
Hamzah menyarankan Larissa untuk memanggil budhenya saat melihat harapan hidup sang ibu mertua semakin tipis. Ia tak ingin Larissa dipersalahkan jika terjadi sesuatu padanya.
Larissa ragu meninggalkan sang ibu karena sangat mengkhawatirkan keadaannya. "Tapi bagaimana dengan ibuku, Entik?."
"Kamu tenang saja! Aku yang akan menjaganya selagi kamu pergi."
Setelah berpikir sejenak akhirnya Larissa setuju. "Baiklah, aku akan pergi ke rumah budhe untuk memanggilnya kesini. Aku titip ibuku padamu."
Hamzah mengangguk. Larissa segera berlalu. Dipacunya sepeda motor sekencang-kencangnya agar segera sampai disana. Jarak dari rumahnya ke rumah Budhe tidak terlalu jauh, sehingga tidak membutuhkan waktu lama ia sudah sampai disana.
Tok tok tok
"Assalamualaikum, budhe. Budhe ada dirumah?."
Lama menunggu namun tak jua terdengar suara sahutan dari dalam. "Kok tidak ada suara apapun dari dalam, ya? Apa budhe sedang tidak ada di rumah?," ucap Larissa ragu.
"Ah, tidak mungkin. Mungkin tadi budhe hanya tidak mendengar suara panggilanku saja. Coba aku aku panggil lagi sekarang.
Larissa menepis keraguan dan kembali mengetuk pintu. Tapi hingga ketukan ketiga tak jua terdengar suara sahutan dari dalam.
Larissa tertunduk lesu dan memutuskan untuk kembali saja. Namun saat hendak berbalik, ia mendengar...."Waalaikum salam, siapa itu?."
Larissa bernafas lega, itu adalah suara Budhe. Cepat-cepat ia jawab seruan itu. "Budhe, ini aku, Larissa!."
"Oh, kamu, tunggu sebentar!."
Tak berselang lama terdengar suara pintu terbuka. Bersamaan dengan itu pula muncul sang budhe. "Maaf, tadi budhe masih sholat. Jadi nggak bisa menjawab panggilanmu tadi," ucapnya.
"Oh gitu. Aku pikir tadi budhe tidak ada di rumah. Soalnya aku panggil berulangkali tapi tak ada sahutan."
Budhe tersenyum menanggapi ucapan keponakannya. "Tumben kamu kesini malam-malam, ada perlu apa?," tanyanya. Dipandangnya wajah Larissa. "Wajah kamu kok sembab? Kamu habis nangis?."
Larissa tak menghiraukan pertanyaan Budhe dan malah berkata, "Ikutlah denganku sekarang ke rumah, budhe! Kasihan ibu."
__ADS_1
Mendengar Larissa menyebut nama ibunya, hati budhe tiba-tiba dihinggapi perasaan was-was. Ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi padanya. Apalagi selama ini ia tahu bahwa kondisi adik kandungnya itu sangat parah. "Ada apa dengan ibumu, Larissa? Dia kenapa?."
"Nanti budhe lihat saja sendiri di rumah. Sekarang lebih baik budhe bersiap dan ikut denganku."
"Baik, tunggu dulu. Budhe ambil kerudung ke dalam sebentar!." Larissa mengangguk, budhe masuk kembali kedalam dan keluar dalam keadaan sudah menggunakan kerudung di kepala. "Budhe sudah siap. Ayo kita berangkat sekarang!."
Larissa mengangguk dan segera menstater motornya. "Ayo, budhe, silahkan naik!."
Larissa memacu motornya sesaat setelah budhe naik. Dan tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah Larissa.
Budhe turun dari motor. Ia terseok-seok memasuki rumah. Larissa terlihat tak sabaran melihat sang budhe bergerak lambat. "Ayo cepetan masuk, budhe. kasihan ibu!."
"Tunggu sebentar, Larissa, kaki budhe sedang sakit!."
Larissa pun membantu memapah sang budhe agar segera sampai ke kamar sang ibu. "Beginilah keadaan ibu, budhe, sejak tadi nafasnya tersengal-sengal terus."
Budhe merangsek maju dan duduk di samping saudara satu-satunya yang masih tersisa itu. "Ani, ini aku, mbakyu mu!."
Budhe menghela nafas berat. "Sepertinya ibumu mengalami sakaratul maut, Larissa," ucapnya lirih."
Mendengar ucapan budhe, hati Larissa semakin pilu. "Hamzah tadi juga bilang begitu, budhe. Lalu apa yang harus aku lakukan untuk mengurangi rasa sakitnya? Sungguh, aku tak tega melihatnya terus mengerang kesakitan seperti itu!," ucapnya lirih, derai air mata semakin tak terbendung.
Budhe menggeleng lemah. "Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk membantunya. Semua tergantung dari amal kebaikannya selama ini. Kita hanya bisa mendoakan agar jalannya dipermudah oleh Allah."
Larissa tertunduk sedih. Semua yang budhe katakan sama persis seperti yang Hamzah katakan tadi. "Ya Allah, ampuni segala dosa dan kesalahan ibuku. Mudahkan jalannya untuk menghadap pada-Mu," ucapnya pilu.
Budhe mendekatkan bibir ke telinga bu Ani dan merapalkan doa-doa yang entah apa. Kemudian setelah beberapa saat ia berseru, "Ya Allah, andai Kau ambil nyawa adikku sekarang, maka percepatlah kematiannya. Aku ikhlas melepas kepergianya. Tapi jangan biarkan ia tersiksa seperti ini."
Sejenak budhe menjeda ucapannya untuk menahan gempuran perasaan. "Dan andai kau masih mengizinkan dia untuk hidup, maka berikanlah ia kesehatan."
Larissa tak sanggup berkata apa-apa dan hanya menangis sesenggukan di dekat kaki sang ibu.
Budhe mengalihkan pandangan kearah Larissa. "Apa tadi ibumu sempat mengatakan sesuatu?," tanyanya. Diusapnya air mata yang membasahi pipi.
__ADS_1
Larissa menggeleng lemah. "Tidak ada, budhe. Dari tadi ibu hanya mengerang kesakitan. Hanya saja....." terlihat ragu untuk mengatakan sebenarnya.
"Hanya apa?," tanyanya lagi. Didesaknya Larissa agar berkata jujur. "Ayo cepat katakan, Larissa, hanya apa?."
"Ibu terus memanggil nama kakak tadi." Terpaksa Larissa mengatakan sebagian dari kejadian tadi dan menyembunyikan bagian dimana sang ibu tak mengenalinya lagi. Ia tak mau budhe berpikiran buruk tentangnya jika mendengar hal itu.
"Lalu kenapa tidak kau panggil kakakmu?," sentak budhe.
"Kakak tidak ada di rumah, budhe. Dari tadi siang pintu rumahnya tertutup."
"Lalu kenapa tidak kau coba untuk mencarinya? Kenapa kau malah diam disitu?."
"Tadi Hamzah sudah mencoba untuk mencari ke semua tempat yang biasa kakak datangi. Tapi dia tetap tak menemukannya."
Budhe menghela napas berat. "Iqbal irni gimana sih? Sudah tahu ibunya lagi sakit, malah ilang-ilangan gini. Padahal sudah berulangkali aku peringatkan agar lebih peehatian lagi pada ibunya," gerutunya kesal.
"Apa kakakmu sudah tahu kalau keadaan ibumu seperti ini?," budhe kembali bertanya pada Larissa.
Larissa mengedikkan bahu. "Entahlah, budhe, aku tidak tahu," mendesau lesu. "Tiga hari yang lalu aku sudah meminta kakak untuk menemui ibu barang sebentar, sebab ibu terus bicara bahwa ia pergi haji dengan seseorang. Aku sudah merasakan firasat yang tak enak saat itu. Tapi kakak malah menolak dengan alasan sibuk, dan sampai sekarang ia belum juga menampakkan batang hidungnya."
Budhe menghela napas berat. "Iqbal. Iqbal, nanti kau akan menyesal karena tak sempat melihat saat-saat terakhir ibumu," gumamnya.
Larissa tak terlalu mempedulikan perkataan budhe tentang Iqbal. Sejak tadi pikirannya hanya tertuju pada satu hal, yaitu sang ibu.
Larissa merangsek maju ke dekat kepala ibunya dan berkata, "Ibu, ikuti ucapanku! katakan, Allah!," diusapnya kepala sang ibu lembut. Derai air mata tak juga berhenti mengalir dari matanya.
Ditengah kepiluan yang tercipta, tiba-tiba Fauzan, sepupu Larissa datang. Ia adalah putra dari budhenya ini. "Bagaimana keadaan bi Ani, bu?," tanyanya.
"Sepertinya dia sedang mengalami sakaratul maut," jawab budhe. "Fauzan, boleh ibu minta tolong?."
"Katakan, bu!."
"Tolong kamu cari keberadaan Iqbal sekarang. Sedari tadi bibimu terus memanggilnya. Mungkin ia ingin melihat putranya untuk yang terakhir kali."
__ADS_1