Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 87


__ADS_3

Hamzah menyuapi Larissa dengan lauk ikan yang dibelinya tadi. Ia sendirilah yang memasak ikan itu.


Saat tiba dirumah tadi, Hamzah menyuruh Larissa untuk segera mengolah ikan itu selagi masih segar. Namun saat membuka kantung kresek Larissa malah menjerit ketakutan. "Entik!!!!," dilemparnya kantung itu ke sembarang tempat.


Mendengar suara jeritan Larissa, Hamzah segera berlari menghampiri, takut terjadi sesuatu padanya. "Ada apa, Encus? Kenapa kau berteriak keras?."


"Itu, ikan itu," Larisa merapatkan tubuhnya ke tubuh Hamzah, sedang jari telunjuk mengarah ke kantung kresek yang dilemparnya tadi.


Melihat tingkah sang istri Hamzah malah menatap bingung. "Ada apa dengan ikannya?."


"kenapa ikannya masih hidup?."


"Tentu saja masih hidup. Namanya juga ikan segar."


"Tapi aku takut!."


"Takut? Kenapa?." Hamzah semakin bingung mendengar jawaban Larissa.


"Ikannya gerak-gerak waktu aku pegang. Rasanya kayak gimana gitu," terang Larissa sambil tergidik geli.


"Jadi, kamu berteriak hanya karena itu?," Hamzah mengangkat sebelah alis.


"I...iya!."


Meledaklah tawa Hamzah mendengar penyebab teriakan istrinya tadi. "Ha ha ha. Jadi cuma karena itu? Aku kira ada apa tadi."


"Ish, kok malah diketawain sih," cebik Larissa kesal. Ia ketakutan setengah mati tapi malah ditertawakan oleh suaminya.


Tak ingin istrinya semakin kesal, Hamzah menghentikan tawa. "Maafin aku, ok!."


Larissa tak menghiraukan permintaan maaf Hamzah dan malah membuang wajah ke samping.


Hamzah tak menyerah. Dibawanya tubuh Larissa untuk menghadap dirinya. "Gini Larissa, biar aku jelasin ke kamu. Kalau untuk obat, tentu harus ikan yang masih segar. Makanya aku beli yang masih hidup. Tapi saat disana tadi, ikan yang dijual memang masih hidup semua sih."


"Tapi aku takut dengan ikan hidup, Entik. Rasanya geli-geli gimana gitu."


"Kalau gitu biar aku saja yang membersihkan sekalian memasak ikan itu untukmu. Kebetulan ibu penjualnya sudah mengajariku cara memasaknya tadi. Sekarang kamu duduk manis saja sambil nonton televisi nungguin ikannya matang, ok!."


Larissa mengangguk dan beralih ke ruang tengah. Sedang Hamzah segera berkutat dengan peralatan dapur dan ikan yang dibelinya tadi.

__ADS_1


Butuh waktu sedikit lebih lama untuk Hamzah memasak. Terlebih ia tidak pernah memasak selama ini. Namun akhirnya ikan itu pun matang juga.


Hamzah menata ikan yang telah matang diatas piring. Ia memasak sesuai dengan yang diajarkan wanita tua penjual ikan tadi. Ditambah dengan sepiring nasi putih yang masih mengepulkan asap, ia menghidangkan hasil kreasinya di hadapan Larissa. "Tara....makanan sudah siap."


Melihat makanan yang dihidangkan didepannya, mendadak Larissa menjadi lapar. "Kayaknya enak nih. Aku cobain sekarang ya?."


Larissa mencubit sedikit daging ikan dan memasukkannya ke dalam mulut. Namun saat hendak mengunyahnya tiba-tiba ia memuntahkan makanan itu kembali. "Huek...."


Hamzah terkejut melihat Larissa muntah-muntah. "Ada apa, Encus? Masakanku tidak enak, ya?" tanyanya khawatir.


Larissa merasa tidak enak hati pada Hamzah karena telah memuntahkan makanan itu kembali. Padahal ia telah bersusah payah memasak untuknya. Namun makanan yang dibuatnya tadi memang terasa sangat aneh di lidah. "Emm...maaf, Entik, bukannya aku tidak menghargai hasil masakanmu, tapi rasanya memang agak aneh."


"Maksudnya?."


"Apa kamu kelupaan masukin garam tadi?."


"Bukannya kelupaan, tapi emang sengaja tidak aku kasih garam tadi."


Larissa manggut-mangut. "Oh gitu, pantas aja rasanya hambar. Terus baunya juga sangat amis. Makanya aku langsung muntah tadi."


"Terus kenapa tadi tidak kamu masukin garam?."


"gitu, ya?."


"Iya," jawab Hamzah. "Ya udah, lanjutin lagi makannya gih."


"Nggak mau!," tolak Larissa cepat.


"lho, kok malah nggak mau?."


"Habisnya rasanya hambar. Kan kamu tahu sendiri kalau aku suka dengan makanan yang agak asin."


Hamzah tersenyum teduh. Dicobanya membujuk sang istri agar mau memakannya. "Kali ini paksain buat makan, ya. Ini demi mempercepat pemulihanmu."


"Nggak mau! Rasanya nggak enak."


"Namanya juga buat obat, tentu rasanya kurang enak. Kalau mau enak ya jus buah," gurau Hamzah. "Udah ah, ayo cepetan makan. Jangan kayak anak kecil gitu."


Larissa gondok karena dikatakan seperti anak kecil oleh suaminya sendiri. "Pokoknya aku nggak mau makan, titik!."

__ADS_1


Hamzah menghela napas berat. Agaknya membujuk Larissa untuk makan akan lebih susah ketimbang membujuk anak mereka.


"Larissa, dengerin aku!" Diarahkannya wajah sang istri agar menatap matanya. "Kamu bilang ingin cepat sembuh, dan aku sangat mendukung keinginanmu itu. Makanya aku berusaha keras untuk mendapatkan ikan ini tadi."


Sejenak Hamzah menjeda ucapannya dan membiarkan Larissa berpikir. "Kalau sekarang kamu tidak mau memakannya, berarti kamu tidak menghargai semua usahaku dong."


"Bukannya gitu, tapi...."


"Padahal kamu tahu sendiri lho, kalau aku tidak bisa memasak. Tapi coba kamu lihat, aku tetap berusaha untuk memasaknya, kan? Semua kulakukan agar kamu lekas sembuh."


Larissa diam, memikirkan semua ucapan suaminya.


"Sekarang dimakan, ya? Biar aku yang suapi." Hamzah memgambil piring dari tangan sang istri dan mulai menyuapi. "Ayo dibuka mulutnya!."


Larissa ragu untuk menerima suapan Hamzah. Ia berusaha menolak dengan cara menutupi mulutnya menggunakan kedua telapak tangan sambil menggelengkan kepala.


Melihat sifat keras kepala Larissa lama-lama Hamzah jengkel juga. "Larissa, kamu ingin sembuh atau tidak?."


Larissa menjawab dengan anggukan kepala. "Kalau begitu cepat dimakan!."


Melihat suaminya mulai marah, mau tak mau akhirnya Larissa membuka mulutnya.


"Nah, gitu dong. Ini baru istri yang baik. Nurut dengan kata-kata suami," ucap Hamzah sambil menyunggingkan senyuman yang dibalas Larissa dengan senyuman juga.


Larissa memang menerima suapan dari Hamzah, Namun ia tak menelannya dan membiarkannya di dalam mulut.


Tahu jika sang istri tak juga mengunyah makanan dalam mulunya Hamzah pun kembali menegur. "Larissa....."


Walau Hamzah menegur hanya dengan memanggil namanya saja tapi Larissa sudah bisa mengartikan maknanya. Ia pun berusaha membujuk suaminya dengan menunjukkan wajah memelas.


Hamzah tak terpengaruh sedikitpun dengan wajah memelas sang istri. Ia harus bersikap tegas bila ingin istrinya menurut. "Kamu ingin sembuh, atau tidak?," tanyanya yang kemudian di jawab Larissa dengan menganggukkan kepala.


"Kalau begitu buruan ditelan!." Dengan terpaksa Larissa pun mengunyah makanan itu dan menelannya.


Dengan telaten Hamzah menyuapi istrinya. Dan meski sangat terpaksa namun Larissa menelan juga makanan itu hingga tandas tak bersisa.


"Kalau dari tadi kamu kayak gini kan enak," ucap Hamzah setelah suapan terakhirnya.


Larissa tersenyum kecut mendengar komentar Hamzah. " Kalau bukan karena terpaksa, aku tidak akan mau makan makanan itu," batin Larissa.

__ADS_1


Hamzah membawa piring bekas makan Larissa tadi kebelakang dan kembali lagi sambil membawa sebuah gelas ditangan yang entah apa isinya. Kemudian ia sodorkan gelas itu kearah Larissa. "Sekarang kamu minum ini!."


__ADS_2