Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 57


__ADS_3

Larissa melayani hasrat suaminya untuk berhubungan intim walau tak ada gairah sedikitpun dalam dirinya. Ia melakukan hanya sebatas untuk menggugurkan kewajiban melayani suami.


Usai menyalurkan hasratnya, Hamzah berniat untuk kembali tidur. Namun Larissa menghentikannya. "Tunggu! jangan tidur dulu. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu!."


Hamzah menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan kembali duduk. "Katakan! apa yang ingin kau bicarakan denganku?."


Larissa menghela napas, mengumpulkan segenap keberanian yang ia punya. "Apa kau serius dengan keputusanmu kemarin? Apa kita harus berpisah dengan cara seperti ini?."


Tak ada jawaban dari Hamzah. Ia hanya diam membisu. Atau mungkin ia memang tidak memiliki jawaban atas pertanyaan yang diajukan istrinya.


Larissa tak menyerah. Ia kembali mengulang pertanyaannya. "Katakan! apa sebenarnya yang kau inginkan? Apa kita harus terus seperti ini bila kau sedang marah?."


Hamzah menghela napas. "Sebenarnya kemarin aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Aku bosan seharian dirumah terus. Tapi kamu malah sibuk sendiri dengan jualanmu."


Larissa geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan jalan pikirannya. Hanya karena masalah sepele, ia harus mendapat perlakuan seperti itu.


"Kalau kau ingin mengajakku jalan-jalan, kenapa kau tak mengatakannya?" ucap Larissa. "Sekarang aku tanya ke kamu. Apa aku pernah menolak kalau kamu ajak jalan?."


Tak ada jawaban dari Hamzah, Karena selama ini Larissa memang tak pernah menolak ajakannya.


Hening, untuk sesaat tak ada yang bersuara. Hingga akhirnya Hamzah memecah keheningan itu. "Sebenarnya setelah kamu beres-beres, aku ingin mengatakannya. Tapi kamu malah pergi ke pasar."


"Bukankah sebelum pergi aku sudah bertanya padamu, ada apa? apa ada yang kau inginkan? tapi kau malah diam saja, bukan?. Lalu apa salahku dalam hal ini? dimana letak kesalahanku?."


Kembali tak ada jawaban dari Hamzah. Karena apa yang dikatakan oleh istrinya memang benar.


Melihat kebungkaman suaminya, Larissa melanjutkan ucapannya. "Harusnya kalau kau berniat mengajakku keluar, kau mau sedikit membantuku agar semua cepat selesai. Tapi apa yang terjadi? kau membiarkanku melakukan semua pekerjaan sendiri. Bahkan memandikan Fatim pun tak kau lakukan."


"Jadi karena itu kau marah denganku?" ucap Hamzah tajam. Pandangannya menusuk ke arah Larissa.


"Bukan! bukan karena itu aku marah. Tapi ada hal lain lagi."

__ADS_1


"Sudahlah! berdebat denganmu tidak akan ada habisnya. Kau memang suka membesar-besarkan masalah."


"Bukan aku yang membesar-besarkan masalah, tapi kau!"


"Cukup! Aku ngantuk, ingin tidur" ucap Hamzah sambil bersiap untuk tidur kembali.


"Tunggu dulu! aku belum selesai bicara!" ucap Larissa, menghentikan suaminya.


"Apalagi yang ingin kau bicarakan?" ucap Hamzah. Ia kesal karena Larissa terus mengganggu tidurnya.


"Kenapa kau berbohong padaku?" tanya Larissa tanpa berbasa-basi lagi. Pandangan mata tertuju pada suaminya.


Hamzah mengernyitkan dahi, tak mengerti dengan maksud istrinya. "Apa maksudmu berkata seperti itu? mengapa kau menuduhku berbohong?."


"Aku mendengar kau mendapat bagian dua ratus ribu saat dapat tangkapan Dorang satu ton kemarin. Lalu kenapa kau bilang hanya dapat seratus ribu?."


"O....masalah itu!" jawab Hamzah enteng.


"Tidak ada maksud apa-apa" jawab Hamzah lagi. Ia tetap tak mau mengatakan yang sebenarnya.


Larissa tak menyerah. Ia terus bertanya. "Sekarang aku tanya, kemana uang itu? dan untuk apa?."


"Urusan laki-laki! kau tak perlu tahu!" jawab Hamzah singkat. Ia membuang muka kesamping.


Larissa membuang nafas kasar. Tak terima dengan jawaban suaminya. "Kau pernah berkata padaku, dasar sebuah hubungan adalah kejujuran dan kepercayaan. Lalu kenapa kau mengingkari ucapanmu sendiri?."


Hamzah bungkam, tak bisa menjawab pertanyaan Larissa.


Hening, tak ada yang membuka suara. Mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya Hamzah kembali membuka suara. "Kamu sekarang berani padaku. Kau tidak lagi menghormatiku sebagai suamimu."


"Lihat dulu! suami seperti apa yang harus dihormati? apa suami yang suka menyakiti hati istrinya? Suami yang suka main kekerasan pada istrinya? atau suami yang suka membohongi istrinya?" jawab Larissa. Ia tak terima dituduh seperti itu.

__ADS_1


Hamzah hanya diam, tak dapat menjawab pertanyaan Larissa. Ia tahu, semua yang Larissa katakan memang benar. Dialah penyebab perubahan pada diri istrinya.


"Kenapa kau hanya diam? ayo katakan! suami seperti apa yang kau maksud?" tanya Larissa kembali.


Hamzah tetap diam, tak mampu menjawab pertanyaan istrinya. Atau memang ia tak miliki jawaban atas setiap pertanyaan istrinya itu.


Hening, kebisuan kembali tercipta. Tapi tak berselang lama Hamzah kembali membuka suara. "Seorang istri yang baik akan melayani semua kebutuhan suaminya. Tapi apa yang kau lakukan? kau malah membiarkanku kelaparan."


Larissa tersenyum sinis menanggapi ucapan suaminya. "Lalu, apa kau memberiku nafkah? kau pikir bisa memasak kalau kau tak memberiku uang?."


Hamzah diam tak berkutik mendengar jawaban istrinya. Karena beberapa hari ini ia memang tak memberikannya nafkah lahir.


"Kenapa kau hanya diam? ayo jawab, jangan hanya diam saja!" Suara Larissa sedikit meninggi. Ia tak terima suaminya menuduhnya seperti itu. "Sekarang kau pikir! andai aku tidak berjualan, apa aku dan Fatim tidak akan kelaparan juga?"


Hamzah masih diam, tak berani menjawab perkataan istrinya.


"Kalau kau merasa lapar, kenapa tak membeli makanan sendiri? bukankah kau menyimpan uang? Lalu untuk apa uangmu? kau kemanakan uang itu?."


Hamzah tetap bungkam, tak mampu membantah ucapan istrinya.


Larissa meneruskan ucapannya tanpa memperdulikan kebungkaman suaminya. "Aku mungkin bersalah karena semalam menolak mu untuk melakukan hubungan intim. Tapi ini bukan sepenuhnya salahku. Kau yang membuatku melakukannya. Kau yang memaksaku melakukan itu. jadi jangan bilang kalau aku tak mau melayanimu "


Malam itu, Larissa benar-benar mengeluarkan semua keberaniannya. Ia tak lagi diam dan menerima semua perlakuan Hamzah padanya. Bila Hamzah berkata satu kalimat, maka Larissa akan menjawab dengan seribu kalimat.


Ditengah perbincangan serius, tiba-tiba Fatim terbangun dan menangis. Memaksa Larissa untuk menunda pembicaraan mereka.


Hamzah pun kembali merebahkan tubuh. Namun ia tak benar-benar tidur. Agaknya semua perkataan Larissa mengusik hati kecilnya.


Hidup telah mengajarkan banyak hal pada kita, tak terkecuali untuk Larissa juga. Dari peristiwa ini ia belajar, bahwa ia harus berani bicara bila tak bersalah.


Dulu ia berpikir bahwa seorang suami harus selalu dihormati dan dituruti semua perkataannya. Ia harus mengalah dan menerima semua perlakuan sang suami.

__ADS_1


Tapi kini tidak lagi. Seorang suami hanyalah manusia biasa yang tak pernah luput dari kesalahan. Dan ia berkewajiban untuk menyadarkan kesalahan suaminya itu agar tak mengulang kembali kesalahannya. Dan bukankah suami istri memiliki hak dan kewajiban yang sama juga.


__ADS_2