
Berhari-hari Larissa tak bisa makan dan tidur dengan benar. Ia terus memikirkan masalah yang tengah ia hadapi, mencari jalan keluar terbaik agar tak menyakiti salah satu pihak.
Yang membuat Larissa sedih, sampai detik ini Hamzah tak juga menunjukkan iktikad baik dengan cara meminta maaf atau pun berpura-pura mengakui kesalahannya untuk sekedar meredam masalah. Jangankan menemuinya, menghubunginya saja tak Hamzah lakukan.
Larissa sering merenung sendirian dikamar saat putrinya sudah tidur. Ia merasa hidupnya sangat hampa tanpa ada seorang suami disisi. Ia mencintai suaminya dengan teramat dalam. Ia sudah menyerahkan jiwa dan raga sepenuhnya untuk sang suami. Walau tak dipungkiri hatinya sering terluka karena sikap suaminya.
Larissa rindu pelukan hangat dari Hamzah, pelukan yang mampu menenangkan jiwanya disaat kalut seperti saat ini. Ia rindu usapan lembut dan kecupan hangat sang suami dipucuk kepala, canda ria bersama, dan saling bercerita tentang bagaimana mereka melewatkan hari masing-masing sebelum pergi tidur.
Meski hatinya sering dibuat berdarah oleh Hamzah, tak dipungkiri bahwa banyak juga kebaikan dalam diri Hamzah yang tidak mungkin ia tampik. Itulah mengapa saat ini ia sangat bingung untuk mengambil sikap.
Perlahan ingatan Larissa kembali pada saat-saat awal mereka menikah. Saat itu, Hamzah sangat lembut dan penuh kasih sayang padanya. Hamzah tak pernah bisa jauh darinya walau sedetik. Kemanapun ia pergi, pasti ada Hamzah disisinya. Walau mereka berada dalam garis kemiskinan, tapi cinta yang Hamzah berikan mampu membuat Larissa bertahan.
Hamzah juga selalu mementingkan keinginan Larissa diatas keinginannya sendiri. Bahkan ia sering memberikan nasihat-nasihat yang mampu menyejukkan hati Larissa. Ia seakan menjadi imam yang sempurna baginya saat itu.
Saat itu, kehidupan terasa sangat sempurna. Cinta yang tumbuh diantara mereka berdua begitu kuat, hingga membuat iri bagi siapa saja yang memandang. Hingga datanglah musibah keguguran yang mengubah semuanya.
Tapi bukankah kini mereka telah memiliki seorang putri ditengah-tengah mereka. Yang semakin melengkapi kebahagiaan mereka. Memberi warna pada rumah tangganya. Tidak bisakah putri itu mengobati kekecewaan Hamzah atas kehilangan calon anaknya dulu.
Kenyataannya, dari hari ke hari perangai Hamzah semakin berubah. ia menjadi pribadi yang tak tersentuh. Bahkan Larissa sendiri sebagai seorang istri sulit untuk menggapainya.
Mungkin semua ini karena keinginannya untuk memiliki seorang putra tidak kesampaian, karena anak yang dilahirkan oleh Larissa adalah seorang putri.
__ADS_1
Tapi apalah daya Larissa dalam hal ini. Bukankah semua itu sudah kehendak dari SANG PEMILIK KEHIDUPAN. Kita tidak mungkin menolak ada yang sudah digariskan oleh-Nya.
Bu Ani benar-benar membuktikan ucapannya waktu itu dengan memenuhi semua kebutuhan Larissa. Ia selalu menuruti apapun yang Larissa inginkan. Bahkan ia bersikap sangat manis padanya.
Mungkin Larissa tak perlu pusing memikirkan bagaimana ia akan makan besok. Atau uang dari mana untuk membeli popok anaknya. Dengan menuruti perkataan ibunya, ia tak lagi dipusingkan masalah uang.
Tapi pada kenyataannya, batinnya sangat tersiksa karena hidup berjauhan dengan sang suami. Mungkin ia terlalu dalam, dalam mencinta, atau mungkin ini yang dinamakan cinta buta.
Tapi apa salah Larissa dalam hal ini. Bukankah setiap insan berhak untuk mencinta dan dicinta. Terlepas dari apa dan bagaimana cara mereka untuk saling mencinta.
Meski begitu, untuk menyakiti hati sang ibu tercinta sangatlah salah. Ia tidak ingin menjadi anak yang durhaka dengan menentang perintahnya.
Tapi ia juga tidak ingin mengabaikan kewajibannya sebagai seorang istri untuk tunduk dan patuh pada perintah suami. Bukankah surga seorang wanita yang telah menikah ada pada suaminya. Ridho Allah berada pada ridho suami. Murka Allah berada pada murka suami.
Entahlah, Larissa sangat bingung. Disatu sisi ada suami, tapi disisi yang lain ada ibu. Ia merasa seakan memakan buah simalakama.
Setelah berhari-hari merenung dan berpikir, akhirnya Larissa memutuskan untuk menutup rapat hatinya untuk sang suami. Ia tidak tega membuat hati ibunya lebih sakit lagi dengan pilihan yang ia ambil.
Sore ini Larissa bertekad mendatangi rumah mertua untuk berbicara pada Hamzah mengenai keputusannya. Tapi saat ia berada didepan pintu, sang ibu menghentikan langkahnya. "Kamu mau kemana, Rissa?" tanyanya.
"Aku mau menemui Hamzah, Bu!" jawabnya lirih.
__ADS_1
Ekspresi wajah ibu berubah seketika saat mendengar jawaban yang Larissa berikan. Ia menatap tajam, menahan emosi yang bergejolak dihati. "Mau apa lagi kamu menemuinya? Apakah kamu memilih untuk ikut bersamanya?."
"Tidak, ibu. Aku hanya ingin mengambil sepeda yang Hamzah bawa" jawab Larissa.
Ibu masih tak percaya dengan jawaban yang Larissa berikan. Ia curiga bahwa itu hanya alasannya saja. "Ikhlaskan saja sepeda itu. Nanti ibu akan membelikanmu sepeda yang lebih bagus."
"Tidak, Ibu. Sepeda itu dibeli dengan menjual kalungku. Aku lebih berhak atas sepeda itu. Aku berniat akan menjualnya" jawab Larissa lagi, meyakinkan hati ibu bahwa ia tidak akan meninggalkannya dan pergi bersama suaminya.
Ibu bernapas lega mendengar jawaban Larissa. Agaknya ia telah percaya bahwa Larissa memang benar-benar tidak akan pergi meninggalkannya. "Baiklah, nak kalau itu mau kamu. Tapi satu hal yang perlu kau ingat! ibu tidak akan menerimamu lagi jika kau memilih untuk kembali pada suamimu."
"Iya, Bu. Aku mengerti!." Larissa pun melanjutkan langkahnya dan bergegas menemui sang suami di rumah mertua.
Niat hati memang ingin mengambil sepeda itu dari tangan Hamzah. Tapi sesampainya disana, Larissa malah berubah pikiran.
Entah apa yang membuatnya begitu, tapi saat ia sudah berhadapan dengan Hamzah, semua kemarahannya sirna seketika. Hilang musnah tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Luntur bersamaan dengan air mata yang berderai saat ia melihat sosok suaminya lagi. Bahkan ia tak mampu membendung air mata yang lolos begitu saja dari kelopak matanya.
Mungkin ini yang dinamakan dengan cinta buta. Tak bisa membedakan mana yang benar, dan mana yang salah.
Mungkin Larissa memang lemah. Tapi dia memang sangat mendamba akan cinta. Sedari kecil ia tak pernah mendapatkan cinta yang tulus, bahkan dari ibu sekalipun. Hanya suaminya lah yang mampu memberikannya hal itu.
Kini mereka berdua saling berhadapan. Tapi tak sepatah katapun yang mampu Larissa ucapkan. Hanya air mata yang semakin tak terbendung.
__ADS_1
"Pulanglah bersama istrimu, nak! Selesaikan semua masalah yang ada dengan pikiran dan hati yang dingin," Nasihat Baskoro saat melihat keduanya hanya saling diam dalam waktu yang lama. "Ingat! diantara kalian ada anak yang masih membutuhkan kasih sayang dari kalian berdua."
Hamzah menuruti nasihat bapaknya tanpa banyak kata. Ia segera berlalu meninggalkan rumah diikuti oleh Larissa dibelakangnya.