
Endah lemas mendengar khabar tersebut, dia langsung menghubungi Sari dan Teddy. Dia minta Teddy juga langsung memberitahu keluarga Bram.
Sari yang mendapat telepon dari Endah bergegas mandi dan langsung menuju rumah sakit sehabis sarapan. Di rumah sakit dia menemui Endah yang sudah di temani Teddy dan juga teman-teman mereka lainnya. Didalam ruangan sudah ada keluarga Bram.
Dokter memberitahu kemungkinan Bram mengalami gegar otak namun ga parah, hanya patah tulang di lengan kiri saja yang butuh waktu penyembuhan agak lama, luka lainnya akan segera sembuh.
Sore Sari pulang sambil mengantarkan Endah, dia baru ingat belum menjawab pesan Steve sejak pagi tadi. “Assalamu’alaykum de,” sapa Steve saat menerima panggilan dari Sari.
“Wa alaykum salam. Abang maaf, dari tadi ga balas pesan abang, karena nemani Endah. Bram kecelakaan dan di rawat di RS Fatmawati” lapor Sari.
“Abang kecewa dan was-was sejak tadi nunggu kabarmu de. Tapi untunglah kamu telepon sekarang. Lain kali kabari dulu lah bakal telat merespon karena sedang sibuk,” keluh Steve.
“Iya, kan juga udah minta maaf. Namanya musibah mana kepikiran, pas lagi baca pesan abang telepon Endah masuk. Jadi lupa deh karena langsung meluncur ke rumah sakit.”
“Sekarang kamu dimana?” tanya Steve.
“Lagi on the way pulang” jawab Sari “Abang sendiri dimana?”
“On the way ke rumah Amora,” jawab Steve.
“Take care. Aku tutup ya,” kata Sari lalu dia melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.
Sari baru saja selesai mandi dan sholat maghrib ketika telepon rumahnya berdering. Siapa ya yang telepon maghrib-maghrib gini, pikirnya, namun tetap bergegas mengangkatnya.
“Assalamu’alaykum,” sapa suara renyah milik gadis kecil di ujung telpon.
“Wa’alaykum salam cantiknya tante Yai,” balas Sari bahagia karena yang menghubunginya adalah Amora.
“Moya mau bilang makasih anteeee … ini papa bawain hadiah banyak, katanya dari mama Yai” Amora belepotan memanggil ante dan mama untuk Sari. Tadi papa Steve bilang dia harus manggil mama ke Sari.
“Kamu suka?” tanya Sari “Apa yang kamu suka, mainan, baju atau bukunya?”
“Moya suka semua, mainan dan buku. Tapi baju gapapa, kata mommy kalau di kasih harus bersyukur,” jawab Amora polos, yang bisa disimpulkan oleh Sari kalau keponakannya ga terlalu perduli dengan hadiah baju. Gadis kecil itu lebih suka buku dan mainan.
“Ya sudah, besok kalau daddy atau papa kesini, tante akan belikan mainan dan buku lagi untuk kamu. Sekarang boleh bicara dengan mommy?” tanya Sari karena sejak tadi mendengar mbak Dini ingin bicara dengannya.
“Hahahhaaaa kenapa bumil ga sabaran ingin bicara?” sapa Sari pada kakak iparnya.
“Kamu tu apa-apaan coba kasih hadiah segini banyak, usia kehamilan 3 bulan ra ilok ( pamali / tabu ) belanja pakaian bayi,” cecar Dini.
“Ra ilok kan nek tuku, itukan hadiah mbak,” tawa Sari, dia mengatakan pamali bila belanja/beli, tapi kalau hadiah engga.
__ADS_1
“Karepmu lah, by the way maturnuwun yo de,” sahut Dini. Lalu Dini melanjutkan bicara dengan mama mertuanya.
***
“Makasih ya, titipanku langsung dianterin” sms Sari pada Steve.
“Apasih yang engga buatmu?” balas Steve.
“Aku tidur dulu ya cape” balas Sari.
“Hati-hati di jalan” lanjut Sari karena dia tau Steve masih di rumah kakaknya di daerah Bumijo.
***
“You masih inget Steve ga?” tanya Belinda pada Chaterine atau yang biasa dipanggil Chatty.
“Stevanus teman kuliah kita, yang kemaren pas reuni baru aja lahir anak keduanya?” jawab Chatty ogah-ogahan sambil meminum hot chocolate nya.
“Bukaaaaan. Steve teman SMA kita yang dulu pacaran ama anak SMK lalu di.tinggal tanpa berita, yang dulu pernah jadi target genk kita di SMA,” Belinda menjabarkan Steve yang dia maksud.
“Iya, I inget dikit-dikit mukanya, tapi ga famous sih,” kilah Chatty.
“Ga nge top gimana? You dulu sempat ngejar-ngejar dia saat dia kelas 2 SMA. You yang paling rajin bawa coklat buat dia, dan mbawain air kalau dia latihan musik,” papar Belinda lagi.
“Kemaren I ketemu dia, tambah ganteng lho pas mature sekarang. Tapi dia bawa cewek, kayaknya anak kecil tapi mereka beli baju buat baby new born,” cerita Belinda.
“Belum tentu istrinya, bisa aja keponakannya. Coba you tanya aja ke temen you yang katanya anak pemilik kantor tempat dia kerja,” usul Catthy
“Shinta nama anak pemilik perusahaan itu. Dia udah meninggal tahun lalu. Tapi nanti deh I cari cara ke kantor itu, pura-pura tanya tentang Shinta. Emang you mau apa kalau udah dapat info tentang Steve?” selidik Belinda, karena sejak SMA dia sangat mengidolakan Steve.
“Gimana kalau kita taruhan, yang bisa jadian ama Steve dapat hadiah piknik 3 hari ke Singapore dengan akomodasi di tanggung yang kalah?” tantang Catthy.
“Deal,” tanpa ragu Belinda setuju tantangan Catthy. Mereka memang bukan dari golongan susah, sehingga taruhan akomodasi 3 hari pp Jakarta - Singapore mah ga ada artinya bagi kantong mereka yang berprofesi jadi sugar baby.
***
Esoknya Belinda mulai melaksanakan niat untuk bertarung dengan Catthy, dia mendatangi kantor Steve di Jakarta.
“Maaf mbak, saya temannya Shinta Maharani, saya dengar dia putri pemilik perusahaan, saya mau bikin acara reuni sekalian mencari penggalangan dana bagi reuni tersebut” Belinda mulai mencari info di Front Office.
“Maaf, dengan mbak siapa?” tanya petugas di meja itu dengan ramah.
__ADS_1
“Dengan Belinda” kata Belinda sambil mengeluarkan identitas dirinya.
“Begini mbak Melinda, benar mbak Shinta adalah putri pemilik perusahaan, namun mbak Shinta sudah meninggal setahun lalu mbak,” jelas petugas tersebut.
Belinda memasang wajah kaget dan sedih, dia mengambil tissue dan mengusap ujung matanya, “Maaf, saya ga tau tentang meninggalnya Shinta, maaf ya mbak,” sesal Belinda. “Kalau gitu saya pamit saja mbak,” lanjutnya sambil akan beranjak dari kursi itu.
“Eh kalau kak Steve apa masih kerja disini? Steve Lodewjk,” tanya Belinda seakan pertanyaannya hanya sambil lewat saja.
“Kalau pak Steve sudah pindah mbak, dia memegang cabang Jogja” jawab petugas itu ramah.
“Bisa minta nomor kantor Jogja, nanti mungkin saya bisa hubungi dia,” sengaja Belinda tidak meminta nomor ponsel Steve, melainkan hanya nomor telpon kantor saja. Tanpa curiga petugas tersebut memberikan kartu nama berisi nomor dan alamat kantor cabang Jogja.
***
Catthy hari ini bergerak cepat, dia minta nomor telepon Steve kepada teman-teman dekat mereka di SMA, namun karena jarang berhubungan maka yang dia dapat hanya nomor rumah, belum update nomor HP nya.
“Selamat siang” sapa Catthy saat nomor yang di hubunginya tersambung.
“Iya selamat siang, dengan Steffano Lumowa disini, hendak bicara dengan siapa,” tanya suara bariton dipenerima telepon.
“Saya Catthy, ingin bicara dengan Steve,” jawab Catthy.
“Steve sedang di kantor,” jawab penerima itu.
“Bisa saya minta nomor HP nya?” pinta Catthy.
“Maaf, saya ga bisa memberikan nomor telepon cucu saya sembarangan” lalu telepon ditutup.
Ihhhh, nyebelin banget tu opa-opa! Pekik Catthy saat mendengar sambungan telepon ditutup.
Malamnya Catthy meminta temannya untuk bicara dengan nomor yang sudah dia tekan. “Selamat malam” sapa teman Catthy saat nomor yang di hubunginya tersambung
--------------
Yanktie ucapin makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini.
Biar ga penasaran ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa, udah mau habis koq.
Jangan lupa like dan vote serta komennya dan bintang 5 nya
Sambil nunggu bab selanjutnya dari kisah ini, bisa baca cerita teman yanktie ini, ga bakal kecewa deh. karya keren dari author Lavinka
__ADS_1