Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 115


__ADS_3

Sudah beberapa hari cuaca buruk terjadi. Tiap hari angin berhembus kencang yang disertai dengan hujan lebat. Kilat dan guntur menggelegar membuat takut siapa saja. Semua orang mengeluh tak bisa melaut akibat cuaca ini.


Kondisi seperti ini tentu berdampak juga pada jualan Larissa. Terlebih sebagian besar mata pencaharian utama penduduk disana adalah nelayan.


Begitu sepinya jualan Larissa hingga untuk membelikan es krim anaknya sebesar dua ribu rupiah saja ia tak mampu. Ia hanya bisa meneteskan air mata melihat kekecewaan di wajah sang putri. "Maafkan ibu, nak! bukannya ibu tak mau membelikanmu es krim, tapi saat ini ibu memang betul-betul tak memiliki uang sepeserpun," ucap batinnya pilu.


Larissa pusing tujuh keliling memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan uang tambahan. Pasalnya hasil jualan rujak tak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari, sementara Hamzah sendiri tak bisa melaut karena cuaca buruk.


Ditengah keputusasaan tiba-tiba ia teringat jika mbak Ina, sepupu Hamzah memiliki hutang padanya sebesar seratus lima puluh ribu. Ia pun pergi ke rumahnya untuk menagih hutang itu.


"Mbak Ina, sebelumnya aku minta maaf! Tujuanku kesini mau menagih hutang mbak padaku beberapa bulan yang lalu," ucap Larissa sesampainya di rumah mbak Ina.


Wajah mbak Ina yang semula ramah berubah masam seketika saat Larissa mengutarakan maksud kedatangannya, hingga membuat Larissa merasa tak enak hati. "Sekali lagi aku minta maaf, mbak! Bukannya aku tidak mengerti kondisi saat ini, tapi saat ini aku sendiri sedang tidak punya uang sama sekali," imbuhnya.


Meski Larissa adalah pihak yang memberi pinjaman, namun ia tetap sopan saat menagihnya. Ia tak mau membuat orang sakit hati hanya karean masalah ini terlebih mbak Ina ini masih sepupu dari suaminya sendiri.


"Tapi saat ini saya belum punya uang sebanyak itu, mbak, bagaimana dong?," ucap mbak Ina.


"Tolonglah, mbak! masak mbak Ina nggak tahu bagaimana saya. Kalau bukan karena terpaksa, tidak mungkin aku menagihnya."


Mbak Ina terlihat berpikir, dan tak lama kemudian ia berkata, "Bagaiamana kalau saya bayarnya dengan cara mencicil? Biar kita sama enaknya gitu."


Larissa menghela napas. "Ya udah, mbak, nggak pa pa. Sepunyanya mbak Ina saja kalau begitu."


Mbak Ina pun masuk kedalam untuk mengambil dompet, dan tak berselang lama ia kembali lagi menemui Larissa. disodorkannya selembar uang lima puluh ribu padanya. "Ini, mbak! Saya kasih segini dulu."

__ADS_1


Larissa menerima uang tersebut. "Alhamdulillah! Iya, mbak nggak pa pa. Yang penting saya ada pegangan buat makan besok," ucapnya. "Sekali lagi saya ucapkan terimakasih."


Larissa pun berlalu meninggalkan rumah mbak Ina dengan senyum terukir di wajah.


Beberapa minggu kemudian Larissa kembali menagih hutang itu lantaran tak memiliki uang lagi. Ia mengeluhkan sakit di matanya dan ingin membeli obat tetes mata untuk menghilangkan rasa sakit itu.


Seperti halnya sebelumnya, kali ini pun mbak Ina memberikan selembar uang lima puluh ribu padanya, dan Larissa menerima uang itu tanpa mengeluh sedikitpun.


...****************...


Sebagian besar dari para wanita memiliki kebiasaan bergosip ria saat berkumpul dengan teman-temannya. Mereka ini memiliki sebutan ibu-ibu PKK (perempuan kurang kerjaan).


Ada saja topik yang menjadi bahan gosip mereka. Mulai dari berita para artis tanah air, harga kebutuhan pokok yang meroket tajam, kehidupan rumah tangga, suami dan anak-anak, juga hubungan dengan mertua.


Seperti halnya pagi ini, Larissa terlihat sedang asik bergosip ria dengan beberapa ibu-ibu lain sambil menunggui anak mereka di sekolah. Begitu asiknya mereka bergosip hingga membuat lupa waktu dan tempat. Sesekali tawa mereka pecah saat ada yang menceritakan hal-hal konyol yang mereka alami.


Dalam lingkungan masyarakat, bik Ika dikenal sebagai pribadi yang suka ngomong ceplas-ceplos. Ia selalu mengatakan apa yang menjadi pikirannya, tak peduli apakah omongannya itu menyakiti hati orang lain atau tidak.


"Iya, bik Ika emang orangnya kayak gitu. Aku saja pernah dikatai olehnya. Saat itu......" Larissa pun menceritakan bagaimana ucapan bik Ika seperti yang ia dengar dari mbak Ina beberapa waktu lalu. Tak lupa ia juga menceritakan bagaimana perkataan itu berubah arah sehingga menimbulkan pertengkaran antara dirinya dengan sang suami.


Usai dirinya bercerita, tiba-tiba ada salah satu ibu-ibu yang bertanya, "Kamu dengar omongan itu dari siapa?."


"Dari mbak Ika," jawabnya jujur tanpa ada prasangka apapun.


"Apa kamu sudah mencari tahu sendiri kebenarannya?" tanyanya lagi.

__ADS_1


Ditanya seperti itu Larissa malah tertawa renyah. "Buat apa mencari tahu kebenarannya? Itu cuma buang-buang waktu. Sudah jelas kalau ucapan mbak Ina itu benar.


"Apa kau benar-benar yakin kalau apa yang dikatakannya itu memang benar?" tanyanya untuk yang kesekian kali. Raut wajahnya terlihat sangat serius saat menanyakan hal itu.


Mendapati pertanyaan macam itu tentu saja Larissa bingung. "Maksud ibu?," mengerutkan dahi pertanda tak mengerti.


Ibu itu merubah posisi duduk dan bergeser mendekati Larissa. "Hati-hati! Ina itu orangnya pinter ngejual dan pinter membeli," ucapnya setengah berbisik.


Larissa semakin bingung mendengar ucapan ibu itu. "Maksud ibu bagaimana sih? Aku masih tidak mengerti."


Ibu itu menghela napas. "Apa kau tidak tahu kalau dia itu suka merubah sebuah kebenaran menjadi kebohongan, dan begitu juga sebaliknya?."


"Benarkah?," tanya Larissa tak percaya.


Ibu itu mengangguk. "Semua orang tahu akan hal itu, dan aku rasa dia juga melakukan hal yang sama padamu."


"Iyakah?." Larissa masih tak percaya dengan fakta yang ibu itu katakan karena selama ini ia begitu mempercayai kata-kata mbak Ina.


Ibu itu kembali menghela napas. "Sekarang coba kau pikir kemungkinannya, bisa jadi dia berkata seperti itu padamu, lalu berkata lain pada ibu mertuamu dengan maksud mengadu domba kalian. Lagipula kau kan tidak tahu siapa yang sudah mengatakan hal itu pada ibu mertuamu, kan?."


Larissa tertegun mendengar argumen yang ibu itu katakan. Batinnya berkecamuk antara mempercayai ucapan ibu itu atau tidak.


Melihat kebungkaman Larissa ibu itu bisa menebak jika saat ini ia tak mempercayai kata-katanya. "Kalau kau tak percaya padaku, silahkan kau tanyakan pada ibu-ibu yang lain!" imbuhnya.


"Iya, Larissa, yang dia katakan itu benar. Kami semua tahu Ika itu seperti apa orangnya."

__ADS_1


Mendengar pembelaan dari ibu-ibu yang lain mau tak mau Larissa pun mempercayainya. Dan kini hatinya diliputi rasa pemyesalan yang mendalam. "Ya allah, jadi selama ini aku sedang di adu domba oleh mbak Ika? kenapa aku tak berpikiran jika kemungkinan itu bisa saja terjadi?."


Setelah tahu kebenaran itu Larissa bergegas menemui suaminya untuk memberitahukan hal itu.


__ADS_2