
Larissa mendapati sebuah kenyataan bahwa suaminya telah berbohong. Namun ia tidak mau percaya begitu saja sebelum ada bukti. Karena sejauh ini, Hamzah tak pernah sekalipun membohonginya.
Usai membereskan jualan dan memandikan anaknya, Larissa pergi ke rumah anak buah kapal lain yang berada satu kapal dengan suaminya. Namun sesampainya disana, ia mendapati kenyataan bahwa ternyata Hamzah benar-benar membohonginya mentah-mentah.
Alangkah hancur dan kecewanya hati Larissa. Ia hanya bertanya, bukan meminta uang tersebut. Tapi Hamzah malah tega membohonginya. Lalu kemana kah uang itu? Dan untuk apa?
Berjuta pertanyaan bergelantungan dipikiran Larissa. Jika Hamzah sudah memegang uang sendiri, lalu kenapa ia masih meminta uang darinya? Bahkan untuk uang bensin dan rokok pun Hamzah masih meminta padanya.
Larissa teringat, saat ia meminta Hamzah untuk mengantarnya ke pasar, Hamzah selalu meminta uang untuk membayar kopi. Ia selalu ngopi di warung sambil menunggu Larissa selesai belanja.
Larissa marah, sangat marah. Kali ini kesalahan Hamzah sangat fatal karena sudah berani berbohong padanya. Dan ia tidak bisa mentolerir kesalahan itu.
Bagi Larissa, kejujuran dalam sebuah hubungan adalah segalanya. Ia tidak akan menerima kebohongan apapun. Walau sekecil apapun, dan dalam bentuk apapun.
Mungkin berbohong untuk menyenangkan hati seseorang memang dibenarkan. Tapi apa alasan Hamzah membohonginya? dan untuk apa?. Toh ia hanya bertanya, tidak meminta uang tersebut.
Selama ini Larissa selalu menerima berapapun nafkah yang Hamzah berikan tanpa banyak tanya. Ia tidak akan meminta dan membiarkan Hamzah yang memberikannya sendiri. Walau ia tahu, meminta nafkah adalah haknya sebagai seorang istri.
Larissa pun pulang kembali ke rumah dan menyimpan kekecewaan itu untuk diri sendiri. Dan sesampainya di rumah, ia bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
...****************...
Tiga hari telah berlalu. Larissa dan Hamzah masih saling mengobarkan perang dingin. Tak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah dan memecah kebekuan itu. Mereka sama-sama dengan egonya masing-masing, menganggap diri yang paling benar.
Hari itu ditengah malam, Hamzah mencoba menyentuh Larissa. Ia begitu menginginkannya. Namun Larissa malah menolaknya.
Hamzah tak menyerah, ia terus berusaha menyentuh Larissa dan membuka pakaiannya. Hasratnya sudah di ubun-ubun, hingga ia tak mau menyerah sebelum hasratnya tersalurkan.
__ADS_1
Larissa pun tak mau kalah. Ia terus menolak dan menarik kembali bajunya. Ia menutup kakinya rapat-rapat saat Hamzah mencoba melebarkannya. Bahkan ia menutupi tubuhnya dengan selimut agar Hamzah tak bisa menyentuhnya.
Lama-lama Hamzah pun menyerah karena terus mendapat penolakan. Ia keluar kamar dengan membawa sejuta kekesalan.
Setetes air mata jatuh di pipi Larissa saat melihat suaminya pergi. "Maafkan aku! aku tidak bermaksud untuk menolak mu. Aku hanya tidak ingin melakukannya sebelum kita menyelesaikan masalah yang ada," lirihnya. "Ya Allah, ampuni aku! Kau maha tahu kenapa aku melalukan ini."
Dalam ajaran agama, wanita berkewajiban untuk melayani suami saat ia menginginkan dirinya. Dan malaikat akan melaknat setiap wanita yang menolak ajakan suami untuk berhubungan intim.
Larissa sangat tahu akan kewajibannya itu. Namun tetap saja ia menolak suaminya. Tapi apakah semua ini adalah kesalahannya?. Entahlah! Hanya Allah yang maha tahu.
Larissa ingin Hamzah meminta maaf padanya. Hanya satu permintaan maaf. Lalu ia akan melupakan semua yang terjadi. Namun nyatanya hingga detik ini ia tak juga mendengar permintaan maaf itu terucap dari bibir suaminya.
...****************...
Matahari kembali menampakkan sinarnya. Angin berhembus mesrah. Burung-burung berkicau bersahut-sahutan menambah indahnya panorama pagi.
Larissa berniat pergi ke rumah Lia, sepupunya sebelum berangkat ke pasar. Ia ingin menumpahkan keluh-kesah untuk sedikit mengurangi beban dihatinya.
Sesampainya di sana, Larissa menceritakan semua yang terjadi. Terlihat sangat betapa ia sangat tertekan dengan masalah ini.
Lia memeluk Larissa sambil mengusap punggungnya. Membiarkan Larissa menumpahkan semua bebannya. "Keluarkan semua beban deritamu. Jangan coba kau pendam sendiri. Karena itu tak baik untukmu."
"Jangan pernah menganggap dirimu sendirian. Aku ada disini. Aku siap menjadi pendengar yang baik untukmu."
Larissa tergugu. Isak tangisnya terdengar begitu menyayat hati. "Apakah aku yang bersalah?."
"Tidak! ini bukan kesalahanmu. Hamzah lah yang bersalah" jawab Lia. Ia tak henti mengusap punggung Larissa untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Lalu aku harus bagaimana? apakah aku harus menerima perceraian ini?" ucap Larissa lirih. Dilepaskannya pelukan Lia dari tubuhnya.
Lia menghela napas. Berpikir sejenak untuk mencari kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan sepupunya.
"Bicarakan hal ini berdua dengan suamimu. Bicaralah dari hati ke hati. Cobalah untuk mencari jalan terbaik berdua."
"Tapi aku takut. Kau tahu sendiri, kan bagaimana suamiku?."
Lia kembali menghela nafas. "Terkadang kita harus memberanikan diri bicara untuk memecahkan masalah. Jangan pernah takut jika kamu merasa benar."
Sejenak Lia menjeda ucapannya, membiarkan Larissa berpikir. Setelah beberapa saat ia pun melanjutkan kembali ucapannya. "Kita harus berani melawan jika kita memang tidak bersalah. Walau pada seorang suami sekalipun. Karena suami bukanlah seorang dewa yang harus ditakuti dan tak pernah bersalah."
"Carilah waktu terbaik untuk bicara dengan suamimu. Dan untuk itu hanya kamu yang tahu."
Larissa merenungkan setiap kata-kata yang diucapkan Lia. Dan itu memang benar. Ia harus memberanikan diri jika ingin suaminya sadar akan kesalahannya. Dan ia pun bertekad untuk mengajak bicara sang suami.
Tengah malam Hamzah kembali mencoba menyentuh Larissa. Kali ini tak ada penolakan dari istrinya. Ia pun melolosi pakaian istrinya dan segera menuntaskan hasratnya.
Tak ada gairah sedikitpun pada diri Larissa saat melayani suaminya. Bahkan ia tak sedikitpun menikmati setiap sentuhan dan cumbuan yang dilancarkan. olehnya. Ia melakukannya hanya untuk menggugurkan kewajiban saja.
Larissa membiarkan Hamzah berbuat sesuka hati pada tubuhnya. Dan setelah semua selesai, ia segera mengenakan pakaiannya kembali.
Setelah hasratnya tersalurkan, Hamzah berniat untuk kembali tidur. Namun Larissa malah menghentikannya. "Tunggu! jangan tidur dulu! Aku ingin bicara denganmu."
Ya, Larissa merasa ini adalah waktu yang tepat untuk mengajak suaminya bicara. Emosi Hamzah pasti lebih stabil setelah mereka bercinta.
Hamzah menyibak selimutnya dan duduk kembali. "Katakan! apa yang ingin kau bicarakan denganku?."
__ADS_1
Larissa menghela napas, mengumpulkan segenap keberanian yang ia punya sebelum bicara. "Apakah kau serius dengan keputusanmu kemarin? apakah kita harus berpisah dengan cara seperti ini?"
Tak ada jawaban dari Hamzah. Ia hanya diam membisu. Larissa pun mengulang kembali pertanyaannya. "Katakan padaku apa sebenarnya yang kau inginkan?."