
Kondisi Larissa semakin memburuk setelah kepergian suaminya untuk kembali melaut. Walau sudah mandi dengan air hangat dan meminum secangkir teh hangat seperti yang biasa ia lakukan saat tak enak badan, namun kali ini cara itu tak cukup efektif untuk mengurangi rasa sakit di sekujur tubuh.
Dengan terpaksa, ia pun membangunkan putri kecilnya yang baru saja terlelap disampingnya. "Zahra, ayo bagun, nak!."
"Ada apa, bu? kenapa ibu membangunkanku? Apa hari sudah pagi?," tanya Zahra sambil menguap lebar.
"Tidak, nak ini masih malam. Ibu membangunkanmu karena ibu ingin meminta tolong padamu."
"Meminta tolong apa, bu?" tanya Zahra kembali sambil merubah posisi tubuhnya menjadi duduk.
"Pergilah ke rumah pakde Iqbal. Bilang padanya kalau ibu sedang sakit."
Awalnya Zahra menolak perintah ibunya karena takut, sebab saat itu sudah terlalu malam, ia sangat takut dengan kegelapan. Tapi saat melihat ibunya jatuh tersungkur diatas lantai, ia pun akhirnya mau.
Sementara Zahra pergi ke rumah Iqbal untuk meminta bantuan, Larissa berusaha keras agar bisa mencapai pintu utama dengan menyeret tubuh.
Waktu demi waktu berlalu, namun Zahra tak juga kembali dari rumah Iqbal. Entah apa yang membuatnya belum juga kembali.
Sementara itu Larissa semakin tak kuasa menahan rasa sakit disekujur tubuh, sedang yang diharap segera datang membawa bantuan twak kunjung datang.
Entah kebetulan atau apa, tapi suasana di depan rumah begitu sunyi malam itu, padahal selama ini di jam-jam segini suasana masih ramai oleh lalu lalang orang yang lewat.
Larissa putus asa, hanya linangan air mata yang sanggup ia lakukan di tengah kesunyian malam itu. Perlahan kesadarannya pun mulai menghilang.
Ditengah keputusasaan, tiba-tiba Iqbal datang dari arah selatan dengan mengendari sepeda motor matic. Rupanya saat itu ia tak berada dirumah, pantas jika Zahra tak juga kembali dari tadi.
"Kakak!" teriak Larissa memanggil.
Iqbal mengenal betul seperti apa suara Larissa. Dan begitu ia mendengar suara teriakannya, ia segera menghentikan motor tepat di depan rumah Larissa. "Ada apa? Kenapa malam-malam begini masih di luar rumah?" tanyanya.
"Tolong aku kak, tubuhku terasa sakit semua" ucapnya lirih, linangan air mata tak henti mengalir karena rasa sakit yang tak tertahankan.
"Astaga, Larissa! Kenapa kau bisa seperti ini? Lalu dimana suamimu sekarang?"
"Suamiku pergi melaut sejak siang tadi, kak. Dia ikut damar."
"Kenapa dia malah tega meninggalkanmu disaat kondisimu seperti ini? Dan kenapa juga kau tak mencegahnya tadi?."
__ADS_1
"Tadi keadaanku baik-baik saja, kak, makanya aku mengizinkan dia berangkat tadi. Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja keadaanku seperti ini."
Iqbal menghela nafas berat. "Lalu apa yang kau inginkan sekarang?."
"Entahlah, kak, aku tidak tahu. Aku hanya merasa tubuhku terasa begitu sakit. Rasanya tulang-tulangku sangat nyeri."
"Bagaimana kalau sekarang kita ke puskesmas terdekat saja. Biar kau mendapat pertolongan pertama dulu."
"Terserah kakak baiknya gimana."
"Baiklah! Ayo, aku antar kau kesana!" Iqbal mengambil motor dan menghidupkan mesin. "Ayo kita berangkat!."
Larissa berusaha bangkit dan berdiri. Namun kondisi kakinya yang tak mampu menopang berat tubuh membuatnya kembali jatuh. "Arrgk...." rintihhnya kesakitan.
Iqbal panik melihat adik tirinya jatuh tersungkur. "Astagfirullah, Larissa!" teriaknya khawatir. Seketika itu ia matikan mesin motor dan berlari menghampiri. "Kau kenapa? Ada apa dengan kakimu?."
Larissa menangis kesakitan. "Aku juga tidak tahu, kak. Dari tadi kakiku rasanya sangat sakit."
"Kalau begitu biar aku gendong saja!" Iqbal mengulurkan tangan hendak mengangkat tubuh Larissa, namun dengan cepat ia cegah. "Tidak, kak, jangan!," ucapnya sambil menggelengkan kepala. "Lebih baik kau bantu aku berdiri saja."
Iqbal menganggukkan kepala. "Baiklah kalau itu maumu."
Larissa hanya menjawab dengan anggukan.
Seorang tetangga datang mendekat begitu melihat Iqbal membantu memapah tubuh Larissa. "Ada apa ini?" tanyanya.
Iqbal angkat bicara untuk menjawab pertanyaan tetangga itu saat melihat Larissa tak mampu lagi membuka suara. "Aku juga kurang tahu, mbak. Tadi saat pertama kali kulihat dia mengerang kesakitan di depan pintu. Katanya kakinya nggak kuat untuk berdiri."
Tetangga itu pun mengulurkan tangan menyentuh dahi Larissa. "Astaga! Kau demam tinggi," ucapnya terkejut. "Sekarang kau mau membawanya kemana?."
"Aku mau membawanya ke puskesmas terdekat, mbak. Biar dia segera mendapat pertolongan."
"Kalau begitu cepatlah berangkat dan hati-hati di jalan."
Iqbal mengangguk, segera menghidupkan motor kembali dan melajukannya dengan sangat hati-hati. "Berpeganganlah padaku agar kau tidak jatuh" ucapnya khawatir. Namun kekhawatirannya justru mendapat penolakan dari Larissa. "Tidak usah, kak, aku masih sanggup."
Larissa merasa kikuk berboncengan dengan lelaki lain meski itu saudara tirinya sendiri. Walau berbeda ayah namun mereka berasal dari rahim yang sama. Namun nyatanya hubungan mereka berdua tidaklah sedekat itu, apalagi komunikasi mereka baru berjalan baik setelah kematian sang ibu beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga puluh menit mereka pun sampai juga di puskesmas terdekat. Iqbal membantu memapah tubuh Larissa kembali dan membawanya ke ruang unit gawat darurat agar segera mendapat pertolongan.
"Mbak, tolongin adik saya," ucapnya pada seorang perawat jaga."
"Dia kenapa?."
"Aku juga kurang tahu, tapi dia memgalami demam tinggi."
Perawat memgambil sebuah brangkar yang berada tidak jauh di dekatnya dan mendorongnya kearah Larissa. "Tolong baringkan dia diatas sana."
Iqbal membantu membaringkan tubuh Larissa diatas brangkar. Perawat mulai memeriksa kondisinya. Selagi memeriksa ia mengajukan beberapa pertanyaan, "Sejak kapan mulai demam?."
"Sejak tadi siang, mbak."
"Apa yang anda rasakan sekarang?."
"Seluruh tubuh rasanya sangat nyeri sampai ke tulang. Sendi-sendi rasanya lemas, bahkan untuk berdiri saja tak sanggup."
Perawat terlihat mengangguk-anggukkan kepala dan mencatat semua keluhan Larissa. "Apa sebelumnya anda memiliki riwayat penyakit dengan demam tinggi?" tanyanya kembali."
"Ada, mbak! Dulu saya pernah masuk rumah sakit karena terkena demam malaria. Tapi beberapa hari yang lalu saya baru saja menjalani operasi pengangkatan benjolan di payudara."
"Coba saya lihat dulu bekas operasinya."
Larissa membuka beberapa kancing atas baju dan menunjukkan letak bekas operasi. "Sebelah sini, mbak!" ucapnya sambil menunjuk bekas yang dimaksud."
"Astaga!" pekik perawat saat melihat kondisi luka bekas operasi Larissa."
"Ada apa, mbak?" tanya Larissa panik saat mendengar pekikan perawat yang memeriksanya.
"Pantas saja anda mengalami demam tinggi. Lihatlah! payudara anda memerah."
Mendengar ucapan perawat Larissa pun turut panik. "Astaga! bagaimana mungkin?."
Perawat mengambil cairan antiseptik serta beberapa kapas dan menggunakannya untuk membersihkan bekas operasi Larissa. "Apa tadi anda tidak menyadari hal ini?."
Larissa menggelengkan kepala. "Tidak, mbak. justru saya baru tahu kalau payudara saya memerah saat mbak bicara tadi."
__ADS_1
Perawat menutup kembali pakaian Larissa setelah selesai membersihkan bekas lukanya. "Sepertinya luka anda mengalami infeksi!."