Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 110


__ADS_3

Iqbal membawa Larissa ke puskesmas terdekat saat melihat Larissa mengerang kesakitan di depan rumahnya. Dan setibanya disana ia segera membawanya menuju ruang gawat darurat.


Perawat melakukan pemeriksaan sambil mengajukan beberapa pertanyaan pada Larissa.


Larissa menjawab semua pertanyaan yang perawat ajukan sesuai dengan yang ia rasakan saat ini. Ia pun menjelaskan bahwa beberapa hari yang lali baru saja menjalani operasi pengangkatan benjolan di payudara (FAM).


Alangkah terkejutnya Larissa saat mendengar perawat mengatakan bahwa penyebab dari demam tinggi yang dirasakannya adalah karena seluruh *********** memerah seperti terkena air panas. Semakin terkejut lagi saat perawat mengatakan, "Sepertinya luka bekas operasi anda mengalami infeksi!."


"Kok bisa gitu, mbak? Padahal selama ini saya merawat luka operasi saya dengan baik," sanggah Larissa.


"Perawatan bekas luka bukan hanya dari kebersihan saja, tapi juga faktor lain seperti makanan dan lain-lain. Tapi tidak menutup kemungkinan anda mempunyai riwayat alergi terhadap makanan, obat-obatan, atau yang lainnya" terangnya. "Apa anda memiliki riwayat alergi seperti yang saya katakan tadi? Atau mengkonsumsi makanan yang memicu alergi?."


Larissa menggeleng. "Tidak, mbak! Saya tidak punya alergi apapun."


"Baik! Kalau begitu sekarang saya akan berikan suntikan dulu agar kondisi anda sedikit membaik."


Larissa kembali mengangguk. Perawat menyiapkan suntikan dan menyuntikkannya ke tubuh Larissa.


"Sudah! Sekarang anda bisa beristirahat disini dulu. Saya akan buatkan laporan kesehatan anda."


"Baik, mbak, terimakasih!."


Perawat berlalu meninggalkan Larissa, sedang Larissa sendiri berusaha memejamkan mata. Namun baru juga ia terlelap, Iqbal kembali membangunkan untuk menanyakan beberapa dokumen yang dibutuhkan seperti kartu tanda penduduk, kartu keluarga, dan kartu kesehatan untuk laporan pihak puskesmas.


Larissa memberitahukan dimana ia biasa meletakkan dokumen-dokumen penting dan meminta sang kakak untuk mengambilnya.


Iqbal bersedia dan memacu motornya kembali untuk mengambil dokumen di rumah. Dan setelah mendapat semua yang diperlukan, ia kembali lagi ke puskesmas dan menyerahkannya pada perawat yang menangani Larissa tadi.


Beberapa menit kemudian Larissa kembali dibangunkan oleh perawat. "Maaf, mbak, mengganggu! Tapi sepertinya anda baru melakukan rawat inap di rumah sakit."


"Iya, mbak!."

__ADS_1


"Sesuai dengan prosedur puskesmas, kami baru bisa menindaklanjuti anda lebih lanjut jika menghentikan pengobatan disana. Sebab kami tidak bisa mengcover kartu kesehatan anda saat ini."


Larissa bingung, tidak mengerti maksud perkataan perawat. "Jadinya gimana, mbak? Saya tidak mengerti."


Perawat tersenyum, kembali menjelaskan dengan bahasa yang lebih mudah. "Kalau anda ingin melakukan rawat inap disini, anda tidak bisa melakukan kontrol di rumah sakit sampai pihak puskesmas menyatakan anda sehat benar. Tapi kalau anda tetap ingin melakukan kontrol di rumah sakit, maka kami hanya bisa memberikan anda obat untuk meringankan rasa sakit sementara."


Larissa mengangguk-angguk. "Oh, gitu, mbak!."


"Iya, mbak. Ini sudah menjadi kebijakan pihak asuransi kesehatan," ucapnya ramah. "Jadi, apa keputusan anda sekarang?."


Larissa diam, berpikir keputusan apa uang akan ia ambil. Jika ia ingin melakukan kontrol di rumah sakit, maka harus menunggu beberapa hari lagi sampai jadwal dokter bedah yang menanganinya tiba. Namun jika ingin melakukan rawat inap disini, maka ia harus menunggu hingga pihak puskesmas menyatakannya sembuh untuk bisa melakukan pelayanan kesehatan di rumah sakit kembali.


Sebuah pilihan yang sama-sama sulit. Setelah menimbang mana yang terbaik untuk saat ini akhirnya ia memutuskan untuk rawat inap di puskesmas saja. Terlebih saat ini kondisi tubuhnua memang memerlukan penanganan yang terbaik.


Perawat kembali berlalu meinggalkan Larissa untuk mempersiapkan ruang rawat inap. Dan setelah semua selesai ia kembali memghampirinya. "Ayo, mbak, kita pindah ke ruang rawat inap, biar mbaknya juga bisa beristirahat dengan tenang."


Larissa mengangguk dan pasrah saja pada apa yang perawat lakukan padanya.


Semua hal dilakukan oleh perawat, sebab saat itu sudah sangat malam. Tidak ada seorang dokter pun disana, yang ada hanya beberapa perawat yang bertugas jaga.


Suasana kembali sepi setelah perawat melakukan tugasnya. Tinggallah Larissa seorang diri di kamar yang cukup luas. Terbaring lemas diatas brangkar menggigil kedinginan tanpa bantal dan selimut.


Ait mata berlinang menahan semua kesakitan ditubuh. Perutnya keroncongan meminta untuk diisi karena sejak sore belum kemasukan makanan apapun. Makanan terakhir yang ia makan tadi siang pun harus keluar kembali karena mual dan muntah.


"Entik, cepatlah pulang. Aku membutuhkanmu saat ini. Lihatlah kondisiku sekarang!." Jeritan hati Larissa terus memanggil nama Hamzah memintanya untuk pulang.


Dalam keadaan seperti ini ia baru menyadari bahwa hanya suaminya saja yang selalu ada untuknya dan tak pernah pergi meninggalkannya. Berjuta sesal merasuki hati Larissa hingga membuat dadanya terasa sesak.


Pintu kamar terbuka, nampak Iqbal muncul dibaliknya. Tangannya menenteng sebuah kantung kresek berisi nasi bungkus. Rupanya tadi ia keluar untuk membelikan Larissa nasi karena berpikir adiknya pasti membutuhkan makanan sebelum meminum obat agar cepat pulih.


"Larissa, bangunlah! Aku membawakanmu makanan. Saat ini kau pasti sangat lapar, kan?," ucapnya.

__ADS_1


"Aku memang lapar, kak, tapi perutku sangat mual."


"Tapi kau harus tetap makan, Larissa. Sebentar lagi kau minum obat, dan untuk itu kau harus makan."


"Tapi kak..."


"Kalau kau ingin cepat sembuh, kau harus makan."


Ucapan tegas Iqbal membuat Larissa menurut. Terlebih selama ini ia sangat takut dengan kakaknya. "Biar aku bantu suapi kamu!" Ucapnya lagi.


Iqbal membuka bungkus makanan dan mengambil sendok. Kemudian ia sodorkan sendok berisi makanan tersebut ke mulut Larissa. "Ayo buka mulutmu!."


Aroma makanan menusuk hidung Larissa dan membuatnya kembali mual. Namun ia tetap menerima suapan Iqbal demi tak mengecewakan hatinya.


Iqbal sangat telaten saat menyuapi Larissa, hingga membuat hati Larissa tersentuh karenanya. Mungkin ini yang disebut dengan ikatan darah, bahwa seburuk apapun seorang saudara tetap tidak akan tega saat melihat saudaranya menderita.


"Terimakasih banyak atas bantuanmu, kak. Aku sangat menghargai kebaikanmu saat ini. Suatu saat, aku akan membalasnya." ucap hati Larissa. "Tetaplah bersikap seperti ini padaku, dan jangan berubah seperti dulu lagi!."


Separuh porsi sudah makanan yang berpindah ke perut Larissa. Dan kini ia tak sanggup untuk memakannya lagi. "Cukup, kak, perutku sudah tidak sanggup lagi."


Iqbal meletakkan makanan diatas nakas dan berganti mengambil obat yang harus Larissa minum. "Sekarang minumlah obatmu!," ucapnya sambil menyodorkan segelas air padanya.


Larissa mengambil obat itu dari tangan kakaknya beserta segelas air. Kemudian ia meminum semuanya sekaligus. "Sudah, kak!," ucapnya sambil mengembalikan gelas itu pada kakaknya.


"Sekarang istirahatlah lagi!."


Larissa bersiap memejamkan mata, namun sesaat kemudian urung begitu teringat akan putrinya yang ia tinggalkan tadi. "Zahra dimana kak? Tadi dia sendirian di rumah."


"Kau tenang saja! Zahra berada di rumahku. Sekarang lebih baik kau beristirahat dan jangan pikirkan apapun lagi."


Larissa menurut dan langsung memejamkan mata. Iqbal turut merebahkan tubuh pula di salah satu ranjang yang kosong untuk menemani Larissa.

__ADS_1


__ADS_2