
Hallo, gimana puasa kalian ? Semoga lancar selalu ya.
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab. Yanktie seriusan tahu lho siapa aja yang selalu kasih like setiap habis baca, karena sebagai author kan ada notifikasinya.
Wah sayang Teddy baru menyadari sekarang saat Sari sudah jauh di Jogja dan menjadi istri orang. Andai Teddy menyadari sejak dulu lalu dia menyatakan cinta padaSari saat dia awal ketemu, bisa kemungkinan enggak ada Adhisty ya? Lanjut baca untuk tahu keseruannya di bawah ini ya.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
-------------
Masuk agak ke dalam, banyak hiasan batik yang di padu akar ratus wangi, sehingga ruang depan diselimuti aroma ratus. Steve sangat mengagumi kreasi istrinya. Tanpa malu dia memeluk tubuh mungil istrinya dari arah belakang. Tak peduli pada para karyawan yang melihatnya dengan tersipu malu. “Papie, bikin malu aja deh,” protes Sari yang kaget mendapat pelukan dari suaminya yang mau makan siang dengannya.
“Papie bangga ama Mamie. Enggak pernah nyesel minta Mamie berkiprah di sini, karena di kerjaan apa pun Mamie selalu all out. Makasih ya honey bikin butik ini tambah besar. Mami ( ibunya Steve ) pasti bangga melihat menantunya bikin butik yang dia bangun menjadi seperti ini.” Steve berbisik lembut. Dia tak menggubris protesnya Sari.
“Ayo makan aja, nanti keburu Dhisty bangun. Siang ini Papie belum ngobrol ama dia kan?” Sari melepaskan pelukan suaminya dan mengajak ke ruang makan untuk makan. Hari ini Sari tak membeli apa pun. Dia makan dengan menu yang sama dengan menu karyawan.
***
Sari sedang sibuk mempadu padankan beberapa motif untuk dibuat baju sesuai rancangan divisi promosi. Tak sadar saat suaminya sudah membuka pintu ruang kerjanya lebar-lebar. Steve memang tak mengetuk pintu, bahkan sebelum dia membuka pintu dia sudah memberi isyarat pada kedua tamunya dengan meletakkan jari telunjuk di mulutnya. Agak lama Steve dan dua tamunya melihat keseriusan Sari bekerja. “Selamat siang Bu, bisa saya minta waktunya sebentar?”
Sari merasa pernah akrab dengan suara itu, namun dia sudah agak lupa. Diangkatnya wajahnya dari berkas rancangan dan sample motif kain.
“Teddy ….” Sari tak menduga, ada 3 lelaki tampan di depan pintu ruang kerjanya. “Masuklah, jangan di depan pintu gitu,” Sari berdiri dan meminta Teddy dan Bram untuk masuk.
“Sebentar ya, aku ngerampungin pesan ke bagian produksi dulu,” pinta Sari sesudah dia bersalaman dengan Bram dan Teddy. Sesungguhnya di meminta tangan kanannya membeli gudeg lengkap dan tambahan lauknya. Namun dia juga meminta dipastikan nasinya ada tidak, bila tak ada dia minta segera masak. Karena biasanya nasi ada di ruang makan.
“Ngimpi apa kamu nyasar ke kiosku?” tanya Sari setelah selesai dia memesan makan siang.
“Aku lagi ngerampungin tugas terakhir dari kantorku. Habis ini aku akan magang di kantor pak Teddy,” jelas Bram.
__ADS_1
“Andai aku di Jakarta, mau dong aku ikutan magang,” goda Sari. Sementara Teddy sejak tadi hanya mesam mesem saja. Dia lebih menikmati memandang sahabat masa SMA nya yang ternyata baru dia sadari sudah dia cintai sejak dulu. ‘Andai kamu di Jakarta dan bisa menjadi nyonya Teddy, kamu tak perlu magang.’ batin Teddy.
“Ngaco aja magang, bagaimana bisa COO kita ini disebut anak magang?” bantah Teddy.
“Congrat ya Bram, wooow japrem dong?” goda Sari.
Terdengar ketukan walau pintu tidak di tutup. “Kenapa Mbak?” tanya Steve yang kebetulan duduk terdekat dengan pintu.
“Itu Pak, makan siang sudah siap.” Asisten Sari memberitahu waktunya makan siang. Steve tahu pasti istrinya yang meminta di siapkan makan untuk para sahabatnya ini.
“Kita ngobrol sambil makan siang yok,” ajak Steve.
“Nah, ayok makan siang dulu, habis itu kita keluar buat japrem ya Bram,” goda Sari.
“Siap.” Jawab Bram tanpa ragu. “Ini ada titipan dari Uswah dan Endah buat Adhisty,” Bram memberikan kado titipan istrinya dan Uswah.
“Kita ke ruangan anakku yo, biar para uncle kenalan ama Dhisty,” ajak Sari senang.
“Iya, aku rancang ruang usaha gabungan antara Abang dengan usahaku dalam satu lokasi. Lalu kami bangun ruang khusus Dhisty. Jadi kapan pun aku dan Abang mau main ama dia, kami bisa langsung liat dan gendong dia.” Dengan bangga Sari menjelaskan bagaimana kompaknya dia dan Steve membangun usaha dan membangun rumah tangga.
“Wah kereeeeeeen, sepertinya itu ide bagus. Aku akan membuat tempat penitipan anak di kantorku, sehingga para ibu tak terlalu khawatir meninggalkan anaknya terlalu lama di rumah,” Teddy mencoba menyerap ide yang terlintas mendengar ruang khusus yang di buat untuk Adhisty.
“Wow, ini ya keponakan cantiknya uncle,” Bram menoel pipi chubby Dhisty yang sedang digantikan celana oleh pengasuhnya. “Photoin aku ama Dhisty, aku mau bikin Endah ngiri.” Pinta Bram, lalu dia mengangkat Dhisty di gendongannya.
“Aku berdoa Endah ngiri, dan ngidam minta gendong Dhisty juga. Jadi dia berangkat ke sini,” sekarang Steve yang menggoda Bram.
“Aamiiiin.” Balas Sari yang senang akan doa suaminya. Sementara Bram sekarang hanya bisa nyengir. Namun tak masalah jika Endah mau ke sini. Dia siapa menemani.
Mereka lanjut makan siang di ruang makan butik. Teddy menggali info tentang management yang Sari terapkan di usahanya, karena menurut Steve, Sari merombak banyak hal di butik ini sejak management ditanganinya.
__ADS_1
“Bikin cafe aja Bang, sepertinya bisa masuk, kalau tanah itu di bikin cafe gaul. Jadi tiga populasi ngumpul di satu lokasi ini. Populasi perempuan ke butik. Populasi bapak ke show room dan populasi anak muda di cafe gaulnya. Nanti otomatis para anak muda itu juga akan ada yang cari baju di butik atau cari mobil di show room ‘kan?” saran Bram mendengar minggu lalu Steve baru saja membayar tanag di belakang show room.
“Setuju ama saran Bram, mungkin perlu reposisi aja, jadi cafe nya ga di belakang banget. Bengkelnya aja yang di geser ke belakang. Show room tetap bisa di depan sini.” Teddy malah memberi inspirasi lagi bagi Steve.
“Abang terserah ibu negara aja. Semua keputusan apa pun dia yang mutusin,” jawab Steve dengan tatap mata penuh cinta pada istrinya. Teddy melihatnya dan dia merasa bahagia melihat orang yang dia cintai mendapat pasangan yang penuh cinta seperti Steve.
------------------------
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)
Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
Yanktie tunggu partisipasinya
__ADS_1
Terimakasih dan salam manis dari Jogja