Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 14


__ADS_3

Akan tetapi, jawaban yang Hamzah berikan membuat Larissa harus menelan kekecewaan kembali.


"Minta saja sama keluargamu. Mereka yang suka bikin masalah, sampai kamu jadi kayak gini" dengan kasar.


Larissa hanya bisa mengelus dada akan sikap suaminya itu. Ia pun bangkit, pergi menemui sang ibu di warung, berharap bisa mendapat sedikit pinjaman darinya.


Sesampainya di warung, Larissa langsung mengutarakan maksud kedatangannya. "Ibu, bolehkah aku meminjam sedikit uang?" ucapnya dengan ragu.


"Untuk apa nak?" tanya sang ibu.


"Aku mau melakukan USG, Bu. Semalam....." Larissa pun menceritakan semua yang terjadi padanya tadi malam sampai pagi tadi, hingga akhirnya bidan menyuruhnya untuk melakukan USG tersebut.


"Begitu kejadiannya, Bu. Tapi masalahnya sekarang aku tidak punya uang" ujar Larissa lirih.


"Apa kau sudah mengatakan hal ini pada suamimu?."


"Sudah, Bu!."


"Lalu bagaimana tanggapan dia?."


"Dia juga bingung, Bu. Dia menyuruhku untuk mencari pinjaman dulu." Sengaja Larissa menutupi kebenaran tentang suaminya dihadapan sang ibu. Ia tak ingin nama suaminya semakin jelek di mata ibunya. Ia takut ibunya akan semakin membenci Hamzah kalau ia tahu.


Yang namanya seorang ibu, sebesar apapun kemarahannya, ia tetap tidak akan tega bila melihat anaknya berada dalam kesulitan.


Bu Ani menghela napas. Ia mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dari dalam dompet dan menyerahkannya pada Larissa. "Ini, pakai uang ini. Minta suamimu untuk mengantarmu kesana. Maaf, ibu tidak bisa ikut. Ibu harus menjaga warung, sudah terlanjur dibuka" ucapnya.


Larissa menerima uang tersebut dengan wajah bahagia. Seulas senyum terbit di bibirnya. "Nggak pa pa, Bu. Ini sudah lebih dari cukup buatku. Aku akan meminta Hamzah untuk mengantarku sekarang!."


Larissa pun melangkahkan kaki dengan ringan saat meninggalkan warung ibunya. Dengan uang ditangan, Larissa yakin Hamzah pasti mau mengantarnya.

__ADS_1


Sesampainya dirumah, Larissa segera menemui Hamzah di kamar. "Yank, aku sudah mendapat uangnya. Ibu yang memberikan. Aku minta tolong, bisakah kau mengantarku ke sana sekarang?" ucap Larissa penuh harap.


Akan tetapi, jawaban yang Hamzah berikan membuat hati Larissa semakin kecewa. Kecewa yang teramat sangat. "Aku capek, mau istirahat!. Kamu tahu sendiri kan, aku baru saja pulang melaut. Semalaman aku nggak tidur!" ucap Hamzah kasar.


"Tapi, Yank...."


"Sudah, pergi sana. Minta tolong saja dengan yang lainnya. Aku ngantuk, mau tidur!" sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Hati Larissa hancur. Ia sangat kecewa dengan sikap yang ditunjukkan suaminya. "Ini anakmu juga, Yank. Kenapa kau seakan tak perduli denganku?. Apa salahku padamu?" ratap Larissa dalam hati.


Larissa bisa mengerti, jika semua masalah yang terjadi diantara hamzah dengan keluarganya memang membuatnya marah, tapi bukan berarti ia bisa bersikap tidak peduli seperti ini terhadapnya. Apa salahnya dalam hal ini.


Dengan air mata berderai, Larissa pun meninggalkan rumahnya, pergi menemui mertua. Berharap mertuanya mau mengantarkannya. Saat ini hanya merekalah harapan satu-satunya.


Dengan langkah gontai, Larissa memasuki rumah mertuanya. Kebetulan Baskoro, sang ayah mertua sedang ada di rumah. Ia bekerja sebagai tukang becak. Sejenak ia beristirahat di rumah untuk makan. Saat itulah Larissa datang.


Larissa pun mengutarakan maksud kedatangannya kesitu. Ia juga menceritakan soal kondisinya.


Selama ini Baskoro memang menerima Larissa dengan tangan terbuka. Ia sangat menyayanginya seperti anak sendiri. Sedang istrinya selalu bersikap dingin, walau memang ia tak pernah menunjukkan rasa ketidaksukaannya pada Larissa.


Dengan menaiki becak milik Baskoro, mereka pun berangkat menuju puskesmas yang terletak didekat kantor kecamatan. Becak Baskoro bukanlah seperti becak pada umumnya yang harus dikayuh menggunakan kaki, melainkan menggunakan tenaga mesin untuk menjalankannya.


Puskesmas yang akan mereka datangi kali ini berbeda dengan puskesmas yang Larissa datangi tempo hari. Dan setelah menempuh perjalanan selama beberapa waktu, akhirnya mereka pun sampai disana.


Larissa segera masuk ke dalam untuk mengambil nomor antrian. Dan setelah lama menungguku, akhirnya tiba juga gilirannya.


Larissa masuk ke dalam ruangan USG. Dokter menyuruhnya untuk berbaring di atas brangkar, dan Larissa pun melakukan apa yang dokter perintahkan.


Dokter membubuhkan gel diatas perut Larissa. Kemudian ia memainkan sebuah alat yang terhubung langsung dengan layar monitor.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, dokter pun menyudahi pemeriksaannya. Larissa pun merapikan pakaiannya kembali dan duduk dihadapan dokter.


"Bagaimana keadaan janin dalam kandungan saya, dok?" tanya Larissa.


Sesaat dokter terdiam, tapi tak berselang lama ia mulai angkat bicara. "Sebelumnya kami mohon maaf. Janin dalam kandungan anda sudah tidak berkembang. Ia sudah tiada."


Bagai tersambar petir di siang bolong saat berita itu dibacakan. Tubuh Larissa lemas seketika bagai tak bertenaga. Tulang-belulangnya bagai dicopoti dari tubuhnya. Air mata luruh. Jiwanya bagai mati detik itu juga.


"Ibu harus melakukan kuret untuk mengeluarkan janin dalan kandungan ibu. Jika tidak, maka bisa mengakibatkan infeksi di rahim ibu" ujar dokter lagi.


"Terimakasih banyak, dok. Nanti saya akan sampaikan pada suami saya" ucap Larissa. "Kalau begitu saya permisi dulu!."


Larissa pun keluar dari ruangan itu dengan hati yang hampa. Separuh jiwanya ikut pergi bersama datangnya kabar duka itu.


Tanpa berlama-lama mereka pun kembali pulang. Ditengah perjalanan Baskoro menghentikan kendaraannya dan mengajak Larissa untuk makan dulu. Karena sedari tadi Larissa terlihat sangat lesu dan tak bertenaga.


Baskoro memesankan semangkuk bakso untuk Larissa. Itu adalah makanan kesukaannya. Akan tetapi Larissa terlihat tak bernafsu saat menyantapnya. Hatinya masih diselimuti mendung duka atas kepergian sang anak yang belum sempat hadir di bumi.


Selesai makan mereka kembali melanjutkan perjalanan. Dan setelah beberapa lama akhirnya mereka tiba juga di rumah Baskoro.


Larissa pulang dengan jalan kaki menuju rumahnya. Dan sesampainya dirumah, ia segera merebahkan diri disamping sang suami. Tubuhnya sangat lelah, ditambah beban hati yang teramat menyiksa. Ia ingin mengistirahatkan sejenak jiwanya yang lelah.


Mengetahui Kedatangan sang istri, Hamzah hanya memicingkan mata sekejap. Kemudian ia kembali memejamkan matanya lagi, melanjutkan mimpi yang sempat terputus.


Sore hari Larissa kembali bangun. Ia membersihkan diri dan menghadap pada Sang pencipta. Keadaannya kini jauh lebih baik daripada siang tadi.


Hamzah terbangun saat Larissa usai sholat. Ia meneguk secangkir kopi yang sudah disiapkan Larissa sebelumnya. Usai meneguk kopi, ia pun bertanya, "Bagaimana hasil USG mu tadi?."


Larissa tak mengatakan sepatah kata. Ia hanya menyerahkan hasil USG tadi pada sang suami.

__ADS_1


Hamzah terlihat bahagia saat memandang foto USG itu. "Yank, ini foto calon anak kita?" tanyanya dengan mata berbinar-binar. Ia tidak tahu jika saat ini janin dalam kandungan istrinya itu sudah tidak bernyawa lagi.


__ADS_2