
Hallo, gimana puasa kalian ? Semoga lancar selalu ya.
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab. Yanktie seriusan tahu lho siapa aja yang selalu kasih like setiap habis baca, karena sebagai author kan ada notifikasinya.
Senangnya Sari mendapat kunjungan tak terduga dari Teddy dan Bram. dia berangan-anagn bisa bertemu dan ngerumpi bareng dengan Endah dan Uswah. Semoga aja lain kali bisa terwujud ya. Lanjut baca untuk tahu keseruannya di bawah ini ya.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
-------------
“Setuju ama saran Bram, mungkin perlu reposisi aja, jadi cafe nya ga di belakang banget. Bengkelnya aja yang di geser ke belakang. Show room tetap bisa di depan sini.” Teddy malah memberi inspirasi lagi bagi Steve.
“Abang terserah ibu negara aja. Semua keputusan apa pun, dia yang mutusin,” jawab Steve dengan tatap mata penuh cinta pada istrinya. Teddy melihatnya dan dia merasa bahagia melihat orang yang dia cintai mendapat pasangan yang penuh cinta seperti Steve.
“Jadi jalan enggak?” tanya Bram pada Sari.
“Enggak ah, aku cuma bercanda aja,” balas Sari, memang tadi dia hanya bercanda aja minta jatah preman (JAPREM) pada suami sahabatnya itu. Setelah menikah, walau di izinkan oleh Steve seperti saat ini, Sari tetap tak ingin pergi keluar dengan teman lelakinya. Karena bisa saja orang lain yang tak tahu, akan menduga dia jalan dengan lelaki lain tanpa izin suaminya.
Akhirnya mereka hanya lanjut ngobrol saja. Sari menitipkan oleh-oleh untuk Endah dan Uswah. Juga untuk Teddy dan Bram tentunya. “Lain kali kalian harus nginap di rumahku ya, ajak Endah dan istrimu nanti Tedd,” pesan Sari saat tamunya akan pulang.
“Huft … doakan aku bisa segera dapat jodoh,” cetus Teddy.
__ADS_1
***
“Mam, bisa juga kita pikirkan ide Bram tadi, bikin cafe gaul untuk kaum muda. Kita juga bisa menjaring konsumen dengan menampilkan busana kaum muda.” Steve melontar ide Bram saat mereka dalam perjalanan menuju rumah.
“Seperti biasa … Papie kalkulasikan aja, termasuk biaya reposisi bengkelnya. Berapa lama BEP nya dan semua aspeknya lah Pap. Nanti baru kita diskusiin lagi. Kalau hanya sebatas ide, Mamie setuju aja. Dari pada ide warung kopinya Papie dulu,” jawab Sari sambil membelai pipi Dhisty yang sedang meminum ASI langsung dari pabriknya.
“Yee, ide warung kopi yang Papie maksud kan selaras dengan cafe itu, hanya salah nyebut aja,” goda Steve tak mau kalah.
“Mampir super market dong Pie, pengen beli bahan buat bikin bakso kuah,” pinta Sari. Dia juga langsung menghubungi mama untuk menanyakan mau titip apa serta bahan apa yang kosong di kulkas.
***
Tak terasa, usia Adhisty saat ini sudah 6 bulan, dia sudah mulai bisa berceloteh. Pipinya makin chubby. Hari ini Sari akan mulai memberikan MPASI (Makanan Pendamping Air Su5u Ibu ) sejak kemarin Sari sudah mempersiapkan hal ini. Dia antusias menyusun menu yang akan diberikan untuk Dhisty. Dhisty mulai bisa duduk sendiri. Sejak minggu lalu Steve sudah membeli dua buah kursi untuk makan. Satu akan ditaruh di rumah dan satunya tentu di butik. Sari dan Steve senang karena respon Dhisty terhadap makanan pertama yanag mereka berikan sangat baik. Steve membuat video bagaimana Dhisty menyembur-nyembur makanannya dan mengirimkannya ke oma di Jakarta. Seperti Dini, Sari menyiapkan sendiri bubur yang akan dia berikan untuk Dhisty. Dia tak mau putrinya diberi bubur instan buatan pabrik.
“Hai, selamat pagi Bu. Sehat ‘kan? Tak apa pak Steve tidak bisa terima telepon. Dengaan Ibu juga sama saja. Semalam saya dapat info, Jelita kembali di larikan ke rumah sakit dengan modus sama percobaan bunuh diri lagi. Sepertinya dia depresi.” Jelas bang Gultom.
“Mengapa bukannya dia menyesal malah bikin masalah terus ya Bang. Hukuman ‘kan sudah ada Bang, jadi tidak akan berpengaruh ‘kan terhadap kami?” tanya Sari.
“Iya, seharusnya dia tinggal berkelakuan baik. Hukumannya juga tidak terlalu berat.” jawab bang Gultom.
Setelah berbasa basi sebentar, pembicaraan mereka ditutup saat Steve keluar dari kamar mandi membawa Dhisty yang naked berbalut handuk. Sehabis mandi memang Steve akaan menjemur Dhisty tanpa busana. Biasanya untuk menghemat waktu Dhisty di jemur sambil diberi sarapan. “Pie, barusan bang Gultom ngasih khabar, Jelita kembali melakukan percobaan bunuh diri.” Sari menyuapi Dhisty yang dijemur dan didudukan di kursi bayi.
__ADS_1
-------------------------
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)
Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulisb
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
__ADS_1
Yanktie tunggu partisipasinya
Terimakasih dan salam manis dari Jogja