
Happily Ever After, bahagia selama-lamanya. Biasa terlihat saat kita selesai menyaksikan atau membaca kisah dongeng seperti Cinderella atau Putri Salju.
Dua tokoh, pangeran dan putri yang sangat sempurna. Prince charming dengan kuda putih dan pedang panjang untuk melawan penyihir keji. Princess sweet yang selalu cantik dan menunggu untuk diselamatkan oleh sang pangeran.
Tidak ada kisah dongeng yang pernah menjelaskan bagaimana kehidupan keduanya setelah bersatu dalam ikatan pernikahan. Hanya ditulis..... Mereka pun hidup bahagia untuk selama-lamanya.
Iya kah? Benarkah mereka hidup bahagia untuk selama-lamanya?
Padahal dalam sebuah pernikahan, hidup yang sesungguhnya baru saja dimulai. Istilah "Selamat menempuh hidup baru" yang kerap diucapkan para tamu undangan sebenarnya memiliki makna tersendiri.
Ketika dua orang manusia menikah, maka mereka akan menjadi satu kesatuan. Dua pribadi yang berbeda, menjadi satu. Dua masa lalu yang berbeda, menjadi satu. Dua latar belakang berbeda, menjadi satu. Dua hati yang berbeda menjadi satu.
Maka, kehidupan baru mereka dapatkan sebagai hasil dari peleburan dua dunia tersebut. Akan tetapi siapa mereka sebenarnya tidak pernah hilang sepenuhnya. Pada saat-saat tertentu, sifat asli mereka akan keluar dan menguasai diri, khususnya di saat emosi datang lalu menghilangkan akal sehat.
Hamzah, dengan ketidakmampuannya menahan emosi. Begitu marah besar terhadap istrinya saat mendengar sang ibu telah dihina olehnya tanpa ada keinginan untuk mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu.
Larissa, begitu kecewa dan sakit hati mendapati kenyataan bahwa sang suami tak mempercayai ucapannya lagi, hingga membuatnya berani bersikap kurang ajar terhadap suaminya. Padahal ia sendiri tak mau mencari kebenarannya.
Apakah mereka berdua salah? bisa jadi. Apakah mereka berdua benar? mungkin saja. Dalam hidup, siapa yang bisa menentukan mana salah dan mana yang benar ketika cinta sudah berada di tengah-tengah pusaran? menjungkir balikkan hati serta Nalar.
Bukankah hati seseorang itu berubah secepat munculnya buih air saat dipanaskan? sesaat gembira, sesaat kemudian menangis pedih.
Pernikahan adalah sebuah ujian, perjuangan panjang yang sangat berat, lebih berat dari mengangkat senjata dan menghabisi musuh-musuh dengan butir peluru. Kerap membawa air mata, meruntuhkan rasa di jiwa.
Perjuangan tentang sejauh mana dua sosok manusia berkomitmen mempertahankan hubungan. Tetap bersama walau mereka juga sedang berjuang untuk bisa kembali mencintai satu sama lain.
...****************...
Setiba di rumah Larissa segera memberitahukan hal itu pada suaminya.
"Kurangajar! Jadi selama ini dia yang sudah mengadu domba kita?" teriak Hamzah marah, Jemari tangan terkepal kuat dengan urat leher menegang.
__ADS_1
"Aku rasa begitu."
"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus memberinya pelajaran sekarang juga!." Bangkit dari tempat duduk dan mengambil kunci motor.
Melihat hal itu Larissa lari secepat mungkin mengejar suaminya. "Jangan pergi, Entik!." Dipegangnya lengan sang suami kuat-kuat saat ia hendak memghidupkan medin motor.
"Lepasakan aku, Encus. Aku harus memberinya pelajaran agar tidak melakukan hal yang sama terhadap orang lain" ditariknya kembali lengannya dari pegangan Larissa.
Larissa tak mau melepaskan pegangannya, malahan ia semakin mengeratkannya. "Jangan lakukan apapun yang nantinya kau sesali," ucapnya sambil menggeleng pelan.
"Yang terpenting dari semua ini adalah kesalahpahaman diantara kita telah terselesaikan. Kita sama-sama tahu kalau kita sedang diadu domba orang lain. Itulah mengapa aku memberitahukan hal ini padamu."
Perlahan kemarahan Hamzah pun mereda. "Kita masuk lagi kedalam, yuk!" ajak Larissa yang dijawab dengan sebuah anggukan oleh suaminya.
"Aku rasa kita harus memberitahukan hal ini juga pada ibu, biar beliau tidak salah paham lagi" ucap Larissa setelah mereka kembali masuk.
Namun ternyata Hamzah malah menolak usulan itu. "Aku rasa itu tidak perlu!."
Larissa mengerutkan dahi bingung. "Tapi kenapa? Bukankah itu malah bagus?."
"Tapi...."
Belum selesai Larissa bicara, Hamzah sudah memotongnya. "Sudahlah, Encus, percayalah padaku!. Aku jauh lebih mengenal bagaimana kedua orangtuaku."
Mau tak mau Larissa harus mengalah. Ia hanya bisa menghela napas pasrah.
Hari itu semua kesalahpahaman diantara mereka sirna. Mereka sama-sama berjanji untuk lebih mempercayai satu sama lain.
Satu hal yang Larissa tak mengerti, kenapa mbak Ika melakukan ini padanya. Padahal selama ini ia selalu bersikap baik padanya.
Membicarakan tentang mbak Ika membuat ingatan Larissa kembali disaat ia memimjam uang darinya dulu.
__ADS_1
Saat itu Larissa baru saja berhasil melunasi semua hutang-hutang di Bank. Mbak Ika datang menemuinya di rumah sambil menggendong anaknya yang masih bayi, sedang tangannya menggandeng anaknya yang satunya lagi yang seumuran dengadn Zahra.
Saat itu ia menangis di hadapan Larissa ingin meminjam uang darinya karena tak memiliki uang, sedang dirinya dikejar-kejar oleh penagih hutang. Menurut pengakuannya ia terpaksa terbelit hutang lantaran butuh uang untuk membetulkan saluran air dirumahnya.
Hati siapa yang tak kan iba melihat seorang ibu menangis dihadapannya sambil membawa kedua anaknya untuk mencari pinjaman, padahal saat itu matahari tengah bersinar dengan teriknya.
Begitu juga dengan Larissa, luluh dengan air mata yang mbak Ika keluarkan. Terlebih ia memiliki hati yang sangat lembut.
"Berapa uang yang mbak Ika perlukan?" tanyanya, padahal saat itu ia sendiri hanya memiliki uang beberapa lembar lantaran sudah digunakan untuk melunasi hutang di Bank.
"Lima ratus ribu rupiah, mbak!."
"Wah, maaf, mbak! Kalau segitu saya nggak punya," jawab Larissa, kedua tangan menangkup di depan dada.
"Tolongin saya, mbak. Saya mohon" ucap mbak Ika mengiba.
"Tapi saat ini saya memang benar-benar tidak memiliki uang sebanyak itu, mbak. Saya baru saja memakainya untuk melunasi hutang di Bank."
"Kalau begitu sepunyanya mbak Rissa saja."
"Saat ini saya hanya punya seratus lima puluh ribu."
"Segitu juga nggak pa pa, mbak!."
"Tapi...." Awalnya Larissa ragu untuk memberika uang itu. Namun karena terus didesak oleh mbak Ika, akhirnya ia pun luluh. Dan bodohnya lagi, ia malah memberikan semua uang yang ia punya tanpa memikirkan dirinya sendiri.
mengetahui hal itu tentu saja Hamzah memarahinya. Namun Larissa mengatakan jika dirinya tak tega melihat kedua anak yang dibawanya.
"Kasihan sih kasihan, tapi nggak semuanya juga dong. Harusnya kamu sisihkan sebagian untuk keperluan kita juga. Kalau sudah begini, siapa yang repot? Kita sendiri kan?" omel Hamzah.
"Kalau niat nolongin orang, jangan ngomel-ngomel, ikhlasin aja napa? Siapa tahu suatu saat nanti disaat kita butuh bantuan, dia yang nolongin kita. Bukankah semua orang harus saling tolong menolong?."
__ADS_1
Hamzah tahu istrinya paling nggak bisaan dengan orang lain. Dan jika dia sudah berkata seperti ini, maka ia pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Niat hati ingin menanam kebaikan, tapi kini kebaikan itu malah dibalas dengan kejahatan. Hal inilah yang membuat sebagian orang jadi enggan untuk melakukan kebaikan.