
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab. Yanktie seriusan tahu lho siapa aja yang selalu kasih like setiap habis baca, karena sebagai author kan ada notifikasinya.
Jelita merasa pede datang ke kantor polisi, walau sejak semalam teleponnya tak pernah diangkat oleh Steve. Gimana kelanjutan ceritanya? Lanjut baca keseruannya di bawah ini ya.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
-------------
Jelita dan kedua orang tuanya memasuki kantor polisi dengan tenang. Pak Isman belum merasa butuh pengacara karena dia pikir hari ini baru tahap awal saja. Terlebih semalam dia mendengar dari istrinya, Jelita berhasil meminta Steve untuk membatalkan pelaporan dirinya. Di kantor polisi sudah hadir pengacara Steve yang memang di tugaskan bang Gultom dari Jogja. Pak Trisakti yang akan menangani kasus Steve.
“Isman.”
“Trisakti.”
Kedua kubu saling berkenalan di depan polisi. “Saya Abdul Hanan yang bertugas memimpin persoalan pengaduan bapak Steve yang beralamat di Jogja dan mengajukan pelaporan terhadap saudari Jelita yang beralamat di Jati Padang Ragunan, Jakarta Selatan sesuai surat nomor ….” Petugas yang menangani masalah ini membuka pembicaraan mereka. Lalu setelah mencocokkan bukti diri serta surat tugas pak Trisakti mereka membahas pokok permasalahan.
“Stop, mengapa sejak tadi terus dibahas persoalan ini. Bukankah Steve sudah membatalkan pelaporan kasus ini,” Jelita menginterupsi pembicaraan. Dengan pedenya dia menyebut nama Steve tanpa embel-embel pak atau bapak.
“Apa pak Steve mengatakan dia akan mencabut atau melakukan pembatalan?” tanya pak Trisakti.
“Iya, kemarin saya sudah bicara dengan dia lewat telepon, dan kami sepakat tidak akan meneruskan kasus ini,” pongah Jelita memastikan bahwa Steve benar telah setuju dan akan mencabut pengaduannya.
“Apa anda yakin pak Steve mengatakan hal itu secara gamblang dan jelas akan membatalkan atau mencabut kasus ini? Apa anda punya bukti?” cecar pak Trisakti. Neni jengah dan bingung. Karena dia percaya semua kata-kata optimis putrinya.
“Baik saya akan telepon dia untuk kalian dengar kalau kami sudah mencapai kata sepakat,” Jelita mengambil ponselnya dan mendial nomor Steve namun tak bisa tersambung. Nomornya sudah di blokir Steve.
__ADS_1
“Anda tidak dapat menghubungi pak Steve? Baik saya akan memberikan bukti, mohon semua memperhatikan dengan jelas, apakah ada kata-kata klien saya yang menyebutkan dia akan membatalkan pengaduan kasus ini!” tanpa menunda waktu, pengacara itu menyalakan rekaman yang dia dapat dari pak Gultom, seniornya di kantor Jogja. Semua yang ada di sana mendengarkan dengan saksama rekaman pembicaraan antara Jelita dan Steve. Bu Neni dan pak Isman bertambah geram dan malu, karena terbukti Jelita memang bukan putri mereka yang polos. Jelita jelas menawarkan kepuasan di ranjang pada Steve.
Trisakti memandang semua yang hadir di sana saat rekaman selesai dia putar. “Apa terdengar kata kalau pak Steve menyetujui pembatalan atau pencabutan laporan? Pak Steve bicara ‘Saya akan urus semua yang kamu inginkan dari dari sini. Ingat ya, bukan yang saya inginkan!’ Karena yang pak Steve inginkan kasus ini harus berjalan semestinya. Tidak ada pembatalan atau pencabutan pengaduan”
Trisakti menyambung lagi, “Kita dengarkan pernyataan pak Steve ya : ‘Bang Gultom, ini saya kirimkan bukti bahwa perempuan itu minta saya membatalkan pengaduan dengan tubuhnya sebagai bayaran, dia berjanji akan tidur dengan saya dan membuat saya puas. Saya minta agar orang bang Gultom yang ditugaskan menangani kasus saya di Jakarta adalah orang yang handal. Saya ingin perempuan itu mendapat hukuman terberat karena dia telah membuat istri saya depresi dan sudah mengajukan surat cerai untuk saya.”
Jelita geram, dia merasa bodoh karena mau di giring oleh Steve untuk mengungkapkan kata-kata yang malah menjerumuskan dirinya. Sedang bu Neni menguatkan diri agar tidak pingsan karena sangat malu mendapati kenyataan putrinya sudah terbiasa freesex. Itu jelas terlihat dari kata-kata yang Jelita ucapkan mengatakan akan membuat puas. Kalau belum terbiasa tentu tak akan bicara seperti itu.
Akhirnya pak Isman mengambil keputusan akan menggunakan pengacara, karena dia merasa tidak sanggup mengatasi tuntutan dari pihak Steve. Dia menghubungi pengacara yang biasa menangani masalah hukum di kantornya. Sehabis makan siang dua orang pengacara yang akan membela Jelita datang. Setelah cukup lama bersitegang, mulai sore itu status Jelita sudah ditetapkan menjadi tersangka kasus perbuatan tidak menyenangkan. Seseorang yang sudah tersangka tentu saja sudah harus langsung menginap di sel. Bu Neni terisak melihat putrinya meronta saat akan dibawa masuk oleh polisi wanita. Bu Neni menyadari kesalahannya dalam mendidik kedua anaknya. ‘Andai waktu bisa aku putar, aku ingin mendidik anak-anak kembali sejak mereka taman kanak kanak,’ batinnya.
“Kuatkan hatimu Bund, kita pulang yok,” ajak pak Isman sambil memeluk pundak istrinya. Dia pun merasa bersalah tak pernah membimbing istrinya dengan benar. Dia sibuk mengejar hasil besar agar terlihat dia laki-laki berhasil. Dan selama pernikahan, walau awalnya mereka menikah bukan karena cinta, bu Neni dan pak Isman tak pernah berselingkuh. Sayangnya mereka tidak fokus bergandeng tangan membimbing anak-anaknya. “Ini salah kita berdua Bund. Kita harus merubah pola asuh kita. Walau mereka berdua sudah dewasa, namun mereka tetap butuh kita sebagai orang tuanya. Kita belajar menjadi lebih baik ya?”
***
“Kenapa Bang?” tanya Steve saat sore ini dihubungi bang Gultom. Dia baru saja tiba di rumah dari show room.
“Ok Bang, terima kasih infonya. Saya dan istri berpendapat, yang penting dia merasakan tidur di penjara, mengenai berapa waktunya, kami ikut ketentuan hukum aja, walau saya berharap, dia bisa dapat hukuman maksimal,” sahut Steve. Dia cukup lega si ulet bulu dapat kejutan efek jera. Karena kasus yang dulu dia masih berbaik hati. Saat itu memang kasus masih ringan, karena Jelita tidak menyerang Sari dan membuat Sari berang. Beda dengan perlakuannya saat ini.
“Hallo cantiknya Papie, sudah kenyang ya?” Steve menciumi pipi Adhisty yang sedang di gendong di bahu kiri istrinya untuk membuang sendawa sehabis minum ASI. Adisty yang sudah mengenali sosok ayahnya tersenyum lebar.
“Mam, barusan bang Gultom menghubungi Papie, dia bilang ulat bulu sudah resmi nginap di penjara,” Steve melaporkan apa yang bang Gultom katakan.
“Koq bisa langsung ya Pie, syukurlah, biar dia dapat pelajaran. Dulu di maafin bukannya sadar malah makin menjadi!” Sari juga gregetan, karena Steve pernah memaafkan Jelita di perlakuan tak menyenangkan dulu saat masih di kantor.
“Papie juga bilang ke bang Gultom, yang penting dia sudah merasakan tidur di hotel prodeo. Masalah berapa lama dia disana, Papie bilang biar ikut aturan hukum saja. Namun kalau bisa ya dia dapat hukuman maksimal.” Steve melanjutkan apa yang dia tekankan ke bang Gultom tadi.
__ADS_1
“Bener Pie, semoga aja bisa sampai dapat hukuman maksimal,” Sari setuju dengan suaminya. Dia lalu meletakkan Adhisty di kasur dan menyiapkan baju ganti Steve. Karena biasanya sepulang kerja Steve langsung mandi.
***
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
*Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagiTOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)*
Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
Yanktie tunggu partisipasinya
__ADS_1
Terimakasih dan salam manis dari Jogja