
Setelah perdebatan mereka tempo hari. Larissa dan ibu sama-sama melancarkan perang dingin. Mereka hanya bicara bila perlu, itupun hanya sedikit.
Sebenarnya Larissa tidak bermaksud melakukan itu. Dia hanya belum bisa menerima kenyataan ini. Dia juga masih kesal mengapa ibu menjauhkan dirinya dari keluarga ayah.
Sebelumnya Larissa juga sudah mencari tahu kebenaran cerita ibu dari tetangga rumah lamanya yang sempat ibu letakan dalam ceritanya, dan itu memang benar. Dia memang sering sakit-sakitan saat masih bayi. Dan tetangga sebelah itulah yang dulu sering menolong ibu. Disaat tidak ada satu keluarga pun yang mau menolongnya.
Namun setelah mengetahui kebenaran itu, Larissa masih juga belum bisa menerima kenyataan itu. Hatinya seakan membatu. Menyalahkan ibu atas pembullyan yang terjadi padanya.
Semoga saja akan ada secercah cahaya yang bisa menghancurkan kebekuan dihatinya. Sehingga ia bisa memeluk kenyataan ini dengan tangan terbuka.
Meskipun begitu, ia tak pernah melupakan tugasnya untuk membantu ibu berjualan. Ia juga bersikap seperti biasa pada suaminya. Sesekali ia juga mengunjungi keluarga ayah agar tidak memutus silaturahmi yang sudah terjalin kembali.
Itulah mengapa ibu tidak pernah bisa marah terlalu lama dengannya. Karena Larissa pandai menempatkan diri dan bisa merebut hatinya. Atau mungkin hati seorang ibu memang tidak bisa marah dengan anaknya walau ia disakiti.
Hari ini suasana hati Hamzah sedang buruk. Entah apa yang sudah terjadi dengannya. Sepanjang hari ia marah-marah. Apapun yang Larissa lakukan selalu salah dimatanya.
Puncak dari kemarahannya adalah malam hari. Saat itu mereka baru selesai melaksanakan sholat magrib. Fatim seharian rewel karena demam. Ibu pun memberikan sebuah pisang emas yang tadi ia beli di pasar padanya dengan maksud agar ia tidak rewel lagi
Tanpa disangka-sangka, Hamzah merebut pisang itu dari tangan Fatim dan langsung membuangnya keluar. Sontak ibu pun marah dan merasa tersinggung atas perbuatannya itu. "Kenapa kau membuang pisang yang aku berikan pada Fatim? Dia itu cucuku. Aku berhak untuk memberinya apapun."
"Aku tidak bermaksud menyinggung ibu. Aku hanya ingin melindungi anakku" jawab Hamzah.
__ADS_1
"Apa kau pikir aku akan mencelakai anakmu? Fatim itu cucuku juga, mana mungkin aku akan menyakitinya" sergah ibu cepat.
"Aku tidak bilang kalau ibu ingin mencelakai Fatim. Aku hanya bilang ingin melindungi anakku," ujar Hamzah mencoba memberi penjelasan. "Fatim itu aku pakaikan kalung untuk menangkal gangguan makhluk halus. Dan pantangannya adalah memakan pisang emas. Bila pantangan itu dilanggar, maka akan berbalik menyerang si pemakainya sendiri."
"Alah, itu cuma alasan kamu aja, kan! bilang aja kalau kamu nggak suka sama aku. Kelihatan dari sikapmu."
"Aku tidak mencari alasan. Itu memang kenyataannya."
Hamzah memang memakaikan sebuah kalung dari orang pintar yang berfungsi untuk menangkal gangguan makhluk halus. Ia sengaja memakaikannya karena sering melihat Fatim tiba-tiba menangis keras dengan wajah ketakutan. Pandangannya tertuju pada satu arah. Dan tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan tangisannya.
Dulu waktu Fatim masih berusia empat puluh hari, Larissa dan Hamzah mengunjungi rumah mertua. Disana Fatim sudah menunjukkan gelagat yang tidak mengenakkan. Akan tetapi Larissa tidak menyadari akan hal itu.
Hamzah tahu jika Fatim bukan hanya menangis biasa. Ia menangis karena gangguan dari makhluk halus. Bisa dikatakan ia memiliki batin yang sangat peka terhadap hal mistis, atau bisa dikatakan Hamzah adalah seorang indigo.
Sejak awal Larissa sudah tahu jika suaminya bisa melihat makhluk halus. Menurut ibu mertua, itu semua dikarenakan hari kelahirannya atau wetonnya, yaitu Minggu legi. Sehingga walau dia tidak pernah belajar tentang hal mistis, ia bisa melihat makhluk halus. Bahkan beberapa dari makhluk itu memilih untuk mengikutinya.
Dulu waktu pertama kali menikah, Larissa menemukan sebuah keris seukuran jari kelingking tiba-tiba ada di atas meja rias. Ia kebingungan, pasalnya sebelum menikah Hamzah sudah memberikan keris tersebut pada salah satu temannya saat ia merantau ke negeri seberang. Larissa pun segera memberitahukan hal itu pada suaminya.
Awalnya Hamzah juga bingung kenapa tiba-tiba ketua itu bisa ada disitu. Tapi kemudian ia tersenyum. "Keris ini lebih suka ikut denganku. Makanya ia kembali lagi padaku walau aku sudah memberikannya pada orang lain. Mungkin pemiliknya yang sekarang tidak bisa merawatnya" ujarnya. Lantas ia menyimpan kembali keris tersebut diantara lipatan bajunya.
Sejauh ini Hamzah membiarkan makhluk itu mengikutinya, selama makhluk tersebut tidak menggangu dirinya atau keluarga. Tapi dalam hal ini makhluk tersebut mengganggu anaknya. Itu sebabnya ia mengambil tindakan dengan memakaikan kalung tersebut.
__ADS_1
Hamzah sudah menjelaskan pada Bu Ani tentang tindakannya tadi. Tapi sayangnya Bu Ani tidak mau menerimanya, bahkan cenderung menyalahkan. Mungkin ini dikarenakan Bu Ani tidak percaya akan hal-hal seperti itu.
Larissa yang sempat melihat kejadian tadi sama terkejutnya dengan ibu. Ia sangat menyayangkan sikap suaminya. Ia tahu jika Hamzah bermaksud baik, hanya saja caranya keliru.
Yang membuat Larissa sedih, ibu mengusir Hamzah didepan matanya. Ia tak bisa berbuat banyak, apalagi membela suaminya. Karena apa yang Hamzah lakukan memang salah.
Andai Hamzah bisa bersikap lebih lembut dan bisa menjaga perasaan ibu, mungkin semua ini takkan terjadi. Walau apa yang dimaksudkan baik, jika cara penyampaiannya salah maka akan menimbulkan kesalahpahaman. Seperti halnya yang terjadi saat ini.
Ibu menangis tersedu-sedu usai kejadian itu. Larissa datang menghampiri untuk menenangkannya. "Ibu, sudah, jangan menangis lagi" ujarnya sambil mengusap lengan ibu. "Aku tahu ibu marah dengan sikap Hamzah. Tapi tolong, jangan usir dia dari rumah ini, Bu."
"Ibu tidak sudi dia tinggal disini. Ibu tidak mau melihat mukanya lagi!."
"Kalau ibu mengusir Hamzah, lalu bagaimana denganku. Apa ibu tega melihatku hidup tanpa seorang suami?."
Ibu mengusap air mata dan menatap Larissa intens. "Kalau kamu mau ikut suamimu, ikut saja. Ibu tidak akan melarangmu. Satu hal yang perlu kau ingat, jika kau memilih untuk ikut dengan suamimu, maka tidak ada lagi tempat untukmu disini."
Larissa tertegun mendengar ucapan ibu. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi untuk merubah keputusannya.
Sementara itu, Hamzah bergegas meninggalkan rumah tanpa sepatah kata lagi. Bahkan ia tak melihat ke arah Larissa sedikitpun. Memang begitu sikap Hamzah. Bika ia merasa tidak bersalah, maka ia tidak akan mau mengalah dan meminta maaf duluan.
Larissa memandang kepergian suaminya dengan perasaan yang sulit diartikan. Air mata berderai. Ia mengalami dilema, tidak tahu harus bersikap seperti apa. "Ya Allah, kenapa berulangkali KAU tempatkan aku pada posisi yang sulit? kenapa KAU kembali membuatku harus memilih antara ibu dan suami? Tidak bisakah bila mereka bersatu?" ratap Larissa.
__ADS_1