunginya tersambung.


“Iya selamat malam, dengan Steffano Lumowa disini, hendak bicara dengan siapa?” tanya suara laki-laki penerima telepon.


“Saya Arman, ingin bicara dengan Steve,” jawab teman Catthy.


“Maaf Steve sudah tidak tinggal disini sejak dia SMA,” jawab penerima itu.


“Bisa saya minta nomor HP nya?” pinta Arman.


“Maaf, saya ga bisa memberikan nomor telepon cucu saya sembarangan!” lalu kembali telepon ditutup.


Catthy yang mendengar pembicaraan karena di loud speaker pun kembali mencak-mencak. Ternyata sulit mencari cara untuk kembali berhubungan dengan Steve. Ini bukan bikin dia menyerah, dia makin tertantang untuk memenangkan taruhannya dengan Belinda.


***


Sementara Belinda ketika mendapat alamat kantor Steve di Jogja ga mau spekulasi, dia langsung ambil penerbangan ke Jogja sore ini. Bukan soal hadiah yang dia kejar, namun kepuasan bila bisa menanglah tujuan utamanya. Apalagi bila Steve memang bisa menjadi suaminya kelak, dia ga perlu lagi menjadi wanita peliharaan seperti yang di lakukannya saat ini


Sesampai di Jogja Belinda langsung menginap di hotel dekat dengan jalan yang fenomenal yaitu jalan Malioboro. Dia menginap di Hotel Sakura daerah jalan Dagen, kalau ingin ke Malioboro dia hanya butuh jalan kaki saja. Namun malam ini dia malas keluar, dia ingin tidur cepat agar besok bisa fresh saat mengunjungi kantor Steve.


Esoknya Belinda sengaja berangkat jam 10 pagi menuju kantor Steve, dia ngepasin jam makan siang agar bisa santai ngobrol dengan Steve.


“Selamat siang,” sapa Belinda pada PR di kantor Steve.


“Siang bu, ada yang bisa kami bantu?” tanya petugas di sana ramah.


“Saya ingin bertemu dengan pak Steve,” jawab Belinda.


“Sudah ada janji dengan beliau?” tanya petugas masih ramah.


“Belum, saya kawannya dari Jakarta. Apa bapak Steve ada? Kalau ada biar saya menunggu beliau jam makan siang saja,” jawab Belinda.


“Saat ini pak Steve ada, sedang meeting kalau  melihat  jadwal saat ini, sehabis sholat beliau kadang keluar makan siang, kadang makan di kantor bu,” petugas itu memberi info kalau Steve sedang meeting.


Sholat? Pikir Belinda, seingatnya dulu Steve non muslim. Baiklah, yang penting Steve ada di kantor, pikirnya lagi.

__ADS_1


“Kalau gitu saya tunggu saja mbak,” jawab Belinda ramah, dia lalu duduk manis di sofa lobby tersebut. Jam istirahat sudah hampir tiba, tidak akan lama dia menunggu.


“Selamat siang Mas” sapa petugas pada sekretaris Steve saat jam istirahat baru saja dimulai.


“Kenapa sayangku?” canda sekretaris itu.


“Paling bisa deh, ga inget tu bini lagi ngidam? Hahaha, ada tamu dari Jakarta, katanya teman pak Steve dan dia menunggu di lobby,” info dari garda terdepan kantor itu.


“Ok makasih, nanti aku sampaikan ke pak Steve sehabis dia sholat,” jawab si sekretaris.


***


“Siapa?” tanya Steve saat di beritahu ada temannya dari Jakarta yang menunggunya di lobby.


“Wah saya ga tau pak, karena dia bilang mau nunggu mbak Yanti ga nanya identitasnya,” jawab sekretarisnya.


“Kamu makan dimana?” tanya Steve, sesungguhnya dia malas keluar, ingin titip belikan saja.


“Istri saya pengen gudeg manggar pak, mungkin kami makan itu. Bapak mau titip?” tanya sekretarisnya lagi.


“Ga usah deh, takutnya teman saya ngajak makan diluar. Ya sudah yok kita turun, kasihan istrimu lama nungguin kamu,” ajak Steve.


Sesampai di lobby Steve mengedarkan pandangan mencari sosok yang mungkin dia kenal dan sedang menunggunya. Sementara Belinda sejak jam istirahat matanya selalu terpaku pada pintu lift.


“Hai, sedang apa di Jogja, dan tau dari mana kalau gue kerja disini?” tanya Steve bingung.


“Kemaren gue ke kantor lo cari Shinta, ternyata Shinta sudah meninggal. Nah dulu pas gue di ajak ama Shinta ke kantor lo, gue liat elo di sana, jadi kemaren gue tanya ama orang kantor tentang elo. Dapet info elo yang pegang cabang ini. Hebat lo ya, meroket karier lo. Gue disini udah 3 hari, ada kerjaan,” bual Belinda seakan dia ke Jogja bukan sengaja mencari Steve.


“Kita maksi yo Steve. Elo kan udah lama disini, ajak gue ke gudeg fenomenal disini dong?” pinta Bellinda.


Karena ga enak maka Steve pun meng iyakan ajakan Belinda, dia membawa Belinda ke sentra gudeg daerah Wijilan. Saat makan gudeg Steve langsung inget bu Rahma mamanya Sari yang sangat suka gudeg, dia jadi merindukan gadis kecilnya. Lagi apa ya dia? pikirnya


“Eh istrimu lagi hamil berapa bulan Steve, koq kemaren belum kelihatan buncit ya?” pancing Belinda.


“Kemaren kami lagi mbelanjain kakak ipar gue, dia lagi hamil 3 bulan anak kedua. Sore ini juga gue mau beli stroller buat dia, karena kemaren mau beli di Jakarta susah bawanya,” cerita Steve tanpa berpikir negative.


“Elo bukannya anak tunggal, koq punya kakak ipar?” Belinda belagak bodoh.


“Ya punya lah, kakaknya tunangan gue kan kakak ipar gue,” jawab Steve tanpa ragu “Yang kemaren itu tunangan gue, bulan Mei dia wisuda, mungkin Juli kami menikah, mau gue Juni tapi dia mintanya Juli,” lanjut Steve.


Ternyataaaaaa …  cetus Belinda dalam hatinya, namun dia bertekad sebelum janur kuning melengkung dia ga akan mundur. “Wah selamat yaaaa, semoga lancar hingga pernikahan,” tukas Belinda menutupi kekecewaannya.

__ADS_1


Sebelum pulang Belinda kembali membuat photo dirinya berdua dengan Steve menggunakan digicam yang dia bawa.


“Lo mau lanjut kemana?” tanya Steve “Sorry gue ga bisa nemanin, gue harus balik kantor” katanya lagi sambil membayar gudeg yang mereka makan juga bungkusan gudeg untuk  Dini.


“Lo beli gudeg banyak banget” komentar Belinda.


“Kakak ipar gue tinggal di sini, jadi kalau gue inget makanan kesukaan dia ya gue pasti beliin buat dia, kebetulan gue sahabatan ama dia sejak dia masih SMA. Gue lebih anggap dia adik daripada anggap dia kakak,” jelas Steve.


“Owh kakaknya tunangan lo tinggal di Jogja, jadi lo ga kesepian dong ya di kota ini. Kalau tunangan lo tinggal di mana?” korek Belinda.


“Dia masih di Jakarta, habis wisuda baru pindah Jogja,” jawab Steve tanpa ragu.


“Tunangan lo ga jealous ke kakak ipar lo kalau lo sedeket itu ama dia?” selidik Belinda.


“Engga, karena siapapun yang kenal ama kakak ipar gue, pasti jatuh hati dan sayang ama dia,” jelas Steve.


“Wah jadi pengen kenal sosok berkharisma seperti itu,” bisik Belinda, dia serius kagum terhadap sosok yang di ceritakan oleh Steve.


“Eh lo mau pisah di sini atau di mana?” tanya Steve lagi saat akan memasuki mobilnya.


“Gue di sini aja deh, barusan sudah di hubungi agen gue buat session berikutnya,” jawab Belinda.


“Ok kalau gitu sukses ya buat kerjaan lo,” kata Steve lalu langsung masuk ke mobilnya.


Lumayan lah, udah dapat nomor ponselnya Steve, pikir Belinda. Dia langsung menuju hotel tempat sugar daddynya sedang meeting.


Steve sendiri tidak kembali ke kantornya, dia sengaja mendatangi toko khusus perlengkapan bayi untuk membeli stroller pesanan Sari. Itulah sebabnya tadi dia membelikan gudeg untuk Dini, karena rencananya sore ini dia akan mengunjungi calon kakak iparnya itu.


***


--------------


Yanktie ucapin makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini.


Biar ga penasaran ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa, udah mau habis koq.


Jangan lupa like dan vote serta komennya dan bintang 5 nya


-----------


Just info, kalau novel ini sukses dan banyak yang suka, yanktie akan rilis cerita baru berjudul IMPOSSIBLE LOVE di noveltoon. semoga aja kisah kesandung cinta anak bau kencur bagus ratingnya sehingga bisa segera rilis cerita baru. makanya jangan sayang kasih like dan komen serta hadiah dan vote ya

__ADS_1


Sekali lagi makasih dan semoga semua selalu sehat



__ADS_2