
Adzan magrib berkumandang, memanggil jiwa-jiwa yang lelah setelah seharian berjibaku dengan kerasnya dunia untuk mencari sesuap nasi.
Larissa mulai kehilangan kesadaran. Tenaganya terkuras habis karena menahan kesakitan sejak kemarin malam. Hamzah menepuk pipi istrinya berulang-ulang untuk mengembalikan kesadarannya. "Jangan menyerah, Encus! kau adalah wanita yang kuat. Lihatlah! perjuangan kita tinggal selangkah lagi."
Larissa mengerjap-erjap, berusaha untuk tetap terjaga. Terpaksa dokter memgambil tindakan pembedahan pada jalan lahir Larissa sebelum ia benar-benar kehilangan kesadaran, terlebih posisi sang bayi juga tergencet di jalan lahir, khawatir nyawanya tidak tertolong jika dibiarkan berlarut.
Menit berikutnya kontraksi kembali datang. Dokter memberi semangat untuk kembali mengejan. "Ayo, bu, semangat! Sedikit lagi anaknya lahir. Kami akan membantu mendorong agar bayinya cepat keluar."
Larissa mengambil nafas sebanyak-banyaknya, mengumpulkan sisa-sisa tenaga dan bersiap mengejan kembali.
Dokter bersiap di depan jalan lahir Larissa, sementara perawat berdiri disampingnya, bersiap untuk ikut mendorong. "Hitungan ketiga kita mulai, bu!" ucap dokter.
Dokter mulai menghitung. "Satu....dua....tiga....mulai!."
Larissa menghirup udara sebanyak-banyaknya, dan dengan segenap tenaga ia mylai mengejan. "Ha......"
"Oeek....oeeek..." Suara tangisan sang bayi pecah, menandakan ia telah terlahir ke dunia.
"Selamat, bu!, anak anda lahir dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun. Jenis kelaminnya laki-laki" ucap dokter sembari menunjukkan wajah sang bayi padanya.
Larissa lega, ternyata bayi yang dikandungnya benar-benar anak lelaki. Samar-samar ia melihat betapa tampannya wajah sang anak, senyum bahagia pun tersungging di bibir.
Ditengah kebahagiaan tiba-tiba ponsel Larissa berbunyi, tertulis nama sang ayah mertua di layarnya. Namun detik berikutnya ponsel itu malah mati karena kehabisan daya. "Ah sudahlah! biar nanti aku telepon balik. Lagipula saat ini aku tak bisa menganggkatnya" ucap Larissa dalam hati.
Perawat mengambil alih bayi tersebut dari tangan dokter untuk dibersihkan. Hamzah mengikuti dibelakang atas perintahnya.
Sementara menunggu sang bayi dibersihkan, dokter mulai menjahit jalan lahir Larissa yang sempat terkoyak untuk menyelamatkan bayinya tadi.
Dokter menyiapkan dua buah suntikan, dan tanpa aba-aba ia menyuntikkannya pada Larissa, satu dibagian paha, dan yang satunya lagi di dekat jalan lahir.
Larissa menjerit keras karena belum siap, rasanya bagai teriris pisau belati, sangat sakit.
Dokter tak menghiraukan jeritan Larissa dan mulai menjahit. Ia tusukkan jarum media dan membentuk sebuah pola khusus untuk merapatkan dua bagian yang terkoyak.
Larissa meringis tertahan saat jarum medis mulai ditusukkan di kulit jalan lahirnya, sesekali ia terjingkat saat benang itu ditarik dengan kuat. "Dok, pelan dikit" ucapnya lirih.
__ADS_1
Bukannya menuruti keinginan Larissa, dokter malah memarahinya. "Sabar dikit, bu, ini juga demi kebaikan ibu. Lagipula tadi sudah disuntik obat bius, kan! Jadi rasanya tidak akan terlalu sakit."
"Nggak sakit pala mu peyang!" gerutu Larissa dalam hati. Memang benar dokter telah menyuntikkan obat bius, tapi tetap saja sakitnya masih terasa. Lagipula mana mungkin tak terasa sakit saat bagian tubuh yang tipis dan paling sensitif ditujuk dengan jarum. Rasanya bahkan jauh lebih sakit daripada tertusuk ribuan pisau.
Dokter meneruskan menjahit, Larissa kembali terjingkat. Dokter menghentikan gerakan tangannya dan kembali memarahinya. "Ibu ini bisa tenang nggak sih? Kalau ibu seperti ini terus, maka ini nggak akan selesai-selesai. Memangnya ibu mau jalan lahirnya jadi kendor? Nanti suaminya malah mencari wanita lain lho gara-gara nggak puas dengan bentuk kepunyaan ibu."
"Tapi ini memang benar-benar sakit, dok!"
"Sudah deh, bu, jangan merengek terus! Lagipula ini bukan yang pertama kalinya ibu melahirkan, kan?."
Dimarahi seperti itu tentu saja Larissa diam. Tidak ada pilihan lain selain membiarkan dokter menyelesaikan tugasnya. Berusaha tetap tenang sembari menahan kesakitan walau itu sangatlah sulit.
Setelah berjuang melawan sakitnya saat melahirkan, ternyata ia masih harus menahan kesakitan yang lain. Kini ia masih harus berjuang sekali lagi. Ya, benar! berjuang melawan sakitnya saat dijahit jalan lahir.
"Yap, selesai!" ucap dokter diakhir jahitan terakhir. Larissa pun bernafas lega. "Alhamdulillah, akhirnya selesai juga."
Dokter tinggal melakukan tugas yang terakhir, membersihkan darah yang menggenang dibawah tubuh Larissa.
Dengan cekatan dokter membersihkan genangan darah dan mengganti alas tidur dengan yang baru. Sesekali Larissa menganggkat pinggul untuk memudahkan dokter melakukan tugasnya.
Larissa menunjuk nakas disamping dimana ia menyimpan semua barang-barangnya, namun dokter tak berhasil menemukan barang yang dimaksud. Hingga akhirnya Larissa bangkit dan mengambilnya sendiri.
Tiba-tiba Larissa merasa kepalanya berputar hebat, dan tubuhnya pun ambruk karena tak mampu menopang berat tubuh. Untung dokter segera menangkap sebelum tubuhnya betul-betul menyentuh lantai. "Hati-hati, bu! Harusnya ibu jangan bangun dulu."
"Saya mau ambil baju, bu, tapi tiba-tiba kepala saya rasanya berputar."
"Itu karena ibu baru saja mengeluarkan banyak darah, makanya untuk saat ini ibu belum boleh bangun."
Berbeda dengan persalinan sebelumnya yang banyak mengeluarkan cairan, di persalinan kali ini, Larissa mengeluarkan darah lebih banyak dari sebelumnya. Hingga tadi dokter sempat mengira jika ia mengalami pendarahan
"Ya sudah, biar saya bantu carikan" imbuhnya.
Dokter pun mencarikan pakaian ganti untuk Larissa diantara tumpukan barang-barangnya. Dan setelah ketemu, ia membantu Larissa mengganti baju.
Perlahan Larissa melepas pakaian yang dikenakannya dan mengganti dengan yang baru. Untung saat itu dokter yang membantu persalinannya sama-sama perempuan, hingga ia tak perlu risih melakukannya.
__ADS_1
Usai dengan semua tugas-tugasnya dokter pun berlalu pergi dan membiarkanmya beristirahat.
Selepas kepergian dokter Larissa menghidupkan ponselnya kembali. Dan sambil mengisi daya baterainya, Larissa mendial nomor ayah mertua balik.
Dibanding semua keluarga, hanya ayah mertuanya saja yang paling peduli dengan dirinya. Hingga ia tak bisa mengabaikannya terlalu lama saat tahu beliau yang menghubungi tadi.
"Halo, assalamualaikum" ucap Larissa saat telepon sudah tersambung.
"Waalaikum salam. Bagaimana kondisimu sekarang, nak?" tanyanya langsung.
Dari nada suaranya Larissa bisa menebak jika saat ini ayah mertuanya sangat mengkhawatirkan kondisinya. Terlebih beberapa bulan yang lalu adik Hamzah melahirkan dengan cara operasi caesar. Mungkin ia takut Larissa mengalami hal yang sama. Apalagi sejak semalam ia tak mendengar kabar apapun darinya.
"Alhamdulillah, pak, cucu bapak telah lahir dengan selamat. Jenis kelaminnya laki-laki" jawab Larissa.
"Alhamdulillah!" ucap suara di seberang penuh dengan kelegaan.
"Lahirannya operasi atau normal, nak? Kok dari tadi baru ngasih kabar?" tanyanya kembali.
"Alhamdulillah normal, pak, meski penuh perjuangan tadi."
Sudah sepatutnya Larissa bersyukur, meski ia butuh waktu selama hampir seharian penuh hingga berhasil melahirkan anaknya, namun itu relatif lebih cepat ketimbang proses persalinan pertamanya yang berlangsung selama tiga hari empat malam.
"Oh ya, saya minta maaf nggak bisa ngangkat telepon bapak tadi, kebetulan saat itu bayinya baru saja lahir."
"O gitu, ya sudah nggak pa pa, yang penting kamu dan anakmu baik-baik saja. Sekarang mana anakmu? Bapak ingin melihat wajahnya."
"Maaf, pak! Tapi bayinya masih sama perawat, Mas Hamzah juga belum balik dari tadi, mungkin belum selesai bersihinnya."
"O...ya sudah! Bapak matikan dulu teleponnya, kamu istirahat saja. Nanti bapak telepon lagi."
"Iya, pak!"
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." Dan sambungan telepon pun terputus.
__ADS_1
Larissa meletakkan kembali ponselnya diatas nakas dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.