
Pagi harinya saat Larissa bangun tidur, ia merasakan sakit yang begitu hebat di bagian perut bawahnya. Ia terus-menerus merasakan ingin buang air kecil. Tapi saat ia kencing, bukan urine yang ia keluarkan, melainkan darah.
Larissa pun membangunkan sang suami dan menceritakan kondisi yang dialaminya. Akan tetapi tanggapan yang Hamzah berikan membuat hati Larissa kecewa. "Alah, nggak usah terlalu dipikirkan. Mungkin itu hanya karena kamu nahan kencing terlalu lama" ucapnya sambil menguap lebar.
Entah karena memang tidak tahu atau karena masih marah karena semalam, yang pasti Larissa merasa diabaikan oleh sang suami. Meski begitu ia hanya diam. Ia tak ingin menambah masalah lagi.
Keinginan untuk buang air kecil itu datang kembali. Kali ini Larissa bahkan sangat kesakitan, benar-benar kesakitan. Pasalnya saat ia kencing, rasanya di bagian kewanitaannya seakan tertusuk besi panas. Begitu sakit yang teramat sangat sakit. Bahkan Larissa sampai mengeluarkan air mata saking sakitnya.
Tak tahan dengan apa yang ia rasakan, Larissa pun mengatakan hal ini pada ibunya. Sang ibu pun terlihat sangat cemas saat mengetahui keadaan Larissa. Ia memberikan sesuatu yang mungkin bisa meredakan rasa sakit itu.
Larissa kembali merasa ingin buang air besar. Kali ini rasa sakit yang ditimbulkan lebih parah lagi. Ia bahkan hampir pingsan saat kencing.
Mengetahui hal itu, Bu Ani meminta Hamzah untuk membawa Larissa periksa ke puskesmas. Akan tetapi Hamzah terlihat ogah-ogahan untuk mengantar. Ia berasalan bahwa letak puskesmas jauh, dan motornya tidak bisa dibawa kesana, terkendala oleh surat-surat motor yang hampir mati.
Setelah lama membujuk, akhirnya Hamzah mau juga untuk mengantar Larissa ke puskesmas. Terlebih ia juga tak tega melihat kondisi sang istri yang sangat kesakitan.
Setelah beberapa lama, akhirnya mereka pun sampai. Larissa segera mengambil nomor antrian didalam, sedang Hamzah hanya menunggu di parkiran.
Setelah lama menunggu, akhirnya nama Larissa dipanggil juga. Ia pun masuk ke dalam ruangan dokter untuk diperiksa.
Didalam ruangan, Larissa mengatakan semua yang ia keluhkan tadi pagi Tak lupa ia juga mengatakan jika saat ini sedang mengandung, dan usianya sekitar satu bulan.
Mendengar keterangan yang disampaikan Larissa, dokter terlihat kebingungan untuk menentukan. Ia meminta sampel urine untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Larissa pun menuruti permintaan sang dokter. Ia segera masuk ke kamar mandi, kebetulan saat itu dia juga ingin buang air kencing kembali.
__ADS_1
Larissa pun kembali masuk ke ruangan dokter sambil membawa sampel urine yang diminta. Terlihat urine tersebut berwarna merah seperti darah, walau tak se pekat tadi pagi.
Dokter langsung membawa sampel urine tersebut ke dalam laboratorium untuk diperiksa. Dan setelah beberapa lama dokter tersebut kembali lagi.
Dokter meminta Larissa untuk duduk. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Larissa pun menuruti permintaan sang dokter, ia duduk dihadapan dokter dengan harap-harap cemas. Wajah dokter terlihat sangat tegang.
Dokter menghela nafas berat sebelum mulai bicara. "Ibu Larissa, sampel urine yang ibu berikan tadi menunjukkan bahwa urine itu memang mengandung darah. Akan tetapi bukan darah biasa, melainkan indikasi bahwa anda mengalami pendarahan. Hal itu sering terjadi pada usia kandungan yang masih muda, mengingat usia kandungan ibu juga masih satu bulan."
Bagai tersambar petir saat mendengar berita tersebut. Tubuh Larissa lemas seketika. Akan tetapi ia berusaha untuk kuat. Ia bertanya untuk memastikan keadaan janin yang dikandungnya. "Apakah kehamilan saya masih bisa diselamatkan, dok?."
Dokter kembali menghela nafas. "Untuk saat ini janin ibu masih bisa diselamatkan. Tapi ibu harus istirahat total selama seminggu ini. Dan ibu juga harus mengkonsumsi obat penguat kandungan, agar kandungan ibu lebih kuat lagi!" terang sang dokter.
Larissa bernafas lega mendengar penjelasan dokter barusan. Setidaknya janin yang dikandung masih terselamatkan.
"Hal ini bisa disebabkan oleh banyak hal. Bisa karena terlalu sering dan keras saat berhubungan suami istri, atau karena stres yang berlebih. Semua itu sangat berpengaruh pada trimester pertama kehamilan, yaitu usia satu sampai tiga bulan" terang dokter kembali.
Larissa menghela nafas berat. "Ini semua pasti karena semalam aku terlalu memikirkan kejadian kemarin. Secara aku sangat stres memikirkan kejadian itu" batin Larissa dalam hati.
"Ini resep obat yang harus ibu minum. Saya juga menambahkan beberapa vitamin sebagai tambahan. Tapi maaf, ibu harus membeli sendiri obat ini diluar. Karena puskesmas tidak menyediakan obat jenis ini" ucap dokter lagi sambil menyodorkan secarik kertas berisi resep obat.
Larissa pun mengambil resep obat tersebut dan mengucapkan terimakasih. Kemudian ia keluar dari ruangan itu, berjalan menghampiri sang suami yang sedari tadi menunggu di parkiran.
"Apa kata dokter?" tanya Hamzah saat Larissa telah sampai di dekatnya.
"Aku mengalami pendarahan, Yank. Untung janinnya masih bisa diselamatkan. Dokter tadi memintaku untuk istirahat total selama seminggu ini, juga meminum obat penguat kandungan yang ia resep kan. Tapi..." Larissa menggantung ucapannya.
__ADS_1
"Tapi apa?" tanya Hamzah langsung.
"Tapi obatnya harus beli sendiri di apotik, karena di puskesmas tidak menyediakan obat jenis ini. Dan lagi obatnya agak mahal" jawab Larissa lirih. Ia sangat tahu bagaimana kondisi keuangannya saat ini. Karena itulah ia sedikit khawatir Hamzah tidak akan setuju saat mengatakannya.
"Ya sudah nggak pa pa. Kita beli saja obatnya. Tidak usah pikirkan soal harga, yang penting kamu dan calon anak kita baik-baik saja" jawab Hamzah.
Larissa tersenyum lega mendengar ucapan Hamzah. Ia segera naik ke boncengan motor untuk segera kembali pulang.
Di tengah jalan, Hamzah menepikan motornya. Ia melihat sebuah apotik disana. ia lantas menyuruh Larissa untuk membeli obat yang diresepkan tadi.
Larissa pun masuk kedalam apotik dan membeli obat sesuai dengan yang diresepkan tadi. Dan setelah ia mendapatkannya, ia pun naik ke motor kembali.
Sesampainya dirumah, Hamzah menyuruh Larissa untuk langsung istirahat di kamar. Ia begitu perhatian padanya. Bahkan ia tak mengizinkan Larissa beranjak dari tempat tidur.
Larissa begitu bahagia melihat sikap yang ditunjukkan sang suami. Semua kebutuhannya disiapkan olehnya. Bahkan ia dilayani bak seorang ratu.
Usai memberi Larissa obat, Hamzah duduk disamping sang istri. Ia memijat kaki Larissa. "Apa kata dokter tadi? kenapa kamu bisa mengalami pendarahan?" tanya Hamzah disela-sela memijat.
Sejenak Larissa diam, tapi kemudian ia menjawab, "Dokter bilang bisa karena banyak hal. Bisa karena berhubungan suami istri yang berlebihan, atau karena stres."
"Ini pasti karena semalam kita berhubungan suami istri. Ini semua salahku. Seharusnya aku tak melakukan hal itu" ucap Hamzah sendu. Ia seakan menyalahkan dirinya sendiri.
Semalam mereka memang sempat melakukan hubungan suami istri, tapi dalam benak Larissa bukan itu penyebab ia mengalami pendarahan.
Melihat sang suami menyalahkan diri sendiri, Larissa jadi tak tega. Ia memutuskan untuk menceritakan semuanya. "Sebenarnya ini bukan karena semalam kita berhubungan suami istri, melainkan karena....."
__ADS_1