
Hidup penuh liku-liku, ada suka ada duka. Semua Insan pasti pernah merasakannya.
Jalan hidup rupa-rupa, bahagia dan kecewa. Baik buruknya sudah pasti ada hikmahnya.
Susah senang kan datang silih berganti, bagai roda-roda yang terus berputar.
Hayatilah, resapilah hidup ini. Jangan terlena, jangan putus asa.
Seorang musisi pernah menuangkan syair ini dalam sebuah lagu. Memang benar, hidup terus berputar bagaikan sebuah roda. Terkadang kita ada di atas, terkadang ada di bawah.
Saat berada di atas, terkadang kita lupa segalanya dan menjadi sombong. Dan saat kita berada di bawah, kita merasa putus asa dan menyerah.
Namun percayalah! semua itu pasti ada hikmah dibaliknya. Dan memang itu sudah menjadi kehendak Allah SWT.
Dampak dari pandemi ternyata tidak hanya dirasakan oleh Larissa dan hamzah seorang melainkan hampir seluruh dunia. Banyak dari mereka yang terpaksa gulung tikar dan memeras otak demi bisa terus bertahan hidup.
Demikian juga yang dialami oleh Farah, tetangga sebelah rumah Larissa. Dia yang dulu bangga dengan rumah mewah dan pekerjaannya sebagai TKI yang sukses di Negeri Jiran terpaksa harus kehilangan pekerjaannya dan mengais rezeki dengan menjadi nelayan karena tak bisa lagi bekerja di sana.
Farah menggadaikan sertifikat rumah di bank demi mendapatkan pinjaman untuk membeli perahu. Tak tanggung-tanggung, dia meminjam bank sebesar 200 juta rupiah. Namun nampaknya ia belum menyadari hal itu dan masih saja bersikap sombong dan angkuh.
Kehidupan kini berbalik arah. Farah yang dulu terkenal kaya raya kini harus kehilangan harta bendanya satu persatu.
Awal mula terjun ke laut dan menjadi seorang nelayan, suami Farah mendapatkan hasil tangkapan yang sangat bagus, sehingga ia masih bisa bersikap angkuh. Namun ternyata keangkuhannya itu tak bertahan lama, karena beberapa bulan kemudian suami Farah selalu diliputi oleh kesialan yang bertubi.
Dimulai dari mesin perahu yang tiba-tiba rusak di tengah jalan, jaring yang robek saat digunakan, perahu yang tiba-tiba berlubang hingga nyaris tenggelam, hingga hasil tangkapan yang tak seberapa hingga tak bisa menutupi biaya operasional.
Kini Farah gali lobang tutup lobang, demi membayar hutang yang satu, ia pinjam ditempat lain, dan begitu seterusnya. Hingga akhirnya perahu yang baru beberapa bulan di beli terpaksa harus di jual kembali. Namun. uang hasil penjualannya tidak mampu menutupi semua hutang-hutangnya.
Kesialan tak berhenti sampai disitu, karena ternyata Keysa, anak pertamanya diketahui mengidap penyakit radang otak, sebuah penyakit yang tak main-main, pastinya memerlukan biaya yang sangat besar untuk mencapi satu kata yang disebut sembuh.
__ADS_1
Semakin hari Farah semakin terbelit hutang. Dan kini rumah yang selalu ia bangga-banggakan di segel pihak bank karena sudah beberapa bulan menunggak pembayaran.
Kesialan masih berlanjut. Pagi hari saat Larissa hendak berangkat ke pasar seperti biasa, suami Farah menghampirinya dan berkata, "Semalam sepeda motorku hilang dicuri orang."
Sontak Larissa dan Hamzah pun terkejut. "Kok bisa? Memangnya ditaruh dimana? Bukannya tiap malam selalu dimasukkan dalam rumah?."
Suami Farah mendesau lesu. "Itu dia masalahny. Semalam aku tidak memasukkannya dalam rumah karena berpikir tengah malam akan aku gunakan ke pantai. Tapi begitu bangun, ternyata sepeda motorku sudah tidak ada ditempatnya."
"Kok bisa ya, mas? Padahal sepeda motorku tiap malam juga nggaknpernah aku masukkan ke dalam rumah, tapi alhamdulillah nggak ada yang ngambil," ucap Hamzah sambil garuk-garuk kepala bingung.
Suami Farah terlihat sangat sedih dan terpukul. Sepeda motor itu adalah satu-satunya kendaraan yang ia punya, namun kini malah raib digondol maling.
"Yang sabar ya, mas. Nanti coba kami bantu cari" ucap Larissa menunjukkan rasa simpati.
"Saya minta tolong, ya!" ucap suami Farah penuh harap.
"Iya, mas. Kalau begitu kami mau ke pasar dulu, mau kulakan seperti biasa." Larissa pun berlalu bersama suaminya setelah suami Farah menganggukkan kepala.
Beberapa tahun yang lalu Farah dan Hamzah memang sempat berseteru, tapi kini mereka kembali berbaikan karena sebuah musibah yang tak terduga. Orang menyebutnya berkah dibalik musibah.
Ceritanya begini, saat itu hujan turun tak henti-henti selama bebarapa hari yang disertai dengan angin kencang. Tiba-terdengan bunyi benda jatuh yang begitu keras.
Brakkk....
Arrrgk....
Larissa yang baru terlelap setelah menidurkan bayinya pun sontak terbangun karena terkejut. "Suara apa itu tadi, Entik?" tanyanya.
"Keluarlah, Encus! atap rumah kita roboh dan menimpa kepala Zahra," teriak Hamzah. Ternyata suara jeritan tadi berasal dari mulut putrinya yang tertimpa atap rumah. Kebetulan saat itu ia ketiduran di sana setelah menonton televisi.
__ADS_1
"Astagfirullahal adhim." Sontak Larissa bangit dari tempat tidur dan keluar kamar. Pandangannya tertuju pada atap rumah di bagian ruang tengah yang menganga lebar.
Namun detik berikutnya Larissa beralih merengkuh putrinya yang tengah menangis kesakitan sambil memegangi kepalanya. "Mana yang sakit, nak?" tanyanya penuh kekhawatiran. Diperiksanya kepala sang putri dengan seksama.
"Arrgk..." Zahra meringis kesakitan saat tangan ibunya tak sengaja menyentuh luka di kepalanya. "Sakit, bu!."
"Maaf maaf, ibu tidak sengaja. Sini, biar ibu obati lukamu."
Zahra mengikuti langkah ibunya menuju kamar untuk mengambil kotak p3k sambil menangis sesenggukan.
Dengan penuh kelembutan Larissa membubuhkan obat diatas luka putrinya sambil menenangkannya. "Sudah, tidak apa! Lukanya juga tidak terlalu parah. Sebentar lagi pasti sakitnya hilang. Sekarang jangan nangis lagi, ya! Nanti adikmu terbangun kalau kamu nangis terus.
Perlahan tangis Zahra pun mereda. "Nah, gitu kan cantik. Sekarang kamu disini temani adikmu, ibu mau bantu ayah memperbaiki atap rumah."
Zahra mengangguk, Larissa keluar kamar untuk membantu suaminya memperbaiki atap rumah.
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Larissa. sambil membereskan pecahan genting.
"Lihat ini! Sepertinya ada atap rumah orang lain yang terbang tertiup angin dan menimpa atap rumah kita" terang Hamzah sambil menunjuk pecahan atap yang terbuat dari asbes diantara reruntuhan atap rumahnya.
Beberapa saat kemudian Farah dan suaminya memasuki rumah Larissa untuk meminta maaf dan berjanji akan memperbaiki semua kerusakan.
Selidik punya selidik, ternyata pecahan atap tadi berasal dari bagian paling atas rumah Farah. Selama ini bagian itu tak pernah di periksa sehingga tidak tahu jika sudah lapuk dimakan usia.
Keesokan hari suami Farah benar-benar bertanggung jawab dengan menanggung semua kerusakan.
Awalnya Hamzah menolak dan mengajak untuk membagi dua biaya perbaikan. Ia merasa tak enak hati sebab atap rumahnya memang sudah lapuk, dan kebetulan saat itu tertimpa oleh atap rumah Farah sehingga roboh.
Namun suami Farah malah menolak usulan Hamzah dan kukuh untuk menanggung semua biayanya.
__ADS_1
Sejak itulah hubungan antara Hamzah dengan Farah membaik. Itulah mengapa orang mengatakan jika musibah yang menimpa Larissa membawa berkah tersendiri.