
Hallo, gimana puasa kalian ? Semoga lancar selalu ya.
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab. Yanktie seriusan tahu lho siapa aja yang selalu kasih like setiap habis baca, karena sebagai author kan ada notifikasinya.
Akhirnya masalah ulan tahun Dhisty bukan menajdi bahan perdebatab Mamie,dan Papie lagi. Lanjut baca untuk tahu keseruannya di bawah ini ya.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
-------------
Sari merasa enjoy atas kesendiriannya di pasar batik terbesar di Jogja, dia berjalan pelan, memuaskan mata dan jemarinya. Mata untuk merekam semua yang terlihat dan jari untuk meraba kualitas kain yang digunakan. Semua langsung dia rekam dalam memori otaknya yang kuat. Sari juga membeli beberapa baju yang dia inginkan untuknya dan Dhisty. Tak terasa sudah siang. Sari tetap tak ingin pulang. Dia makan pecel di depan pasar. Tak lupa juga membeli sate lemak kegemarannya. Tak terasa banyak barang yang Sari beli selain bahan dan baju. Aneka kerajinan dan mobilan kayu serta gasing bambu dia beli untuk Arya dan Abbhie.
‘Sebaiknya aku langsung pulang saja, tak perlu mampir ke butik,’ pikir Sari sambil masuk ke dalam taksi yang banyak parkir di tepi jalan. Dia langsung minta diantar ke rumahnya.
‘Koq belum balik ke butik Mam?’ chat Steve, dia tak mau menelpon istrinya takut sang istri tidak dengar karena sedang di pasar batik Beringharjo.
‘Sedang on the way ke rumah, sudah hampir sampai!’ balas Sari.
‘Jadi Papi makan siang sendirian?’ tanya Steve.
‘Ya cari aja teman makan di situ, kan bisa makan di butik, atau suruh mas Parman beli makan buat berdua,’ balas Sari santai.
‘Ya beda lah makan dengan istri sama makan dengan orang lain,’ protes Steve dalam balasan chat nya.
‘Mamie banyak belanja buat barang rumah dari pada belanja buat butik, jadi malas kalau harus ke butik dulu,” balas Sari lagi. Lalu dia memasukkan ponselnya ke tas karena sudah sampai di rumah.
Lama tak ada balasan lagi dari istrinya, Steve tahu pasti Sari sudah sampai rumah lalu sibuk memberi ASI pada putri mereka. Seperti saran Sari tadi, dia meminta mas Parman, staf administrasi show room untuk membeli nasi rames di warung langganan mereka.
***
Hari ini Dhisty genap satu tahun, Sari ingat bagaimana susahnya dia mempertahankan Dhisty dalam kandungan setelah percobaan pembunuhan yang dilakukan anak baru gede pecandu narkoba. Dia juga ingat cinta bertepuk sebelah tangan Belinda membuat perempuan itu gelap mata ingin merebut Steve dari sisinya. Saat ini Sari hanya bersujud mengucap syukur dia diberi kepercayaan mempunyai anak semanis Dhisty. Segala doa terbaik dia panjatkan untuk putrinya .
__ADS_1
Sementara, hal yang sama juga dilakukan Steve. Dia bersyukur akan anugrah Yang Maha Kuasa, memberinya titipan yang sangat dia harapkan. Dua tahun pernikahannya kosong, dan ada Dhisty di tahun ketiga. Dan dalam perjalanan kehamilan, malah ada musibah yang hampir merenggut dua nyawa kesayangannya. Dia tak menyangka ada perempuan nekad yang berpikir pendek hendak membunuh Sari. Apa perempuan itu berpikir kalau Sari meninggal dia mau berpaling pada wanita lain? Hanya sujud syukur yang bisa Steve lakukan di ulang tahun pertama anaknya. Tak lupa dia juga memanjatkan doa dan harapan terbaik bagi putri kecilnya. Barisan air mata luruh di pipi Steve yang putih.
***
Esoknya, hari Sabtu, keluarga Anto dan mama datang ke Jakal tepat pukul 10.00 pagi. Mereka heboh dengan kado di tangan untuk Dhisty. Tak Lupa Anto dan Steve juga menurunkan makanan yang sudah Dini dan mama siapkan. Sari tak menyangka kejutan yang dibuat oleh Steve dan mama. Air mata haru membasahi pipinya. Dia peluk erat suami tercintanya, yang dibalas dengan pelukan hangat serta kecup di puncak kepalanya. “Selamat buat satu tahun jadi ibu ya, semoga selalu sabar mendidik anak-anak kita, dan juga selalu cinta ama Papienya anak-anak,” bisik Steve.
“Makasih ya Pi, doa dan harapan yang sama untukmu. Yang sabar menjadi imamku ya,” balas Sari penuh syukur.
“Pelukannya nanti aja,” sapa seseorang yang berdiri di depan pintu.
“Omaaaaaaaa …,” Sari melepas pelukan suaminya dan berlari menghampiri mertuanya serta menjatuhkan dirinya dalam peluk hangat oma. Dia ciumi pipi oma, tak percaya kalau omahadir di ulang tahun pertama cece ( buyut ) nya.
Opa tersenyum senang melihat kekasih hatinya bahagia mempunyai menantu yang selalu membuat mereka bahagia. Sari bukan hanya sekedar menantu, tapi dia adalah anak perempuan oma dan opa.
Sabtu itu semua bahagia, hilang sudah perdebatan sengit yang butuh waktu diskusi tapi tanpa hasil. Sementara little princess yang berulang tahun lebih banyak bobo karena kelelahan bermain.
***
“Entah kenapa, tapi Abang enggak pengen ngopi, pengen hot milk choco aja, trus enggak pengen nasi goreng ini, pengennya nasi goreng seafood pedas, bukan nasi goreng seafood kecap,” jawab Steve lesu.
“Aku lihat stock dapur ya, ada enggak seafoodnya. Sekarang Papie temani Dhisty dulu” Sari menyerahkan balita mereka yang sudah selesai mandi pada suaminya.
“Wooow, anak Papie udah cantik aja,” puji Steve pada putri kecilnya yang saat ini sudah berusia 16 bulan. Dhisty sudah mulai bisa bercerita, dia sudah pandai berlari dan saat ini sedang toilet training sehingga sudah di biasakan tidak menggunakan diapers bila di rumah “Sudah cantik harus pinter ya, jangan pis atau pup di celana,” Steve mengingatkan putrinya sambil mengajaknya ke halaman belakang. Dibiarkannya putrinya bermain di rerumputan.
Halaman depan dan belakang rumah ini mulai ada bunga-bunga karena mama mertuanya yang menanam. Steve dan istrinya tidak seperti mama yang menyukai tanaman. Awalnya taman ini hanya ditanami durian montong dan kelengkeng pingpong saja, itu pun awalnya hanya sebagai pohon pelindung yang bisa menghasilkan.
“Pie, di freezer cuma ada udang, cuminya habis. Mau nasi goreng udang?” tanya Sari, dia tidak mau asal bikin lalu suaminya enggak suka dan terpaksa makan. “Ini hot milk choco nya, minum dulu, perutmu belum keisi apa pun.”
“Kalau gitu nasi putih aja, udangnya di bikin udang goreng tepung asem manis ya Mie,” pinta Steve sambil menerima cangkir yang di sodorkan istrinya.
“Papie kayak orang ngidam aja sih,” celetuk Sari mendengar permintaan suaminya yang berubah-ubah. Dia segera ke dapur untuk eksekusi permintaan suaminya.
__ADS_1
Tidak pakai lama, udang goreng tepung asam manis permintaan Steve tersedia. “Sudah Pie, makan dulu sana, biar Dhisty Mamie yang awasin,” Sari memerintah suaminya untuk sarapan.
“Mamie sudah makan? Masa Papie makan sendirian?” jawab Steve sambil mencuci tangannya.
“Tadi sambil masak Mamie makan nasi goreng sosis. Kalau kesiangan mamie mana bisa wong Dhisty masih nyedot semua energi Mamie,” jelas Sari, walau sudah makan, tetap saja Dhisty masih kuat minum ASI nya.
***
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)
Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
Yanktie tunggu partisipasinya
Terimakasih dan salam manis dari Jogja
__ADS_1