
semenjak kejadian di mana Bu Ani meminta kembali surat-surat rumah yang sudah di atas namakan dengan nama Larissa hubungan di antara mereka yang sebelumnya sempat membaik kini kembali renggang.
Mungkin orang lain berpikir bahwa Larissa marah karena sang Ibu meminta kembali surat-surat itu darinya, tapi sebenarnya bukan itu alasannya. Ada hal lain yang membuatnya memutuskan untuk kembali mengobarkan perang dingin dengan sang ibu.
Alasan kemarahan Larissa sebenarnya adalah karena sang ibu berkata bahwa dirinya tak mau lagi merawatnya, sehingga ia memutuskan untuk meminta surat-surat itu dan akan memberikannya pada orang lain yang mau merawatnya. Padahal yang terjadi sebenarnya tidak seperti itu.
Kekecewaan Larissa pun semakin bertambah tatkala ia tahu bahwa sang Ibu memberikan surat-surat itu pada Iqbal, Kakak tirinya. Padahal Iqbal tidak lebih baik darinya dalam hal merawat sang ibu.
Alasan inilah yang membuat Larissa memutuskan untuk kembali memgobarkan perang dingin dengan sang ibu. Dalam pikirannya jika sang ibu saja tidak peduli dan tak pernah menganggapnya, lalu untuk apa ia peduli.
Bukan maksud Larissa untuk durhaka terhadap orangtua. Ia hanya ingin ibunya mengerti bahwa dirinya juga adalah anak kandungnya yang butuh cinta dan kasih darinya. Makanya ia memberi sedikit "pelajaran" terhadap ibunya agar tak pilih kasih lagi.
Melihat sang istri kembali berseteru dengan ibunya, Hamzah tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa diam dan melihat karena tahu Larissa berhak untuk marah pada ibunya.
Hari hari berlalu tanpa ada tegur sapa meskipun mereka masih tinggal dalam atap yang sama. Rumah tak lagi menjadi tempat untuk saling mencurahkan kasih sayang. Hingga suatu hari terjadi sesuatu yang mengubah segalanya.
Hari itu matahari baru menyapa penduduk bumi. Hamzah dan Larissa bangun dan mulai beraktivitas pagi seperti biasa. Namun karena merasa tubuhnya masih sedikit lemas, Hamzah memutuskan untuk bersantai sejenak di ruang tengah sambil menghisap sebatang rokok.
Ditengah-tengah asiknya menghisap batang rokok, tiba-tiba Hamzah melihat sekelebat bayangan putih melintas disampingnya dan berjalan menuju kamar sang mertua.
Seketika itu bulu roma Hamzah berdiri. Padahal selama ini ia tak pernah takut dengan yang namanya makhluk halus. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang akan terjadi. Ia pun berteriak memanggil sang istri. "Encus, kesini sebentar!."
Saat Hamzah memanggil, kebetulan Larissa sedang buang air di kamar mandi. Ia pun berteriak untuk menyahuti panggilan suaminya. "Bentar, Entik, aku sedang di kamar mandi."
__ADS_1
Setelah setelah selesai dengan masalah kamar mandi, Larissa segera mengampiri suaminya. "Ada apa, Entik? Kenapa kau memanggilku tadi?."
"Duduklah sebentar!," ucap Hamzah sambil menepuk tempat disampingnya.
Saat mereka bangun tadi, Larissa melihat suaminya baik-baik saja. Namun kini raut wajah Hamzah terlihat sangat tegang. Ia menduga ada sesuatu yang penting yang ingin ia katakan. Ia pun mendudukkan diri disamping suaminya. "Ada apa, Entik? Kenapa wajahmu terlihat sangat tegang?," tanyanya bingung.
Sejenak Hamzah membisu. Pikirannya berkecamuk antara percaya tidak percaya dengan penglihatannya tadi. Namun melihat makhluk halus di saat matahari telah terbit kemungkinannya sangat kecil. Hingga akhirnya ia memutuskan bahwa apa yang dilihatnya tadi adalah benar.
Hamzah menghela napas berat sebelum mulai membuka suara. "Larissa, dengarkan aku baik-baik! Aku tidak ingin mencampuri masalah antara dirimu dengan ibumu. Aku tahu kau berhak untuk marah padanya. Tapi sekarang aku minta padamu, mengalah lah dan meminta maaf pada ibumu sebelum kau menyesal."
Larissa memgernyitkan dahi tak mengerti." Kenapa tiba-tiba kau memintaku untuk meminta maaf pada ibu? Selama ini kau kan tak pernah ikut campur?."
"Bukan tanpa sebab aku meminta ini darimu. Tapi aku merasa hidup ibumu tidak akan lama lagi. Aku memiliki firasat bahwa ibumu akan meninggal dunia kalau bukan sebelum bulan puasa maka setelah lebaran."
Mendengar perkataan Hamzah Larissa malah mencibirnya. "Darimana kau tahu kalau umur ibuku tidak akan lama lagi? kau kan bukan peramal yang bisa melihat masa depan? Nabi saja tidak bisa melakukan itu."
Kembali Hamzah menghembuskan napas berat. Ia tahu istrinya tidak akan mempercayai perkataannya begitu saja. "Aku memang bukan seorang peramal yang bisa melihat masa depan. Tapi ada sesuatu yang membuatku yakin akan hal itu."
"Maksudmu?," Larissa mengernyitkan dahi.
"Kau pasti tahu, kan kalau dalam hadist disebutkan bahwa 40 hari sebelum meninggal dunia, orang itu sebenarnya sudah menjadi mayat. Dan bahkan beberapa orang bisa menyium bau itu dari tubuhnya."
Sejenak Hamzah memberi jeda pada ucapannya untuk memberi waktu berpikir pada Larissa. "orang itu akan berusaha untuk memberikan tanda-tanda kematiannya pada keluarganya. Sesekali malaikat maut berkunjung untuk memastikan kematiannya."
__ADS_1
Larissa diam, mencoba mencerna perkataan suaminya. "Kau benar! Aku memang pernah mendengar hal itu. Tapi apa hubungannya hal itu dengan firasatmu tadi?."
Hamzah diam, kepalanya tertunduk dengan mata terpejam. Ia terlihat ragu untuk menceritakan penglihatannya tadi. Namun itu harus ia lakukan jika ingin istrinya mengerti.
Larissa tak sabar melihat kebungkaman suaminya. Ia kembali bertanya dan menuntut penjelasan. "Kenapa sekarang kau malah diam, Entik? Ayo, jelaskan padaku!."
Hamzah menghela napas berat sebelum mulai berucap. "Kau tahu, baru saja aku melihat ada sebuah bayangan melintas di dekatku. Bayangan itu kemudian berjalan memasuki kamar ibumu."
Larissa tetap diam mendengarkan penjelasan suaminya.
Melihat istrinya diam, hamzah melanjutkan kembali ucapannya dengan mengajak istrinya berpikir. "Sekarang coba kau pikir, mana ada makhluk halus yang menampakkan diri setelah matahari terbit. Jadi aku rasa itu adalah malaikat maut yang ingin menjemput ibumu "
Deg
Hati Larissa bergetar. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Ucapan Hamzah perihal penglihatannya tadi membuat pikirannya terbuka.
Larissa tahu Hamzah tak pernah bohong dengan perkataannya. Terlebih suaminya itu memang memiliki kelebihan, yaitu kemampuan untuk melihat makhluk halus. Jadi besar kemungkinan kalau ucapan Hamzah mengenai kematian ibunya yang tidak akan lama lagi adalah benar.
Hamzah menggenggam tangan Larissa saat melihat reaksinya sambil berucap, "Sekarang kau percaya, kan kalau perkataanku tadi benar?." Dan Larissa pun menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Sekarang mintalah maaf pada ibumu dan perbaiki hubungan kalian berdua sebelum semua terlambat. Bukankah kau tahu bahwa meminta maaf bukan berarti telah salah," pungkas Hamzah.
Kembali Larissa menganggukkan kepala. "Iya, Entik, kau benar! Aku akan meminta maaf pada ibu sekarang."
__ADS_1
Larissa bangkit dan memasuki kamar ibunya. "Ibu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu. Aku memang marah, tapi tak sedikitpun aku membencimu" ucapnya sambil bersimpuh di hadapan sang ibu. Cucuran air mata turut mengalir bersama permintaan maafnya.