
Hari ini Larissa sedang bersantai di kamar tidur berdua dengan suaminya. Sesuatu yang sangat jarang mereka lakukan lantaran kesibukan masing-masing, terlebih mereka juga kerap bertengkar akhir-akhir ini.
"Entik, sudah lama kita tidak menghabiskan waktu berduaan seperti ini, ya?" ucap Larissa membuka obrolan. Saat itu ia sedang berbaring menatap langit-langit kamar, sementara suaminya berbaring menyamping dengan sebelah kaki menindih kaki Larissa, menjadikan tubuhnya sebagai guling.
"Iya. Itu karena kita disibukkan dengan pekerjaan masing-masing." menjawab sekenanya karena sibuk menciumi leher jenjang milik sang istri.
"Aku rasa bukan karena itu saja! Aku merasa, akhir-akhir ini kita jadi sering bertengkar hanya karena masalah sepele. Apa kau juga merasakan hal yang sama denganku?" wajah mendongak menatap sang suami.
Hamzah menghela napas. "Kau benar! Aku juga merasakan hal yang sama denganmu."
Larissa merubah posisi tidur menjadi menyamping menghadap sang suami. Jemari tangan bermain-main diatas dada bidang sang suami yang saat itu bertelanjang dada, salah satu dari bagian tubuh sang suami yang menjadi favoritnya.
"Bagaimana kalau kita nambah momongan lagi?. Kata orang, anak adalah tali pengikat kedua orangtuanya. Dan siapa tahu dengan nambah momongan hubungan kita jadi semakin kuat" ucapnya lembut.
Hamzah memicingkan sebelah mata. "Nambah momongan?."
"Iya, momongan. Lagipula bulan depan usia Zahra tujuh tahun, sudah waktunya dia punya adik, kan?."
Hamzah terlihat keberatan dengan usulan Larissa. "Apa kamu serius pengen nambah momongan disaat ekonomi kita belum stabil seperti sekarang?"
"Aku serius! Dua rius malah" mengangkat dua jari tangan sebagai tanda keseriusan. "Alquran mengatakan, jika setiap anak membawa rezekinya masing-masing. Kalau Allah sendiri yang menjamin rezeki seseorang, lalu kenapa kita harus khawatir?."
Hamzah menghela nafas, tak setuju dengan pendapat istrinya. "Bukannya aku tak percaya dengan Alquran, tapi bukankah kita harus merancang masa depan dengan sebaik-baiknya?"
"Jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan hingga membuatmu lupa akan masa sekarang. Jalani saja semua, dan biarkan semua mengalir seperti air."
Hamzah mengubah posisi tidur menjadi telentang. Pandangan mata menerawang ke atas. Dada terlihat kembang kempis dengan nafas teratur. Kedua tangan terlipat di bawah kepala.
__ADS_1
Melihat suaminya hanya diam tanpa menolak atau mengiyakan, Larissa bisa menebak jika saat ini ia sedang bimbang. "Apa kau tidak ingin memiliki momongan lagi?" ucapnya dengan ekspresi wajah sendu.
"Bukannya gitu, tapi...."
Larissa merubah posisi menjadi duduk menghadap sang suami. Tangannya menggenggam tangan suaminya. "Apa kau sudah lupa kalau dokter menyarankan agar aku melepas alat kontrasepsi dan hamil kembali demi kesehatanku? Apa kau ingin aku sakit lagi seperti kemarin?."
Hamzah menghela napas kasar, mengusap wajah gusar. "Aku tidak pernah melupakan itu, Larissa. Hanya saja aku rasa ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan momongan lagi. Bagaimana kita bisa memenuhi kebutuhannya nanti kalau ekonomi kita seperti ini?. "
"Bukankah tadi aku sudah bilang, Allah yang akan menjaminnya. Percayalah, setiap anak membawa rezekinya masing-masing."
Hamzah diam, tak mengiyakan atau membantah pendapat istrinya. Sedang Larissa, melihat kebungkaman suaminya memilih untuk meneruskan ucapannya. "Coba kau ingat-ingat kembali, saat Zahra lahir, apa yang kita punya saat itu? Tidak ada kan? tapi lihatlah sekarang, kita malah memiliki sepeda motor dan rumah sendiri. Apa kita pernah membayangkan akan memilikinya saat itu?."
Hamzah tetap bungkam mendengar ucapan istrinya yang mengingatkan aian kondisi mereka saat itu.
"Bukankah kondisi kita saat itu jauh lebih sulit dari pada sekarang? Lalu kenapa kita mesti takut tak bisa memberinya makan? Siap tahu dengan kita memiliki anak lagi maka ekonomi kita bisa kembali lagi seperti semula" imbuh Larissa.
"Tapi...." Hamzah terlihat masih ragu, namun Larissa terus menyakinkannya. "Ayolah, Entik, percayalah padaku! semua pasti baik-baik saja!" Larissa menunjukkan tatapan maut andalannya hingga membuat Hamzah luluh. "Baiklah, aku setuju!."
Melihat istrinya mencuri ciuman darinya, Hamzah pun menggodanya. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita mulai program nambah momongannya sekarang?" ucapnya sambil menaik turunkan alis dan tatapan mata mesum.
"Siapa takut?" tantang Larissa. Ia pun mulai menggoda Hamzah di titik-titik sensitif hingga membuat suaminya terbakar dalam api birahi.
Hamzah pun tak mau kalah, turut memberikan sentuhan-sentuhan lembut yang membuat tubuh istrinya meliuk-liuk dengan indah karena gelora asmara.
Malam itu mereka tenggelam dalam lautan asmara hingga mencapai indahnya surga dunia.
...****************...
__ADS_1
Sudah beberapa hari Larissa terlambat datang bulan. Firasatnya mengatakan ada kemungkinan jika saat ini ia hamil. Ia pun segera membeli alat tes kehamilan untuk memastikannya.
Pagi hari saat baru bangun tidur Larissa menampung urinnya dakam sebuah wadah kecil lalu melakukan prosedur pengecekan seperti yang tertera dalam kemasan.
Semenit dua menit, Larissa menunggu dengan harap-harap cemas. Hatinya terus berdoa agar alat tes itu menunjukkan hasil yang diinginkan.
Perlahan alat tespack menunjukkan hasil. Dan hasilnya adalah......dua garis merah.
Larissa berjingkrak kegirangan dalam kamar mandi begitu hasil tes menunjukkan apa yang diinginkannya. Saat ini ia sedang....hamil.
Senyum bahagia tak lepas dari wajah. Ribuan kata syukur terus terucap atas anugerah yang di dapat. Diusapnya lembut perutnya yang masih rata. " Tumbuhlah dengan sehat disana, nak. Ibu akan selalu menjagamu."
Larissa merapikan kembali bekas tes itu dan bergegas membangunkan sang suami untuk memberitahukan kabar gembira ini.
"Entik, bangunlah! Aku punya kabar gembira untukmu," ucapnya sambil mengguncang bahu suaminya pelan.
Perlahan Hamzah membuka mata, mulutnya menguap lebar lantaran masih mengantuk. "Ada apa kau membangunkanku sepagi ini?."
Larissa terus menunjukkan senyum bahagianya. "Aku membangunkanmu untuk memberikan kabar baik. Kau tahu, saat ini aku sedang hamil. Keinginanku untuk segera hamil lagi telah terwujud."
"Oh, alhamdulillah!" ucap Hamzah datar. Ekspresi wajahnya sangat jauh dari bayangan Larissa.
Melihat reaksi tak bahagia sang suami atas kabar kehamilannya ini membuat hati Larissa kecewa. Dalam bayangannya sang suami akan memeluk dan menghujaninya dengan ciuman sebagai bentuk kebahagiaan. Namun nyatanya.....
"Apa kau tidak bahagia dengan kehamilanku ini?" tanya Larissa lirih.
"Siapa bilang aku tak bahagia? Aku sangat mensyukurinya" jawab Hamzah cepat.
__ADS_1
Meski Hamzah mengatakan jika dirinya bahagia atas kehamilan Larissa namun nyatanya ekspresinya malah menunjukkan yang sebaliknya. Apakah salah jika Larissa merasa kecewa akan hal ini?.
Larissa berlalu meninggalkan suaminya karena tak ingin larut dalam kekecewaan. Ia berjanji, dalam kehamilannya kali ini akan betul-betul menjaganya dengan baik, termasuk emosi yang akan berpengaruh pada perkembangan janin dalam rahimnya. Ia tak ingin apa yang terjadi pada kehamilannya dulu terjadi kembali