
Hamzah menepati janji untuk mengantar Larissa ke tempat pemakaman ibunya. Namun dihari yang sama Izza, adik perempuan Hamzah juga akan melangsungkan pernikahan pula. Merasa tak enak hati dengan keluarga Hamzah karena tak membantu apapun sejak kemarin, mereka pun sepakat untuk melihat pernikahan Izzah dulu baru ke pemakaman.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba disana, terlebih dengan menaiki sepeda motor. Sebab jarak dari rumah Larissa ke rumah orangtua Hamzah hanya beberapa ratus meter saja.
Di beberapa desa kecil di indonesia seperti desa tempat tinggal Larissa, para warga masih menjunjung tinggi asas gotong royong. Apabila ada salah satu warga yang memiliki hajat atau sedang tertimpa musibah, mereka akan datang membantu tanpa diminta. Dan kini mereka pun sedang bergotong royong membantu mempersiapkan acara pernikahan Izzah. Bahkan ada seorang warga yang merelakan halaman rumahnya disulap menjadi dapur umum.
Begitu sampai, Larissa langsung memasuki dapur umum untuk membantu pekerjaan para ibu-ibu disana.
"Alhamdulillah, kau bisa kesini juga, nak!," ucap salah satu ibu saat melihatnya datang.
"Ya, bu, nggak enak kalau nggak ikut bantu. Tapi maaf, saya nggak bisa lama. Habis ini saya mau mengunjungi makam ibu, sebab cuma saya saja yang belum tahu dimana makam ibu."
"Tidak apa, nak! Yang penting kau sudah mau bantu."
"Maaf kalau saya nggak bisa bantu banyak, soalnya hari ini juga adalah tujuh hari meninggalnya ibu, jadi nanti malam mau ngadain pengajian untuk mendoakannya."
"Kau memang anak yang baik. Semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan padamu."
Larissa mengaminkan doa yang ditujukan untuknya oleh ibu itu. Tak lupa senyuman manis ia berikan pula.
"Oh ya, bagaimana keadaanmu sekarang? ibu dengar baru-baru ini kau habis menjalani operasi?."
"Iya, bu, tapi sekarang sudah membaik. Semoga saja penyakitku itu tidak muncul lagi."
"Amiin."
Larissa rasa pembicaraan mereka harus terhenti sampai disitu. Kalau tidak, ia tak kan bisa membantu apa-apa dan hanya terus mengobrol. "Kalai begitu saya permisi dulu, bu. Saya mau bantu yang lain."
Sementara itu disisi lain Hamzah sibuk membantu mendirikan pelaminan bersama bapak-bapak yang lain.
__ADS_1
...****************...
"Ibu, aku datang mengunjungimu. Maaf, aku baru bisa datang sekarang," ucap Larissa saat tiba di hadapan makam sang ibu.
Perlahan ia posisikan tubuh sejajar dengan makam itu. Tangan terulur menyentuh batu nisan bertuliskan nama ibunya. Bau tanah terasa masih begitu segar, seakan baru kemarin jasad sang ibu dikebumikan. "Bagaimana kabar ibu disana? Aku harap ibu mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah."
Tak ada lagi air mata yang mengalir dari kedua mata. Ia sudah ikhlas untuk melepas kepergian ibunya pada sang Pemilik kehidupan. Terlebih lagi ia tahu, bahwa apabila ada sanak keluarga yang masih menangisi kepergian orang yang telah meninggal, maka orang itu tidak akan tenang di alam kubur, dan Larissa tak ingin hal itu terjadi pada ibunya.
perlahan ia pejamkan mata, kedua tangan menegadah ke atas sambil mulut komat-kamit mengucap doa-doa yang ditujukan untuk sang ibu.
Hamzah memposisikan diri disamping istrinya, turut melakukan seperti yang ia lakukan.
Perlahan Larissa membuka mata, bibir mengucap kata amin dengan tangan mengusap wajah. Rupanya ia telah usai memanjatkan doa. Tak lupa ia taburkan bunga tujuh rupa yang sempat ia beli sebelum datang kemari keatas makam sang ibu.
Setelah semua selesai dilakukan, Larissa berpamitan pulang. "Ibu, aku pamit pulang dulu. Lain kali aku akan datang kesini lagi," diusapnya batu nisan sang ibu seakan menyentuh ibunya secara langsung.
"Kau sudah merasa lebih lega?," tanya Hamzah saat mereka sampai diluar area pemakaman.
Larissa mengangguk. "Iya, sekarang aku merasa lebih lega. Terimakasih sudah mau mengantarku ke sini."
"Sama-sama, aku senang mendengar kau sudah lega," senyum manis terukir di wajah. "Kalau begitu kita pulang sekarang. Kasihan Zahra kalaunkita tinggal terlalu lama."
Larissa mengangguk, dan mereka pun berlalu meninggalkan tempat itu.
...****************...
Larissa sangat bahagia. Semakin hari Hamzah semakin menunjukkan cinta dan kasih sayang untuknya, terlebih setelah kepergian sang ibu.
Hamzah bukanlah orang yang romantis. Ia tipikal orang yang tak banyak bicara. Ia lebih suka menunjukkan cinta dan kasih sayang dengan perbuatan daripada mengumbar kata-kata mesra.
__ADS_1
Awalnya Larissa tak mengerti, ia sangat ingin mendengar kata-kata manis dari suaminya seperti yang diinginkan para wanita yang lain dari suami mereka. Namun seiring waktu ia menyadari bahwa dirinya keliru. Dan ia tak pernah mempermasalahkan hal itu lagi.
Hari ini resepsi pernikahan Izzah dilangsungkan. Sejak pagi Hamzah beserta keluarga kecinya sudah ada disana untuk membantu. Tak banyak yang bisa mereka lakukan, sebab semua sudah siap sejak kemarin.
Hari beranjak siang, keluarga pihak mempelai pria mulai datang. Semua bersiap untuk menyambut kedatangan mereka.
Seperti yang lain, Larissa dan Hamzah juga melakukan hal yang sama. Terlebih ini adalah kali pertama mereka melihat suami dari Izzah.
Saat prosesi lamaran Izzah berlangsung, mereka tak bisa ikut lantaran saat itu Larissa juga tengah berjuang diatas meja operasi.
Pandangan Larissa mencari-cari sosok suami dari adik iparnya itu. Ia begitu penasaran seperti apa wajahnya. Banyak orang mengatakan bahwa Izzah sangat beruntung karena bersuamikan anak orang kaya.
Pandangan mata Larissa tertuju pada sesosok lelaki yang ia yakini sebagai suami Izzah, terlihat dari pakaian yang dikenakannya saat ini. Namun saat ia melihat wajah lelaki itu, ia justru merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang tak seharusnya terjadi terlebih ia sudah memiliki suami.
Ya, Larissa merasakan getaran-getaran cinta, getaran yang sama seperti yang ia rasakan saat pertama kali bertemu dengan Hamzah, suaminya. Sebuah getaran yang sangat salah. "Apa ini yang sedang aku rasakan? Mengapa aku merasakan getaran ini?."
Cepat-cepat Larissa menepis perasaan itu. "Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Perasaan ini salah, aku tidak boleh membiarkan hal ini terjadi."
Larissa memalingkan wajah dan memilih untuk segera meninggalkan tempat itu. Ia tak ingin perasaannya semakin kacau bila melihat pria itu terlalu lama.
Acara resepsi pun dimulai, semua duduk di tempat masing-masing. Pembawa acara maju ke depan untuk memandu jalannya acara.
Acara berjalan dengan lancar. Semua terjadi sesuai dengan yang diinginkan. Hingga kini tibalah di penghujung acara, yaitu doa.
Sepanjang acara berlangsung, larissa memilih untuk menyembunyikan diri di dapur umum. Ia tak ingin getaran yang ia rasakan tadi kembali muncul bila menampakkan diri diluar.
Semua acara telah usai. Makanan pun mulai dihidangkan. Semua ibu-ibu yang ada di dapur berbaris memanjang untuk menyalurkan makanan.
Sejenak larissa lupa dengan getaran yang dirasakannya tadi dan turut serta dalam barisan itu. Namun tiba-tiba ia merasakan nyeri yang sangat hebat pada ***********
__ADS_1