
Bahagia barulah seujung kuku, baru sebatas pintu, tapi ujian kembali menerpa bahtera rumah tangga Larissa. Kali ini masalah yang datang bahkan lebih pelik.
Saat itu, sedari pagi Larissa sudah sibuk melayani pembeli yang berjubel. Bahkan ia sendiri tak sempat sarapan. Jangankan makan, untuk minum pun ia tak sempat.
Bu Ani menyerahkan usahanya untuk Larissa kelola sendiri dari beberapa bulan yang lalu sebelum Larissa membeli sepeda baru, karena ia merasa sudah tak mampu lagi berjualan. Dan dari sinilah perekonomian Larissa berubah.
Hari itu sedang libur karena ada pemilihan legislatif. Itulah sebabnya pembeli sudah mengantre sedari pagi. Banyak dari mereka yang sengaja membeli rujak untuk menghilangkan penat karena lama menunggu. Bahkan ada salah satu pembeli yang memesan dalam porsi banyak untuk dibagikan pada para petugas di TPU ( Tempat Pemungutan Suara ). Mungkin hari itu adalah hari mujur bagi Larissa.
Awalnya semua baik-baik saja. Hingga sore hari, saat dagangan Larissa sudah terjual habis pun semua masih baik-baik saja.
Petaka mulai datang saat Larissa meminta Hamzah untuk membantunya membereskan dagangan. Saat itu ia sudah sangat lelah, sedang ia masih harus memandikan anaknya juga.
Hamzah membantu Larissa membereskan dagangan tanpa banyak kata. Namun terlihat sangat jika ada hal yang ia sembunyikan dari istrinya. Ia bahkan terlihat ogah-ogahan saat melakukan semua itu.
Larissa menangkap ada yang janggal dari sikap suaminya. Terlihat sangat jika Hamzah hanya setengah hati saat membantunya. Meski begitu ia tak mau terlalu memikirkan hal tersebut karena tubuhnya sudah terlalu lelah, ada hal yang jauh lebih penting yang harus ia kerjakan lagi.
Setelah selesai membereskan dagangan dan memandikan anaknya, Larissa pergi ke pasar sore untuk membeli beberapa buah-buahan untuk berjualan esok hari. Disana ia bisa mendapatkan barang dengan harga yang relatif lebih murah dari pada membeli di pasar pagi. Karena kebanyakan barang yang dijual di pasar sore adalah sisa yang belum terjual di pasar pagi.
Benar saja, Larissa mendapat borongan buah-buahan dengan harga miring. Ia tak hanya asal membeli batang murah, tapi juga memperhatikan kualitas dari batang tersebut. Ia hanya membeli barang dengan kualitas yang masih bagus pula.
Larissa membawa pulang barang belanjaannya dengan hati suka cita. Terbayang sudah berapa keuntungan yang akan ia dapat dari berjualan hari ini.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Larissa menyimpan barang belanjaannya tadi dengan baik. Setelah semua selesai, ia pun membersihkan tubuh dan berbaring diatas ranjang untuk sejenak mengistirahatkan tubuhnya yang penat.
Dari sinilah petaka mulai datang. Saat itu matahari telah meninggalkan peraduannya, dan posisinya telah digantikan oleh sang raja malam, bulan dan bintang.
Hamzah berpamitan ingin keluar rumah, Larissa teringat jika ia harus membelikan obat rutin untuk ibunya di apotek. Tadi siang ibu mengatakan jika obatnya sudah habis.
Larissa pun meminta Hamzah mengantarkannya terlebih dulu ke apotek sebelum Hamzah pergi. Tadi ia sudah berjanji akan membelikan obat untuk ibunya selepas magrib.
Ekspresi Hamzah terlihat tidak mengenakkan saat Larissa meminta antar padanya, membuat Larissa tersulut emosinya. Terlebih ia sudah capek seharian bekerja, sedang Hamzah sedari tadi hanya rebahan tanpa ada niatan untuk membantu. Jangankan membantu berjualan, memandikan anaknya sendiri saja enggan ia lakukan.
"Kalau kamu nggak mau, ya udah, nggak usah antar aku!. Aku nggak mau kamu melakukan sesuatu tapi nggak ikhlas melakukannya" sarkas Larissa.
Larissa pun menyimpan kembali kunci sepeda motor dibawah bantalnya, lalu ia rebahkan kembali tubuhnya. "Kalau aku nggak bisa memakai sepeda itu, maka kamu juga nggak boleh memakainya. Enak saja! Aku juga bekerja keras sampai bisa membeli sepeda itu" ujar Larissa dalam hati. Ia sangat kesal dengan sikap suaminya itu.
"Berikan kunci sepeda motor itu!" teriak Hamzah.
"Tidak! aku tidak akan memberikan kuncinya" jawab Larissa bersikukuh. Ia tak rela Hamzah enak-enakan memakai sepeda motor sedang ia yang harus bekerja keras untuk bisa membelinya.
Emosi Hamzah tersulut mendengar penolakan Larissa. Ia membuka lemari pakaian dan mengeluarkan sesuatu di dalamnya. "Kau masih tidak mau memberikan kuncinya padaku?" teriaknya marah.
Larissa yang sedari tadi memunggungi Hamzah dan berpura-pura tertidur pun terpaksa membuka mata kembali. Ia segera bangkit dan memutar tubuh menghadap suaminya.
__ADS_1
Alangkah terkejutnya Larissa saat ia telah berhadapan dengan suaminya. Pasalnya suaminya itu tengah berdiri tegap dihadapannya sambil menghunuskan sebilah pedang berjenis samurai kearahnya, dan itu adalah senjata yang pernah Hamzah keluarkan saat ia marah besar ketika mengetahui bahwa Iqbal lah yang menyebabkan Larissa pendarahan dulu.
Seketika itu tubuh Larissa gemetar ketakutan. Apalagi dada Hamzah terlihat kembang-kempis yang disertai dengan wajah memerah karena menahan amarah.
Wanita mana yang tidak akan takut melihat seseorang tengah menghunuskan senjata tajam kearahnya, apalagi hal tersebut dilakukan oleh suaminya sendiri, dan dalam keadaan marah pula.
Tapi bagi Larissa, bukan keselamatan dirinya sendiri yang ia pikirkan saat itu, melainkan keselamatan putrinya yang saat itu tengah tertidur pulas tidak jauh darinya. Ia takut suaminya gelap mata dan malah melukai anaknya sendiri. Terlebih Hamzah tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri saat sedang marah.
Tanpa pikir panjang dan sebelum semuanya bertambah kacau, Larissa segera merebut pedang tersebut dari tangan suaminya. Ia tak perduli lagi dengan keselamatan dirinya. Baginya, nyawa putrinya jauh lebih berharga dari apapun juga.
Secepat kilat pedang tersebut telah berpindah tangan. Larissa berhasil merebut pedang tersebut dari tangan suaminya.
Hamzah yang tak menyangka jika Larissa akan seberani itu pun terkejut saat mendapati pedang sudah tidak ada ditangannya lagi. Ia salah karena menganggap Larissa akan takut dengan ancamannya, sehingga ia pun lengah dan tak menyadari gerakan tiba-tiba dari Larissa. Dan kelengahannya itu telah dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Larissa.
Sejauh ini Larissa memang cenderung mematuhi apa yang menjadi keinginan Hamzah. Ia selalu mengalah dan memaafkan setiap kesalahan yang dilakukan oleh suaminya. Bahkan lebih cenderung takut untuk melawan.
Tapi hari ini tidak lagi, keberanian Larissa untuk melawan telah bangkit. Dan semua itu karena terdorong oleh keinginan untuk melindungi nyawa anaknya.
Mungkin itu yang dinamakan dengan naluri seorang ibu. Ia akan melakukan apapun, bahkan melawan maut sekalipun demi menyelamatkan nyawa anaknya. "Apa kau sudah tidak waras?" teriaknya tak mau kalah.
Larissa segera berlari sekencang mungkin menjauhi Hamzah sambil membawa pedang tersebut ditangannya. Akan tetapi Hamzah tak tinggal diam. Ia segera mengejar istrinya. "Mau kau bawa kemana pedangku?" teriaknya menggelegar.
__ADS_1
Larissa semakin ketakutan mendengar gelegar suara suaminya. Ia semakin mempercepat langkah, akan tetapi......