
Iqbal marah besar saat mengetahui jika Hamzah telah bersembunyi dibalik tembok dan merekam semua tindakan pengerusakannya tadi. Ia merasa jika dirinya telah dijebak.
Melihat kemarahan Iqbal, Hamzah tak takut sedikitpun, bahkan ia dengan sengaja menantangnya.
Iqbal semakin marah, ia merangseng maju dan hendak merebut ponsel itu dari tangan Hamzah. Namun dengan sigap Hamzah berkelit dan mengamankan ponsel itu dalam saku celana. "Pergilah dari sini! Atau aku akan melaporkanmu ke pihak yang berwajib dengan tuduhan mengganggu ketentraman dan kenyamanan serta tindakan pengerusakan," ucapnya memberi peringatan.
Setelah diberi peringatan seperti itu oleh Hamzah, bukannya takut dan segera pergi, Iqbal malah ingin menyerang Hamzah dengan melayangkan tinju ke mukanya. Untung dengan sigap ia mengelak serangan tiba-tiba itu.
Larissa sedikit takut saat melihat kakaknya mulai mengangkat tangan terhadap suaminya. Namun ia percaya, suaminya bisa mengatasi semua ini. Ia hanya berharap semoga kakaknya segera meninggalkan rumahnya dan tak mengganggu mereka lagi.
Melihat Iqbal tak takut sedikitpun dengan ancamannya, Hamzah terpaksa melakukan rencana selanjutnya. "Jadi kau tak takut sedikitpun dengan peringatanku tadi? Baiklah kalau begitu! Terpaksa aku.melaporkanmu ke polisi. Ingat! Jangan pernah salahkan aku atas tindakanku ini, sebab aku sudah memperingatkamu sebelumnya."
Usai mengatakan itu, Hamzah mengambil kunci motor yang tergeletak diatas nakas dan berlalu melewati Iqbal tanpa takut sedikitpun. "Ayo, Larissa, kita pergi ke kantor polisi sekarang!." Tangannya menggenggam tangan sang istri agar ikut dengannya. Mana mungkin ia membiarkan istrinya sendirian di rumah dalam keadaan yang memanas seperti ini.
Hamzah mulai menghidupkan mesin motor, Larissa naik keatas boncengan. Namun saat Hamzah hendak melajukan motornya, Iqbal menghentikannya. "Berhenti!" serunya.
Dengan sigap Hamzah mematikan mesin motor, dan mereka pun turun kembali. "Ada apa? kau takut dengan ancaman kami?" ucapnya demgan seringai sinis.
Iqbal memalingkan wajah, matanya terpejam dengan tangan terkepal kuat. Malu untuk mengakui kekalahannya. Namun ini harus ia lakukan jika masih ingin menghirup udara bebas. "Baiklah! Kali ini aku mengalah. Aku akan pergi dari sini. Tapi ingat! Aku tidak akan pernah berhenti mengganggumu sebelum kau serahkan sertifikat rumah ini."
Hamzan tersenyum sinis menanggapi ancaman Iqbal. "Lakukan apapun yang kau ingin lakukan, aku tak takut sedikitpun. Tapi ingat satu hal, ini adalah negara hukum. Jadi jangan sampai kau menyesal nantinya. Kau pasti tidak lupa kan kalau aku sudah memiliki bukti perbuatanmu tadi?" ucapnya sambil mengacungkan ponsel berisi bukti rekaman tindakan pengerusakannya tadi.
Iqbal mendengus kesal, menyeret langkah kaki agar tak semakin dipermalukan oleh Hamzah.
Setelah Iqbal tak kelihatan lagi, Hamzah mulai bernafas lega. "Syukurlah! Semua berjalan sesuai rencana. Aku sangat yakin, setelah ini kakakmu akan berpikir ribuan kali jika ingin mengganggu kita lagi."
__ADS_1
Sementara itu, setelah kakaknya pergi, Larissa malah menangis sesenggukan hingga membuat Hamzah kebingungan. "Jangan takut lagi, Larissa. Lihatlah, semua sudah berakhir, rencanamu berjalan dengan baik," ucapnya, didekapnya tubuh sang istri agar ia tenang.
Bukannya tenang dan berhenti menangis, Larissa justru semakin melesakkan tubuh dalam dekapan suaminya. "Aku tidak takut sama sekali dengan ancaman kakakku, Entik. Karena aku yakin kau pasti melindungiku."
"Kalau kau tidak takut, lalu kenapa kau menangis?" tanya Hamzah semakin bingung.
Perlahan Larissa menarik diri dari dekapan suaminya. Diusapnya lelehan air mata yang membasahi pipi. "Kau tahu, Entik, ini adalah peringatan seribu hari meninggalnya ibuku. Tapi saat ini kami, anak-anaknya, malah bertengkar karena memperebutkan harta warisannya. Ibu pasti sangat sedih melihat hal ini semua," ucapnya lirih.
Hamzah kembali mendekap istrinya. Diusapnya surai panjang milik sang istri. "Jangan menangis lagi, semua ini bukan kesalahanmu. Kita doakan saja semoga ibumu diberi kebahagiaan diatas sana."
Setelah istrinya berhenti menangis dan kembali tenang, Hamzah mengajak istrinya masuk. "Sebaiknya kita masuk ke dalam! nggak enak sama tetangga kalau kita berlama-lama diluar."
Larissa mengangguk, mereka pun masuk kembali ke dalam.
Hal ini juga menjadi pelajaran bagi Hamzah, bahwa melawan kekerasan tidak harus dengan kekerasan pula, tapi dengan kecerdasan dan ketenangan.
...****************...
Manusia hidup tidak akan pernah berhenti dari yang namanya mengalami masalah. Setiap hari ada saja masalah yang datang, mulai dari pekerjaan, hubungan dengan teman, keluarga, pasangan, atau masalah keuangan, karena itu memang sudah hukum alam. Dan bahkan orang yang sudah meninggal pun menghadapi permasalahannya sendiri.
Namun dibalik setiap masalah, ada sebuah hikmah yang dapat dipetik, dan semua itu memberi kita pelajaran yang semakin mendewasakan diri.
Demikian halnya dengan Larissa. Setiap hari ada saja masalah yang menimpa. Mulai dari sikap suami yang terkadang tak bisa ia mengerti, sang ibu yang terkesan pilih kasih terhadapnya, kakak tiri yang selalu iri dengan apa yang ia miliki dan bahkan ingin merebut semua hal darinya, permasalahan ekonomi, dan permasalahan- permasalahan lain yang tak bisa disebutkan satu persatu.
Namun dibalik semua permasalahan, kematangan pikiran dan juga kedewasaan dirinya semakin bertambah. Kini ia menjadi pribadi yang lebih bijak dalam menanggapi masalah.
__ADS_1
...****************...
Waktu terus bergulir, meninggalkan banyak kenangan yang bisa kita ceritakan dihari kemudian pada anak cucu kita nanti, sekaligus menjadi pelajaran untuk masa depan.
Seiring berjalannya waktu, Zahra pun telah beranjak remaja, yang artinya semakin bertambah pula masalah yang harus Larissa hadapi.
Dengan segudang permasalahan yang melingkupinya, ia bukan lagi seorang anak kecil yang bisa dilarang ini itu atau akan berhenti menangis hanya dengan memberinya sebuah permen. Ia akan berontak dan bahkan salah langkah jika kita sebagai orangtua tak mampu mendidiknya dengan baik.
Tugas orangtua adalah memenuhi semua kebutuhan anak, merawat, dan memberi pendidikan terbaik. Baik itu pendidikan umum, atau pendidikan agama.
Membicarakan tentang pendidikan agama, akan lebih baik jika kita menanamkan nilai-nilai agama pada seorang anak sejak ia masih kecil. Sebab agama adalah pondasi dari kehidupan.
Dan inilah yang coba Larissa lakukan. Setiap hari ia sering marah-marah dan bertengkar dengan Zahra karena anaknya itu sangat sulit untuk diajak beribadah. Ada saja alasan yang dibuatnya demi agar tak melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.
"Entik, aku bingung harus menasehati Zahra dengan cara apalagi. Aku sudah mencoba berbagai cara namun itu hanya bertahan selama sehari dua hari, dan besoknya dia sudah lupa," keluh Larissa suatu hari ketika ia sedang bersantai beedua dengan suaminya di kamar.
"Jangan terlalu keras dalam mendidik anak, nanti dia malah memberontak. Biarkan saja semua mengalir seperti air," jawab Hamzah menanggapi keluhan istrinya.
Mendengar jawaban enteng sang suami, tentu Larissa tak setuju. "Bagaimana aku bisa tenang kalau setiap hari Zahra tak mau sholat? dia itu sudah remaja. kita berkewajban untuk mengingatkannya. dan bila perlu, kita boleh memukulnya."
"Aku tahu! Tapi kita tidak bisa memaksanya apalagi menggunakan kekerasan. Coba kau cari cara lain, pendekatan secara emosional mungkin? Kau kan seorang ibu? Aku yakin kau pasti lebih mengerti anak-anak kita!."
Larissa terdiam, mencerna ucapan suaminya. Ia pun sadar, bahwa yang diucapkan suaminya memang benar.
Larissa mulai berpikir, mencari cara yang mungkin bisa mengatasi permasalahannya ini. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di otaknya. "Aku tahu apa yang harus aku lakukan!" ucapnya sambil menjentikkan jari.
__ADS_1