
"Jangan berbohong padaku, Entik. Aku ini istrimu. Aku tahu kalau saat ini kamu sedang tidak berada dalam keadaan baik-baik saja. Aku bisa membedakan dimana kau sedang sedih atau bahagia. Matamu tidak bisa membohongiku."
"Maafkan aku, Encus. Aku tidak bermaksud membohongimu," jawab Hamzah cepat. Direngkuhnya jemari istrinya. "Aku hanya tidak ingin membuatmu kepikiran."
Larissa menghela napas. "Entik, kita ini suami istri. Sudah sepatutnya kalau kita sing berbagi, baik suka maupun duka. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Kesedihanmu adalah kesedihanku juga. Jadi aku mohon, jangan pernah menyembunyikan apapun dariku."
"Sekali lagi aku minta maaf. Aku janji tidak akan melakukan hal ini lagi."
Larissa mengulas sebuah senyuman tipis. "Baiklah. Kita lupakan saja masalah itu. Sekarang, ceritakan padaku. Apa yang membuatmu sedih seperti ini."
Hamzah pun menceritakan semua kejadian dirumah orangtuanya. Ia juga mengatakan bagaimana perkataan ibu yang sudah begitu melukai hatinya.
Hamzah merebahkan kepala diatas pangkuan Larissa usai menceritakan semua. Air matanya mengalir deras hingga membasahi baju larisaa. Ia seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ibunya.
Larissa tertegun mendengar penuturan suaminya. Ia tahu, selama ini ibu mertua tidak menyukainya. Tapi ia tak menyangka jika ibu mertuanya akan berkata seperti itu pada anaknya sendiri.
Larissa terluka mendengar cerita suaminya. Akan tetapi sebisa mungkin ia sembunyikan semua. Karena saat ini suaminya lebih terluka dari dirinya.
Larissa menghela napas. Mencoba menguatkan diri sendiri sebelum memberi kekuatan pada suaminya.
"Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin ibu berkata seperti itu karena sedang marah saja. Ia pasti tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya tadi" hibur Larissa sambil menyunggingkan sebuah senyuman tipis. Diusapnya punggung suaminya dengan lembut. Mencoba menyalurkan kekuatan padanya.
Hamzah mendongakkan kepala. "Tapi bagaimana jika beliau bersungguh-sungguh dengan ucapannya tadi. Aku tidak ingin menjadi anak yang durhaka pada orangtua" ujar Hamzah disela Isak tangis.
"Kita do'akan saja. Semoga ibu dibukakan pintu hatinya. Dan semoga kesalahpahaman ini cepat terselesaikan" jawab Larissa lembut.
Hamzah menatap wajah Larissa sayu. "Aku beruntung punya istri yang sebaik dirimu. Kau bisa memberikan ketenangan padaku." Pandangan mata dari manik hitam milik istrinya ternyata mampu menenangkan hatinya.
__ADS_1
Larissa merasa sakit saat melihat suaminya dalam keadaan seperti ini. Selama ia mengenal Hamzah, baru kali ini ia melihat laki-laki itu serapuh ini.
Hamzah merebahkan kepalanya kembali ke pangkuan Larissa. Larissa mengusap rambut suaminya dengan lembut. Mencoba memberi kekuatan pada hati yang hancur. Memberi ketenangan pada jiwa yang rapuh.
...****************...
Malam hari usai sholat Maghrib, kedua adik Hamzah dan seorang sepupunya datang ke rumah Larissa. Mereka ingin melihat wajah keponakannya yang baru lahir.
Hamzah menyambut kedatangan mereka dengan gembira. Ia langsung mempersilahkannya untuk masuk. "Ayo masuk dulu. Keponakanmu sudah tidur" ucapnya.
Kedua adik Hamzah beserta seorang sepupunya itu pun masuk ke dalam. Tangan Izzah menenteng sebuah kresek hitam yang entah apa isinya.
"Oh, ya, mana ibu sama bapak? kenapa hanya kalian saja yang kesini?" tanya Hamzah setelah mereka berada didalam rumah.
"Ibu sama bapak nggak bisa kesini," jawab Izzah. "Ini ada titipan dari ibu. Katanya buat anak kakak." Izzah menyerahkan kresek hitam yang ia bawa tadi pada Hamzah.
Hamzah terlihat sangat kecewa karena ibunya tak mau datang. Bahkan untuk memberikan hadiah pada cucunya sendiri pun menyuruh adiknya. Padahal anak Hamzah adalah cucu pertama dalam keluarga mereka.
"Iya, mbak, nanti aku sampaikan ke ibu"
jawab Izzah.
Izzah mengangkat tubuh bayi mungil yang tengah menggeliat diatas tempat tidurnya. Ia tak tahan melihat tingkah menggemaskan dari sang bayi. "Kakak mau beri dia nama siapa?" tanyanya pada Hamzah tanpa menoleh sedikitpun. Ia terus memandangi wajah sembari menimang bayi tersebut.
"Kakak ingin memberinya nama Fatim, Fatimah Az-Zahra" jawab Hamzah mantap.
"Hai fatim" sapa semua. Mereka pun mengambil foto secara bergantian dengan bayi yang masih merah itu. Dan terakhir, mereka melakukan foto bersama.
__ADS_1
Usai berfoto, mereka pun pamit pulang. "Kak, ini udah malam. Aku mau pamit pulang dulu" ucap Izzah.
"Iya, makasih banyak dah datang kesini," jawab Larissa. "Hati-hati di jalan, ya." Mereka mengangguk dan meninggalkan rumah Larissa.
Sepeninggal mereka, Larissa membuka bungkusan yang mereka bawa tadi. Ternyata isinya beberapa perlengkapan bayi. Ada baju dua setel, selimut bayi, kain gendong, dan beberapa barang lain.
"Alhamdulillah. Setidaknya ibu sama bapak masih perduli dengan anak kita" ujar Larissa tersenyum yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Hamzah.
Tiba-tiba Bu Ani datang melintas. "Ibu mertuamu itu memang gila. Masak memberi hadiah pada cucunya sendiri pake menyuruh anaknya yang masih kecil. Apalagi anakmu kan cucu pertamanya," cibirnya sinis. "Masalah kayak gitu aja dibesar-besarkan. Dasar nggak punya hati."
Larissa mengusap dada mendengar perkataan ibunya yang memanaskan hati. "Maafkan ibu aku, ya. Tolong jangan masukin kedalam hati" ujar Larissa pada suaminya. Ia takut Hamzah akan marah.
Hamzah tersenyum melihat kekhawatiran istrinya. "Kita lupakan saja. Yang penting itu, aku dan kamu baik-baik saja." Larissa tersenyum lega mendengar jawaban suaminya.
"Cus, aku mau ke rumah juragan dulu. Aku mau ikutan melaut lagi nanti malam" ujarnya lagi.
"Loh, emangnya kamu nggak capek?. Kan kita baru pulang dari rumah sakit tadi" tanya Larissa.
"Nggak! aku nggak capek. Lagian kita kan perlu uang banyak untuk syukuran pemberian nama anak kita," jawab Hamzah. "Selain itu, aku juga ingin membelikan gelang dan kalung buat anak kita. Seperti kata ibumu dirumah sakit waktu itu."
"Ya udah, terserah kamu. Aku hanya tidak ingin kamu kecapekan."
Hamzah menganggukkan kepala dan bergegas keluar rumah menuju rumah juragan.
Setelah anak Larissa lahir, Bu Ani memang sempat menyindir hamzah tentang memakaikan gelang dan kalung pada bayinya. Ia berkata seperti itu sambil menimang cucunya.
Larissa bersyukur Hamzah tidak tersinggung dengan ucapan ibunya. Dan sepertinya malah menjadi motivasi untuk Hamzah agar lebih giat lagi dalam bekerja.
__ADS_1
Semenjak kelahiran anak mereka, hasil tangkapan ikan Hamzah sangat banyak. Sehingga uangnya bisa ia pergunakan untuk melunasi biaya di Bu bidan. Selain itu, ia juga mereka juga bisa mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk anak mereka. Mungkin itu yang dinamakan dengan rezeki anak baru lahir.
Kelahiran Fatim membawa kebahagiaan bagi Larissa. Pasalnya suaminya itu semakin giat bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak dan istri. Selain itu ia juga membantu merawat anak mereka. Larissa berharap, semoga kebahagiaan ini akan berlangsung selamanya.