Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 132


__ADS_3

Keesokan hari......


"Entik, aku merasakan firasat yang tidak mengenakkan hari ini. Sebaiknya kita pindahkan sertifikat rumah, baik sertifikat rumah ini, ataupun milik kita sendiri ke tempat yang aman untuk berjaga-jaga," ucap Larissa saat tengah beristirahat untuk melepas penat setelah menata dagangan.


Menanggapi ucapan istrinya, Hamzah bertanya, kenapa harus dipindahkan?."


"Sudahlah, Entik, jangan banyak tanya. Lakukan saja apa yang kukatakan tadi. Aku sangat mengenal bagaimana kakakku. Aku sangat yakin kalau dia tidak akan bisa diajak biacara baik-baik."


Mendengar ucapan Larissa Hamzah malah salah paham dan marah. "Berani dia menyentuhmu, maka tamat riwayatnya."


Larissa mendesau lesu. "Aku mohon, Entik jangan salah paham dengan maksudku. Aku berkata seperti ini hanya untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak diinginkan saja. Lagipula apa kau tidak ingat dengan nasehat bik Ika kemarin agar bisa mengendalikan emosi?."


"Maaf!" ucap Hamzah pelan. "Ya sudah mana sertifikatnya?."


Larissa bangkit dan memgambil sertifikat rumah diantara tumpukan dokumen-dokumen kependudukan dan ijasah-ijasah didalam lemari kemudian memberikannya pada Hamzah. "Ini, Entik! pindahkan ke tempat yang menurutmu aman."


Hamzah berpikir sejenak, celingak-celinguk mencari tempat didalam rumah yang menurutnya aman. "Mana kira-kira tempat yang aman?" ucapnya bermonolog.


Larissa pun turut berpikir seperti suaminya, dan tak lama kemudian kemudian ia berkata," coba kamu taruh dalam bingkai dibalik kaligrafi di kamar kita. Orang pasti tidak akan mengira jika dibaliknya ada sesuatu yang pentong dibaliknya, dan aku rasa itu tempat yang cukup aman untuk saat ini."


"Ide yang bagus!" ucap Hamzah sambil menjentikkan jari. Ia pun segera mengambil kursi dan menurunkan kaligrafi yang ada dikamar. Dibukanya penjepit belakang dari bingkai dan menyelipkan kedua sertifikat mereka disana, lalu mnutupnya kembali dengan penjepit tadi dan meletakkan kembali di tempatnya semula.


Sejenak ia memandangi bingkai kaligrafi itu. "Apa menurutmu kaligrafi itu terlihat mencurigakan?" tanyanya."


Larissa ikut mandang ke arah bingkai kaligrafi dan berkata, "Aku rasa tidak ada yamg mencurigakan. Semua terlihat biasa-biasa saja seperti sebelumnya."

__ADS_1


Hamzah tersenyum puas. "Sekarang semuanya aman!"


"Semoga!" balas Larissa singkat.


...****************...


Siang hari sekitar pukul 12 siang, Larissa melihat kakaknya pulang dari melaut. Hatinya kembali bergetar, bersiap-siap akan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.


Dan benar saja, tak lama kemudian setelah mandi dan berganti baju Iqbal langsung mendatangi rumah Larissa. "Jadi bagaimana keputusanmu, Larissa? Apa sekarang kau sudah setuju."


Larissa menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menetralisir debaran jantung sebelum akhirnya ia mulai berkata, " Kak Iqbal, sebelumnya aku ingin memastikan satu hal, maksud kakak ingin menggunakan namaku itu gimana ya? Kok aku masih belum paham?."


"Kok belum mengerti juga sih? Kamu ini bodoh atau memang lambat?" ucap Iqbal sewot.


Larissa tak mengambil hati ucapan kakaknya dan menganggapnya hanya sebagai angin lalu, sebab ada hal yang jauh lebih penting yang harus diketahui. "Maaf, kaka, tapi aku memang belum mengerti?" ucapnya berpura-pura.


Terdengar helaan nafas Iqbal. "Jadi gini, aki ingin menggunakan namamu sebagai pihak yang mengajukan pinjaman, tapi nanti biar aku yang mengurus semuanya."


"Kalau seperti itu, maaf, kak! aku menolaknya," ucapnya sambil menyunggingkan sedikit senyuman agar tak membuat kakaknya marah atas penolakannya. "Tapi kalau kakak hanya ingin menjadikanku sebagai saksi, maka aku bersedia."


Mendengar ucapan adik tirinya justru Iqbal yang merasa bingung"Maksudnya ini gimana sih?."


"Jadi gini, kak, kakak tetap bisa menggunakan sertifikat rumah ini sebagai jaminan atas pinjaman yang akan kakak ajukan. Nah, karena sertifikat ini atas namaku, maka pihak bank akan memintai tandatanganku sebagi saksi jika aku memang mengizinkan sertifikat itu digadaikan. Tapi tetap, nama peminjamnya adalah kakak, bukan aku. Dan jika seperti itu, maka aku bersedia melakukannya," ucap Larissa panjang lebar, mengatakan sama persis seperti yang diajarkan oleh bik Ika semalam.


"Tapi masalahnya namaku itu sudah dipakai oleh sepupu istriku untuk mengajukan pinjaman di bank, dan jangka pembayarannya baru berjalan enam bulan ini."

__ADS_1


"Jadi kakak meminjamkan nama kakak untuk ...."


"Itu dia, makanya sekarang aku ingin memakai namamu. Andai namaku belum dipakai, pasti aku tidak meminta bantuan darimu. Sebab sertifikat rumahku pun ikut dipinjam pula oleh sepupu istriku itu."


Mengertilah Larissa kini akan permasalahan yang terjadi sebelumnya. Ternyata kakaknya terhimpit masalah atas kesalahannya sendiri, dam sekarang ingin menggunakan namanya untuk menyelesaikan masalah yang lain.


"Kalau seperti itu, maaf! Aku tidak bisa membantu kakak. Aku tidak ingin namaku bersangkutan dengan hutang piutang di bank" jawab Larissa tegas.


"Oh, jadi seperti itu? intinya kau tidak ingin membantuku?." Iqbal tersulut emosi akan penolakan Larissa. Matanya melotot, rahang mengeras, dan gigi gemeletak menahan ledakan emosi.


Larissa sempat takut melihat perubahan ekspresi kakaknya. Tapi setelah melihat jika Hamzah ada disampingnya, ketakutannya pun hilang. Ia percaya, suaminya tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.


Sekarang masalahnya adalah bagaimana menjelaskan pada kakaknya tentang penolakannya tadi. "Ini bukan tentang mau atau tidaknya membantu, tapi ini soal nama. Satu hal dari diri kita yang harus betul-betul dijaga. Sebab sekali saja nama itu tercoreng, maka selamanya orang tidak akan percaya. Dan inilah yang coba aku lakukan sekarang," ucapnya pelan agar tak membuat kakaknya semakin marah.


"Untuk apa kau takut namamu tercoreng, toh nantinya aku yang akan bertanggungjawab membayarnya."


"Aki tidak menuduh kakak tidak bertanggungjawab, tapi nasib seseorang siapa yang tahu? Kalau sampai suatu saat kakak tidak bisa membayarnya, maka yang akan ditagih oleh bank adalah aku, bukan kakak. Sebab nama yang tertera dalam pengajuan pinjamannya adalah namaku."


"Alah, alasan! Bilang saja kalau kau tidak mau membantu. Memang benar kata ibu, kau itu pelit, kalau hartamu memang tidak bisa disentuh orang lain."


Larissa sedikit tersinggung dengan ucapan menusuk sang kakak. Namun ia mencoba menepisnya dan terus berusaha menjelaskan pada kakaknya. "Sekali lagi aku minta maaf, kak. Tapi bagiku nama itu sangat penting," ucapnya, kedua tangan ditangkupkan di depan dada sebagai isyarat permohonan maaf.


Bukannya menyadari kesalahan dan menerima penjelasan adiknya, Iqbal justru bertambah emosi. "Jangan banyak alasan! Dasar kamu wanita bangsat! harusnya aku mempercayai kata-kata budhe dulu."


Larissa semakin terluka mendengar kata-kata kasar yang dilontarkan kakaknya, namun ia masih berusaha menahan kesakitannya.

__ADS_1


Sementara Hamzah, melihat istrinya dimaki-maki sedemikian rupa, ia pun tak terima dan mencoba memperingatkan. "Kak, kalau bicara dengan wanita yang baik. Jangan kasar seperti ini."


Diperingatkan seperti itu bukannya mereda, Iqbal justru semakin emosi. "Hei, kau jangan ikut campur! Ini urusan antara aku dan adikku. Kau hanya orang luar yang kebetulan menjadi suaminya," jari tangan menunjuk ke arah Hamzah dengan mata melotot lebar.


__ADS_2