Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 70


__ADS_3

Benar saja dugaan Larissa. Dari hasil Usg yang dokter bacakan, penyakit yang ia derita bertambah parah. Benjolan yang ada di Payudara sebelah kirinnya semakin membesar, malahan kini benjolan itu ada dua. Yang mana kedua benjolan tersebut saling berdempetan.


Larissa memejamkan mata. Setetes air mata jatuh membasahi pipi. 'Ya Allah, kenapa bisa seperti ini? Tapi aku juga bersyukur, setidaknya penyakitku ini masih tergolong penyakit yang tidak berbahaya' gumamnya dalam hati.


Larissa mengangkat kepala. "Jadi, bagaimana tindakan selanjutnya, dok?."


"Cara tercepat adalah dengan melakukan operasi pengangkatan benjolan tersebut."


"Apa tidak ada jalan lain, dok? Dengan obat-obatan misalnya?."


"Memang bisa. Tapi itu memerlukan waktu yang relatif lebih lama."


Larissa diam. Rasanya ia masih ragu untuk mengambil keputusan. Banyak hal yang menjadi pertimbangan, salah satunya adalah sang suami.


Melihat kebungkaman Larissa dokter bisa mengerti jika saat ini ia sedang bimbang. "Kalau anda belum siap untuk operasi, anda bisa menundanya dulu. Anda bisa kembali lagi kesini kalau sudah siap."


"Apa memang benar tidak ada jalan keluar lain yang bisa mempercepat kesembuhan saya tanpa operasi, dok?."


"Sayangnya itu tidak ada," Dokter menggelengkan kepala. Senyuman ramah tersungging diwajah. "Seperti yang sudah saya katakan tadi diawal, jalan satu- satunya untuk mempercepat kesembuhan hanya dengan jalan operasi."


"Satu hal yang harus anda ingat, semakin lama anda menunda operasi, maka benjolan tersebut akan semakin membesar. Jadi pikirkan hal ini baik-baik di rumah" imbuhnya.


"Tapi, dok, dulu saat saya hamil benjolan itu menghilang dengan sendirinya."


"Itu tidak benar, bu. Tumor tidak bisa hilang kalau tidak diambil. Mungkin saat itu berat badan ibu bisa dibilang gemuk, jadi benjolannya tertutup oleh jaringan lemak disekitarnya. Sehingga ibu tidak bisa mendeteksi benjolan tersebut dan menganggapnya telah hilang. Tapi sebenarnya jika dilihat dengan alat usg, benjolan itu akan terlihat."


Larissa terdiam. Apa yang diucapkan oleh dokter memang benar. Dulu ia memang sedikit agak gemuk. Tapi begitu ia merasa benjolan itu kembali muncul yang disertai dengan rasa nyeri, ia kehilangan hampir separuh berat tubuhnya. Apalagi ditambah dengan banyaknya masalah yang ia dihadapi belakangan ini. Sehingga ia semakin kehilangan selera makan dan berdampak pada penurunan berat badan secara drastis.

__ADS_1


"Sebenarnya penyebab dari FAM( Fibro Adenoma Mammae) itu apa sih, dok?."


"Untuk faktor penyebab, sebenarnya belum diketahui secara pasti. Namun karena penyakit ini sering muncul pada wanita dengan usia produktif, maka kami menganggap jika penyakit ini berkaitan dengan aktivitas hormon estrogen. Yang mana hal ini akan diperparah dengan penggunaan alat kontrasepsi."


"Saya memang menggunakan alat kontrasepsi jenis suntik tiga bulanan setelah melahirkan, dok. Waktu itu tidak terjadi apa-apa. Tapi setelah saya berganti menggunakan suntik satu bulanan, benjolan ini pun muncul."


"Sebenarnya bukan karena sebulan atau tiga bulannya, bu. Karena pada hakikatnya semua alat kontrasepsi bekerja dengan mempengaruhi kerja hormon alami dalam tubuh, seperti estrogen dam progesteron. Justru penggunaan kontrasepsi jenis suntik tiga bulan lebih memicu penyakit FAM ini ketimbang suntik yang satu bulanan. Kemungkinan saat ibu menggunakam suntik tiga bulan penyakit ini sudah ada, tapi ibu baru merasakannya saat menggunakan suntik yang satu bulan."


"Lalu apa yang membedakan FAM dengan jenis benjolan di payudara yang lain, dok? seperti kanker misalnya."


"Ciri-ciri dari FAM adalah benjolannya memiliki garis tepi yang tegas. Strukturnya padat dan kenyal serta dapat digerakkan. Benjolan ini tidak menyebabkam nyeri, tapi dalam beberapa kasus yang parah memang menimbilkan nyeri. Sedangkan pada kanker, benjolannya itu tidak dapat digerakkan. Nah ciri- ciri ini lah yang membedakan FAM dengan benjolan yang lainnya."


Larissa manggut-manggut mendengar penjelasan panjang lebar dokter. Sedikit banyak ia mulai faham dengan penyakit ini.


"Apa masih ada yang ingin ditanyakan?" tanya dokter setelah beberapa saat Larissa tak kunjung membuka suara.


"Baik! Untuk sementara ini saya akan meresepkan obat untuk menghilangkan rasa nyeri itu dulu. Dan ibu bisa memikirkan saran saya baik-baik di rumah nanti" pungkas dokter.


"Ya, dok, terimakasih banyak!"


"Sama-sama."


"Kalau begitu saya permisi dulu."


"Mari, silahkan!."


Larissa bangkit dari tempat duduknya dan segera keluar ruangan.

__ADS_1


...****************...


Sepanjang perjalanan pulang Larissa lebih banyak diam. Ia masih kepikiran dengan daengan ucapan dokter di rumah sakit tadi. Sebelum pergi ke rumah sakit Larissa mengatakan siap menjalani operasi. Namun setibanya disana dan menjalani serangkaian pemeriksaan ia malah ragu kembali. Entah apa yang membuatnya ragu.


Larissa dan Hamzah tiba dirumah. Namun Larissa masih bimbang dan setia dengan kebisuannya.


Hamzah yang sedari awal memang tak setuju bila Larissa menjalani operasi pun tak menyia-nyiakan hal ini. Ia memanfaatkan keraguan istrinya itu dengan mempengaruhi pikirannya agar mau berubah pikiran.


"Apa aku bilang. Bukankah aku sudah memintamu untuk menjalani pengobatam alternatif saja. Tapi kamu malah ngotot ingin pergi ke rumah sakit. Sekarang setelah dari sana kenapa kamu malah ragu?" ucapnya.


"Entahlah, Entik. Aku hanya belum yakin dengan keputusanku."


"Kalau begitu lebih baik kamu menjalani pengobatan alternatif kembali saja. Itu relatif lebih aman. Apalagi sudah banyak orang dengan penyakit yang sama denganmu yang mendapatkan kesembuhan setelah menjalani pengobatan alternatif disana."


Tempat pengobatan alternatif yang Hamzah maksudkan adalah tempat dimana ia menimba ilmu batin dan berlatih seni beladiri selama ini. Selama belajar disana ia sering melihat orang dengan berbagai penyakit sedang menjalani pengobatan. Dan kebanyakan dari mereka mengaku mendapatkan kesembuhan setelah beberapa kali menjalani pengobatan. Itulah sebabnya ia ingin Larissa menjalani pengobatan disana saja. Dengan harapan akan mendapatkan kesembuhan seperti pasien-pasien lainnya.


Untuk sesaat Larissa memikirkan ucapan suaminya. Dan tak berselang lama Ia pun menganggukkan kepala dan setuju. "Baiklah! aku akan kembali menjalani pengobatan alternatif seperti yang kau inginkan."


"Apa kau betul-betul dengan ucapanmu tadi?" tanya Hamzah. Memastikan bahwa apa yang dikatakan oleh istrinya memang benar.


Kembali Larissa menganggukkan kepala untuk memastikan pada suaminya bahwa ia betul- betul dengan ucapannya tadi. "Iya, Entik. Aku serius dengan ucapanku tadi."


mendengar keputusan Larissa, Hamzah gembira setengah mati. Ia berjingkrak dan memeluk istrinya. "Terima kasih, sayang. Akhirnya kamu mau juga menuruti ucapanku. Aku janji, aku akan selalu mendampingimu selama menjalani pengobatan di sana nanti" ucapnya.


Larissa menyunggingkan senyuman tipis melihat betapa gembiranya Hamzah dengan keputusannya. 'Semoga apa yang kamu ucapkan memang benar, Entik. Aku hanya berharap, semoga aku juga akan segera mendapatkan kesembuhan setelah menjalani pengobatan di sana."


"Kalau begitu sekarang kamu istirahat saja dulu. Nanti malam kita akan pergi ke sana" ucap Hamzah setelah puas meluapkan kegembiraannya.

__ADS_1


Larissa menganggukkan kepala. Dan tanpa berlama-lama ia segera beristirahat karena lelah setelah perjalanan tadi.


__ADS_2