KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR

KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
50 TERNYATA PHOTO ITU EDITAN


__ADS_3

“Abang ikut duduk didalam aja ya, siapa tau bisa kenyang nyicipin kuenya,” goda Steve sambil memeluk Sari dan mencium kening kekasihnya itu. Dia sangat merindukan kekasihnya ini. Anak kecil yang berani memblokir nomor telponnya. Kalau dia mau bisa saja dia telpon ke nomor rumah, tapi itu ga dia lakukan, agar Sari bisa cooling down.


“Assalamu’alaykum tante, tante sehat kan?” sapa Steve pada mamanya Sari.


“Wa alaykum salam, alhamdulillah tante sehat Steve. Kapan kamu datang dari Jogja?” tanya bu Rahma ramah.


“Kemarin pagi tante, kemarin ngurus masalah dulu, baru deh pagi ini kesini. Inipun Anto dan Dini ga tau saya berangkat ke Jakarta,” jawab Steve.


“Tante sambi ya Steve, apa kamu mau nunggu sambil nonton TV aja sana?” bu Rahma menawarkan Steve agar duduk di ruang tengah.


Bersamaan Sari datang membawakan teh hangat dan snack untuk Steve “Mau duduk dimana?” tanya Sari.


“Disini aja lah, ga ganggu kan kalau abang duduk sini?” tanya Steve.


“Gapapa kalau mau disini koq” bu Rahma yang menjawab.


“Ada yang bisa dibantu ga tante, icip-icip gitu” Steve berupaya mengusir kekakuan suasana.


“Hahaha, itu yang bahaya. Itu kamu makan snack yang sudah disiapkan Sari aja. Kamu tadi sudah sarapan belum?” tanya bu Rahma, dia memang selalu penuh perhatian pada semua orang.


“Paling baru ngopi aja ma,” ujar Sari, dia lupa masih marah pada Steve, malah memperlihatkan kalau dia attensi dan tau kebiasaan makannya Steve. Steve pun hanya bisa nyengir saat mendengar Sari mengatakan kebenarannya.


“Mau macaroni schottel atau roti bakar Steve? Atau nasi uduk?” tanya bu Rahma.


“Nanti aja tante, gampang lah,” jawab Steve.


Sari melangkah ke dapur lalu menyalakan kompor dan mengambil ayam ungkep di kulkas. Kebiasaan mamanya menggoreng ayam hanya sesuai kebutuhan, sehingga saat makan lauknya masih panas. Sari menggoreng 2 potong ayam serta 3 potong tempe yang sudah diberi bumbu. Dia siapkan sepiring nasi uduk serta sambal dan lalapannya di meja makan. Sesudah ayam dan tempe matang Sari mempersilahkan Steve untuk makan.


“Lho koq saya makan sendiri, nanti aja ya makannya” Steve ga enak karena disuruh makan sendirian.

__ADS_1


“Kami sudah sarapan, jadi kamu makan aja sendiri ya, ini sebentar lagi juga selesai, biar kami ngerampungin kerjaan ini dulu” bu Rahma yang menjawab pernyataan Steve sambil memasukan kue ke dalam kardus.


***


Sari bergegas mandi lalu bersiap untuk mengantar kue. “Hati-hati ya Steve” pesan bu Rahma karena tau pasti yang akan nyetir mobil adalah Steve.


Steve memperhatikan saat ini mobil milik Anto yang sudah diberikan untuk Sari ada sedikit perbedaan. Ada beberapa boneka kecil di dalam mobil, ada bantal kecil di jok belakang serta aroma pengharum beda dengan yang biasa Anto gunakan.


“Abang udah terima paket yang kamu kirim” Steve membuka percakapan ketika mereka baru saja keluar rumah.


“Bicara tentang itu nanti aja ya setelah kita antar kue ini. Nanti habis antar kue aku mau ke panti werdha di Cipayung. Nah sambil nunggu acaraku kita ngobrol,” jelas Sari “Tapi kalau abang ga punya waktu ya ga usah maksain ngobrol. Yang pasti aku ga mau kita ngobrol di jalan,” kilah Sari, dia ga mau Steve nyetir sambil emosi. Itu sebabnya dia ga ingin membicarakan masalah mereka sambil jalan.


“Abang punya waktu koq, kan sengaja ke Jakarta buat nemuin kamu. Abang kangen, mau telpon ga bisa karena kamu blokir. Abang bisa aja nekat telpon ke nomor rumah, tapi ga enak kalau mama yang angkat lalu nanti mama curiga, karena abang tau kamu ga mungkin cerita ke mama kan?” cecar Steve.


Baru saja Sari akan mengatakan kenapa ga coba hubungi nomor rumah, Steve sudah lebih dulu mengatakan alasannya tidak menghubungi nomor rumah. Rupanya pemikiran mereka sangat jauh berbeda. Sari kesal karena mengira Steve tidak perduli sehingga tidak mau menghubunginya melalui telpon rumah. Sedang Steve tidak mau menghubungi nomor telpon rumah karena berpikir tidak enak bila bu Rahma mengetahui keributan mereka selama ini.


“Lalu mau kesini cepat-cepat juga ga bisa karena pas boss dari Jakarta kunjungan ke Jogja selama seminggu. Kepaksa cuma bisa senut-senut tiap hari” lanjut Steve menceritakan penderitaannya ga bisa langsung menyelesaikan kesalah pahaman mereka.


***


Sari meminta 2 porsi siomay dan 2 gelas lemon tea. “Silahkan kalau mau ngomong,” kata Sari memberi waktu pada Steve untuk cerita.


“Kamu kenapa mendam soal photo itu, padahal saat kamu ketemu Cindy masih tanggal 25 Desember, aku masih ada di Jakarta sampai tanggal 5 Januari. Saat itu kamu masih manis, senyum bahkan kita melakukan kissing pertama di malam tahun baru tanpa kamu tunjukin suatu persoalan. Kenapa?” cecar Steve.


“Aku ga ingin ngerusak mood liburanmu,” jawab Sari datar.


“Tapi kamu memendam amarah sangat lama dan itu membuat kamu terluka karena ga tau kejadian sebenarnya,” kilah Steve.


“Aku tau ada kebohongan di photo pertama, yaitu tanggal kejadian bukan 24 Desember sehabis kalian ibadah natal” Sari menerangkan fakta pertama yang dia temui.

__ADS_1


“Kenapa kamu tau itu bukan terjadi 24 Desember?” pancing Steve.


“Karena Cindy bilang kalian making love sehabis kebaktian, dan di photo jelas kamu membuat sangat banyak kiss mark di leher Cindy, namun saat bertemu denganku dia pakai kaos tanpa kerah dengan rambut di kucir. Jelas terlihat lehernya bersih dari kiss mark. Lalu saat telpon dengan oma, oma cerita kamu pulang bareng mereka lalu kalian ngobrol hingga jam 3 pagi sehabis santap malam jam 1 dini hari,” jelas Sari.


“Hanya itu yang kamu tau dari photo-photo pertama? Kamu ga ingin tau yang sebenarnya?” pancing Steve.


“Aku ga perlu tau dan ga mau tau. Itu urusan kalian kapan dan dimana kalian berbuat maksiat seperti itu” Sari menjawab ketus lalu dia berjalan ke meja lain mengambil krupuk untuk menghilangkan kekesalannya.


“Kamu percaya aku sebejad itu? Melakukan sesuatu hal yang dilarang dalam agama manapun? Sekotor itu aku dimatamu?” tanya Steve lirih.


Sari terpaku mendengar desah kecewa yang Steve ucapkan, dia mengangkat wajahnya, dilihatnya mata terluka milik pria yang mulai dia cintai itu.


Steve mengeluarkan amplop dari sakunya, dia berikan 3 buah photo asli Cindy dan Fauzy yang dijadikan bahan editan oleh Cindy. Lalu dia berikan photo-photo lain seperti yang pernah dia beberkan ke orang tua Cindy dulu.


Sari kecewa pada dirinya sendiri yang sudah sangat lancang menuduh Steve sebagai laki-laki tidak bermoral. Tapi dia malu untuk meminta maaf. “Kalau photo yang tadi rekayasa, gimana photo yang di Jogja? Bahkan dia lebih dulu dari aku menemuimu di Jogja,” keluh Sari.


“Kejadian itu di butik mamiku, tante menyerahkan kembali butik itu ketanganku walau aku belum siap menerima tanggung jawab itu. Saat itu aku juga ga tau, tiba-tiba Cindy ada disana, saat dia menghampiri kursiku dia terjatuh dan entah bagaimana dia bisa punya photo itu. Sepertinya dia memang sengaja mempersiapkan photogarfer,” jelas Steve.


“Kalau kamu ga percaya gapapa, minggu depan pengaduanku masuk ke polisi koq, kamu akan tau aku bohong atau engga” Steve lugas memberitahu kalau dia ga main-main mencari kebenaran atas tuduhan yang Cindy lontarkan.


HP Sari berdering, terlihat nama Teddy di kontak pemanggil  “Assalamu’alaykum Tedd” Sari menyapa terlebih dahulu.


“Wa alaykum salam, kami sudah mau sampai, kamu dimana?” tanya Teddy.


“Aku sudah di warung siomay langganan kita-kita, ok aku meluncur deh biar kita semua bareng,” jawab Sari. Dia segera meminum lemon tea nya dan memasukan HP ke dalam tas nya sambil mengambil dompet untuk membayar.


Yanktie ucapin makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini. Nah sekarang mulai ketahuan kan kebohongan Cindy ke Sari. Semoga aja masalah mereka cepat terurai ya


Jangan lupa like dan vote serta komennya ya

__ADS_1


Oh ya yaktie mau rilis cerita baru dengan judul  IMPOSSIBLE LOVE


Kalau sudah rilis akan yanktie kabari


__ADS_2