Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 37


__ADS_3

Hari itu pun tiba. Cepat-cepat Larissa menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Dan setelah semua telah selesai, ia segera bersiap ke rumah Mbak Ida.


Sesampainya disana, ternyata Mbak Ida belum selesai, ia masih mencuci baju, jadilah Larissa harus bersabar dan menunggu dulu hingga Mbak Ida menyelesaikan pekerjaannya.


Berulangkali Larissa menengok kearah jam di dinding. Ia resah tak menentu, antara meneruskan niatnya untuk pergi ke rumah keluarga ayah, atau kembali pulang. Pasalnya tadi ibu menyuruhnya untuk menyusul ke pasar.


Detik berlalu, waktu terus berputar. Namun Mbak Ida belum juga selesai. Larissa semakin resah menanti. Ingin rasanya membatalkan niatnya dan kembali pulang, tapi rasa keingintahuannya mengalahkan segalanya.


Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Mbak Ida selesai juga. Singkat cerita, mereka pun segera ke rumah saudara ayah dengan berjalan kaki.


Sesampainya disana, Larissa dibawa menuju rumah salah satu Bibi. Ternyata semua saudara ayah tinggal dalam satu kompleks. Rumah mereka pun berjajar.


"Ya Allah, Rissa, kamu sudah besar sekarang, nak!" teriak salah satu Bibi. Ia langsung memeluk Larissa karena gembira.


"I...iya, Bi!" Larissa tersenyum kikuk. Belum pernah ia disambut dan dipeluk sehangat ini. Apalagi ini adalah perjumpaan pertama mereka.


"Kalau Ayahmu masih ada, dia pasti sangat senang melihatmu" ucap Bibi yang lain sambilan mengusap kepala Larissa. "Siapapun yang menyayangi dirimu, pasti akan dikabulkan apapun keinginannya."


"Kamu adalah anak kesayangan Ayahmu. Tapi sayang, ia tidak pernah bisa menemuimu."


Bi Siti, adik ke lima ayah tak pernah melepaskan pandangannya dari Larissa barang sedetik. Sejak Larissa datang, ia terus menatap anak yang berada dalam gendongannya. "Apakah dia anakmu?" tanyanya akhirnya. Ia begitu penasaran hingga memutuskan untuk memberanikan diri bertanya.


"Iya, Bi, ini anakku. Namanya Fatim" jawab Larissa sopan.


"Kami tidak pernah melihatmu, tapi kamu sudah tumbuh menjadi wanita dewasa.

__ADS_1


Bahkan kini kau sudah memiliki seorang anak," ucapnya sendu. "Berapa usia anakmu?."


"Lima bulan, Bi!."


"Anakmu sangat cantik! wajahnya mirip dengan mendiang ayahmu. Andai ia masih hidup, ia pasti sangat senang melihat anakmu."


Mereka pun mulai memperkenalkan diri masing-masing. Ternyata ayah adalah anak ke tiga dari sembilan bersaudara. Ayah memiliki tiga saudara laki-laki, satu diantaranya sudah meninggal dunia. Selain itu ayah juga memiliki lima saudara perempuan, yang kesemuanya masih hidup.


Beberapa bulan yang lalu nenek, ibu dari ayah baru meninggal dunia. Tapi sebelum meninggal, ia sangat ingin bertemu dengan Larissa. Sayangnya keinginannya itu tak kesampaian. Andai Larissa datang kesana lebih cepat, ia pasti masih sempat melihat neneknya.


Ternyata selama ini nenek selalu mengawasi dirinya dari jauh. Pernah sekali ia ingin menyapa dan meminta Larissa untuk berhenti sebentar saat melihatnya melintas didepan rumah. Tapi urung karena takut dengan ibu.


Larissa begitu tersentuh melihat betapa keluarga ayahnya sangat menerima kehadirannya. Ia pun tak ragu lagi untuk mulai menanyakan apa yang selama ini ingin ia ketahui. "Sebenarnya, kenapa ayah pergi meninggalkan ibu? Dan kenapa ayah tidak pernah menemuiku?."


Hening, tidak ada yang menjawab. Mereka saling melempar pandang mendengar pertanyaan Larissa. Akhirnya, salah satu dari mereka memberanikan diri untuk angkat bicara. "Duduklah dulu, nak! kami akan menceritakan semuanya padamu."


Hening. Sejenak mereka masih membisu. Hingga akhirnya Bi Siti mulai bercerita. "Ayahmu adalah orang yang sangat baik. Ia ramah pada siapa saja. Hanya satu kekurangannya, ia tidak tahan dengan godaan wanita."


"Selama ia hidup, ayahmu menikah sebanyak empat kali. Dan ibumu adalah. istri ketiga."


Larissa terhenyak mendengar kenyataan ini. Ia tak menyangka bila ayahnya seperti itu. Tapi ia memilih untuk tetap diam dan mendengarkan karena melihat Bi Siti masih ingin melanjutkan ceritanya.


"Ayahmu memiliki beberapa anak dari pernikahan sebelumnya. Bahkan kamu juga memiliki saudara yang seusia denganmu."


"Dari pernikahan pertama, Ayahmu memiliki seorang anak perempuan. Tapi kemudian Ayahmu bercerai dan menikah lagi dengan wanita yang berasal dari Jogja."

__ADS_1


"Dari pernikahan ini mereka memiliki tiga orang anak, dua perempuan dan satu laki-laki. Anak perempuan inilah yang seusia denganmu. Kalian hanya selisih beberapa bulan. Karena saat ibumu mengandung, istri kedua ibumu juga sama mengandungnya."


"Selang beberapa tahun setelah menikah dengan ibumu, Ayahmu menikah lagi dengan seorang wanita yang berasal dari Jawa tengah. Tapi dari pernikahan ini mereka tak memiliki seorang anak."


'Ya Allah. Kenapa ibu tega membohongiku?' batin Larissa. Ia tak menyangka bila ia memiliki saudara laki-laki dari satu ayah. Bahkan ia juga memiliki dua orang paman yang masih hidup. 'Kenapa dulu saat aku hendak menikah, ibu mengatakan jika paman dari pihak ayah sudah meninggal semua? Kenapa ibu malah meminta untuk menggunakan wali hakim saja.'


Berjuta pertanyaan bergelayut di hati Larissa. Namun ia memilih untuk tetap diam. ia ingin tahu lebih banyak lagi tentang ayahnya dengan cara membiarkan Bi Siti melanjutkan ceritanya.


"Ayahmu dulu bekerja sebagai TKI di Malaysia. Dia bila menikah selalu disana. Bahkan saat menikah dengan ibumu pun juga disana."


Larissa mengernyitkan dahi. Ia bingung, sanksi dengan pernyataan bibik barusan. Larissa ingat, dulu ibu memang pernah bercerita jika ia pernah bekerja sebagai TKW di Malaysia. Dan bisa jadi mereka memang benar menikah disana.


Lalu bagaimana dengan penemuannya tentang buku nikah ibu yang menunjukkan jika mereka menikah di Indonesia?. Apakah dulu mereka menikah secara siri di Malaysia? lalu setelah kembali ke Indonesia, mereka mencatatkan pernikahan mereka di catatan sipil indonesia?.


Larissa semakin bingung dengan teka-teki tentang kedua orangtuanya. Tapi ia masih menahan diri untuk bertanya.


"Terakhir kali pulang ke Indonesia, Ayahmu berencana untuk pergi menemuimu. Ia memacu sepeda motornya dengan tak sabar, ingin segera berjumpa denganmu. Namun malang, keinginannya hanya tinggal impian. Karena saat ditengah jalan, tiba-tiba sepedanya oleng karena terpaan angin kencang. Naas, saat itu sebuah truk lewat dan melindas ayahmu. Seketika itu juga ayahmu meninggal dunia ditempat."


"Ya Allah, kenapa nasib ayahku semalang ini?" ratap larissa. Hanya kata-kata itu yang bisa ia ucapakan. kini ia gundah. Apakah akan membenci ayahnya karena telah menelantarkannya, atau berduka atas nasib naas yang menimpanya.


"Sebenarnya saat ia mengalami kecelakaan, tempat kejadiannya lebih dekat kesini daripada rumah istri keempat ayahmu. Tapi ia bersikeras untuk membawa jasadnya kesana dan dikebumikan disana karena tergiur dengan banyaknya uang asuransi kecelakaan."


"kami tidak bisa berbuat banyak, karena saat itu dialah satu-satunya yang masih berstatus sebagai istri ayahmu. Andai saat itu kami bisa mencegahnya, pasti uang asuransi itu akan jatuh pada anak-anaknya."


Larissa diam, tak perduli dengan uang asuransi yang dimaksud. Ada hal yang lebih penting dari sekadar uang, yaitu kenapa ayah meninggalkan ibu disaat tengah mengandung.

__ADS_1


pertanyaan itu masih terus terngiang di kepalanya dan tak bisa ia katakan saat itu. ia masih syok dengan semua kenyataan yang ia terima saat ini.


__ADS_2