
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab.
Waduuu, baru lepas dari Belinda dan Catty koq ada ulat gatel lagi sih bang Steve? Gimana kelanjutan certanya? Lanjut baca keseruannya di bawah ini ya.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
---------------------
“Aku kangen mas Steve, apa enggak boleh aku datang kesini?” tanya Jelita, sambil berupaya mendekatkan wajahnya ke pipi Steve. Tamu perempuan itu memang Jelita, perempuan keponakan bu Gita yang bermasalah di kantornya dulu.
“Maaf, anda salah sasaran. Saya tidak akan pernah menyukai anda, jadi sebaiknya anda segera keluar dari sini,” usir Steve lugas. Dia tak ingin terlibat masalah dengan perempuan mana pun.
Steve meninggalkan Jelita dan hendak kembali menuju meja kerjanya, namun entah bagaimana Jelita memeluk erat dirinya dari belakang dengan erat. “Maaf, saya terantuk, tidak sengaja jatuh,” kilah Jelita. Dia mengatakan memeluk dari belakang tak sengaja karena terantuk.
“Mas Yudo, kalau perempuan itu datang lagi langsung usir saja ya, saya tidak ingin ada lalat masuk ruang usaha saya,” Steve langsung memberi perintah pada karyawannya agar tidak menerima Jelita bila dia kembali datang.
“Baik pak,” Yudo langsung mengingat perintah itu sambil mengamati wajah perempuan yang datang bertiga dengan temannya. Saat Jelita bicara dengan Steve kedua temannya mengamati mobil yang ada di show room dan tidak ikut menemani Jelita bertemu dengan Steve.
***
Sari baru saja mandi sore. Dia sedang ngemil kacang tanah sangrai yang dibuat mama. Cemilan kacang tanah ini di anggap dapat meningkatkan kualitas ASI. Selain cemilan itu Sari juga ngemil kurma berisi potongan keju. Saat itu dia mendapat misscall dari nomor baru, lalu tak lama kemudian masuk beberapa foto pada ponselnya. Sari diam, dia tidak tahu harus berkata apa melihat foto yang baru saja dia terima. Dia langsung menghubungi nomor itu namun nomornya sudah tidak aktif. ‘Apa yang harus aku lakukan?’ Sari bertanya pada diriya sendiri. Dari tanggal di bawah kiri foto, jelas foto tersebut baru saja di buat . Selain itu pakaian yang di kenakan Steve juga pakaian yang dia gunakan saat tadi pergi ke show room. Dan itu terjadi di show room mereka.
Steve masuk ke rumahnya sebelum maghrib. Dia langsung mandi dan bersiap salat agar bisa langsung menggendong Adhisty. “Bagaimana tadi saat Papie tinggal? Apa princess rewel?” tanya Steve, dia tidak tahu istrinya sedang sangat marah.
“Adhisty anakku, tentu dia enggak rewel di tinggal papie nya bersenang-senang,” ketus jawaban yang diterima Steve dari Sari.
__ADS_1
“Maksudmu apa babe? Anakmu? Bersenang-senang?” tanya Steve bingung.
Saat Steve sedang salat maghrib, Sari sengaja makan malam lebih awal. Dia tak ingin makan bareng dengan Steve. Saat Steve sudah selesai salat dan ber zikir, Sari sengaja menyusui Dhisty. Dan dia ikut tidur setelah selesai menyusui. Steve melihat Sari sejak dia pulang berwajah ketus dan menghindari perbincangan dengannya. Dia sudah baca tentang baby blues yang di alami perempuan sehabis melahirkan. Dia tak ingin Sari mengalami hal itu. Steve berbaring di belakang Sari, dia peluk lembut istrinya dan diciumi leher dan pipi Sari. “Kamu kenapa babe? Cape ya?” tanya Steve pelan di telinga istrinya.
Steve keluar kamar karena Sari memang benar terlelap. Dia makan berdua mama, sebab mama bilang Sari sudah makan duluan saat Steve sedang salat. “Apa tadi ada tamu Ma?” tanya Steve, dia ingin mencari tahu mengapa istrinya sedikit berbeda.
“Enggak, dan tidak ada telepon dari mana pun,” jawab bu Rahma. Sampai saat Steve bersiap untuk tidur malam, Sari tak bangun dan kebetulan Adhisty pun tidak terbangun. Adhisty terbangun ketika papie nya baru saja terlelap sehingga tidak mendengar rengekannya. Sari yang mendengarnya bergegas bangun dan menggantikan popok putri kecilnya. Dia juga mengganti alas tidur Dhisty, baru lanjut menyusui bayinya tersebut. Sehabis menyusui Sari merasa lapar. Dia keluar kamar dan bersiap makan.
Steve meraba kasur disisinya, tak ditemui Sari, hanya ada Adhisty yang lelap tertidur. Saat ini pukul 23.09. Kemana istrinya? Apa sedang ke toilet? Namun di lihatnya lampu toilet gelap, artinya tak ada orang di dalamnya. Steve keluar kamarnya. Dilihatnya Sari sedang duduk sendirian di meja makan. Dia tahu ibu menyusui tentu sering merasa lapar. Steve mengambil gelas dan botol air minum di kulkas lalu ikut duduk di meja makan menemani istrinya. Biasa nya memang seperti itu. Dia menemani istrinya makan, kapan pun Sari butuh asupan energi. Namun malam ini Sari bergeming saat tahu Steve menghampirinya. Sari tak menyapanya, bahkan melihat ke arahnya pun tidak.
“Kamu kenapa babe?” tanya Steve lirih.
Tetap tak ada jawaban apa pun. Sari langsung membawa piring bekas makannya ke tempat cucian piring. Sari membawa segelas juice kurma yang di buat encer ke ruang televisi. Karena bila terlalu kental Sari tak sanggup menelan sebab terlalu manis. Padahal juice kurma tanpa tambahan gula apalagi susu. Sari mengambil ponselnya yang sejak sore memang tergeletak di meja depan televisi. Dia mengirim pesan pada Dini. Memintanya datang besok setelah mengajar.
‘Ok,’ jawaban singkat Dini.
Tak mau menanggapi semua pertanyaan Steve, Sari segera menghabiskan juice kurmanya, dai bawa gelasnya ke dapur dan langsung di cuci agar tidak membebani asisten rumah tangganya. Dia segera menuju kamar mandi di kamarnya dan segera menyikat gigi sebelum tidur. Tanpa beban Sari langsung naik ke ranjang dan berbaring di sisi putri kecilnya.
***
Pagi ini Steve sedang menjemur Adhisty di halaman belakang, ketika dengan sudut matanya dia melihat Sari sarapan sendirian tanpa menunggunya. Steve hanya diam, sejak semalam pun dia mengalah ketika masuk kamar tidur Sari tak mau bicara padanya. Dia tidak ingin istrinya merasa tertekan. Steve menjemur Adhisty tanpa pakaian sehabis mandi, sehingga bayi tidak kedinginan. Dia membalik tubuh bayinya yang tadi tidur telungkup di kedua pahanya menjadi tidur terlentang, dia usap perut bayinya dengan minyak telon. Begitu pun telapak kaki Adhisty. “Cukup sudah berjemur pagi ini. Sekarang kita pakai baju dan kamu sarapan ASI ke mamie ya cantiknya papie,” Steve membawa Adhisty ke kamar untuk di pakaikan baju. Sehabis rapih berpakaian, Steve menyerahkan Adhisty ke gendongan Sari.
“Wah cantiknya mamie sudah mandi dan berjemur ya, lapar sayangku?” tanya Sari saat menerima estafet bayinya. Dia segera memberi ASI pada putrinya sambil mengelus pipi gembilnya yang lembut.
“Mau minta masak apa untuk makan siang nanti Bu?” tanya asisten rumah tangga pada Sari. Dia hendak ke warung sayur. Biasanya Sari menyuruhnya belanja mingguan di pasar. Bila bahan kurang lengkap maka sehari-hari hanya butuh ke warung saja.
__ADS_1
“Kepengen sayur lodeh wae mbak, ada bahannya enggak? Tambahane goreng tempe dan ikan asin aja lalu cepake sambal dan lalapan serta krupuk,” Sari meminta menu yang dia inginkan.
----------------------
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)
Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
Yanktie tunggu partisipasinya
__ADS_1
Terimakasih dan salam manis dari Jogja