
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab.
Setelah tunangan, maka kita masuk ke proses pernikahan Sari yook? Ikutin keseruannya yaaaa.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
---------------------
“Ih kerajinan ngangenin om-om posesive,” balas Sari sambil mengamati buku besar pesanan yang belum di cover minggu ini, di beberapa bagian dia memberi note dengan pinsil.
“Lagi apa honey?” tanya Steve.
“Lagi telepon ama om-om kan?” jawab Sari ringan.
“Aku serius lho,” rengek Steve.
“Aku lebih serius, ga bohong” jawab Sari.
“Ya wis, selain teleponan ama cowoq ganteng, kamu nyambi apa?” Steve tentu saja tak mau kalah.
“Lagi periksa buku besar pesanan untuk minggu ini,” jawab Sari “Kamu tadi aku tanya sarapan apa aja ga balas” cecar Sari,
“Hahaha, seperti biasa, sarapan kopi dan roti aja, maklum nyonyaku masih pisah rumah,” balas Steve.
“Kan bisa aja makanannya taruh majic jar jadi pagi-pagi ada nasi dan lauk panas,” saran Sari.
“Kamu kan tau, abang yang penting kopi, soal makanan ga terlalu wajib,” Steve berupaya memberitahu kebiasaannya selama ini.
“Iya aku tau, tapi sejak besok aku ga mau dengar abang cuma sarapan kopi dan setangkep roti. Walau aku ga lihat langsung, pokoknya mulai besok harus berubah,” perintah Sari.
“Siap nyonya,” balas Steve “Nanti makan siang aku ke butik ya, aku ada urusan di Pingit, pulang dari Pingit aku mampir.”
“Ya, aku tunggu” balas Sari senang.
__ADS_1
***
Tak terasa sudah sebulan sejak tunangan, Sari maupun Steve walau sibuk dengan pekerjaan masing-masing, mereka juga sibuk persiapan pernikahannya, minggu depan mama akan ke Jakarta untuk mulai mempersiapkan segala keperluan. Sari akan ke Jakarta 10 hari sebelum pernikahan sedang Steve terpaksa berangkat 3 hari sebelum pernikahan karena proyeknya di Klaten tak bisa di tinggal terlalu lama. Dia akan berangkat dengan Dini dan Anto.
“Apa lagi yang masih belum siap de?” tanya Dini pada Sari malam ini sambil memperhatikan Amora makan.
“Udah mbak, beberapa sudah aku langsung aku kirim ke alamat oma dan alamat mami biar mama ga repot bawa barang-barang,” jawab Sari sambil melihat buku kecil berisi catatan yang dia butuhkan untuk persiapan pernikahannya.
Dini memang meminta barang yang siap di kirim ke alamat rumah maminya karena rumah mama kan masih kosong karena mama belum ke Jakarta.
“De, selop buat mas Imron apa sudah di beli?” tanya Anto pada Sari.
“Belum Mas, rencananya besok sekalian nge cek souvenir di Beringharjo,” balas Sari.
“Titip bwat mas Anto sisan yo de’ kemaren aku ngecek selop mas Anto agak rusak, jadi mending beli baru aja,” Dini langsung mengerti tujuan suaminya menanyakan tentang selop untuk mas Imron. Anto langsung memeluk istrinya dari belakang, dia sangat bersyukur Dini selalu saja penuh perhatian dan mengerti apa yang dia pikirkan.
***
Mendekati hari H Sari makin stress, untung dia di temani mama dan mbak Dini, tak seperti ketika Dini yang sendirian di Jogja menjelang pernikahan sehingga setiap malam dia selalu menangis ketika di telepon Anto.
“Wajar de, yang repot itu kalau badanmu lebih gemuk, sulit mbenerin di hari H. jadi tenang aja. Ga perlu terlalu nervous,” hibur Dini.
“Mbak ini pantes kan warnanya buat kulitku?” lain hari ada lagi yang di keluhkan Sari.
“Warna broken white itu netral de, kulitku kan lebih gelap dari kulitmu. Saat akad yo pantes aja koq,” Dini mengerti Sari sangat ketakutan. Itu sebabnya dia mewanti-wanti Steve agar calon adik iparnya itu bersikap extra sabar menjelang pernikahan mereka.
***
Hari yang di tunggu semakin dekat, hari ini H-10 Sari bersiaap berangkat ke Jakarta. Dini dan Anto hanya mengantar karena mereka akan beranagkat H-3 bersama Steve. Dan di bandara hampir saja Sari batal berangkat karena kembali tidak yakin akan keputusan yang di ambilnya. Saat ini sudah dekat dengan berlangsungnya pernikahan, Sari ingin membatalkannya.
“Serius kamu mau batalin?” tanya Dini kalem. Dia pernah merasakannya. Saat itu bahkan dia minta ke Anto untuk berpikir ulang mengenai rencana mereka, dan Dini melakukan di 3 hari sebelum hari H.
“Kalau mau batalin ayok kita balik ke rumah. Tapi jangan nyesal kalau mama di Jakarta sakit!” Dini menantang Sari untuk kembali ke rumah dari pada dia ragu berangkat. Sedang Anto hanya diam menanti respon adiknya.
__ADS_1
Sari membayangkan wajah lembut mamanya yang tak pernah marah dan mengecewakannya. Dia juga membayangkan wajah teduh oma, yang menjadi mama pengganti bagi Steve. Apa aku bisa menikam jantung dua orang terkasih dalam hidupnya dan Steve? Mereka begitu tulus mencintaiku, mengapa aku ingin menyakitinya? Dan Steve juga tidak memaksaku. Aku menerima cintanya tanpa tekanan. Mengapa aku malah ingin mencoreng nama semua orang? Sari berpikir ulang, lalu dia memantabkan hati masuk ke dalam pintu keberangkatan.
***
Baby Arya agak rewel karena baru pertama naik pesawat, Dini tidak bisa full mendampingi Sari, dia meminta mbak Rina selalu berada di sisi adik bungsu mereka yang terlihat mulai agak cengeng dan emosian. Mbak Rina menyanggupi limpahan tugas dari adik iparnya itu.
Malam jelang akad nikah mas Imron dan Anto mendampingi Steve di rumah oma yang mengadakan pengajian. Anto dan mas Imron sangat salud pada kebesaran hati opa dan oma mengadakan pengajian. Sebelumnya Anto menawarkan pengajian untuk Steve di adakan di rumah Dini saja. Namun opa bersikeras di lakukan di rumahnya. Dia bilang dulu waktu papinya Steve menikah pengajianpun di lakukan di rumahnya. Papinya Dini tentu mendampingi Steve sebagai orang tua asuh. Dan siang tadi opa juga mengadakan acara siraman bagi mempelai laki-laki. Hal yang tidak di lakukan saat Anto menikah.
Dan di rumah Sari juga siraman di lakukan siang harinya sedang malamnya di adakan malam midodareni, acara ritual di kediaman pengantin perempuan malam menjelang pernikahan.
***
Pagi ini Sari mengenakan pakaian adat Manado yang membuatnya sangat berbeda. Steve yang duduk lebih dulu di meja akad nikah takjub melihat pengantinnya datang menghampiri. Papi Dini bertugas sebagai saksi dari pihak Steve, sedang saksi pihak Sari adalah mas Imron, karena tugas sebagai wali ada di tangan Anto.
Benarkah ini gadis yang kutabrak ketika pernikahan Anto dengan Shinta kala itu? Benarkah dia anak bau kencur yang membuatku jungkir balik? Steve terus tak percaya melihat Sari yang baru saja diantar mama dan mbak Rina untuk duduk di sisi kirinya.
“SAH?” tanya penghulu
“SAH” jawab kedua saksi di ikuti semua yang hadir disana.
Sari mengucap hamdalah dalam hatinya, dia tidak menyangka pagi ini dirinya sudah menjadi istri dari Steve. Di hapusnya bulir air mata yang sedikit membasahi kelopak matanya. Dia lalu mengikuti prosesi lanjutan dengan hikmat di mulai mencium tangan imamnya.
Bu Rahma sangat bersyukur tugasnya sebagai orang tua telah tuntas dengan menikahnya putri bungsunya pagi ini.
***
Yanktie ucapin makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini.
Biar ga penasaran ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa.
Jangan lupa like dan vote serta komennya dan bintang 5 nya
Sambil nunggu bab selanjutnya dari kisah ini, bisa baca cerita teman yanktie ini, ga bakal kecewa deh
__ADS_1