Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 29


__ADS_3

Mau tidak mau Larissa harus tetap dioperasi. Entah dari mana uang untuk membayar biaya operasi nanti. Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan nyawa bayi dalam kandungannya.


Larissa sudah berjuang keras selama masa kehamilan ini. Ia juga sudah mengalami sakitnya kontraksi selama tiga hari empat malam. Ia tidak ingin mengambil resiko kehilangan anak untuk kedua kali, apalagi di saat-saat terakhir seperti ini hanya karena terganjal masalah biaya.


Mobil ambulans dari puskesmas sudah tiba. Bu bidan sengaja menggunakan mobil ini agar lebih cepat sampai ke rumah sakit. Terlebih masalah yang dihadapi sangat serius. Terlambat sedikit saja, maka nyawa taruhannya.


Hari itu hari Jumat. Tepat adzan dhuhur berkumandang, Larissa sampai dirumah sakit yang berada di kota. Ia segera dibawa ke ruang UGD untuk mendapatkan penanganan.


Setelah lama diperiksa, Larissa pun dipindahkan ke ruang bersalin. Disana ia diberi dua buah pil yang entah apa khasiatnya. Dan setelah itu, ia ditinggal pergi.


Setelah menunggu sekian lama, belum juga ada petugas yang kembali. Larissa menanti dengan harap-harap cemas. Ia khawatir bayinya tidak tertolong.


Pintu terbuka, seorang perawat masuk. Larissa bertanya, "Mbak, maaf. Saya mau tanya. Kenapa saya belum juga dioperasi? Tadi katanya bayi saya harus segera dikeluarkan dengan cara operasi."


Perawat itu tersenyum mendengar pertanyaan Larissa. "Anda tidak perlu dioperasi, mbak. Kondisi anda masih memungkinkan untuk bisa melahirkan secara normal. Obat yang tadi dokter berikan adalah obat perangsang kontraksi, agar pembukaan bisa berlangsung cepat. Sekarang pun pembukaan anda sudah menunjukkan kemajuan. Sudah buka empat" terang perawat itu panjang lebar.


Larissa tersenyum lega mendengar keterangan perawat tadi. Setidaknya impiannya untuk bisa melahirkan secara normal akan terwujud. Terlebih ia juga tidak akan dipusingkan dengan biaya operasi yang tentu saja sangat mahal.


Perawat membereskan semua peralatannya dan keluar dari ruangan setelah selesai memeriksa.


Rasa sakit yang Larissa alami semakin kuat. Ia bolak balik ke kamar mandi karena ingin buang air. Sebenarnya bukan karena buang air, tetapi bayi dalam perutnya yang terus mendesak ingin segera keluar. Sehingga ia merasa seakan ingin buang air.


Larissa jungkir balik diatas ranjang. Ia bolak balik mengubah posisi tidur saking hebatnya rasa sakit yang ia rasakan. Bahkan ia sampai meneteskan air mata karena tidak kuat dengan rasa sakit itu.


Tiba-tiba sesuatu keluar dari sela ke dua kakinya. Sesuatu itu adalah lendir bercampur darah. Begitu banyak darah yang ia keluarkan. Bahkan pakaian yang ia kenakan sudah berubah warna seperti darah.


Larissa pun berteriak kesakitan. Bersamaan dengan itu, tubuhnya menggigil kedinginan. Saking dinginnya, ia merasa seperti terkena hipotermia.

__ADS_1


Larissa meminta Hamzah untuk mematikan AC ruangan. Ia mengira dingin yang dirasakan karena AC yang menyala.


Hamzah menuruti permintaan istrinya. Ia mengambil remote AC yang terletak diatas nakas, tidak jauh dari ranjang Larissa.


Hamzah garuk-garuk kepala. Pasalnya saat itu AC dalam keadaan mati, sedang Larissa terus menggigil dan mengeluh kedinginan.


Hamzah khawatir dan ketakutan melihat kondisi istrinya. Belum pernah ia melihat Larissa kesakitan seperti ini. Ia pun menyelimuti tubuh Larissa agar tidak kedinginan lagi.


Bukan hanya satu, Hamzah bahkan menggunakan tiga lapis selimut sekaligus untuk menghangatkan tubuh istrinya. Tapi Larissa tetap saja menggigil kedinginan.


Hamzah semakin ketakutan melihat kondisi istrinya. Tanpa berpikir lama, ia pun mendekap tubuh sang istri untuk menyalurkan kehangatan dari dalam tubuhnya. Bahkan ia sampai mengeluarkan air mata karena tidak tega melihat kondisi sang istri.


Rupanya tindakan Hamzah ini adalah sebuah tindakan yang tepat. Terbukti Larissa tak lagi menggigil kedinginan. Walau rasa sakit itu tak juga berkurang.


Tak berselang lama, pintu kembali terbuka. Bu Ani dan Iqbal masuk kedalam ruangan untuk melihat kondisi Larissa.


Saking khawatirnya, Iqbal bahkan tak sempat untuk berganti pakaian dulu. Ia bahkan tidak sempat membereskan jaring yang sedang ia perbaiki, tergeletak begitu saja.


Bu Ani dan Iqbal berjalan mendekati ranjang Larissa. Bu Ani meneteskan air mata, tak kuasa melihat kondisi anaknya yang tengah kesakitan, berjuang untuk melahirkan.


Pandangan Larissa tertuju pada kakaknya. Sebuah permintaan maaf terucap dari bibirnya. "Kak, maafkan semua kesalahanku. Tolong doakan aku agar diberi kemudahan untuk melahirkan" ucapnya tulus.


Iqbal meneteskan air mata mendengar permintaan maaf yang tulus dari adik tirinya itu. "Kakak sudah memaafkan semua kesalahanmu. Kakak juga berdoa semoga Allah memberi kemudahan untukmu. Kakak sungguh tidak tega melihatmu seperti ini" ucapnya sambil mengusap kepala Larissa dengan lembut.


"Terimakasih, kak!."


Iqbal mengusap air matanya. Kali ini pandangannya beralih ke arah sang ibu. Ia mengajaknya untuk sedikit menjauh dari ranjang Larissa. "Ibu, coba cari pinjaman pada siapa-siapa. Kita operasi saja larissa. Aku tidak tega melihat kondisinya."

__ADS_1


"Pinjam uang ke siapa, nak? ibu juga bingung sekarang" jawab sang ibu.


"Tidak, Bu. Aku tidak mau dioperasi. Aku ingin melahirkan secara normal" tolak Larissa cepat. Walau ibu dan Iqbal berbicara dengan berbisik-bisik, Larissa masih bisa mendengar pembicaraan mereka.


Pintu kembali terbuka. Kali ini seorang dokter beserta seorang suster yang masuk. Suster meminta semua orang untuk keluar dari ruangan karena dokter akan memeriksa.


Hamzah, Iqbal, dan Bu Ani pun keluar ruangan. Tinggallah Larissa sendirian disana bersama dokter beserta perawatnya.


Dokter membuka kedua kali Larissa. Memastikan seberapa jauh perkembangan pembukaan jalan lahirnya. Ternyata Larissa sudah buka tujuh. Tinggal sedikit lagi, dan dia akan siap untuk melahirkan.


Dokter berkata, "Pembukaannya sudah bagus, sudah buka tujuh sekarang. Tinggal sedikit lagi. Tapi ingat, jangan mengejan dulu sebelum saya perintahkan. Khawatir jalan lahirnya malah robek."


"Tapi, dok. Bayi saya terus menekan ingin keluar. Saya sudah berusaha untuk tidak mengejan tapi tidak bisa" jawab Larissa.


"Saya tahu!. Bayi memang akan terus menekan seperti itu dan memaksa untuk keluar. Itu sudah insting alaminya," ujar dokter. "Tapi saya ingatkan sekali lagi. Jangan pernah mengejan sebelum pembukaan anda lengkap. Bila anda memaksa, maka keadaan akan bertambah sulit."


"Lalu saya harus bagaimana, dok?."


"Coba anda menarik nafas dan membuangnya kembali saat merasa bayi anda menekan. Usahakan sebisa mungkin untuk tidak mengejan."


"Baik, dok!. Saya akan melakukan saran dari dokter."


"Kalau begitu saya permisi dulu. Nanti saya akan kembali lagi ke sini. Saya mau memeriksa pasiendien yang lain dulu."


"Baik, dok, terimakasih!."


Dokter beserta perawat pun keluar dari ruangan itu. Kini tinggallah Larissa sendiri. Benar-benar sendiri, dengan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


__ADS_2