Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 34


__ADS_3

Harapan hanya tinggal harapan. Impian hanya tinggal impian. Kebahagiaan yang sempat menghampiri Larissa hanya bertahan sementara. Pasalnya perubahan pada diri Hamzah hanyalah sesaat saja.


Perubahan itu terjadi saat Hamzah berganti juragan dan mengenal dunia persilatan. ia menjadi seenaknya saja bekerja. Bila mau ia kerja, bila tidak ia tidur seharian dirumah atau pergi entah kemana.


Suatu hari sepulang dari melaut, Hamzah pergi ke rumah juragan. Dari siang hingga menjelang malam, dia belum juga kembali. Padahal saat itu Fatim sedang demam.


Sepanjang hari Larissa terus menggendong anaknya. Fatim tidak mau turun dari gendongannya barang sebentar. Terpaksa Larissa menggendongnya sambil membantu ibu dan beres-beres rumah. Terlebih tidak ada yang menggantikannya untuk menjaga Fatim. Bahkan sekedar untuk makan dan buang air pun Larissa tetap menggendongnya.


Adzan Maghrib berkumandang, Hamzah baru pulang. Ia terlihat tergesa-gesa dan ingin pergi lagi. Larissa pun menegurnya, "Entik, kamu mau kemana lagi? kan kamu baru aja datang. Duduk dulu napa?."


"Nggak bisa, aku buru-buru. Aku mau jemput istri juragan ditempat kerjanya" jawab Hamzah tanpa menengok ke arah Larissa sedikitpun.


"Tapi ini kan masih adzan Maghrib. Tunggu dulu sampai selesai adzan. Nggak baik keluar rumah kalau sedang adzan Maghrib, pamali!. Nanti bisa celaka" ujar Larissa memperingatkan.


"Udah nggak pa pa. Aku nggak enak, udah ditungguin sama istrinya juragan."


"Kenapa nggak juragan sendiri aja yang menjemput istrinya? kenapa harus nyuruh kamu?."


"Juragan minta tolong sama aku, dan aku tidak bisa menolak."


"Tapi anak kamu sedang demam. Dari tadi ia terus menangis nanyain kamu. Tolonglah, gendong dia sebentar aja. Biar Fatim nggak rewel lagi."


"Udahlah. Kami aja yang ngurusin. Kamu kan ibunya."


"Aku dari tadi gendong dia terus. Tolong! sebentar saja. Biar dia nggak rewel lagi, ya?."


"Aku nggak ada waktu. Aku buru-buru" jawab Hamzah cepat dan berlalu meninggalkan rumah tanpa menghiraukan anak dan istrinya lagi.


Larissa menatap kepergian suaminya dengan amarah yang sulit untuk diungkapkan. Ia kecewa, bisa-bisanya Hamzah lebih mementingkan menjemput istri orang lain ketimbang menggendong anaknya yang sedang sakit.


"Mati aja sekalian dijalan. Ketabrak mobil atau terlindas truk sana. Biar nggak usah balik lagi ke rumah." Umpatan kekesalan keluar dari mulut Larissa.


Selama ini dia selalu menjaga setiap ucapannya, terlebih bila ditujukan pada suami. Karena baginya, setiap ucapan adalah doa. Tapi hari ini umpatan itu keluar sudah. Ia sangar kecewa dengan sikap suaminya. Setitik air mata jatuh dari sudut mata.

__ADS_1


Tanpa memperdulikan hal lain lagi, Larissa membawa anaknya kedalam kamar dan mengunci pintu rapat-rapat. Dibelainya wajah polos sang anak. "Maafkan ibu, nak. Ibu telah berkata kasar di depanmu." Derai air mata kembali membasahi pipi.


...****************...


Perubahan sikap Hamzah tidak hanya sampai disitu. Suatu hari Hamzah kembali menyakiti hati Larissa. Dan ia tak pernah menyadari semua itu.


Matahari mulai menampakkan sinarnya, tapi Hamzah belum juga bangun. Larisa berulangkali membangunkannya, tapi tak jua berhasil. Jangankan bergerak, membuka mata pun Hamzah enggan. Ia seperti mati saja kalaup tidur, sulit untuk dibangunkan.


Larissa menyerah, tidak meneruskan usaha membangunkan suaminya. Ia memilih untuk segera berkutat di dapur dan merawat anaknya yang masih bayi.


Menjelang siang Hamzah baru bangun. Ia langsung makan begitu saja tanpa memperdulikan Larissa. Setelah selesai, ia masuk kembali ke kamar.


Keluar kamar Hamzah sudah berpakaian rapi dan bersiap untuk pergi. Larissa keheranan melihat suaminya. "Kamu mau kemana, Entik?" tanyanya.


"Bisnis!" jawab Hamzah singkat. Kemudian ia berlalu begitu saja meninggalkan Larissa yang masih diliputi banyak tanda tanya.


Walau tak mengerti maksud suaminya dengan kata 'bisnis', Larissa tak meneruskan pertanyaannya lagi dan membiarkan suaminya pergi. Ia tahu


betul, jika ia banyak bertanya maka ia akan kena marah suaminya.


Seorang tetangga lewat depan rumah Larissa. Ia kasihan melihat Fatim yang rewel terus. "Sini saja ajak anaknya. Kamu lebih baik makan dan mandi dulu. Kamu juga pasti capek kan, seharian gendong terus."


Awalnya Larissa ragu memberikan anaknya pada tetangga itu. Ia takut Fatim dicubit gemas terus menerus karena melihat tubuhnya yang gemuk. Karena tidak punya pilihan lain, Larissa pun memberikan anaknya juga.


Cepat-cepat Larissa ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia tak tenang membiarkan anaknya bersama orang lain.


Saat ia sedang mandi, Hamzah pulang. Ia


terlihat marah saat mengetahui Fatim diajak orang lain. "Rissa, j****k! Diajak kemana anak kita? kenapa kau biarkan


orang itu membawanya?" teriaknya kesetanan dari ujar kamar mandi.


"Buat apa kamu pulang? keluyuran aja terus!" jawab Larissa.

__ADS_1


Hamzah diam tak berkutik mendengar jawaban Larissa. Sepertinya ia sadar akan kesalahannya.


Larissa keluar dari kamar mandi dan tak memperdulikan suaminya. Ia marah, sakit hati, terluka. Seumur-umur baru kali ini ada orang yang menyumpahinya seperti itu. Itupun suaminya sendiri yang melakukannya.


Usai berganti pakaian, Larissa pergi ke luar untuk mengambil anaknya. Ia langsung menuju TPQ yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya. Karena pada jam segini biasanya tetangganya itu mengantarkan anaknya mengaji disana.


Benar saja, sesampainya di TPQ tetangganya itu memang berada disana. Ia langsung mengambil anaknya dari tangan wanita tersebut.


"Kok, pakai disusul kesini segala? lebih baik kan kamu istirahat dulu" ucap tetangga rumah.


"Iya, mbak, maaf. Fatim nya mau aku suapi dulu. Dia belum makan tadi" jawab Larissa beralasan.


Larissa kembali ke rumah sambil membawa Fatim dalam gendongannya. Dan setiba di rumah, ia langsung masuk kamar tanpa menegur suaminya.


Malam mulai merayap. Bintang-bintang bertaburan menghiasai indahnya malam. Namum sayangnya keindahan itu tak bisa menghilangkan sakit hati Larissa karena ucapan suaminya tadi.


Hamzah menghampiri istrinya yang tengah berbaring membelakangi dirinya. "Encus, aku minta maaf. Seharian tadi aku memasang stiker sepeda. Aku ingin mengubah tampilan sepeda kita" ucapnya lembut.


Larissa bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap Hamzah. "Aku tidak melarang mu untuk memodifikasi sepeda, tapi setidaknya bicara yang jujur biar aku tak salah paham. Lagipula hanya memasang stiker, bukannya bisa dilakukan di rumah?." Kemarahan yang sedari tadi ia pendam akhirnya keluar. Air mata berderai saat mengatakan itu semua.


Larissa memang tipikal orang yang mudah menangis. Itu sebabnya ia selalu menangis bila ada orang yang sedikit saja melukai hatinya.


"Aku minta maaf!" hanya itu yang keluar dari mulut Hamzah.


"Kau tahu, seharian Fatim rewel karena demam. Ia tak mau turun dari gendongan. Kalau kamu ada dirumah, setidaknya kita bisa bergantian menggendongnya" Larissa terus meluapkan kekesalannya.


"Tapi tidak!. Kau tidak melakukan itu. Saat kau pulang, kau malah berkata kasar padaku, seolah-olah akulah yang bersalah."


"Seumur hidup, tidak ada orang yang berkata sekasar itu padaku. Hanya kamu yang berani memperlakukanku seperti itu"


"Aku minta maaf!" Kembali, hanya permintaan maaf yang keluar dari mulut Hamzah. Ia tak bisa menyangkal semua yang dikatakan Larissa.


Larissa merebahkan tubuhnya kembali dan menarik selimut, menutupi seluruh tubuh. Ia tak perduli dengan permintaan maaf Hamzah. Ia terlanjur sakit hati. Ia tak perduli apakah permintaan maaf Hamzah itu tulus atau tidak.

__ADS_1


Merasa permintaan maafnya sia-sia, Hamzah pergi dari rumah. Entah kemana perginya malam-malam begini.


__ADS_2