Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 73


__ADS_3

"Entik, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu!" ucap Larissa saat melihat suaminya trngah bersantai.


Hamzah mengalihkan pandangan dari televisi yang sedang ia tonton. "Ada apa? Kok muka kamu kelihatan tegang begitu?."


"Abaikan hal itu. Jawab saja pertanyaanku!."


"Ok! Tapi sekarang kamu duduk dulu biar enak nanti ngomongnya. " Hamzah menggeser duduknya dan menepuk tempat kosong disebelahnya.


Larissa mendudukkan tubuhnya disamping sang suami. Hamzah menyunggingkan senyuman melihat kepatuhan istrinya. "Nah, gitu kan lebih enak. Sekarang apa yang ingin kamu tanyakan padaku?."


Larissa sedikit ragu untuk mulai bertanya. Namun rasa penasarannya jauh lebih besar hingga mampu mengalahkan keraguannya. Ia tak ingin hanya berspekulasi dengan apa yang sudah terjadi dengan menuntut penjelasan sang suami. Helaan nafasnya terdengar begitu berat saat ia mulai angkat suara. "Apa kamu ingat aku pernah bercerita kalau belakangan ini aku sering bermimpi melakukan hubungan suami istri dengan lelaki yang tidak kukenal?."


"Jadi ini tentang mimpi itu lagi? Bukankah aku sudah pernah bilang kalau....."


Belum sempat Hamzah menyelesaikan ucapannya, Larissa sudah memotong. "Jawab saja pertanyaanku!. Kau ingat, atau tidak? karena apa yang ingin aku tanyakan nanti ada hubungannya dengan pertanyaanku ini ."


Hamzah menghembuskan nafas berat. "Ya, aku ingat. Ada apa?."


"Tadi aku melihat sebuah tayangan di televisi tentang seorang istri yang dijadikan tumbal pesugihan oleh suaminya sendiri."


Hamzah mengernyitkan dahi, belum mengerti dengan arah pembicaraan ini. "Lalu apa hubungannya tayangan tadi dengan mimpimu?."


"Tentu saja ada hubungannya. Karena kejadian yang dialami oleh si istri dalam tayangan tadi hampir sama dengan yang aku alami belakangan ini."


Sampai disini Hamzah masih tak paham dengan maksud perkataan istrinya. "Maksud kamu?."


Larissa kembali menghela napas berat. "Dalam tayangan tadi, si istri sering bermimpi melakukan hubungan suami istri dengan lelaki yang berwajah sama dengan suaminya, tapi ternyata lelaki itu bukan suaminya. Bukan hanya dalam mimpi, wanita itu juga sering mengalaminya di alam nyata."


"Ha...Ha...ha...jadi kamu percaya dengan tayangan tadi? dan sekarang kamu menyamakan mimpi yang kamu alami dengan tayangan di televisi itu? Iya?" Hamzah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan istrinya. "Itu cuma cerita di film, Larissa, bukan kejadian nyata. Jadi untuk apa kamu percaya."

__ADS_1


"Itu bukan hanya sekedar tontonan biasa, Entik, itu kejadian nyata. Karena si wanita yang mengalami kejadian itu sendirilah yang bercerita" sangkal Larissa hingga tanpa sadar telah meninggikan nada bicaranya. Ia tak terima jika suaminya menganggap dirinya terpengaruh oleh tayangan yang ia tonton tadi. Walau sedikit banyak ucapan Hamzah memang benar.


Mendengar nada bicara Larissa meninggi, Hamzah menghentikan tawanya. "Ok ok, maafkan aku! Sekarang jelaskan padaku, apa maksud perkataanmu tadi?."


"Em...aku mau tanya satu hal padamu. Aku harap kamu tidak akan marah."


"Katakan! Apa yang ingin kamu tanyakan padaku."


"Katakan dulu kalau kau berjanji tidak akan marah setelah aku mengatakan apa yang ingin aku tanyakan nanti" desak Larissa.


Hamzah menghela nafas. "Baiklah, aku berjanji! sekarang katakan apa yang ingin kamu tanyakan padaku."


Larissa kembali ragu. Namun akhirnya ia mengatakannya juga. "Apa benar kata orang kalau kau melakukan pesugihan?."


Hamzah terkejut setengah mati mendengar pertanyaan Larissa. Ia tak menyangka istrinya akan bertanya seperti itu. Bola matanya membulat sempurna saking terkejutnya. "Apa maksud dari pertanyaanmu itu? kau ingin menuduhku telah melakukan hal serendah itu?."


"Penjelasan apa? sudah jelas-jelas kau menuduhku tadi."


"Aku mohon jangan salah paham dulu. Aku hanya ingin memastikan kalau apa yang dikatakan oleh orang-orang itu tidak benar."


Hamzah membuang nafas berat. Ia mengusap wajah kasar. "Baik! aku akan jawab pertanyaanmu. apa yang dikatakan oleh orang-orang itu tidak benar. Aku yidak .permah melakukan pesugihan apapun. Apa jawaban ku ini cukup bagimu?."


"Tapi tidak akan ada asap kalau tidak ada api!."


"Jadi kamu lebih percaya dengan perkataan orang ketimbang aku suamimu?."


"Ti..tidak! aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja...." Larissa semakin gugup. Sedikit banyak ia mulai takut.


Hamzah semakin tak sabar dengan perkataan istrinya yang menggantung. "Hanya apa?" sentaknya.

__ADS_1


Larissa menghembuskan nafas pelan. Mencoba menetralisir debaran jantung akibat rasa takut. "Belakangan ini aku sering melihatmu melakukan hal-hal yang aneh." Sejenak Larissa menjeda ucapannya.


"Aku sering melihatmu merapalkan mantra- mantra yang entah apa saat aku tak sengaja terbangun di tengah malam. Bukan hanya itu, aku juga sering melihatmu membawa bungkusan kecil yang entah apa isinya. Inilah yang membuatku menaruh curiga padamu. Terlebih lagi aku sering mengalami mimpi aneh semenjak melihat yang kau lakukan itu" sambungnya.


Mengertilah kini Hamzah kenapa istrinya bisa berpikiran seperti itu. Ia akui, ia memang kerap melakukan apa yang dikatakan oleh istrinya. Namun tetap saja ia tak mau memberi penjelasan apapun. "Itu urusanku, kau tak perlu tahu. Yang jelas aku tidak seperti yang orang-orang tuduhkan. Jadi aku tekankan sekali lagi padamu, AKU TIDAK PERNAH MELAKUKAN PESUGIHAN. JELAS!."


"Bagaimana aku bisa percaya kalau kamu tidak mau memberiku penjelasan apapun?." Larissa begitu kesal dengan sikap suaminya yang terkesan menutup-nutupi kebenaran. Sampai-sampai tak sadar jika kini ia telah bangkit dari tempat duduk. Nada bicaranya pun kembali meninggi. "Bukankah sebagai suami istri kita harus saling terbuka satu sama lain?."


Hamzah membuang nafas besar. Ia mengusap wajah kasar. "Ikut aku sekarang!" ucapnya. Digenggamnya lengan Larissa kuat-kuat.


Larissa meringis kesakitan karena begitu kuatnya genggaman Hamzah di tangannya. "Tunggu! Kau mau membawaku kemana?" tanyanya. Dipegangnya genggaman tangan suaminya.


Hamzah menatap wajah istrinya tanpa melepaskan genggaman tangannya. "Bukankan kau ingin meminta penjelasan dariku?."


Larissa mengangguk cepat. "Iya, benar! Tapi kenapa kau malah menarik tanganku?."


"Jangan banyak tanya, ikut saja denganku! Aku akan memberitahukan semuanya padamu, tapi bukan disini. Aku tidak ingin orang lain mendengar pembicaraan kita."


Larissaenghela napas. "Baiklah, aku akajn ikut denganmu! Tapi tolong lepaskan genggaman tanganmu. Kau membuat tanganku sakit."


Menyadari tindakannya telah membuat istrinya kesakitan Hamzah segera melepas genggaman tangannya. "Maaf!" ucapnya setulus hati.


Larissa mengusap pergelangan tangannya yang terasa sakit begitu Hamzah melepas genggaman tangannya.


Hamzah melangkah menuju ke arah kamarnya diikuti oleh Larissa di belakang.


Hamzah segera menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat begitu mereka sampai di kamar. "Sekarang jelaskan semuanya padaku!" ucap Larissa.


"Tunggu dulu! Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu." Usai mengatakan hal itu Hamzah melangkah menuju lemari pakaiannya. Dan tak berselang lama ia kembali menghampiri Larissa sambil membawa sesuatu di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2