
Sementara Hamzah berusaha keras agar bayinya bisa di cover oleh pihak asuransi, disisi lain Larissa menunggu kedatangan suaminya dengan harap-harap cemas. Suami si mbak sebelah ruangan yang tadi bersamaan dengan Hamzah mencari tempat fotocopy sudah menceritakan semua padanya. Namun mereka berpisah saat Hamzah diminta untuk pergi ke kantor asuransi kesehatan.
Hari semakin siang, semua bayi sudah diserahkan pada ibunya masing-masing. Sementara hanya dirinya seorang yang belum berhasil mendekap bayinya dalam gendongan karena suaminya belum juga kembali, membuat hati Larissa semakin resah atas ketidakjelasan ini.
Larissa menunggu dan terus menunggu, hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini.
Ditengah ketidakpastian, sosok Hamzah muncul diujung lorong. Larissa Bangkit dan segera menghampirinya. "Suami si mbak sebelah sudah menceritakan semua padaku. Apa semua sudah beres? Lihat! Hanya aku saja.yang belum menggendong anak kita."
"Kamu tenang saja! Semua pasti beres," jawab Hamzah. "Tadi memang ada sedikit masalah, tapi sekarang sudah beres. Allah memberi pertolongan pada kita lewat bantuan seorang perawat."
Hamzah pun menceritakan secara singkat percakapan antara dirinya dengan perawat yang membantunya mengurus berkas asuransi kesehatan di lobi rumah sakit tadi.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Sekarang kau mau kemana lagi?."
"Aku mau ke bagian administrasi di ruang bayi agar kita bisa segera menjemput anak kita."
"Kalau begitu aku ikut denganmu. Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah anak kita."
Hamzah mengangguk dan membiarkan istrinya ikut dengannya. "Baiklah, ayo! Taruh saja barang-barang kita di sudut itu. Bawa saja dompet dan beberapa barang penting" ucapnya sambil menunjuk ke salah satu sudut.
Larissa mengangguk dan mengambil barang-barang penting miliknya. Kemudian ia berjalan beriringan dengan suaminya menuju ruang administrasi bayi.
"Bu, ini berkas-berkas yang ibu berikan tadi, dan ini surat dari pihak asuransi" ucap Hamzah setibanya di hadapan petugas yang menyuruhnya tadi seraya memberikan surat yang diberikan perawat yang membantunya tadi.
Petugas mengambil berkas beserta surat dari tangan Hamzah dan memeriksa keasliannya. "Baik, semua sudah di cover oleh pihak asuransi. Sekarang kalian boleh membawa bayi anda pulang" ucapnya setelah beberapa saat.
"Alhamdulillah!" puji syukur Larissa panjatkan bersamaan dengan suaminya setelah mendengar ucapan petugas tadi.
"Sekarang dimana bayi saya? Saya dudah tidak sabar ingin menggendong dan menyusuinya," ucap Larissa.
__ADS_1
"Silahkan ibu ikut dengan saya, saya akan tunjukkan dimana bayi ibu. Sementara bapaknya silahkan mengambil surat kelahiran bayi di ruangan sebelah sana" ucapnya sambil menunjuk sebuah ruangan di ujung lorong.
Mereka sama-sama mengangguk paham. Larissa berjalan mengikuti petugas tadi, sementara Hamzah menuju ruang yang dimaksud.
"Ibu tunggu dulu disini sebentar, biar saya ambilkan bayi ibu di dalam" ucap petugas yang membawanya tadi begitu mereka tiba di depan ruangan khusus bayi. Dimana di depan pintu ada sebuah tulisan bahwa hanya petugas yang diizinkan masuk.
Larissa mengangguk, petugas masuk ke dalam. Tak lama kemudian ia datang kembali bersama petugas lain yang Larissa sinyalir sebagai kepala ruangan, tangannya mendorong sebuah box bayi berisikan bayi Larissa diatasnya.
"Ya Allah, itu anakku!" ucap Larissa penuh haru begitu box bayi itu berada di hadapannya. Ia pun mengulurkan tangan ingin mengambil bayi itu namun segera dicegah oleh kepala ruangan. "Tunggu dulu, bu. Ibu harus menandatangani penyerahan bayi dulu sebelum membawa bayiny."
Larissa menarik tangannya kembali dan mengusap setitik air mata yang jatuh di pelupuk mata karena keharuan tadi. "Baiklah! Sekarang mana berkas uang harus saya tandatangani" ucapnya.
"Silahkan anda duduk disitu dulu" ucapnya seraya menunjuk sebuah meja dan kursi yang terletak tak jauh dari sana.
Larissa menghempaskan tubuh di kursi yang dimaksud. Kepala perawat menyodorkan berkas yang dimaksud.
Larissa membubuhkan tandatangan diatas berkas dan menyerahkannya kembali. "Ini, bu, sudah!."
"Bayi anda kami serahkan dalam keadaan sehat. Selanjutnya anda harus betul-betul menjaga kesehatannya karean kondisinya masih rentan terhadap serangan penyakit."
Sejenak kepala perawat memberi nasehat mengenai apa yang harus Larissa lakukan selama dirumah untuk memastikan bayinya tetap sehat.
Kuping Larissa tak terlalu mendengarkan semua nasehat kepala perawat karena matanya terus saja memandang anaknya yang tengah tertidur pulas dalam box bayi. Ingin rasanya semua formalitas ini segera selesai agar ia bisa segera mendekap anaknya dalam pelukan.
Agaknya kepala perawat menyadari ketidaksabaran Larissa. Ia pun menghentikan nasehatnya seraya berkata," sepertinya ibu sudah tidak sabar ingin menggendong anaknya?."
Larissa tersipu malu karena ketidaksabarannya terbaca oleh kepala ruangan. Tapi mau bagaimana lagi, hasratnya untuk segera memeluk sang bayi memang sudah tak tertahankan lagi.
Kepala ruangan tersenyum ramah. "Baiklah! Silahkan ibu menggendong bayinya."
__ADS_1
Larissa bersorak kegirangan dalam hati begitu kepala ruangan memberinya izin. Tanpa membuang waktu, ia segera mengulurkan tangan dan mendekap bayinya dalam pelukan. Di kecupnya seluruh wajah sang bayi untuk meluapkan seluruh kasih sayangnya.
Sang bayi menggerakkan tubuh dan membuka mulutnya. Agaknya ia terganggu dengan perlakuan ibunya atau karena memang lapar.
Melihat mulut sang anak terbuka Larissa membuka beberapa kancing baju dan segera menyodorkan ASInya, yang segera disambut oleh sang bayi dengan rakusnya.
Larissa merasakan hisapan yang sangat kuat pada ****** ASI, seakan putra itu betul-betul menginginkan makanan alamiah dari tubuh ibunya tak tak bisa ia dapatkan selama beberapa hari kemarin. Namun Larissa justru senang akan hal itu.
Setelah puas menyusu, sang bayi kembali terlelap. Larissa merapikan bajunya kembali dan menghampiri suaminya yang sudah menunggu di bagian administrasi sejak tadi.
Hamzah mendaratkan sebuah kecupan sayang di wajah sang putra begitu mereka tiba di hadapannya.
"Lihat putramu, dia langsung tidur karena kekenyangan setelah minum ASI ku tadi" ucap Larissa.
"Kau sudah memberikan ASImu padanya?."
"Iya, dan dia menghisapnya dengan sangat kuat. Aku sampai meringis kesakitan tadi."
Hamzah tertawa kecil mendengar keluhan istrinya. "Namanya juga anak laki-laki."
"Siap-siap saja, setelah ini kamu akan berebut ASI dengan anakmu ini."
Hamzah kembali tertawa mendengar ucapan istrinya. "Nggak pa pa. Yang penting anak kita tumbuh dengan sehat."
Hamzah terus memandang wajah anaknya yang tengah terlelap dalam gendongan istrinya hingga ia berucap, "Kita pulang sekarang atau mau terus mengobrol disini."
"Oh ya hampir saja lupa karena keasikan melihat wajah tampan anak kita," ucap Hamzah menepuk dahinya pelan. "Ya sudah, ayo kita pulang sekarang."
Hamzah mengangkat barang-barang mereka dan berjalan beriringan menuju mobil jemputan di lobi.
__ADS_1
Saat perawat memberitahukan bahwa istrinya diperbolehkan pulang hari ini, Hamzah segera mengabarkan pada keluarga di rumah. Dan bapaknya segera menjemput ke rumah sakit dengan mobzil sewaan sehingg mereka tak perlu repot mencari kendaraan untuk pulang seperti saat Larissa melahirkan pertama kali dulu.