Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 85


__ADS_3

Larissa kesal karena ditertawakan oleh suaminya saat dirinya berpura-pura menolak tawarannya untuk makan lagi. "Ya udah, nggak usah. Selera makanku tiba-tiba hilang."


Hamzah menutup mulutnya dan berhenti tertawa. "Maaf maaf, aku cuma bercanda. Jangan ngambek gitu dong. Nanti hilang loh cantiknya."


"Ya sudah, sini aku suapi lagi." Hamzah beranjak mengambil nampan berisi sarapan dan mulai menyuapi sang istri.


"Aku juga cuma bercanda," jawab Larissa nyengir kuda. Dilahapnya suapan dari sang suami.


Larissa terlihat lahap memakan sarapan pagi. Entah kenapa nafsu makannya jadi meninggi pasca operasi. Hingga tak butuh waktu lama makanan pun telah habis.


Hamzah menyodorkan segelas air putih pada istrinya beserta obat yang harus diminumnya pagi ini usai meletakkan kembali nampan yang dipegangnya. "Sekarang minum obatnya dulu."


Larissa mengambil air minum beserta obat dari tangan suaminya dan segera meminumnya. Kemudian ia kembalikan lagi gelas itu pada suaminya.


"Entik, aku tidak betah lama-lama berada disini. Aku tidak suka bau rumah sakit. Ku ingin pulang," ucap Larissa.


Setali dua tali, Hamzah pun merasakan apa yang Larissa rasakan. Ia bahkan sangat rindu dengan putri sematawayangnya di rumah. "Sabar dulu, ya. Semalam dokter mengatakan kalau pagi setelah sarapan kau bisa langsung pulang. Tapi entahlah! Nanti coba aku tanyakan ke perawat yang berjaga."


Larissa cemberut, ia merajuk. "Tapi aku maunya sekarang."


Hamzah tersenyum. Ia tahu bahwa saat ini Larissa tengah merajuk. Apalagi istrinya itu memang sangat manja padanya. Namun ia tak marah. Justru ia sangat senang dengan sifat istrinya yang satu ini. "Sabar dulu. Nanti kalau sudah waktunya, pasti diperbolehkan!."


Larissa diam. Namun bibirnya tak jua berhenti cemberut. Hamzah pun berinisiatif dengan mengajaknya bercerita untuk mengalihkan pikirannya. "Apa kau tahu, kenapa aku sangat lega begitu melihatmu di balkon tadi?."


Larissa menggelengkan kepala. "Tidak! Kenapa?."


Hamzah pun menceritakan apa yang dilihatnya tadi saat berada di warung kopi. "Aku begitu takut kehilanganmu. Aku takut akan menghabiskan sisa umurku tanpa kamu disisiku," digenggamnya jemari tangan Larissa.


Ungkapan hati Hamzah terdengar begitu tulus, dan Larissa merasa tersentuh dengan ungkapan itu. "Aku tidak akan kemana-mana. Kita akan menua bersama, dan mati pun bersama."


"Kau tahu, saat aku tak melihatmu berada di kamar tadi, aku langsung mencarimu ke semua tempat. Bahkan aku mengitari seluruh area rumah sakit seperti orang gila."


Larissa tertawa renyah mendengar pengakuan Hamzah. "Emangnya kamu pikir aku mau kemana dengan keadaan seperti ini?," dicubitnya kecil ujung hidung sang suami.

__ADS_1


Hamzah mengedikkan kedua bahu. "Entah! Jalan-jalan ke mall di depan rumah sakit itu kali," jawabnya asal.


Hamzah seakan tersihir melihat tawa lepas di wajah sang istri. Tawa yang telah lama tak ia lihat sejak kelahiran putrinya. Tawa yang selama ini ia rindukan. "Cantik!" ucapnya tanpa sadar.


Larissa berhenti tertawa saat mendengar suaminya mengatakan sesuatu yang kurang jelas. "Kau bilang apa tadi?" tanyanya.


"Cantik!" ucap Hamzah, mengulang kembali ucapannya tadi. "Kau sangat cantik saat tertawa lepas seperti tadi."


"Apapun yang terjadi, teruslah tertawa seperti itu. Aku ingin terus mendengar tawamu itu."


Tawa Larissa semakin pecah mendengar jawaban suaminya. "Mana ada orang habis operasi pergi ke mall. Kamu ini ada-ada saja."


Wajah Larissa bersemu merah seperti kepiting rebus mendengar icapan suaminya. Namun ia berpura-pura marah untuk menutupi rasa malu. "Ala....gombal. Sejak kapan kamu jadi pintar ngegombal seperti ini?."


"Sejak aku menyadari betapa berharganya dirimu dalam kehidupanku hingga membuatku takut kehilanganmu."


Blus...


Pipi Larissa semakin memerah. Ia pun mengambil bantal untuk menutupi wajahnya. Namun Hamzah malah merebut bantal itu dari tangannya. "Kenapa kamu tutupi wajahmu. Justru aku sangat suka melihat wajah malu-malu mu."


"Tapi kamu suka kan aku gombalin?" goda Hamzah.


Larissa mendelik kesal kearah Hamzah. "Entik!!!."


"Ha ha ha," tawa Hamzah pecah melihat ekspresi kekesalan istrinya karena terus ia goda.


Larissa semakin kesal melihat suaminya tertawa diatas kekesalannya. "ish kamu ini!" dipukulnya bahu Hamzah. Namun pukulan itu tak terasa apa-apa di tubuh kekar suaminya.


"Ok ok, aku berhenti tertawa sekarang."


Walau suaminya telah berhenti tertawa namjn kekesalan di hati Larissa tak juga hilang. "Lagian kamu juga. Bukannya mencariku di sekitar ruangan, malah mencari di luar ruangan. Mana bisa ketemu?."


"Mana aku tahu. Aku langsung panik gitu aja saat tak melihatmu disini tadi."

__ADS_1


"Terus kenapa tak mencoba mencariku di balkon tadi?."


"Oh iya, ya! Kenapa tadi nggak kepikiran, ya?" ucap Hamzah dengan gaya menyebalkan namun malah terlihat konyol dimata Larissa. Niat hati ingin menirukan ucapan salah satu pemain di sebuah sinetron televisi, namun itu tak sesuai dengan imagenya selama ini.


Tawa Larissa kembali berderai melihat gaya konyol Hamzah. Sungguh itu adalah hiburan tersendiri baginya. Apalagi selama ini Hamzah tak pernah bersikap seperti itu padanya.


Melihat tawa istrinya Hamzah merasa senang. Agaknya ia telah berhasil mengalihkan pikiran Larissa agar tak terus merajuk minta pulang.


Ditengah senda gurau mereka tiba-tiba pintu terbuka. Nampak seorang perawat muncul dibaliknya sambil membawa senjata andalannya, apalagi kalau bukan peralatan pemeriksaan kesehatan.


"Permisi, bu, pak, saya mau memeriksa keadaan ibunya dulu."


"Oh, silahkan!." Hamzah mundur beberapa langkah, membiarkan perawar menhalankan tugasnya.


Dengan cekatan perawat mulai memeriksa kedaan Larissa. Dimulai dari tekanan darah hingga perban yang menutupi jahitan operasi. Sambil memeriksa perawat bertanya, "Apa ibu sudah sarapan tadi?."


"Sudah, mbak!," jawab Larissa singkat.


"Apa sudah minum obat?" kembali perawat mengajukan pertanyaan yang dijawab Larissa dengan dengan jawaban yang sama. "Sudah, mbak!."


"Baik! kondisi ibu sudah baik, jahitannya juga baik."


"Jadi kapan saya boleh pulang, mbak? Semalam dokter mengatakan kalau saya sudah boleh pulang setelah sarapan pagi ini." kali ini Larissa lah yang bertanya. Ia berinisiatif bertanya sendiri karena melihat suaminya tak juga menunjukkan tanda-tanda akan bertanya. Ia sudah tak betah berlama-lama di rumah sakit.


"Betul, bu. Tapi tunggu sebentar, ya. Biar kami persiapkan berkas-berkas kepulangan ibu dulu."


"Baik, mbak!"


"Kalau begitu saya permisi dulu!." Dan perawat itu pun kembali menghilang dibalik pintu.


"Huft..." Larissa mendesah lesu. Pandangannya dibuang kearah luar jendela.


Hamzah mengerti kebosanan sang istri. Namun ia tak bisa berbuat banyak. Apalagi mereka menjalani pengobatan di tumah sakit ini hanya dengan mengandalkan kartu sehat dari pemerintah saja. Sehingga mau tak mau mereka harus patuh pada aturan dan kebijakan rumah sakit.

__ADS_1


Lama menunggu akhirnya seorang perawat kembali datang membawa kabar yang ditunggu-tunggu sejak tadi. "Bu Larissa, sudah diperbolehkan untuk pulang sekarang!."


Larissa bersorak gembira. Segera ia beresi barang-barangnya. Bahkan ia tak mau menunggu perawat mengambilkan kursi roda untuk membawanya turun ke lobi kamar rawat inap. "Dasar! Kenapa sih nggak sabaran banget!" desau Hamzah.


__ADS_2