Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 40


__ADS_3

...Hai reader, bantu vote author yuk. Buar author makin semangat up-nya.....🤗🤗🙏🙏🙏...


*


*


*


Semua yang diceritakan ibu sama persis dengan apa yang disampaikan Bibi tempo hari. Satu hal yang tidak Larissa mengerti. Kenapa ibu menjauhkan Larissa dari ayah dan keluarganya. Bahkan terkesan menutupi keberadaannya.


"Ibu" panggil Larissa. Setelah cukup lama mendengarkan, akhirnya ia mulai angkat bicara. "Bibi bilang kalau dulu Ayah memberikan nama yang sama dengan anak yang dikandung oleh istri kedua Ayah. Apa benar begitu, Bu?" tanyanya.


"Ya! itu memang benar."


"Lalu kenapa ibu hanya memberikan nama Larissa saja padaku?. Sebegitu benci kah ibu pada Ayah sehingga ibu tidak mau memakaikan nama pemberian dari ayah padaku?."


"Kau sudah salah paham, nak. Bukan itu penyebabnya!" jawab ibu sendu.


"Lalau apa?" sahut Larissa cepat. "Katakan padaku, Bu, kenapa? Apa penyebabnya?."


Bu Ani terdiam. Matanya menerawang jauh. Ingatannya kembali ke halaman kelam yang coba ia buang. Sekelebat bayangan dari kejadian silam berputar bagai film yang sedang dimainkan.


"Dulu, waktu kamu masih bayi, ibu memang memberikan nama pemberian dari ayah padamu. Tapi setelah itu kamu sering sakit-sakitan. Tubuhmu kurus kering dan susah makan."


"Tetua bilang, kamu tidak cocok menggunakan nama pemberian dari ayahmu. Mereka menyarankan untuk menggantinya, atau menggunakan sebagian dari nama itu. Ibu pun menuruti perkataan tetua karena khawatir akan kesehatanmu."


Sejenak ibu terdiam. Mencoba mengumpulkan kekuatan untuk mengatasi derita dari sayatan luka masa lalu.


Ibu kembali menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kisahnya. "Dulu, ibu pernah melahirkan dua orang anak sebelum kakakmu. Mereka berdua sama-sama meninggal saat masih berusia beberapa hari. Waktu mereka meninggal, kondisinya hampir sama denganmu."


Larissa terhenyak mendengar pengakuan ibu kali ini. Ia baru tahu jika sebelumnya ibu punya anak selain dirinya dan Iqbal. Ibu tak pernah mengungkit hal ini sebelumnya.

__ADS_1


"Itulah mengapa ibu tidak menggunakan nama pemberian dari ayahmu. Ibu takut, ibu sangat khawatir denganmu. Ibu tidak ingin kehilangan anak untuk ke-tiga kali." Air mata jatuh membasahi pipi. Menceritakan hal ini, sama dengan membuka derita lama baginya.


Larissa ikut hanyut dalam gelombang duka sang ibu. Tapi itu tak berlangsung lama. Cepat-cepat ia hapus air mata yang mengalir. Ada hal yang lebih penting yang ingin ia tanyakan. Ia tak ingin membuang kesempatan ini dengan berlarut dalam duka.


"Lalu kenapa ibu tidak pernah mengatakan apapun tentang Ayah padaku? kenapa ibu tidak pernah mempertemukan ku dengannya?."


"Ibu tidak bermaksud menyembunyikan mu darinya. Sebenarnya waktu kamu masih bayi, ayahmu pernah datang menemuimu sekali."


Larissa kembali tersentak. Ia baru tahu kenyataan ini. Bahkan Bibi tidak pernah mengatakan hak ini padanya. "Kalau benar begitu, lalu kenapa ibu tidak pernah mengatakan apapun padaku?."


"Ibu takut kau dilukai oleh istri ke dua Ayahmu dan juga bibimu" jawabnya lirih.


"Maksud ibu?." Larissa mengernyitkan dahi. Tak mengerti dengan apa yang dimaksud ibunya.


"Dulu waktu mereka berdua tahu kalau ibu telah menikah dengan ayahmu, mereka mendatangi ibu dan melabrak habis-habisan. Mereka menganggap ibu pelakor, yang dengan sengaja merebut suaminya. Padahal dalam hal ini ibu adalah korban. Ibu sama sekali tidak tahu jika ayahmu masih memiliki istri."


Larissa sanksi dengan jawaban ibunya. Pasalnya sikap yang bibi tunjukkan padanya selama ini tidak tidak seperti yang dikatakan ibu.


Untuk istri kedua Ayah, Larissa tidak bisa menilai bagaimana sifatnya yang sebenarnya. Karena saat ini beliau sudah meninggal. Tapi untuk bibi, Larissa tak melihat jika bibi seperti yang ibu katakan.


"Untuk apa ibu bohong!" jawab ibu cepat. "Tidak ada untungnya bagi ibu."


Larissa terdiam, membenarkan perkataan ibu. Kini ia bimbang antara percaya dengan perkataan ibu, atau percaya lengan penilaiannya sendiri.


"Kau pasti tidak percaya dengan yang ibu katakan, kan!" ujar ibu, seolah bisa membaca pikiran Larissa. "Baiklah, itu hak mu. Ibu tidak bisa memaksamu untuk percaya dengan ibu."


Sejenak ibu menjeda ucapannya dengan menghela napas panjang. Isak tangisnya terdengar sangat lirih, namun masih bisa didengar oleh Larissa. Seolah mewakilkan betapa perihnya luka yang dulu pernah tertoreh.


"Asal kau tahu, bukan hanya sekali dua kali mereka mendatangi ibu, tapi berkali-kali. Mereka bahkan pernah mengancam ibu. Bahkan saat mereka mengetahui ibu hamil, amarah mereka semakin menjadi. Mereka berani memukuli ibu."


"Andai saat itu tidak ada tetangga yang datang menolong, mungkin saat ini kau tidak akan ada di dunia ini."

__ADS_1


"Bohong! ibu pasti bohong padaku. Ibu hanya mengarang cerita ini untuk menutupi kesalahan ibu karena telah menyembunyikan ku dari keluarga ayah, kan."


"Ibu tidak bohong. Memang ini yang terjadi sebenarnya."


"Bibi pernah bercerita bahwa dulu nenek sering mengawasiku dari kejauhan. Bahkan beliau ingin menghampiriku tapi tidak jadi karena takut dengan ibu."


"Kalau memang benar yang ibu katakan, lalu kenapa nenek merasa takut untuk menemuiku saat ibu berada di sampingku?."


"Ibu tidak tahu kenapa beliau takut pada ibu. Mungkin ia merasa bersalah pada ibu karena ikut andil saat menyakiti ibu dulu."


"Cukup ibu! jangan salahkan orang lain atas kesalahan yang ibu perbuat" teriak Larissa sambil menutup telinga dengan kedua telapak tangannya.


"Ibu tidak mencari pembenaran atas sikap ibu. Tapi memang itulah yang terjadi."


Larissa diam, mencoba mencerna semua perkataan ibu. Kini ia bimbang, antara percaya dengan ibu, atau percaya dengan Bibi.


Setelah cukup lama diam, Larissa kembali bersuara. "Anggap saja apa yang ibu katakan memang benar. Tapi kenapa ibu tidak pernah mengatakan hal ini padaku sebelumnya? kenapa ibu terkesan menutupi semua dariku?."


"Ibu melakukannya untuk melindungi dirimu. Ibu tidak ingin kau dilukai."


"Kalau memang benar bibi ingin menyakitiku, lalu kenapa dia menerima diriku dengan tangan terbuka?."


Ibu diam, tak mampu menjawab pertanyaan Larissa, membuat Larissa semakin yakin jika apa yang dikatakan ibu hanya sebuah kebohongan. "Kebungkaman ibu menunjukkan bahwa ibu hanya membohongiku. Semua yang ibu katakan tadi hanya dusta belaka."


Ibu mendongakkan kepala. Ia begitu terluka dengan ucapan anaknya. "Ibu kecewa denganmu. Kau lebih percaya dengan orang yang baru kau kenal ketimbang aku, ibu kandungmu. Orang yang sudah bertaruh nyawa untukmu."


Larissa membuang muka. Tak sanggup menatap wajah sendu ibunya. "Ibu jangan berlagak seolah ibu yang paling terluka disini. Harusnya aku yang marah pada ibu, bukan sebaliknya. Ibu telah tega menyembunyikan semua hal tentang Ayah. Sehingga aku harus menerima penghinaan dari teman-temanku."


Ibu semakin terluka mendengar ucapan Larissa. Ibarat sebuah luka yang belum sembuh benar, tapi sudah ditambah dengan luka baru diatasnya. "Ibu minta maaf jika kau harus menderita karena hal ini. Tapi sungguh, ibu tidak bermaksud melukaimu."


Hening, sejenak mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya ibu membuka suara karena tak tahan dengan luka yang ia rasakan. "Ibu sudah mengatakan semua hal yang ingin kau ketahui. Semua adalah kenyataan tanpa ada satupun yang ibu kurangi atau tambahi."

__ADS_1


"Sekarang terserah padamu. Kau mau percaya dengan ibu atau tidak. Yang penting, ibu sudah menceritakan semua padamu."


Setelah mengatakan itu, ibu berlalu meninggalkan Larissa dengan air mata berderai. Sedang Larissa masih terpaku ditempatnya. Ia masih tak percaya dengan semua kenyataan ini


__ADS_2