
"Entik, kapan kita diperbolehkan pulang? Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah anak kita. Lihat! payudaraku sampai sakit karena ASInya belum juga disusukan."
Sudah lima hari Larissa menginap di rumah sakit itu dan belum sekalipun bertemu putranya sejak ia dilahirkan. Padahal ia sangat ingin memberikan ASI pertama untuknya.
"Sabar dulu ya! aku juga pengen lihat anak kita sama sepertimu. Tapi mau bagaimana lagi."
Pintu terbuka, seorang perawat masuk dalam ruangan untuk melakukan pemeriksaan rutin pagi. Melihat hal itu Larissa tak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya. "Kapan saya diperbolehkan pulang, mbak? sudah lima hari saya ada disini," tanyanya saat perawat selesai melakukan tugasnya.
"Sabar dulu ya, bu. Tunggu hasil swab test keluar dulu," jawab perawat ramah.
"Lalu kapan hasil tesnya keluar?."
"Harusnya sih hari ini, tapi berhubung sekarang hari libur nasional jadi nggak ada dokter yang bertugas sama sekali."
Larissa mendesau lesu. Hari ini memang bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad, yang artinya semua instansi libur. "Tapi saya boleh lihat anak saya nggak, mbak? Saya ingin memberikan ASI padanya," tanyanya lagi.
"Maaf ya, bu, itu juga belum boleh dilakukan. Kemarin kan sudah saya jelaskan apa resikonya."
"Tapi payudara saya sampai mengeras karena tidak segera di susukan, mbak. Badan saya juga sampai meruang sejak kemarin."
"Coba ibu perah ASI nya dan kompres payudara ibu dengan air hangat. Mungkin ini bisa mengurangi rasa sakit ibu."
"Itu sudah saya lakukan, mbak, tapi hasilnya tetap sama."
Larissa terus memohon pada perawat agar di izinkan untuk menyusui anaknya barang sejenak. Namun perawat tetap kukuh menolak keinginan Larissa. "Sekali lagi saya minta maaf, bu, saya tidak bisa mengizinkan ibu menemui bayinya. Ini sudah menjadi kebijakan rumah sakit."
Larissa mendesau pasrah, terpaksa harus menelan kekecewaan kembali karena tak berhasil merayu perawat agar memberikan izin menyusui ankanya barang sejenak. Tapi ia sadar, toh itu juga demi kebaikannya dan sang bayi sendiri.
...****************...
__ADS_1
Keesokan hari seusai sarapan Hamzah diminta untuk menemui petugas di bagian Administrasi. Tanpa membuang waktu Hamzah segera turun ke bawah dan menuju bagian yang ditunjukkan.
Desas desus yang berkembang diantara para pasien, hari ini ada enam pasien yang akan dipulangkan. Larissa harap-harap cemas dan berdoa semoga ialah salah satu diantara pasien yang akan dipulangkan itu.
Waktu terus bergulir, pagi berubah menjadi siang, dan bahkan matahari semakin membakar bumi. Namun Hamzah belum juga kembali dari bagian administrasi dan membawa kabar kepulangan untuknya. Sementara keluarga dari pasien yang lain sudah kembali sejak tadi.
Tubuh Larissa lesu, hampir saja ia menangis karena merasa harapan untuk bisa pulang hari ini semakin tipis. Namun mendadak pintu terbuka dan muncullah Hamzah dari balik pintu.
Larissa bersorak dalam hati. Harapannya yang sempat pupus kini kembali lagi dengan kedatangan suaminya. Apalagi saat suaminya mengatakan jika ia memang diperbolehkan pulang hari ini.
"Benarkah aku boleh pulang hari ini?" tanya Larissa seakan tak percaya dengan kabar gembira yang Hamzah sampaikan.
"Iya, benar!" jawab Hamzah. "Makanya sekarang kamu bereskan semua barang-barang kita dan segera bersiap. Aku mau ke ruangan bayi untuk mengurus administrasi anak kita."
Larissa tersenyum bahagia. "Baik! Aku akan segera berkemas. Kamu cepat urus segalanya dan cepat kembali. Aku sudah tidak sabar ingin menggendong bayiku," ucapnya tak sabar.
Hamzah tertawa kecil melihat ketidaksabaran istrinya. Ia pun kembali berlalu setelah memastikan istrinya bisa membereskan barang-barang sendiri.
...****************...
Petugas meminta Hamzah untuk mencopy beberapa berkas pengajuan agar bayinya bisa dicover juga oleh pihak asuransi yang menanggung semua biaya persalinan Larissa. Untuk itulah Hamzah mencari kesana kemari untuk melakukan apa yang diminta.
Hamzah mendesah pasrah, ia sudah lelah berjalan namun tak juga berhasil menemukan tempat yang menyediakan jasa fotocopy. Ia pun kembali ke bagian administrasi dan mengatakan apa adanya.
"Ya sudah sini, pak berkasnya tadi. Biar saya print lagi saja" ucap petugas bagian admistrasi.
Hamzah menyerahkan kembali berkas yang dibawanya tadi pada petugas dengan hati dongkol. "Tahu gitu kenapa tadi malah nyuruh menfotocopy? Kenapa nggak dari tadi saja? Tahu gitu kan aku nggak perlu capek-capek berjalan jauh."
Petugas mencetak berkas itu sekali lagi dan menyerahkannya pada Hamzah. "Sekarang bapak bawa berkas ini ke kantor asuransi kesehatan yang ada di depan rumah sakit ini biar segera diproses."
__ADS_1
"Kali ini saya harap bapak benar-benar berusaha. Kalau tidak, terpaksa bayi bapak tidak bisa ikut pulang sekarang, atau bapak harus memberikan sejumlah uang sebagai jaminan yang nantinya uang itu akan kami kembalikan lagi kalau perusahaan asuransi sudah mau mencover bayi bapak."
Hamzah mengangguk dan kembali berjalan menuju gedung yang dimaksud. Namun saat ia baru tiba di lobi rumah sakit seorang perawat lain memanggil namanya.
Hamzah mendekati perawat tersebut dan bertanya, "Ada apa, mbak manggil saya? Apa masih ada berkas yang tertinggal?."
"Bukan seperti itu, tapi saya mau tanya, apa bapak mau ke kantor asuransi di depan?."
"Iya, mbak!" jawab Hamzah singkat.
"Ini hari sabtu, pak. Biasanya kantor asuransi tidak.mau melayani kalau hari sabtu."
Tubuh Hamzah lemas seketika, tulang belulangnya bagai dicopoti dari tubuhnya. "Lalu saya harus bagaimana?" tanyanya lirih.
Bagi orang kalangan atas, mereka pasti langsung memilih memberikan sejumlah uang saat petugas mengatakan hal tadi daripada harus mondar mandir kesana kemari untuk mencover asuransi. Karena bagi mereka uang bukan suatu masalah.
Namun bagi kalangan menengah kebawah seperti Hamzah, uang adalah sesuatu yang harus betul-betul dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Itu sebabnya ia mengusahakan yang terbaik agar uang yang dimiliki bisa digunakan untuk keperluan yang lain.
"Coba sini berkasnya. Saya coba bantu dari sini. Bapak berdoa saja semoga berhasil" ucapnya mengulurkan tangan.
Hamzah terlihat ragu memberikan berkas itu, khawatir akan diminta sejumlah uang setelahnya.
Perawat seakan mengerti akan keraguan Hamzah. Ia pun berucap, "Bapak tenang saja! Saya ikhlas membantu bapak. Saya pastikan tidak akan ada pungutan apapun nantinya. Saya hanya kasihan melihat bapak capek mondar-mandir kesana kemari dari tadi. Saya salut melihat kegigihan yang bapak tunjukkan. Makanya saya tergerak untuk membantu."
Mendengar ucapan perawat Hamzah tersenyum lega. Ternyata masih ada kebaikan di tengah-tengah kerasnya kehidupan kota. Ia pun segera menyodorkan berkas yang dibawanya tadi. "Ini, mbak, berkasnya."
Perawat mengambil berkas tersebut dan segera mengotak-atik komputer dihadapannya. Dan setelah beberapa lama ia menyerahkan berkas tersebut pada Hamzah kembali. "Ini, pak berkasnya. Silahkan bapak bawa ke bagian administrasi di ruangan bayi tadi. Sekarang bayi bapak sudah berhasil dicover oleh pihak asuransi."
Hamzah tersenyum bahagia mendengar ucapan perawat itu. "Terimakasih banyak atas bantuannya, mbak. Semoga Allah membalas semua kebaikan mbak hari ini."
__ADS_1
"Amin..."
Hamzah mengambil berkas itu dan segera menuju bagian administrasi di ruangan bayi.