Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 122


__ADS_3

Larissa mengerang kesakitan merasakan kontraksi diperutnya. Ia memcoba melawan rasa sakit itu dengan berjalan-jalan disekitaran rumah, biasanya cara ini cukup ampuh, namun ternyata rasa sakit itu semakin lama semakin kuat.


Tak sanggup menahan rasa sakit lebih lama lagi, ia pun membangunkan sang suami yang baru saja terlelap untuk meminta bantuan. "Entik, bangunlah! Tolongin aku, perutku rasanya sangat sakit."


Hamzah yang belum sadar sepenuhnya karena baru sebentar tertidur pun bingung mau melakukan apa. "Hah, kenapa?."


"Perutku rasanya sakit, Entik, tolong lakukan sesuatu!."


"Coba kamu gunakan jalan-jalan. Biasanya cara itu cukup ampuh, kan?"


"Sudah! Dari tadi juga aku jalan-jalan. Tapi rasa sakit ini malah bertambah kuat."


Hamzah menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, bingung harus melakukan apa, atau mungkin karena kesadarannya yang belum kembali seratus persen akibat baru beberapa menit terlelap.


"Entik, tolong lakukan sesuatu. Perutku sangat sakit." Larissa kembali memgerang kesakitan saat badai kesakitan itu kembali memghantam tubuhnya. " Rasa sakit ini semakin bertambah kuat, Entik, apa mungkin aku mau melahirkan sekarang?."


"Coba sini aku usap-usap perutmu. Mungkin rasa sakitnya bisa sedikit berkurang."


Perlahan Hamzah mengusap perut Larissa dengan penuh kelembutan, dan sentuhan tangannya memang benar-benar memberikan kenyamanan sehingga rasa sakit itu mulai berkurang.


Namun itu tak bertahan lama, detik berikutnya Larissa kembali dihantam badai kesakitan yang membuatnya meneteskan air mata karena tak kuasa menahan rasa sakit itu. "Entim, tolong antar aku ke rumah bu bidan. Aku tidak kuat lagi menahan rasa sakit ini."


"Tapi ini tengah malam, Encus. Apa mungkin dia mau membukakan pintu untuk kita?."


"Dia itu bidan, Entik. Tugas dia menolong orang melahirkan tak peduli tengah malam atau tidak. Kalau seandainya aku melahirkan detik ini juga, apa kau akan membiarkannya begitu saja dan menunggu sampai pagi untuk membawaku ke bidan? memangnya kau ingin aku dan anakmu tidak selamat?."


Larissa sangat kesal dengan suaminya, bukannya buru-buru mencarikan pertolongan untuknya malah memgkhawatirkan sesuatu yang tak penting. Terkadang suaminya itu memang cukup lambat dalam memahami sesuatu.


Hamzah menghela napas mendengar kekesalan istrinya. "Ya sudah, ayo aku antar kesana sekarang."


Hamzah merapikan sedikit baju yang dikenakannya dan menyambar kunci motor yang ada di gantungan dekat almari, kemudian ia membantu memapah istrinya. "Awas, pelan-pelan."

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju rumah bu bidan Larissa terus mengerang kesakitan. Air mata turut mengalir bersamaan dengan datangnya badai kesakitan itu.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit akhirnya mereka pun sampai. Larissa segera memencet bel rumah untuk membangunkan bu bidan.


Tuut....


Percobaan pertama gagal, tampaknya bu bidan tak mendengar suara bel itu. Larissa tak menyerah dan mencoba membangunkan bu bidan dengan memencet bel kembali.


Tuut....


Percobaan kedua pun sama gagalnya begitu juga dengan percobaan ke tiga. Larissa menangis dan hampir putus asa tak kuasa menahan rasa sakit. Namun detik berikutnya.....


Ceklek...


Kriet....


Terdengar suara pintu dibuka dan tubuh bu bidan menyembul keluar. "Iya, ada apa?."


"Astaga! kalau begitu ayo masuk! Biar saya periksa dulu di dalam."


Larissa segera masuk dan merebahkan tubuh diatas ranjang yang tersedia di ruangan tersebut. Ia sangat hafal dimana letak ranjang itu karena sudah berulangkali ia datang kesini selama masa kehamilan.


Dengan cekatan bu bidan memeriksa perut Larissa. "Sejak kapan ibu merasakan kontraksi?" tanyanya sembari melakukan pemeriksaan.


"Sekitar pukul dua belasan tadi, bu."


"Apa ibu sudah mengeluarkan sesuatu?."


"Tidak, bu. Hanya saja tadi siang saya sempat mengeluarkan lendir bercampur sedikit darah."


"Astaga! Itu artinya ibu memang mau melahirkan. Lalu kenapa tidak dari tadi siang kesininya? Bukankah saya sudah mewanti-wanti ibu untuk segera kesini kalau sudah merasakan kontraksi?."

__ADS_1


"Tapi tadi siang saya belum merasakan apa-apa, bu, baru sekarang saya merasakannya. Makanya saya baru kesini sekarang."


"Ibu ini gimana sih? Ibu itu punya resiko melahirkan yang cukup besar lho? Tapi sepertinya ibu tidak khawatir sama sekali dan malah menggampangkan segalanya."


Ditegur seperti itu oleh bu bidan tentu saja membuat mental Larissa sedikit down. "Maafin saya, bu. Tapi tadi saya memang belum merasakan sesuatu."


"Masalahnya ibu itu harus mengambil vaksin hiperhip untuk bayi ibu dulu ke puskesmas untuk mengatasi hepatitis B yang ibu derita, dan ini sudah tengah malam. Saya khawatir tidak ada petugas yang mau memberikan vaksin itu disana. Kalau ibu kesininya dari tadi siang kan nggak repot seperti sekarang. Belum lagi hasil rapid test menunjukkan kalau ibu reaktif terkena corona."


Mendengar ucapan bu bidan yang terkesan menakut-nakuti membuat mental Larissa semakin down. Ia memang sempat melakukan rapid test di puskesmas seperti saran bu bidan seminggu yang lalu, dan hasilnya ia reaktif terhadap virus corona, tapi itu belum tentu jika ia benar-benar terkena covid-19. "Maafin saya, bu, saya betul-betul tidak tahu" ucapnya parau.


Mendengar perubahan suara Larissa nampaknya bu bidan menyadari kesalahannya yang telah melampiaskan kekesalan dengan marah-marah sehingga membuat mental pasiennya down. Ia pun menghela nafas dan berkata, " ya sudah, nggak pa pa, semua sudah terjadi. Kita berdoa saja semoga pihak puskesmas mau memberikan vaksin itu. Kalau tidak, dengan terpaksa ibu harus membelinya sendiri. Dan ibu tahu sendiri kan berapa harga vaksin itu."


Bu bidan memang sempat memberitahukan hal ini saat hasil tes ANC Larissa menunjukkan jika ia terkena hepatitis B. Dan harga vaksin untuk penyakit itu diatas dua juta rupiah, harga yang cukup mahal untuk golongan ekonomi menengah kebawah seperti Larissa.


"Kalau memang terpaksa harus beli sendiri nggak pa pa, bu. Saya akan mengusahakan uangnya. Yang penting anak saya bisa lahir dengan selamat dan tak kurang suatu apapun" ucap Larissa sendu.


Bu bidan kembali menghela napas seraya menyudahi pemeriksaannya. "kita usahakan semaksimalnya dulu. Saat ini ibu sudah mulai pembukaan satu, masih ada cukup waktu untuk mendapatkan vaksin itu. Sekarang ibu persiapkan barang-barang dan keperluan bayinya nanti, dan saya akan mencoba melobi pihak puskesmas. Sebentar lagi kita berangkat ke rumah sakit."


"Oh ya, apa ibu sudah ada kendaraan untuk kesana?" tanyanya.


"Saya sempat mengajukan pinjaman mobil sehat dari desa dan di setujui, bu. Mungkin kalau sekarang saya telepon supirnya bersedia mengantarkan."


"Saran saya, daripada memakai mobil sehat, lebih baik pakai mobil ambulance yang fasilitasnya lebih lengkap. Terlebih perjalanan menuju rumah sakit nanti cukup memakan waktu."


Larissa pasrah dan menuruti saja saran yang bu bidan berikan. "Terserah ibu saja bagaimana baiknya."


"Ya sudah, sekarang ibu segera bersiap. Saya akan telepon ambulance."


Bu bidan mengambil ponsel dan mendial sebuah nomor, sesaat kemudian terjadi perbincangan antara beliau dengan seseorang diseberang sana.


Sementara Larissa sendiri meminta suaminya untuk mengambil beberapa keperluan untuknya dan sang calon bayi yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari.

__ADS_1


__ADS_2