KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR

KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
102 ULET BULU MENGGODA ABANG STEVE


__ADS_3

Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab.


Naah lho, ketahuan Sari kan si ulet bulu pas telepon abang Steve.  Gimana kelanjutan ceritanya? Lanjut baca keseruannya di bawah ini ya.


Tapi jangan hanya baca …  kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.


-------------


‘Wah dia menghubungiku kembali,’ Jelita sangat senang saat nomor Steve meneleponnya. Namun dia tak ingin gegabah. Dia menunggu suara si penelepon terlebih dahulu. Karena dia takut yang menghubunginya adalah istri Steve. “Wa’alaykum salam mas Steve, apa khabar?” suara manja sengaja Jelita lontarkan menjawab salam Steve.


“Maaf, ini dengan siapa? Tadi anda menghubungi saya?” tanya Steve sambil mengernyitkan alisnya karena dia tidak mengenal siapa yang menjadi lawan bicaranya. Sari mendengarkan di depan suaminya.


“Mas, aku Jelita yang sempat main ke show room mas minggu lalu,” Jelita membuka percakapan. Sari melotot mendengar siapa yang tadi menghubungi suaminya. Pantas sambungan langsung diputus saat mendengar suaranya. Steve memberi isyarat dengan telunjuk di bibirnya saat melihat mata istrinya.


“Owh. Ada maksud apa menghubungi saya?” tanya Steve memancing.


“Gini Mas, saya ‘tu cuma iseng aja nge godain istri Mas dengan mengirim foto-foto. Kenapa Mas melaporkan ke polisi ya? Kalau saja saya masih sempat ke Jogja, tentu saya akan menghampiri Mas dan kita bisa diskusi akrab agar Mas membatalkan semua pelaporan. Saya enggak akan menggoda istri Mas kalau Mas mau kita ketemuan,” Jelita memberi penawaran awal pada Steve.


“Wah sayang ya enggak bisa ketemu sebelum datang ke kantor polisi. Memang kalau kita ketemu, mau diskusi akrab seperti apa? Koq bisa diskusi akrab membuat saya membatalkan laporan? Kalau hanya diskusi kan tidak perlu ketemu. Kita bisa koq diskusi di telepon bila ingin saya membatalkan tuntutan.” Steve mengedipkan sebelah matanya pada Sari, dan Sari makin marah serta memonyongkan mulutnya. Dasar Steve, dia malah menempelkan pipinya pada mulut istrinya, agar dicium. Adhisty yang berada dalam gendongan Steve anteng saja memasukan jemari ke mulutnya.


“Apa tanpa bertemu Mas mau membatalkan pelaporan?” Jelita terpancing kata-kata manis Steve.


“Ya saya tanya dulu, diskusi akrab maksudmu apa?” Steve terus memancing.


“Mas tahu lah maksudku. Kita kan bukan anak kecil. Jadi enggak perlu lah di jabarkan,” Jelita enggan mengungkapkan maksudnya lewat perkataan.


“Maksudmu, kamu tidur dengan saya agar saya membatalkan laporan?” Steve sengaja memperjelas apa yang dimaksud oleh Jelita.


“Apa Mas enggak suka? Saya jamin, saya akan membuat Mas puas. Asal Mas bersedia membatalkan pelaporan itu. Walau kita belum bertemu, besok saya tetap akan datang ke kantor polisi. Sesudah itu saya akan segera berangkat ke Jogja, tujuan ke Jogja tentu untuk  bertemu agar kita bisa menuntaskan janji kita ini,” Jelita sungguh bodoh. Dia tidak sadar sedang digiring oleh Steve.

__ADS_1


“Apa kamu tahu, kalau istri saya lah yang melaporkan kamu. Bagaimana dia mau mencabut laporannya?” kembali Steve menggiring Jelita.


“Mas kan bisa aja bikin alasan apa gitu ke istri Mas itu. Semua ‘kan wewenang Mas.” bujuk Jelita dengan yakin.


“Kalau begitu besok kamu langsung ke kantor polisi yang alamatnya tertera di surat panggilanmu ya. Saya akan urus semua yang kamu inginkan dari sini. ingat ya, bukan yang saya inginkan! Dan ingat janjimu, kamu akan memastikan datang ke kantor polisi. Maaf sekarang saya ada keperluan. Selamat sore.” Steve langsung memutus sambungan pembicaraan. Dan memeluk istrinya dengan satu tangan yang bebas, karena tangan satunya menjaga Dhisty.


Tanpa di minta Steve memutar rekaman pembicaraan yang baru saja dia buat. “Jangan marah, Papie hanya memancing untuk membuat rekaman saja. Rekaman ini akan Papie kirim ke bang Gultom untuk diberikan ke temannya yang urus pelaporan abang di Jakarta. Juga akan diperdengarkan ke pak Isman dan polisi disana besok pagi.” Jelas Steve sambil mengecup sekilas bibir istrinya.


Sari sungguh tidak menduga bila sejak awal Steve merekam pembicaraan antara si ulet bulu itu dengan suaminya. Dia tadi juga tidak marah terhadap suaminya. Hanya kesal karena si ulat bulu memang benar-benar berniat membuat gatal dirinya.


“Ayo kita berangkat, nanti jadi dapat nomor besar lho antrian di dokternya,” Sari mengalihkan pembicaraan sambil meminta Adhisty agar dia gendong dan memberikan kunci mobil kepada suaminya.


***


Jelita plong, dia yakin Steve akan luluh dalam pelukannya. Dia segera pulang ke rumahnya. Dia sudah membayangkan, akan segera ke Jogja dan berolah raga di ranjang dengan Steve. Senyum tak pernah lepas dari sudut bibir Jelita membayangkan dia bisa mendapatkan Steve dengan sangat mudah. Dia menyalakan musik di mobilnya, dia ikut bersenandung karena hatinya sangat bahagia.


“Bunda dan ayah tenang saja. Lita akan aman. Tak perlu risau. Besok Lita tetap akan datang ke kantor polisi, namun itu hanya sekedar formalitas. Sesudah itu Lita bebas koq. Barusan mas Steve sudah ngobrol ama Lita. Dia akan membatalkan pelaporannya,” jelas Jelita sambil membuka kulkas, dia sudah memegang gelas dan ingin mengambil air putih karena merasa sangat haus.


“Pembatalan? Kamu yakin?” bu Neni tak percaya apa yang disampaikan anak sulungnya.


Lita hanya senyum sambil mengangguk. Dia bergegas menuju kamarnya untuk mandi karena merasa badannya lengket.


***


Pertumbuhan Adhisty sangat bagus, BB ( berat badan ) bertambah dengan signifikan. Semua hal bagus membuat Sari sebagai ibu sangat bangga. Dia bersyukur anaknya tidak rewel saat imunisasi di bulan kedua ini. Tentu saja saat Dhisty mendapat imunisasi Sari membuang muka dan tak sanggup melihat. Steve lah yang menggendong putri kecilnya. “Sudah Bu,” goda perawat yang melihat Sari.


“Terima kasih sus,” Sari segera berbalik badan dan mengambil Dhisty dari tangan Steve.


Steve membawa tas ganti Adhisty dan menerima resep yang dokter berikan. Sari tersenyum bahagia memandang dua orang tersayang. Suami dan putri kecil mereka. Sari membetulkan gendongan instan di bahunya. Mereka berjalan bersisian menuju apotek. “Mau mampir-mampir kemana  atau gimana Mam?” tanya Steve. Dia takut salah bila langsung memutuskan membawa istri kecinya itu pulang.

__ADS_1


“Langsung pulang aja Pie, kasihan kalau bawa-bawa Dhisty main. Nanti pas kita nunggu vitamin, Papie beli siomay aja di bungkus. Kita makan di rumah aja ya?” Sari menyampaikan pendapatnya.


-----------------------


Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.


Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.


Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)


Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END


Rincian hadiah sebagai berikut


Hadiah pertama pulsa 100.000


Hadiah kedua pulsa 75.000


Hadiah ketiga pulsa 50.000


Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )


Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini


Yanktie tunggu partisipasinya


Terimakasih dan salam manis dari Jogja


-----------------------

__ADS_1


__ADS_2